My Ex Crush

My Ex Crush
Nathan yang berbeda


__ADS_3

"Aku yakin sekarang si Jeff pasti lagi mules," ucap Moana membuka obrolan. Mereka sudah berada di depan meja sekretaris Zoya.


"Mungkin juga. Cleo, apa tadi kamu memang niat makan sambal sebanyak itu?" Zoya menatap Cleora yang seperti melamun. Nada suara Zoya tersirat menyalahkan sahabatnya. Gimana kalo Jeff ngga jadi nuker. Pasti sekarang Cleoralah yang akan sakit perut sekarang.


"Si Jeff mulas? Kok, bisa? Trus apa hubungannya dengan sambal Cleo," todong Indri dengan banyak tanya ngga ngerti.


Tadi dia dan Freys sengaja menjauh karena masih ketakutan jika Nathan mengamuk. Padahal Nathan adalah moodbosternya. Dia tadi malah ketahuan gibahin laki laki itu.


Rasanya kesel banget dengan mulut lemesnya yang sangat cepat tanggap.


Begitu juga Freya. Dia pun sama takutnya kalo Nathan marah. Freya pun ngga yakin kalo Cleora bisa membantu mereka. Soalnya kedudukan Nathan di perusahaan lebih tinggi dari Cleora.


"Iya, memangnya ada apa? Tapi aku lihat Jeff baik baik saja," respon Freya cepat.


Dalam hati Cleora sedikit lega mendengarnya.


"Tadi ngga tau kenapa, Jeff nuker mangkok sotonya dengan mangkok Cleora yang sudah merah semua karena sambal," cerita Moana sambil menatap Cleora butuh penjelasan.


Something, kan?


Kamu suka Jeff?


Tapi kata kamu Jeff tunangan si bule itu....


Banyak dugaan berputar putar di kepalanya.


"Nekat banget si Jeff. Mana bisa dia makan pedas," seru Indri ngga percaya.


"Trus sotonya dihabisn Jeff?" tanya Freya dengan wajah cemas. Membayangkan wajah bule Jeff meringis kesakitan.


"Tinggal separuh," kali ini Zoya yang menjawab.


"Sebaiknya sekarang kita ke divisi kita. Tuh, Nathan ke sini," pungkas Cleora sambil berjalan pergi meninggalkan teman temannya yang masih ingin mencecarnya.


"Eh, tunggu Cleo," seru Indri sambil melarikan kakinya ketika menyadari kebenaran ucapan Cleora.


"Zoya, kita tinggal dulu," pamit Moana sebelum pergi.


"Bye, Zoy." Freya melambaikan tangannya sebelum pergi.


Sekarang tinggal Zoya sendiri yang menunggu detik detik Nathan mendekat dengan hamburan kata kata pedasnya.


"Kenapa kalian para perempuan hobi banget bergosip," sindir Nathan sambil berlalu masuk ke ruangannya.


Nah, betul, kan, batinnya Zoya dengan tatapan kesal pada punggung kokoh di depan matanya. Rupanya dia masih marah mendengar gibahan tentang dirinya tadi.


Setelah pintu ruangan Nathan tertutup, barulah Zoya bisa menghembuskan nafas lega.

__ADS_1


Tapi baru saja dia meletakkan bokongnya di bantalan kursi kerjanya yang super empuk, Zoya terpaksa berdiri lagi karena pintu ruangan Nathan terbuka sedikit. Laki laki ini menjulurkan kepalanya saja.


"Jangan lupa ikut aku nemuin klien setengah jam lagi."


Setelah mengatakan itu pintu pun tertutup.


Harusnya dia yang mengatakannya, kan. Dia, kan, asistennya. Kenapa sekarang terbalik, sungut Zoya merasa sangat aneh dengan kelakuan Nathan.


Zoya pun langsung menyiapkan semuanya untuk meeting setengah jam lagi.


Mereka akan menemui klien mereka yang jaraknya cukup jauh. Zoya seperti pernah mendengar nama klien Nathan ini.


Ngga lama kemudian pintu ruangan Nathan terbuka.


"Ayo kita berangkat," ujar Nathan sambil berlalu melewatinya


"Yes, sir."


Walau merasa dianggap angin, Zoya terpaksa menerima. Dia kan hanya bawahan.


Beda kalo di restorannya. Dialah bosnya. Ngga ada yabg berani mengacuhkannya. Tapi perasaan dia ngga semena mena dengan bawahannya. Kalo begini dia jadi ingat restonya.


Rasanya ngga adil buatnya. Cleora, Moana, Indri, dan Freya mendapat keuntungan darinya.


Tapi dia dapat apa? Kata kata pedas, iya. Kerjaan banyak, iya. Dia belum mendapatkan keuntungan yang harusnya juga dia dapatkan. Keempat sahabatnya harus bertanggungjawab, gerutunya dalam hati.


Memangnya mau ngapain di atas? Bukannya basemen tempat parkiran di lantai bawah?


Zoya melirik Nathan yang masih fokus dengan ponselnya


Lagi lagi Zoya enggan untuk bertanya. Dia lebih baik percaya saja kemana Nathan akan membawanya.


Dari pada bertanya dan mendengar jawaban yang bisa membuat perasaannya berdarah darah dan emosinya memuncak.


Pintu lift pun terbuka di root top perusahaaan. Baru kali ini Zoya melihat keadaan di sekitar root top karena dia baru saja bekerja di peusahaannya Nathan.


Pertanyaannya terjawab sudah, karena ada heli yang sedang menunggu mereka dengan mesin yang masih menyala.


Sekaya apa keluarga Nathan?


Zoya tertegun melihatnya.


Tapi kemudian di cepat menahan roknya yang bergerak ke atas karena angin di root top sedang bertiup kencang dan semakin kencang akibat dari angin yang dihasilkan oleh putaran main rotor helikopter.


Nathan sempat terperangah. Untung Zoya mengenakan rok model sepan selutut, hingga menahan rok itu bergerak ke atas dengan mudah.


Jika saja dia mengenakan rok tisunya seperti kemarin, mungkin mata Nathan akan lupa untuk mengerjap.

__ADS_1


Tapi melihat rambut indah itu terbang terurai dipermainkan angjn, Nathan jadi terpesona. Gadis ini terlihat semakin cantik.


"Ayo naik," ucap Nathan ngga sabar melihat Zoya yang masih termangu di depan heli.


Dia bisa berbuat yang tidak tidak jika terlalu lama terpesona melihatnya.


"Eh, i iya," dengan agak kesulitan karena baru kali ini naek helikopter, tubuh Zoya berhasil juga akhirnya mencapai tempat duduk. Zoya masih merasa terkejut dan berbagai perasaan aneh lainnya, campur aduk di pikirannya. Dalam mimpi pun hal ini ngga pernah terbersit dalam tidur malamnya selama ini.


Nathan menahan tawanya melihat gadis itu seperti orang bingung. Ingin Nathan menggendongnya dan membawanya dalam pangkuannya.


"Geser di pojok sana," perintahnya dengan suara agak ditekan dan menyimpan segala angan konyolnya.


Semburat merah mewarnai pipi Zoya.


"Eh, i iya. Bawel banget, sih," omelnya grogi tanpa sadar sambil menggeser bokongnya agak ke ujung.


"Kamu ngomong apa tadi?" tanya Nathan yang sudah duduk di sampingnya. Netra bosnya menyorot tajam.


Mulut gadis ini lumayan pedas, maki Nathan jadi kesal dalam hati.


Kalo sudah dicium mungkin akan jinak.


Kembali Zoya merutuki mulut lemesnya.


"Ngga ngomong apa apa, sir." Zoya sungguh merasa terintimidasi dengan tatapan horor Nathan yang sudah berada di sampingnya.


'Kamu kira saya budek," cela Nathan semakin kesal karena Zoya ngga jujur. Dia jelas sekali mendengar Zoya mengatainya bawel.


"Pake seatbelt kamu, sebelum kamu dilemparkan angin keluar dari sini," sinis Nathan kemudian memalingkan wajahnya dari wajah tertunduknya Zoya.


Zoya tentu saja langsung mematuhi kata kata Nathan dengan hati berdecak ngga percaya.


Teganya, batinnya sedikit sedih. Ini pengalaman pertamanya. Kenapa laki laki ini ngga bisa berbicara manis sebentar saja.


Memang manusia ngga ada yang sempurna. Wajah tampan, kaya raya, tapi sayangnya memiliki mulut yang sangat kejam kalo berbicara.


Kalo saja Nathan bisa bertutur lembut, maka dia akan berubah jadi angel. Itu sangat ngga cocok untuk laki laki kaku dan datar seperti ini. Zoya terus saja memcela Nathan dalam hati.


Nathan yang dikenalnya dulu sangat jauh berbeda dengan Nathan yang dia kenal sekarang.


Kemana perginya Nathan yang dulu sangat pendiam. Zoya menyayangkan kontaminasi budaya barat yang diperolehnya saat laki laki itu kuliah di luar negeri.


"Pegang ini," seru Nathan agak keras sambil menyerahkan dua buah map pada Zoya. Heli sudah mulai terbang meninggalkan rumah sakit.


Zoya ngga membantah, dia hanya menerima dan menyimpannya dalam tas laptopnya.


Kemudian Zoya mengalihkan pandangannya ke luar, menatap langit dan juga daratan di bawahnya. Semuanya sangat indah. Kekesalannya menguap berganti dengan senyumnya yang sedang dinikmati Nathan tanpa dia sadari.

__ADS_1


__ADS_2