My Ex Crush

My Ex Crush
Enam tahun yang lalu part satu


__ADS_3

"Kenapa aku ngga boleh nemuin papi kamu?" Dirga menatap lembut wajah Felicia. Mereka sudah berhubungan selama satu tahun. Walaupun Felicia belum mengiyakan ajakan pacarannya, tapi dia merasa sikap Felicia sudah seperti pacar. Dirinya diurus dengan cukup telaten oleh gadis itu.


Mama bahkan bercanda sudah nganggap Felicia sebagai menantunya.


Gadis itu tidak menampakkan ketidak sukaannya. Dia malah tersipu sehingga menambah yakin hati Dirga. Dia ngga ditolak.


Dirga tau sekaya apa keluarga Feli. Baginya ngga masalah dengan kesenjangan ekonomi yang sangat terlihat.


Dia mahasiswa prestasi, berattitude baik, ketua BEM dua kali berturut turut yang sebentar lagi pensiun. Bahkan sekarang saja saat dia sedang mengerjakan skripsi, sebuah perusahaan besar plat merah sudah meminangnya.


Dia ngga akan membuat hidup Felicia susah. Dan dirinya pun ngga akan menanfaatkan kekayaan keluarga gadis itu.


Dirga juga aktif membuat konten pendidikan, juga tanya jawab tentang kegiatan keorganisasian di kampusnya. Penghasilannya di dunia maya juga sudah lebih dari lumayan.


Dia yakin saja kalo keluarga Felicia akan menerimanya. Apalagi melihat keluarga si kembar Nathan dan Cleora yang selalu welcome dengan adiknya dan keluarganya.


Felicia juga bukan kekasih yang hedon. Gadis itu cenderung sederhana.


Dirga semakin yakin untuk mempersuntingnya jadi istri setelah lulus dan bekerja di perusahaan plat merah secepatnya.


Tapi Dirga heran, karena Felicia belum mengenalkannya pada papinya. Selalu alasannya lagi di luar negeri.


Mami, oma dan opanya Felicia sudah ditemui Dirga beberapa kali. Dan mereka menerimanya baik baik saja. Karenanya Dirga ngga sabar ingin bertemu papinya Felicia. Tapi kesannya Felicia ngga membolehkannya. Dirga hanya ingin tau kenapa.


"Fel, sebenarnya apa yang memberatkan kamu?" tanya Dirga sambil mengangkat dagu Felicia yang sekarang sudah menunduk.


Saat tatapan mereka bertemu, Dirga tersenyum lembut.


"Papi kamu galak?"


Felicia menipiskan bibirnya. Mereka masih berada di parkiran kampus.


Hari ini Felicia lagi lagi menemaninya rapat. Ini rapat terakhir Dirga sebagai ketua BEM. Tapi Dirga dapat melihat wajah Felicia yang tampak muram, beda dari biasa.


"Ada apa?" Kali ini Dirga menarik tangannya hingga kekasihnya duduk di sampingnya.


Tapi bukan jawaban yang dia dapatkan. Felicia malah menyandarkan kepalanya di bahu Dirga.


Firasat buruk merasuki hati Dirga. Felicia ngga pernah begini. Dia cukup pemalu menunjukkan sikap romantisnya pada Dirga di tempat umum. Tapi Dirga membiarkan saja Felicia yang tetap bungkam. Hatinya saat itu pun berdesir senang.


Ngga tau kenapa.dia ingin membiarkan Felicia lama lama bermanja padanya.

__ADS_1


"Kenapa hem....?" tanya Dirga setelah cukup lama terdiam.


"Kapan kamu sidang?" pelan Felicia bertanya. Mengalihkan topik pembicaraan.


"Dua hari lagi. Tumben kamu lupa," kekeh Dirga pelan sambil mengusap puncak kepalanya.


Felicia ngga menjawab. Tapi dia tersenyum tipis dengan hati sedih.


"Kamu mendului aku," puji Dirga lagi. Felicia sudah minggu yang lalu menjalani sidang dan mendapat nilai sempurna.


"Pintaran kamulah. Anak teknik lulus empat tahun." Felicia balas memuji dan selalu kagum. Dirinya lulus empat tahun karena kuliah di fakultas ekonomi. Tapi Dirga di fakultas teknik. Tentu terasa sangat jauh berbeda.


Padahal Dirga sibuk bangey, entah kapan waktu dia belajarnya. Padahal dia punya seabrek kegiatan yang ngga ada abisnya. Indeks prestasinya pun selalu di atas tiga koma lima.


Laki laki yang selalu berusaha apa pun dengan semaksimal mungkin. Ngga ada yang dia lakukan setengah setengah.


"Temeni aku ya, sidang nanti," ucap Dirga lembut. Ngga pernah sekali pun Dirga berkata keras pada Felicia.


Felicia terlalu lembut dan dia sepertinya diperlakukan seperti seorang putri di rumahnya. Pasti Felicia ngga pernah melakukan kerjaan apa pun selain belajar. Apa pun pasti dilayani.


Dirga sangat hati hati menjaganya agar gadis ini ngga terluka. Tapi dia ngga terbebani melakukannya, karena dia memang terlalu cinta pada Felicia.


Juga kadang menemaninya saat membuat konten. Foto foto candid dan video mereka banyak sekali di laptop dan ponselnya. Itu yang selalu menambah semangatnya untuk cepat lulus dan menikahinya. Hatinya sudah dia berikan seluruhnya pada Felicia.


"Kan udah banyak suporter," senyum Felicia. Dirga pun terkekeh lagi.


Yah, bukan salahnya kalo fansnya pasti akan datang melihatnya.


Tapi syukurlah Felicia selalu percaya padanya. Memang kadang gadis itu cemburu, tapi Dirga selalu dengan cepat bisa membuat gadis itu melupakan kekesalannya.


Dua hari kemudian sesuai janjinya Felicia datang menemaninya sidang.


Setelah selesai sidang, Dirga membawa Felicia ke rumahnya karena keluarganya sudah berkumpul untuk mengadakan pesta kelulusannya.


Tapi hari itu Dirga merasa agak aneh. Felicia ngga banyak bicara. Senyum manisnyalah yang sering.dia kembangkan. Bahkan Felicia selalu berada di dekatnya seakan akan dia ngga mau berpisah.


Tapi yang anehnya Felicia dijemput pengawalnya saat sore hari. Padahal Dirga bermaksud mengantarkannya malam hari. Karena acaranya belum selesai.


Tanpa terlihat siapa pun, Felicia mencium bibirnya sekilas.


"I love you, Dirga."

__ADS_1


Dirga tersenyum saat Felicia melepaskan bibirnya.


'Begini caranya mencium pacar, lover."


Dirga mendekatkan bibir mereka kembali. Menghisapnya lama. Ciuman pertama kali yang dia lakukan pada Felicia selama ini.


Dirga melepaskan ciuman memabukkannya ketika menyadari Felicia sulit bernafas karenanya.


"Maaf," ucapnya merasa sangat bersalah melihat bibir Felicia nampak bengkak.


"Ngga apa apa. Aku pulang dulu. Jaga diri kamu baik baik, ya," pesan Feliacia sambil mengelus wajah tampan Dirga sekilas sebelum dia pergi.


Dirga merasa ada yang aneh saat melepas Felicia pergi. Bahkan Felicia agak enggan masuk ke dalam mobil dan malah masih memandangnya.


Malamnya Dirga ngga mendapat balasan dari pesan yang dia kirim buat Felicia. Telpon pun ngga diangkat. Tapi Dirga masih positive thinking kalo kekasihnya sudah tidur atau ponselnya sedang lowbat.


Tapi sampai besok siang pun kekasihnya ngga bisa dihubungi. Perasaan ngga enak semakin menyelimutinya.


Sambil membantu membumbui steak, Dirga mendengar percakapan orang tuanya yang tampak pusing.


"Ada apa, ma, pa?"


Kedua orag tuanya menoleh dengan raut khawatir dan bingung.


"Tempat papa beli daging buat steak kosong. Juga beberapa tempat yang lain. Agak aneh aja, sih. Katanya ada yang memborong," jelas papanya. Stok mereka tinggal buat tiga hari saja.


"Kalo kita ngga dapat daging steak, terpaksa restoran tutup sementara," lanjut mama lagi dengan tatapan bingungnya. Baru kali ini peristiwa aneh ini terjadi.


Ponsel papa pun berdering mengalihkan perhatian papanya.


Tapi ekspresi papa tampak pucat dan panik setelah mendengar suara orang yang menelponnya.


"Zoya dan mama di rumah saja. Dirga, kamu ikut papa." Papa terlihat panik sambil mengambil kunci mobilnya.


"Ada apa Pa?" tanya Erwin yang baru keluar dari kamarnya. Juga Zoya. Karena hari ini kebetulan hari minggu, jadi mereka semua ada di rumah.


"Ada yang ngerusak resto kita. Polisi juga sudah ada di sana."


Erwin, Dirga, Zoya dan mama terpaku saking terkejutnya.


Banyak pertanyaan mengapa dan siapa yang melakukannya, berseliweran di kepala mereka.

__ADS_1


__ADS_2