My Ex Crush

My Ex Crush
Masih berdua


__ADS_3

Zoya masih diam saat Nathan mengajaknya mampir di rumah makan yang ada di salah satu pulau terdekat di kepulauan seribu itu.


Nathan memesan menu seafood yang menjadi andalan restoran tersebut.


Rumah makan sederhana itu cukup rame juga dikunjungi pembeli. Termasuk orang orang yang tadi mengenal dan menyapa Nathan.


Pikiran Zoya masih berkecamuk ngga menentu akibat pernyataan cinta Nathan. Padahal udang bakar di depannya memggugah selera, tapi ngga dipedulikannya.


Dia masih menyangsikan perasaan mantan temannya itu.


"Ayo dibuka mulutnya."


Zoya yang memang sedang melamun agak terkejut melihat suapan Nathan sudah berada di depan wajahnya.


"Nathan," desisnya malu. Lagi lagi wajahnya merona dengan desiran heboh di dadanya.


"Mau lewat mulut aja?" goda Nathan dengan tatapan jahil.


Zoya buru buru membuka mulutnya menerima suapan Nathan, sebelum arah bicara Nathan berkembang jauh, jadi sangat mengerikan. Dan menji-jikan.


Zoya ngga sanggup membayangkannya jika dia harus mendapat makanan langsung dari mulut Nathan.


Seperti ciuman bibir? Wajah Zoya tambah panas


"Aku jadi ingin merasakan bagaimana rasanya saling meyuapi lewat mulut," goda Nathan lagi. Senang melihat kegugupan Zoya.


Hanpir saja Zoya terbatuk. Untung dia ngga jadi tersedak akibat ucapan Nathan yang menimbulkan sensasi aneh di alam pikiran sucinya.


Laki laki ini kenapa berubah aneh jadi hiper?


Nathan tertawa melihat reaksi Zoya atas kata katanya. Dia hanya bercanda.


Lagian apa dibolehin? batinnya geli.


"Kamu kemapa?" suapan Nathan kembali hadir di depan wajah Zoya. Dia gemas melihat gadis itu masih saja terlihat melamun.


Zoya membuka mulutnya tanpa mengatakan apa apa.


Nathan memperhatikan lekat setelah ganti menyuapkan makanan itu ke mulutnya.


"Malam ini kita nginap saja, ya?"


Zoya mengangkat wajahnya, kaget lagi dengan pernyataan yang keluar dari bibir Nathan.


Nathan malah terkekeh.


"Kenapa? Aku akan telpon keluarga kamu, dan bilang kalo kita ada kerjaan di luar kota."


"Nathan," kesal Zoya ngga setuju.


Apa apaan, sih, dia memintanya untuk berbohong pada mama dan papanya.

__ADS_1


Gimana kalo ketahuan.


"Kamu fasih banget manggil namaku. Padahal dulu dulu ngga pernah," kenang Nathan.


Seingatnya dulu waktu SMP dan SMA, Zoya ngga pernah menyebut namanya.


Nathan merasa benar benar bodoh. Waktu tiga tahun yang lalu terbuang sia sia karena keegoisannya.


Setelah gadis itu menghilang, barulah dia kalang kabut. Mencari tanpa pernah bisa menemukan.


Enam tahun setelahnya, gadis itu datang sendiri ke hadapannya. Ya, memang usaha Cleora dan csnya juga yang berhasik membawa Zoya. Selebihnya karena otak pintarmya.


Sekarang tentu saja ngga akan dia lepaskan.


"Ngapain dulu manggil kamu," sindir Zoya agak mendelikkan matanya.


Sekarang aja bosnya itu memintanya memanggilnya sir. Hanya Zoya ngga tau aja kenapa lidahnya sangat ringan menyebut nama bosnya tiap dia merasa kesal.


Teringat betapa sombongnya Nathan dulu padanya. Sukanya menghindarinya. Bahkan memilih ngungsi kalo Zoya dipaksa Cleora nginap di rumahnya


Nathan tertawa melihat ekspresi kesal Zoya.


"Aku terpaksa ngindarin kamu."


"Aku tau."


Serius? Nathan menatap Zoya ngga percaya.


Ngga mungkin, batin Nathan panik. Ketenangannya memudar.


"Kamu, kan, benci benget sama aku, karena selalu ngalahin kamu. Bahkan Opa kamu juga sering meledek kamu, kan, yang tambah bikin kamu kesal," kecam Zoya dengan raut bete.


Nathan tergelak mendengarnya. Dalam hati bersyukur karena dugaannya salah


Nathan dulu sangat kelewatan. Betah dia mendiamkan Zoya. Padahal mereka sempat beberapa kali berdua saja di dalam mobil.


Ya, kadang Opa Glen suka iseng menyuruh Nathan menjemput Zoya. Tapi ngga ada sepatah kata pun terucap dari mulutnya walau sekedar basa basi. Wajahnya pun ngga ingin Zoya lihat karena selalu ditekuk.


Tapi bodohnya Zoya semakin suka sama sikap ngga peduli Nathan. Emang parah dia. Semakin dicuekin, Zoya semakin tertantang. Itu diwujudkannya dalam mengalahkan Nathan di bidang akademik.


Dia senang sekali kala melihat Nathan selalu berada di bawahnya.


Rasakan pembalasanku, cowo sombong.


Itu makian yang kerap kali diucapkan Zoya dalam hatinya.


Tapi setelah mereka berpisah, Zoya merasa kehilangan. Ngga ada lagi wajah yang selalu ditekuk saat berhasil dia kalahkan. Kuliah bukan seperri saat SMP atau SMA. Tidak ada lagi rangkingisasi di sana.


Zoya kehilangan pemacu semamgatnya.


Nathan masih tergelak. Ya, dia memang naif banget dulu. Sampai bisa mengubur rasa sukanya pada Zoya.

__ADS_1


"Kamu tau juga, ya," kekehnya sambil menjawil ujung hidung Zoya gemas.


"Apa karena sekarang aku udah jadi bawahan.kamu, kamu udah merasa menang gitu," cibr Zoya. Dalam hati bodoh amat Nathan tersinggung.


"Pengen cium loh kalo kamu ngomel terus begini," tawa Nathan lagi. Tangannya kembali menjawil ujung hidung Zoya gemas.


"'Dulu kamu pendiam. Malah suaranya jarang kedengar. Tapi sekarang kenapa hobimu ngebantah terus." Nathan menggelengkan kepalanya sambil menyodorkan suapan ke bibir manyun Zoya.


Zoya pun membuka mulutnya lagi setelah satu alis Nathan terangkat memberi isyarat agar patuh.


"Kita harus cepat pulang. Kamu udah kedinginan," tukas Nathan sebelum mengakhiri suapan terakhirnya.


Zoya ngga membantah, memamg dia cukup kedinginan karena pakaiannya yang basah di beberapa bagian.


"Aku ngga bawa baju ganti." Zoya menghembuskan nafas kesal. Jika tau Nathan akan membawanya ke sini, dia pasti akan membawa salinan ganti yang komplit.


'Tenanglah. Sudah aku siapkan. Jika kamu bersamaku, aku pasti akan selalu membuatmu nyaman." Nathan menatap lembut wajah cantik di depannya yang pipinya merona lagi, tersipu.


Jantung Zoya berdebar keras, kalimat laki laki itu sangat pamtas diucapkan oleh seorang perayu handal yang membuat mangsanya akan merasa berbunga bunga. Seperti yang dirasakannya saat ini.


Nathan laki laki yang di luar ekspetasinya.


Apa dia sungguh sungguh ingin menjadikannya kekasihnya?


Dia ngga buta, kan?


Eleanor si gadis meresahkan itu sangat cantik dan seksi. Nathan pun cukup dekat dengannya.


Apa hubungannya dengan Eleanor sudah selesai? Mereka sudah putus?


Banyak prasangka bermunculan di kepalanya.


Kemudiaj keduanya melangkah keluar dari restoran dengan tangan Nathan terus merengkuh bahunya.


Bosnya itu membalas ramah sapaan teman temannya. Mungkin Nathan bergabung dengan klub jetski di sini. Kemampuan Nathan mengemudikan jetskinya sangat mengagumkan sekali, seperti dia sedang mengendarai motor atau mobilnya saja.


Zoya juga ngga akan lupa kalo Nathan juga pernah menjadi pilot helikopter yang mengesankannya.


Laki laki ini terlalu wah. Tapi kenapa dia memilihnya jadi kekasih. Tadi aja Zoya melihat ada juga beberapa perempuan perempuan cantik di tempat jetski yang menatap dirinya penuh selidik.


Mereka pun menyapa Nathan, tapi Nathan hanya membalas seperlunya. Bahkan Nathan terus saja merengkuh bahunya seakan menegaskan kalo dia adalah kekasihnya. Zoya tersanjung karena dia masih berada dalam ketakpercayaannya.


Sekarang mereka sudah kembali menaiki jetski lagi. Zoya pun memeluk pinggang Nathan erat tanpa di suruh.


Kalo Nathan ingin menegaskan pada teman teman seklub jetskinya dirinya adalah kekasihnya, maka Zoya pun harus melakukan hal yang sama, kalo Nathan adalah miliknya.


Kali ini Zoya pun ngga sungkan tertawa di dekat telinga Nathan. Bahkan laki laki yang dulu sangat tinggi egonya ini, juga sering kali sengaja memiringkan wajahnya hingga pipi mereka selalu bersentuhan.


Rasanya hangat dan panas mengalir di tubuh Zoya. Kupu kupu tiada henti keluar dari dalam perutnya yang rasanya bak nano nano. Mulas, tegang dan bahagia bercampur jad satu.


Apa dia besok akan demam?

__ADS_1


__ADS_2