My Ex Crush

My Ex Crush
Bertemu putri bos


__ADS_3

Nathan tersenyum saat mendapat kiriman pesan dari kembarannya, Cleora.


Hatinya menjadi sangat senang setelah tau pesan yang kembarannya teruskan berasal dari Zoya.


Nathan pun membuka kontak nama Zoya pada layar pesannya.


Ternyata status gadis overthinking itu sedang online.


Dasar, batinnya dengan debaran debaran cepat di hatinya.


Apa dia menunggu kabar darinya? batin Nathan ge-er.


Kenapa ngga kirim langsung saja, sih, batinnya lagi gemas.


Kemudian Nathan pun mengirimkan beberapa buah kata pada Zoya


Ajaib. Pesannya langsung dibaca dalam waktu sepersekian detik. Ngga lama setelah itu, status gadis itu sudah ngga online lagi.


Apa sekarang dia baru bisa tidur? tawa Nathan dalam hati. Jantungnya juga berdegup kencang mewakili perasaan bahagianya.


Walaupun gadis overthingking itu ngga membalasnya, tetap dadanya bergemuruh.


Nathan sudah ngga sabar menunggu datangnya hari esok untuk melihat wajah cantik Zoya dan mengganggunya.


*


*


*


Dirga masih mematung pada pintu lift yang sudah tertutup.


Bohong kalo dia ngga sedih melihat wajah bidadarinya yang sudah basah oleh air mata.


Tapi apa yang bisa dia lakukan lagi, selain mengharap Feli hidup bahagia dengan pernikahannya, yang walaupun tanpanya.


Dia merasa jadi pengecut karena ngga bisa memperjuangkan Felicia.


Dengan lunglai, Dirga kembali ke ruangan tadi. Dia belum menyimpan undangan titipan dari Felicia buat bosnya.


Dia ngga pedulikan tatapan heran teman temannya yang tadi sempat melihatnya berlari panik. Seperti mengejar seseorang.

__ADS_1


Sekarang dia sedang menata hatinya yang porak poranda lagi setelah bertemu dengan Felicia.


*


*


*


"Titipan dari putri Pak Sudajtmoko, Pak Hima. Kartu undangan pernikahan." Dengan santun Dirga menyampaikannya pada bosnya.


Sore ini bosnya baru saja kembali ke ruangannya.


"Ooh.... Jadi Felicia yang langsung ke sini," senyum Pak Himawan agak melebar. Di kiranya hanya pengawal atau kurir yang mengantarkan.


"Iya, Pak."


"Hemm...." senyumnya lagi sambil membuka undangan itu dan membacanya.


"Mau juga Feli menuruti papinya. Sahabat ku ini agak keras. Dia selalu menjodohkan anak anaknya. Sejauh ini sukses happy ending," kekehnya tanpa tau Kalo Dirga sudah bosan mendengar ceritanya. Apalagi menyangkut papinya Felicia. Laki laki tua yang sudah membuat mereka berpisah.


Tapi Dirga bisa apa. Dia hanya bawahan yang harus selalu sabar menunggu sampai bosnya itu menuntaskan sendiri ucapannya. Dan membolehkannya pergi.


"Papa......." Terdengar sapaan manja bersamaan dengan suara pintu yang terbuka.


Seorang gadis yang sangat cantik, berjalan cepat melewati Dirga dan langsung mendekati Pak Himawan.


Bosnya mengulurkan tangannya dan menyambut pelukan anak gadisnya yang sangat manja.


Dirga pernah melihatnya beberapa kali memasuki ruangan bosnya saat dia sedang sibuk bekerja di mejanya. Tapi jaraknya tidak sedekat ini.


Baru kali ini dia melihat keakraban bosnya itu dengan putrinya.


Menurut yang Dirga dengar dari teman temannya, nama putrnya Audrey, putri bungsunya Pak Hiwawan yang sudah kembali dari sekolahnya di Belanda. Dia seorang dokter kecantikan.


Wajarlah dia sangat cantik, demikian puji teman temannya kagum dan ada juga yang iri.


"Dirga, kenalkan, ini putriku, Audrey," ujar Himawan setelah menguraikan pelukannya.


Dirga dengan sungkan mengulurkan tangannya yang dengan cepat disambut gadis itu, yang kini menatapnya dengan mata penuh binar.


"Dirga."

__ADS_1


"Audrey."


Gadis itu menarik tangannya dan menoleh pada papanya.


"Ini pegwai kesayangan papa?" candanya membuat Hiwamawan tergelak.


Dirga agak tersentak juga mendengarnya. Setaunya dia hanya pegawai biasa sama seperti teman temannya.


"Audrey, kamu bisa mengajak Dirga ke pernikahan Feli."


DEG


Jantung Dirga berdebar keras.


"Okey, papa sayang," senyumnya lagi sambil menatap Dirga yang tampak tenang seolah hadirnya ngga membawa pengaruh apa apa.


"Pak, saya bisa kembali kerja?" Dirga ngga ingin lama lama berada di ruangan ini. Mungkin keduanya juga akan mengobrol serius.


"Oh, iya. Pergilah."


Dirga pun pamit diiringi tatapan penuh makna Audrey.


"Tampan, kan, pegawai papa itu? Dia juga cerdas dan bertanggungjawab," puji Himawan berpromosi sambil mengacak gemas puncak kepala putrinya.


"Tapi pasti dia akan insecure denganku, pa. Aku, kan, putri kesayangan bosnya," sahut Audrey ringan.


"Kalo kamu mau, papa akan buat dia jadi direktur pelaksana di perusahaan tambang kita, biar dia ngga insecure sama kamu," senyum papanya sangat lebar.


"Idih, papa ngefans banget," goda Audery tergelak.


"Susah nyari laki laki seperti dia. Sudah lama papa pantau. Pintar, bertanggungjawab dan yang paling penting belum punya istri apalagi pacar," tawa Himawan senang. Wajahnya sampai kemerahan.


"Mungkin dia punya mantan yang ngga bisa dia lupain," tebak Audrey asal.


"Mungkin juga. Tapi kalo jadian sama kamu, pasti bisalah lupain mantan."


Audrey hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar keinginan kuat papanya. Dia pun tertawa.


Memang secara look sangat tampan, tapi terkesan dingin. Audrey penasaran juga.


Sudah mapan tapi belum punya pacar?Apa dia beneran patah hati?

__ADS_1


Himawan sendiri sangat menyukai Dirga. Dia ngga perlu menantu kaya, karena dia pun sudah sangat kaya raya.


__ADS_2