My Ex Crush

My Ex Crush
Dirga dan Audrey


__ADS_3

"Hai, papi ku ada ngga?" sapa Audrey yang sudah berada di depan kubikel Dirga.


"Pak Himawan sedang rapat, nona." Demi sopan santun, Dirga bangkit dari duduknya, berdiri di depan putri bosnya.


"Yaaah,'" agak kecewa Audrey menyandar di kubikel Dirga.


"Ada yang mau disampaikan?" tanya Dirga ingin membantu. Ini adalah putri bosnya, dia hanya merasa perlu bersikap baik.


"Ngga ada apa apa, sih, tapi..........," ucapnya menggantungkan. Ragu mau meneruskan.


"Nunggu aja di ruangannya," tukas Dirga memberikan solusi.


"Ngga enaklah. Aku pulang saja," tolaknya sambil membetulkan posisi berdirinya.


Dirga merasa ngga enak hati. Siapa tau ada hal sensitif yang ingin disampaikan langsung oleh Audrey.


"Nanti aku sampaikan kalo kamu datang ke Pak Himawan, ya," ucap Dirga.agak ingin melambatkan kepergian Audrey. Siapa tau Pak Himawan sebentar lagi selesai meeting. Karena sudah hampir satu jam beliau pergi.


"Ya, boleh juga." Audrey melirik sekilas ke.arah Dirga yang sedang mengetikkan pesan ke ponselnya.


Ganteng banget, pujinya membatin. Ngga tau kenapa jantungnya berdetak sangat keras.


Audrey pun mengalihkan tatapannya dengan perasaan malu.


Laki laki yang barusan dipujimya sangat ganteng itu ngga nampak insecure sama sekali saat berbicara dengannya. Malah dirimya sekarang yang merasa cukup terintimidasi.


Tidak, dia ngga boleh kalah dari pegawai kesayangan papinya.


"Temeni aku makan siang, ya," todong Audrey cepat


Dirga menatap jam yang melingkar di tangannya.


Masih sepuluh menit lagi. Tapi Dirga ngga enak untuk menolak.


"Tunggu sebentar," jawabnya sambil merapikan meja kerjanya. Dia melirik ponselnya, pesannya pun masih belum dibaca bosnya.


"Oke." Audrey seperti merasa telah mengajak laki laki ini kencan. Dia kembali merasa salah tingkah karena malu sudah bertingkah agresif. Biasanya lawan jenisnya lah yang melakukan ini padanya.


Tapi kenapa sekarang dia yang seperti perempuan yang takut diputusin kekasihnya.


Gosh..... Audrey berusaha mengambil nafas perlahan dan menghembuskannya.


Dia harus tenang. Harus tenang.


Audrey, dia hanya pegawai papimu, okey...!


"Mau makan siang di mana?"


"Entahlah, aku bingung." Audrey ingin mengajak laki laki ini ke restoran di hotel bintang lima favoritnya. Tapi dia takut Dirga merasa insecure.


Walau dari segi face dan penampilannya, Audrey merasa Dirga sangat pantas dibawanya ke sana.


"Kamu suka steak?" Dirga mencoba menawarkan restoran steak keluarganya secara perlahan.


"Suka."

__ADS_1


"Mau makan steak aja?" tawar Dirga lagi.


"Boleh."


"Oke."


Keduanya pun berjalan diiringi tatapan teman teman satu ruangan Dirga yang juga sedang bersiap untuk makan siang.


Keduamya terdiam saat keluar dari lift di loby perusahaan.


Dirga ragu mengajaknya ke basemen dan menunggangi kawasakinya.


Hanya Felicia dan adiknya saja yang selalu diboncemgnya.


Lagi pula pakaian gadis ini yang hanya menggunakan dress selutut jadi masalahnya. Bisa langsung dipecat dia jika berani mengajaknya menunggangi motor kesayangannya.


Dirga pun memilih memesan taksi online dengan tujuan restoran steak oliv, milik keluarganya. Sekalian promosi. Dirga jadi teringat adiknya hingga dia tersenyum simpul.


"Ada mobilku di basemen," tawar Audrey.


"Aku ngga enak disupiri putri bos," tolak Dirga diplomatis. Dulu pun saat bersama Felicia, dia ngga pernah mau mengendarai mobil mewahnya. Walaupun gadis itu sering menawarkannya.


"Ngga apa apa. Dari pada pesan taksi online." Tanpa malu malu Audrey menarik tangan Dirga agar memasuki lift.


Dirga hanya diam saja dan ngga menolak.


Hanya saja begitu tiba di depan mobil sport putri bosnya, tangannya terulur saat Audrey mengeluarkan kunci mobilnya.


"Bisa?" tanya Audrey ngga yakin.


Laki laki itu membukakan pintu mobil untuknya. Bahkan saat dia akan memasuki mobil, satu tangannya diletakkan diatas untuk melindungi kepala Audrey agar ngga terbentur.


Jantung Audrey semakin kencang berdetak. Dia mencabut kata katanya kalo laki laki di depannya akan merasa insecure di depannya.


Nyatanya malah hatinya yang meleleh akibat perlakuan Dirga yang manis. Pantas saja papinya sangat menyukai Dirga.


Papinya benar, laki laki ini penuh tanggung jawab.


Dirga pun menyetir mobil mewah itu dengan tenang, seakan dia membawa seorang putri raja.


"Kamu sudah lama bekerja jadi pegawai papi?" tanya Audrey ingin tau sekaligus membuka topik pembicraan.


"Hampir enam tahun."


"Lama ya, pantas papi percaya banget sama kamu."


Dirga ngga menyahut hanya menipiskan bibirnya.


Audrey melirik Dirga yang kembali diam, fokus ke jalan.


Hati Audrey bergemuruh. Ngga disangkanya dia cepat sekali jatuh hati pada Dirga. Padahal awalnya dia sendiri yang meremehkan Dirga.


Hebatnya, sedikitpun Dirga ngga merasa insecure dengannya. Malah dia yang merasa begitu. Pesona laki laki ini begitu kuat.


Mereka pun berhenti di sebuah restoran yang cukup besar dan artistik. Juga nampak mewah.

__ADS_1


Kenapa dia ngga pernah mampir di sini, ya? batin Audrey sambil mengamati restoran itu.


Restoran Steak Oliv, batinnya saat mengeja papan nama resto.


"Ayo."


Suara lembut Dirga mengagetkannya. Ternyata dia sudah membuka pintu mobil untuknya dan berdiri di sampingnya.


Dengan menyimpan kegugupannya, Audrey keluar dari mobil dan lagi lagi sebelah tangan Dirga menahan bagian atas mobil agar kepalanya ngga terbentur.


Keduanya sempat bersitatap. Audrey dengan keterpesonaannya, Dirga dengan mata kelamnya.


Dirga pun menutup pintu mobil dan berjalan lebih dulu meninggalkan Audrey yang masih terpaku.


Tapi langkahnya terhenti karena putri bosnya ngga menjejerinya.


Dirga menoleh, menatapnya penuh tanya


Audrey baru melangkah menyusul.


"Ditinggal aja. Digandeng, dong," katanya manja sambil menggenggan jari jari Dirga yang hanya tersenyum tipis melihatnya.


Jantung Audrey hampir copot ketika Dirga membalas genggamannya.


Harusnya dia biasa aja, kan? Kenapa dia harus merasa seperti cacing kepanasan begini, umpatnya malu campur senang dalam hati.


Dia terus menatap Dirga ketika laki laki penuh pesona itu membawanya masuk ke dalam restoran.


Dirga memberi isyarat cepat pada istri abangnya dan juga mamanya yang terkejut melihatnya menggandeng seorang gadis yang sangat cantik.


Dia pun di tuntun ke ruang privat oleh pegawainya, yang terus meliriknya kepo.


Mereka semua kaget melihat Dirga membawa perempuan cantik ke restoran. Hanya berdua. Tatapan mereka pun beralih pada genggaman tangan keduanya.


"Itu siapa, Ma?" tanya Aina masih dengan tatapan surprisenya. Dalam hati bersyukur melihat adik iparnya sudah move on dari kekasihnya yang dulu, Felicia.


"Mama juga ngga tau," ada lengkungan tipis di bibir wanita paruh baya ini.


Hatinya senang karena putra keduanya yang selalu menutup diri dari perempuan setelah berpisah dengan Felicia, sudah bisa menggandeng gadis lain. Setelah enam tahun lamanya patah hati.


Tapi perasaannya agak ngga tenang dan cemas, karena sepertinya gadis cantik yang digandeng Dirga juga anak orang kaya raya.


Hatinya masih trauma dengan keluarga Felicia. Walaupun gadis itu sangat baik, tapi papinya sudah menyebabkan Dirga koma dan hampir meninggal dunia.


Beliau lebih suka kalo Dirga mencari perempuan dari kalangan biasa atau menengah agar hidup putranya itu akan baik baik saja nantinya.


Sementara itu, Dirga berlaku seperti laki laki gentle, dengan memundurkan kursinya untuk memberi jalan Audrey. Kemudian dengan manis memajukannya lagi untuk diduduki dokter kecantikan itu.


Bukan kali pertama Audrey mendapat perlakuan ini. Malahan dia sudah terbiasa diperlakukan istimewa.


Baik oleh pengawalnya, maupun oleh teman kencannya. Dia malah menganggapnya biasa saja.


Tapi saat Dirga yang melakukannya, hatinya semakin meleleh dan detak nafasnya seakan berhenti.


Papi, pegawaimu .... batin Audrey dengan puluhan kupu kupu terbang dari perutnya. Matanya masih tersipu menyorot pada Dirga.

__ADS_1


Dirga sendiri merasa wajar mengistimewakan Audrey, karena gadis ini adalah putri bosnya.yang harus dia hormati.


__ADS_2