
Zoya menunggu kedatangan Nathan dengan debaran ngga tenang di dadanya. Sudah hampir satu jam berlalu tapi laki laki mantan bosnya itu belum juga kembali.
Apa yang akan dikatakannya tentang video yang dikirimnya?
Ngapain kamu kirim video itu?
Begitu nanyanya?
Apa.dia bisa menyangkal perasaannya dengan baik di depan Nathan?
Sudah lewat dari dua jam, Nathan belum juga terlihat.
Kemana dia pergi?
Iseng tapi cemas Zoya mencari beriita tentang kecelakaan pesawat pribadi. Zoya sampai menahan nafas saat ide konyol yang bangkit dari kecemasannya tertuang melalui ketikan di kotak searching.
Perasaan lega memenuhi rongga dadanya. Dia bersyukur tidak ada berita kecelakaan pesawat komersil atau pribadi hari ini. Rasa sesak karena cemas yang berlebihan jadi memudar.
Tapi dia kemana?
Apa dia dan teman temannya masih di Sidney....? Menggoda para bule yang berbikini seksi, mungkin.....
Zoya menghela nafas panjang dengan mencoba membuang isi pikirannya yang sangat beracun dan ngga bermutu itu, yang membuat hatinya ngga nyaman.
Zoya pun melihat apa saja jadwal Nathan hari ini. Matanya membesar, saat melihat jadwal meeting Nathan dengan perusahaan Kak Feli.
Apa dia sekarang di sana?
Zoya yakin Nathan sudah curiga dengan perasaan traumanya. Sedikit cerita dari mulutnya saat itu tentang kandasnys hubungan Bang Dirga dengan Kak Feli, pasti sudah membuat Nathan unruk mencari tau.
Apa Nathan sudah tau sekejam apa papi Kak Felicia yang membuat dirinya sangat takut dan terintimidasi.....?
Zoya tau, beberapa kali Cleora menemani kembarannya meeting jjka kliennya perusahaan Kak Felicia.
Yakin sekarang Zoya, kalo Cleora sudah tau tentang ketakutannya tapi tetap memilih diam. Mungkin Cleora masoh menunggunya untuk bercerita.
*
*
*
"Nathan," panggil Om Sudjatmoko setelah meeting selesai di perusahaannya.
"Ya Om." Nathan menoleh sambil tangannya merapikan laptop dan berkas berkas ke dalam tasnya.
"Cleo ngga ikut?" Sudjatnoko menatapnya heran karena seorang bos besar hanya sendiri saja rapat tanpa didampingj sekretaris atau asistennya Apalagi Nathan pewaris grup yang kaya raya.
Kenapa juga harus kembarannya yang menemaninya?
"Ngga, Om." Setelah mendarat di bandara, Nathan langsung melaju ke perusahaan Om Sudjatmoko. Dia sengaja ngga mengajak Cleora, agar kembarannya bersama teman teman dekatnya menemani Zoya.
"Kalo kamu kesulitan mencari sekretaris atau asisten, om bisa rekomendasikan orang yang tepat," ucap Om Sudjatmoko penuh makna.
__ADS_1
"Ngga perlu, Om. Aku udah punya. Hanya tadi aku kebetulan makan di sekitar sini dengan Jeff dan yang lain. Jadi aku langsung aja ke sini," tolak Nathan panjang lebar.
"Maksud kamu, asisten kamu itu adiknya Dirga?"
"Ya Om."
"Cuma asisten atau bakal naik tingkat?" Om Sudjatmoko tersenyum agak menyindir
Nathan hanya tersenyum menanggapinya. Menurutnya, dia ngga punya kewajiban untuk menjawabnya. Ini urusan pribadinya.
"Ehem.... Nathan, kalo kamu belun punya pendamping, Om bisa kenalkan kamu dengan anak anak teman Om. Sudah jelas kualitasnya."
"Terima kasih, Om Saya sudah punya pilihan sendri." Sekarang semua barang barang di mejanya sudah rapi di dalam tasnya. Dia sudah gerah dan siap untuk pergi secepatnya.
"Begitu? Ya, Om harap kamu ngga salah memilih," sarkas Om Sudjatmoko ngga mau nyera. Dia melirik putri sahabatnya yang juga ada di sana.
Nathan tersenyum lebih lebar.
"Sandra," panggil Om Sudjatmoko membuat seorang gadis cantik, tinggi dan langsing itu menoleh.
Gadis itu mendekat ketika tangan Om Sudjatmoko melambai dengan isyarat agar mendekat
"Ya, Om?" tanyanya dengan mimik bingung.
"Kenalkan, ini Nathan."
Sandra tersenyum pada Nathan yang nampak acuh.
"Oh iya, Om," sahut Nathan agak ogah ogahan.
Sandra yang tau kalo Nathan nampak datar saja reaksinya hanya tersenyum tipis.
"Om, Nathan. Maaf, ya, saya masih ada meeting di tempat lain," pamit Sandra sopan.
"Mungkin Nathan bisa antar kanu pergi," tawar Om Sudjatmoko memancing Nathan.
Nathan hampir bersuara untuk menolak, tapi ngga jadi karena gadis itu sudah berkata duluan.
"Ngga usah, Om. Saya udah bareng dengan teman tenan yang lain," tolaknya dengan senyum manisnya.
"Oke, oke, kalo gitu. Salam buat papi kamu."
Sandra tersenyum sebelum pergi pada Om Sudjatmoko, tapi hanya mengangguk saja pada Nathan yang juga balas mengangguk tanpa ekspresi.
Dalam hati sebenarnya Sandra kesal, tapi ya sudahlah, dia sudah tau kalo Nathan memang datar, beda dengan Cleora yang lebih ramah.
Terpaksa Om Sudjatmoko membiarkan putri sahabatnya- Ronni pergi. Memang benar kata sahabatnya, putrinya agak susah juga buat dijodohkan
Ngga mungkin Sandra ngga tau siapa Nathan. Tapi gadis itu sepertinya ngga tertarik. Padahal beberapa klien mereka berharap dipanggil olehnya untuk dikenalkan dengan Nathan.
Tapi menurutnya hanya putri sahabatnya yang memenuhi syarat. Mungkin di kesempatan lain akan dia dekatkan lagi keduanya.
"Saya pulang duluan, Om," pamitnya setelah Sandra pergi. Nathan sudah ngga sabar melaksanakan rencananya. Mumpung hari belum sore.
__ADS_1
"Oke."
Sudjatmoko agak mencibir saat menatap punggung putra relasinya itu menjauh.
Susah sekali dikasih yang setara, batin Sudjatnoko gemas.
*
*
*
Bos mantan teman
Cepat ke basemen
Walau kesal tapi hati Zoya jadi tenang campur senang (?) mendapat pesan dari Nathan yang memang sudah dia tunggu tunggu dari tadi.
Tapi sekalinya ngasih pesan, malah bikin sewot karena berupa perintah yang ngga bisa dibantah.
Karena Zoya sudah menyelesaikan semua pekerjaannya, dan merapikan mejanya sejak tadi, dia pun hanya tinggal menyantelkan tasnya dan pergi ke arah yang diminta Nathan.
Berkat video klarifikasi yang Nathan kirim, otak pintarnya sudah kembali hingga semua pekerjaan bisa dia selesaikan dengan mudah.
Ada apa ya? Jam pulang masih dua jam lagi, batin Zoya agak heran dan deg degan.
Tapi jantungnya semakin tantrum saat melanglahkan kakinya karena akan menemui Nathan.
Untung dia ngga ketemu Cleora dan sahabat sahabatnya yang lain. Juga tumben sepupu Cleora ngga kelihatan. Padahal Agni suka wara wiri. Mungkin karena gadis itu sepupu bos mereka, jadi kebiasaannya ngga terlalu dipermasalahkan.
Jalannya tambah dipermudah untuk bertemu Nathan. Lift pun berhenti di lantainya berada saat dia sudah di depannya. Hanya ada dua orang perempuan yang ngga begitu dia kenal ikut masuk ke dalam lift dengan tujuan yang sama.
Zoya agak celingukan saat keluar dari lift. Dia terus melangkah dengan sorot mata mencari cari di mana Nathan berada.
Ngga lama kemudian sebuah motor moge klasik berhenti di sampingnya, membuat Zoya agak terkejut.
"Nih, cepat pake," tukas Nathan sambil menyerahkan helmnya pada Zoya yang masih kaget akan kehadirannya yang tiba tiba. Nathan sengaja melambatkan mogenya saat melihat gadis overthinking itu keluar dari lift dan mengejutkannya. Dan dia pun berhasil. Senyum tipis tersungging di bibirnya yang ngga bisa dilihat oleh Zoya karena dia masih memakai helm.
"Iya, iya." Kesal Zoya sambil memakai helmnya.
Nathan pun membantu Zoya menyantelkan tali helmnya, semakin membuat tantrum jantung Zoya. Wajahnya pun memanas. Apalagi teringat video yang dikirimkan Nathan.
"Ayo naek."
"Kita .... kita mau kemana?" tanya Zoya sambil duduk dibelakang Nathan.
"Peluk. Kamu lupa gimana biasanya kalo naek motor sama aku?"
"Ngga mau," tolak Zoya cepat. Untung bukan seperti motor yang biasa dibawa Nathan. Lagi pula pertanyaannya ngga dijawab bikin Zoya kesal.
"Cerewet," omel Nathan sambil menarik paksa sebelah tangan Zoya agar melingkar di pinggangnya. Dia pun meremas jari jari Zoya dengan lembut sambil menjalankan motornya.
Zoya semakin kagum dan terpesona melihat penampilan Nathan yang seperti anak motor. Dia ngga terlihat seperti seorang CEO. Tapi kharisma dan pesonanya semakin menguat saja terpancar.
__ADS_1