
"Aku deg degan banget," bisik Audrey sambil menghidupkan mesin mobilnya. Dia benar benar mengacuhkan Dirga, tapi ternyata langsung mendapatkan reaksi yang ngga terduga.
Laki laki itu ngga hanya menyapanya. Bahkan menghampiri. Bahkan membuka dan menutupkan pintu mobil untuknya. Gimana hatinya ngga langsung mencair.
Gosh. Bahkan Audrey yakin laki laki itu masih mengawasi mobilnya yang perlahan meninggalkan parkiran restoran steak.
Audrey sampai melirik kaca spionnya untuk memperkuat dugaannya. Dirga memang masih berada di sana, berdiri mematung seakam kedua kakinya sudah dilem.
Jantung Audrey saat ini memukul dadanya dengan sangat keras. Perasaannya terlalu bahagia sampai ngga memperhatikan reaksi Felicia
Felicia yang dari tadi sengaja memiringkan tubuhnya ke arah jendela mobil mulai mengembalikan posisinya saat nobil sudah mulai menjauh.
Bukan Felicia ngga percaya dengan filter kaca depan mobil Audrey yang super gelap. Tapi tetap saja Felicia takut kalo mata elang Dirga bisa menembusnya.
Felicia sangat terkejut melihat Dirga yang mendekat. Tatapannya pun seakan mengarah padanya. Dadanya berdebar keras. Ngga mungkin Dirga tau itu dirinya. Tapi laki laki itu sampai harus membukakan pintu mobil hingga Felicia terpaksa memunggunginya. Dia terkejut. Sangat ngga menyangka akan tindakan Dirga.
Walaupun bermaksud untuk menghargai Audrey yang merupakan putri bosnya, Om Himawan, tetap saja membuat Felicia kalang kabut
Felicia terpaksa menyembunyikan dirinya. Cukup sekali saja mereka dipaksa bertemu oleh papinya. Setelahnya Felicia benar benar akan menjauh dan menghilang dari pandangan Dirga.
Dirga terus memperhatikan sampai mobil putri bosnya menghilang.
Dirga pun ngga tau, kenapa dia masih bertahan di sini dan terus memandang mobil itu.
Tapi hatinya sepertinya yang mengendalikan anggota gerak tubuhnya.
"Kok, ngga bareng?" tanya mamanya yang sudah berdiri di sampimgnya.
Dirga tersenyum sambil memyandarkan kepalanya di lengan mamanya dengan manja.
"Itu siapa?"
"Putri Pak Himawan, Ma."
"Pacar kamu?"
Dirga tersenyum saat merasakan elusan lembut mamanya di kepalanya.
"Bukan Ma. Ketinggian."
Mamanya tersenyum getir, walaupun nada suara yang di dengar dari putranya seakan tanpa beban, tetap saja mama Dirga bisa merasakan sakitnya hati Dirga saat mengucapkan itu.
*
*
__ADS_1
*
Audrey sampai juga di basemern perusahaan tempat papinya bekerja. Sebenarnya dia ingin mengajak Felicia mampir, tapi sahabatnya bersikeras minta diantar pulang dulu. Untungnya rumah Felicia masih satu jalur dengan tempat kerja papinya. Jadi dia pun menurut. Malah dia sempat mengobrol sambil menikmati steak Felicia.
"Kamu tadi lihat, kan, Fel. Ngga sengaja tadi ketemu malah membuat jantungku hampir copot."
"Ya," sahut Felicia lembut.
"Aku kaget dia nyapa, trus tau tau udah ada di belakangku. Malah tetap pake bukain pintu segala lagi. Aku, kan, jadi meleleh lagi. Padahal udah dicuekin. Memang aneh si Dirga. Dibaekin malah ditolak. Eh, pas dicuekin, malah ngasih perhatian."
Felicia tersenyum. Lama ditatapnya wajah Audrey yang tampak bersemangat bercerita tentang Dirga.
"Kamu beneran suka dengan dia?"
"Hemm....?" Audrey menatap wajah Felicia. Dia belum bisa menjawab karena baru saja menyuapkan potongan steak ke dalam mulutnya.
"Penasaran aja mungkin. Baru kali ini ada laki laki yang nolak perhatianku," senyumnya terkembang lebar setelah dia menelan daging steaknya
"Kelihatannya dia laki laki yang baik." Felicia menahan ekspresinya agar Audrey ngga curiga padanya.
"Bukan kamu aja yang bilang gitu. Kamu tau, Fel.... Dirga itu pegawai kesayangan papi," timpal Audrey membuat mata Felicia berpendar.
"Ohya?"
Audrey menganggukkan kepalanya.
Seandainya papi juga begitu, batin Felicia sambil menatap jauh.
"Fel, beneran kamu ngga mau nambah lagi steaknya? Punyaku, ya, diparoh dua. Tadi aku kebanyakan makan punya kamu."
"Ngga usah, Drey. Aku udah kenyang, kok."
"Oke, kalo.gitu aku pamit dulu, ya. Mumpung masih hangat buat papi."
"Oke. Hati hati, ya. Maaf ngga bisa nemenin kamu."
"Sebenarnya kesal, sih. Tapi ya udahlah. Calon pengantin, kan, ngga boleh keluyuran."
Felicia tersenyum lagi melihat wajah agak manyun Audrey.
Maaf, batin Felicia merasa bersalah
Padahal Audrey butuh Felicia buat penambah kekuatannya saat bertemu Dirga nanti. Tapi dia ngga mungkin memaksa sahabatnya itu.
Setelah menghembuskan nafasnya berkali kali, Audrey pun keluar dari mobilnya.
__ADS_1
Dia setengah berlari melihat pintu lift hampir tertutup.
"Tahan," serunya lantang.
Tapi langkah Audrey jadi melambat begitu pintu itu terbuka sempurna. Ada sosok Dirga sendirian di sana.
Dengan menyembunyikan degup jantungnya yang semakin ngga teratur, Audrey melangkahkan kakinya memasuki ruang sempit itu.
Dirga sedikit memundurkan tubuhnya, hingga di berada dj belakang Audrey dalam posisi menyilang.
Dengan acuh Audrey melirik saat Dirga menekan lantai yang sama dengan tujuannya.
Hening. Keduanya saling diam.
Begitu pintu lift terbuka, Audrey dengan cepat dan terkesan buru buru meninggalkan Dirga yang hanya tersenyum simpul.
Walau merasa aneh dengan sikap gadis ini di dua pertemuan mereka yang terkesan mengacuhkan keberadaannya, Dirga ngga akan bertanya.
Bukan kapasitasnya kepo dengan sikap putri bosnya.
Malah dia bersyukur karena ngga perlu terus terusan menolak kebaikan gadis ini..Dirga ngga ingin menambah masalah buat keluarganya.
Ngga lama kemudian gadis itu sudah keluar dari ruangan bosnya tanpa tentengan paper bag restoran steaknya.
Dirga yang sedang berdiskusi dengan Arandiita, menoleh menatap kepergian Audrey yang tampak cuek melewati mereka
Arandita menunduk hormat ketika gadis itu melewatinya
Entah kenapa Dirga merasa sepi karena ngga mendengar suara celotehan gadis itu.
Tanpa sadar Dirga terus menatap Audrey hingga ngga terlihat lagi.
"Ehem."
Dirga tersadar akan deheman Arandita.
"Sorry. Sampai dimana tadi?" tanyanya tetap dengan suara tenang.
"Tumben putri bos ngga nyapa kita. Biasanya ramaah banget," komentar Arandita dengan mimik muka heran.
"Kamu merasa aneh juga, kan, Dir?" sambungnya lagi sambil menatap penuh kagum pada wajah tampan di depannya.
Dirga hanya tersenyum tipis tanpa mengalihkan netranya pada kertas kertas yang sedang mereka bahas
Arandita tersenyum melihat sikap cuek Dirga. Itu jugalah yang membuat dia dan pemuja Dirga lainnya jadi maju mundur untuk menjadikan Dirga kekasih mereka.
__ADS_1
Dirga baik, tapi dia dingin. Sampai sekarang ngga ada yang yakin kalo.dia sudah punya kekasih. Padahal Dirga tampan dan pintar. Bos bos mereka pun menyukainya karena kerjaannya yang selalu membuat decak kagun. Karena itu dia menjadi tanga kanan Pak Himawan, bos mereka yang sangat mempercayainya.