
"Kenapa senyum senyum terus?" dengus Eriel dengan senyum mengejek saat melihat Nathan. Dia pun melirik Jeff dengan malas. Temannya itu sedang sibuk dengan layar ponselnya. Juga sama seperti Nathan, bibirnya selalu saja mengembangkan senyumnya.
Fazza juga ikut tersenyum simpul, melihat kegusaran Eriel. Tangannya sibuk dengan pastanya sambil memperhatikan wajah kesal sahabatnya.
Jauh jauh ke Sidney, cuma mau makan pasta. Memang langsung diolah dari cheff ternama. Tapi tetap saja ngga berimbang kalo menurutnya. Bahkan mereka sampai menaiki jet pribadi hanya demi makan pasta.
Tapi mau gimana lagi. Kalo ngga dituruti, Eriel bisa ngamuk barhari hari.
Sekarang pun dia sedang menyindir dua mahluk yamg Fazza yakin sedang jatuh cinta berat.
Nathan dan Jeff saling pandang. Keduanya kompak ngga menjawab karena sekarang mulai sibuk menikmati pastanya. Malas melayani kemarahan ala ala ibu ibu versi Eriel.
Nathan tentu saja membayangkan reaksi Zoya yang pasti sudah melihat video rekaman cctv yang dia kirim sebelum terbang dengan jet pribadi milik Jeff.
Karena itu, kan konsentrasi kamu ilang? batinnya geli.
Ngga pernah Nathan melihat Zoya separah ini. Hasil kerjanya jauh sekali dari kredibilitasnya. Otak encernya mendadak jadi zat padat.
Kalo Nathan tau dari dulu titik kelemahan Zoya yang fatal ini, sudah dari dulu dulu dia lakukan demi mengalahkan Zoya.
Tapi dulu dulu Nathan ngga memikirkan sisi sensitifnya. Egonya terlalu menonjol. Perasaan juara dua dengan hasil sangat tipis membuatnya sangat membenci Zoya.
Padahal sejak awal dia pernah menyukaimya. Perasaan itu terlupakan demi ambisi tak terkalahkannya.
"Nathan, apa kamu sudah jadian sama Zoya?" tanya Eriel lagi lagi kepo.
Fazza dan Jeff saling tatap mendengar tuduhan Eriel.
"Kamu beneran naksir Zoya?" tatap Fazza penuh selidik. Walaupun sudah curiga, tapi dia ngga terlalu percaya.
"Sudah kuduga," sambung Jeff dengan senyum lebarnya. Setelah Zoya keterima dalam test personal asisten Nathan, sikap sahabatnya agak berbeda. Lebih manusiawi.
"Kalian ngga tau," decih Eriel meremehkan kedua sahabatnya.
'Ngga yakin aja," bantah Jeff cepat.
"Sudah curiga memang," timpal Fazza ringan.
Eriel tergelak.
Sekali lihat saja Eriel langsung tau siapa yang disukai Nathan. Bahkan sejak mereka SMP. Sejak Zoya jadi anak baru di sekolahnya. Eriel beberapa kali menangkap tatapan aneh Nathan pada Zoya.
Apalagi sejak Zoya menghilang.dari peredaran. Nathan bertambah dingin dan kaku. Dan saat gadis itu muncul secara ajaib jadi asisten pribadinya, sosok dingin Nathan mulai menghangat.
Karena itu dia mengirimkan video nakalnya dengan Eleanor pada Nathan. Nathan perlu tau kalo gadis itu ngga akan pernah berubah. Walaupun Eriel tau kalo gadis itu ngga pernah bisa mencuri hati Nathan.
"Anak kalian nanti sepintar apa ya," cetus Fazza masih dengan senyum tipisnya. Membayangkan akibat penyatuan keduanya.
__ADS_1
"Super pastinya," timpal Jeff tergelak.
Nathan hanya tersenyum, ngga membalas kata kata sahabat sahabatnya.
Hari ini dia berencana akan menembak Zoya. Dia yakin pasti keterima.. Mengingat dia pun sudah sering menggoda gadis itu hingga tersipu.
Dasar bodoh.
Harusnya dia sudah dari kemaarin kemarin mengatakan perasaannya pada gadis overthinking itu. Tidak menundanya hingga selama ini
Apalagi sekarang keadaan Zoya juga sedang ngga baik baik saja. Gadis itu ngga boleh sendirian. Karena itu tadi dia meminta Zoya bergabung dengan kembarannya saja.
Dia ngga tenang melepas Zoya sendirian tanpa ada yang menjaganya. Dia pun ngga bisa menolak permintaan Eriel yang mengajakmya makan siang sampai jauh ke.luar negeri.
Gila! Hanya makan pasta, batin Nathan sebal.
Nathan beruntung orang tuanga ngga seperti Om Sudjatmoko. Yamg melarang hubungan anaknya berdasarkan keuntingan bisnis semata.
Orang tuanya pun sudah mengirim sinyal sinyal penerimaan Zoya dari dulu lagi. Dia aja yang ngga sadar.
"Jadi Jeff, kamu sudah siap untuk menikah?" cetus Eriel membuat Jeff terkekeh.
"Tentu. Ini juga berkat kamu, Riel. Makasih, ya. Maaf, karena belum sempat cerita.
"Lagakmu, dasar kacang lupa sama kulit " sarkas Eriel membuat Jeff tanpa tergelak .Fazza dan Nathan juga melengkungkan bibir mereka.
Sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa Eleanor mau dengan mudah melepaskan Jeff, padahal dia belum sah jadi pacar Nathan.
"Iya. Oma.dan opa, juga orang tuaku yang.mengurusnya. Tau tau kata Oma Saras, aku ngga tunangan lagi sama.Ele;" cerita Jeff dengan raut wajah senang.
"Baguslah. Padahal dia belum mendapatkan Nathan," kekeh Eriel.
"Agak aneh dia lepasin kamu gitu aja," sambungnya lagi.
Nathan sengaja ngga cerita penawaran bisnis untuk perjodohan dia dan Eleanor.
Yang penting Opa Glen sudah langsung menolaknya begitu tau dirinya sudah punya pacar.
Padahal belum resmi, batin Nathan tergelak.
"Kamu beneran ngga suka sama Ele, Riel?" ejek Nathan setelah beberapa kemudian.
Eriel tergelak sangat lepas.
"Pacarku besok ngga boleh diicip kalian," sarkasnya dalam tawanya yang masih berderai. Menegaskan tentang miliknya yang ngga boleh disentuh Nathan dan Jeff.
"Waktu itu aku khilaf," jujur Jeff mengaku. Dia lagi mabok.
__ADS_1
Eriel mendengus.
"Syukurlah Cleo hanya nyuruh kamu makan soto sambal, bukan paku."
"Kamu pikir aku kuda lumping," sergah Jeff terbahak.
Nathan yang kesindir pun melebarkan cengirannya. Hanya Fazza yang masih betah dengan senyum tipisnya.
Diantara mereka bertiga, hanya dirinya yang bisa menahan godaan Eleanor.
Fazza selalu memikirkan perasaan maminya jika dia melakukan hal yang pernah dilakukan ketiga sahabatnya. Maminya bisa sakit jantung karenanya.
Eleanor memang cantik banget. Tapi dia hiper. Kalo hanya dengan satu laki laki saja, mungkin masih bisa dimaafkan. Tapi dia melakukan physical touchmya pada banyak laki laki, Eleanor ngga sungkan bermesraan dan merasa tindakannya wajar wajar saja.
Dimana letak harga dirinya sebagai laki laki?
"Besok aku akan memecat Eleanor." Setelah perbuatannya tadi, Nathan sudah ngga memerlukan gadis itu lagi.
"Sudah yakin?" ejek Jeff. Sampai sekarang Jeff masih heran kenapa Nathan mempertahankan Eleanor.
"Kirain memang suka Eleanor jadi pegawai kamu," sarkas Eriel.
Nathan tertawa kecil.
"Aku hanya ingin melihat Zoya cemburu" jelasnya dengan tawanya yang berderai.
"Gila, ya,"" sambar Jeff sambil memggelengkan kepalamya.
Eriel berdecih mengejeknya.
"Sudah berhasil?" Fazza meledek.
"Sudah," jawab Nathan kalem.
"Ooo.... Udah ngga guna lagi dia," sarkas Eriel tergelak Kelihatan snagat senang.
"Eleanor juga punya perusahaan keluarga yang harus dia urus." Fazza memberikan pendapatnya.
"Demi Nathan dia lepaskan. Sekarang baru nyaho dia," dengus Eriel.lagi.
"Aku lega. Aku bisa melihat Cleo udah ngga sabar mendepak Eleanor jauh jauh," kekeh Jeff. Cleoara sangat membenci Eleanor yang sudah mengkhianati pertemanan mereka.
"Betul," sahut Eriel masih dengan kekehannya.
"Semoga ngga ada drama," gumam Natha. Ketiganya mengerti maksud ucapan Nathan.
Gadis itu pasti ngga akan mau putus dengannya.
__ADS_1