
Nathan kelihatannya sangat sibuk. Bahkan dia pergi sejak siang dengan ketiga sahabat SMAnya dan belum pulang hingga jam pulang kerja Zoya selesai.
Cleora pun ngga mengatakan apa apa saat mereka makan siang bersama. Malah mereka sibuk membahas kado kado pemberian Jeff.
Sampai berpisah pun Cleora ngga mengatakan kalo keluarganya akan datang melamarnya malam ini.
Walau agak kecewa tapi ya sudahlah. Zoya ngga mau ambil pusing. Lagian ngga mungkin secepat itu dia akan di lamar.
Saat pulang kerja pun Zoya ngga langsung pulang ke rumah, tapi melipir ke restoran steaknya.
Setelah membersihkan.diri, dia pun bergabung bersama mama, papa dan istri abangnya-mba Aina.
Karena kesibukannya, Zoya pun lupa hal yang sempat membuat dia merasa diprank Nathan.
"Zoya, ponsel kamu nih, getar terus. Nathan yang nelpon." Mba Aina memberikan ponselnya pada adik iparnya yang baru kembali dari mengantar steak ke para pembeli. Restoran lagi rame ramenya sekarang.
Nathan? heran Zoya sambil menerima ponselnya.
"Makasih, mba." Zoya pun menggeser tombol penerima
"Kamu dimana?"
"Ya di restoranlah."
"Oke. Siapkan satu ruang privat yagh muat dua puluh orang."
"Buat apa?" Bingung Zoya. Memang restoran menyediakan ruang buat meeting.
Apa Nathan mau meeting malam malam gini dengan klien? Mungkun sekalian promosiin restoran steaknya. Zoya jadi tersenyum karena teringat misinya yang mulai membuahkan hasil.
Terdengar helaan nafas berat Nathan.
"Kan, aku udah bilang kalo malam ini mami dan daddy mau ngelamar kamu. Bahkan Opa dan omaku juga mau ikut."
Jantung Zoya berdebar keras. Dan semakin cepat
Dia ngga bohong?
"Satu jam lagi kami sampai ke sana, oke."
"Tap..... tapi......" Telpon diputus oleh Nathan.
Zoya masih bengong. Sementara pengunjung restoran lagi rame ramenya.
Bagaimana ini......
Bagaimana......? batinnya panik.
"Ada apa?" Rupanya Mba Aina memperhatikannya sejak tadi sambil menerima uang dari pembeli. Bahkan tangannya pun seperti sudah hapal di mana letak uang berdasarkan nilainya. Sesekali menatap pengunjung, sesekali menatap Zoya khawatir
"Nathan......." Pikiran Zoya masih belum ngumpul. Bahkan kini kedua kakinya gemetar.
"Nathan kenapa?"
Zoya terdiam. Bingung dengan kata kata yang rebutan ingin keluar dari mulutnya.
"Mau datang."
"Ooh..... Biarkan saja," Senyum Mba Aina lega. Dia dikira ada apa. Tapi memang agak aneh karena wajah Zoya sangat pucat, padahal cuma mau bilang Nathan mau datang.
__ADS_1
Kenapa Zoya sangat gugup sampai tremor gitu? batin Mba Aina yang melihat kedua tangan adiknya yang bergetar.
Dulu saat masih pacaran dengan Erwin, biasa saja waktu laki laki tampan itu mau datang menemuinya di rumahnya.
Kecuali pada saat itu. Aina juga pernah mengalami tremor dan parahnya mual mual akibat stres gara gara keluarga Erwin mau melamarnya. Dia stres dan yakut kalo acara lamaran ngga berjalan lancar. Aina jadi senyum senyum mengingatnya.
"Sama keluarga besarnya," ucap Zoya dengan suara bergetar. Degup jantungnya semakin kencang.
"Apa?" Kali ini Aina merasakan firasat aneh.
"Mereka mau melamar aku, mba."
Kedua.pasang mereka saling pandang.
"Mba, steak yang nomer 2, makan di sini. Empat porsi."
Suara pembeli mengagetkan keduanya.
"Maaf, bu. Restoran mau tutup. Dibungkus aja, ya, bu," tolak Aina sopan. Zoya sampai terbelalak dengan respon cepat Mba Aina.
"Sayang sekali. Padahal belum jam delapan," keluh ibu itu sambil menatap jam di tangannya.
"Iya bu. Ada acara keluarga soalnya," tutur Aina sopan.
Ibu itu pun tersenyum maklum
"Ya udah ngga apa apa. Dibungkus empat ya," sahut ibu ibu itu mengalah
"Ya bu, terimakasih."
Aina pun memberi isyarar agar pekerjanya menaruh plang close, karena pembeli masih banyak.yang antri dan berdatangan. Mereka yang sudah telanjur antri pun bersedia untuk ngga makan di tempat.
Ini sangat mengerikan. Tapi Aina harus lebih kuat dari pada Zoya yang masih gemetaran sampai saat ini.
'Aina, ada apa? Kenapa kita close?" Mama mertuanya menatap menantunya heran. Bahkan menantunya sibuk melayani sistem bawa pulang. Padahal malam baru saja terbit bulan.
"Mama dan papa harus dandan yang cantik," bisiknya dengan senyumnya yang merekah.
"Hemmm?" Mama mertuanya semakin heran menatap wajah menantunya yang sumringah.
"Keluarga Nathan mau datang ke resto ini buat ngelamar Zoya, Ma."
Sedetik
Lima detik.
Sepuluh detik.
Mama mertuanya sempat merasa jantungnya berhenti berdetak.
"Kamu serius? Kenapa baru mengabari? Aduh, bagaimana ini. Kita ngga punya apa apa buat menjamu tamu." Mama mertuanya terkena panic attack.
"Tenang, ma. Aina udah siapin yang bisa aja. Soalnya dadakan juga," kata Aina sambil mengajak mama mertuanya mendekati papa mertuanya. Aina lega melihat suaminya sudah datang.
"Ada apa ini?" tanya papa merrtuanya heran melihat istrinya tampak panik. Tadi dia juga heran melihat Zoya dan bebearpa pekerja buru buru ke ruangan meeting yang lagi kosong.
"Keluarga besar Nathan mau datang ngelamar Zoya, Pa."
Papa mertuanya terhenyak mendengarnya.
__ADS_1
"Serius?" senyum lebar tersungging di bibir Erwin.
"Kenapa dadakan," kekehnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Iya, papa juga mau bilang gitu."
"Gimana ini, Pa. Kita ngga mungkin nyambutnya biasa biasa aja," rajuk mama mertuanya bingung.
"Bang, pulang, ya. Ambil baju ganti buat kita. Tadi Aina udah nyuruh Ika sama Iwan bawa mobil beli buah dan kue."
"Syukurlah, terima kasih, sayang." Mama mertuanya menggenggam lembut tangan menantunya. Aina cepat tanggap menghadapi situasi gawat darurat ini
"Oke, abang pulang dulu, ya. Mam, Erwin masuk ke kamar mama sama papa, ya," ucap Erwin setelah mengecup kening istri pintarnya.
"Oh iya, Win. Ambil koper di dekat lemari. Itu pakaian baru semuanya. Ngga tau kenapa kemarin mama belanja pakaian resmi buat keluarga. Bawa itu, ya," sahut Mama membuat suasana haru.
"Firasat mama kuat ternyata kalo anaknya mau dilamar," kekeh papanya diikuti mama, Erwin dan Aina.
Kemarin mamanya juga heran, setelah arisan dengan teman temannya, beliau mampir di butik yang terdapat di dalam mall itu. Beliau memborong pakaian resmi buat dirinya, suaminya, anak anak dan mantunya, juga buat Widya, cucunya. Teman teman arisan sempat meledeknya. Saat itu dia hanya tertawa saja. Tapi untunglah semuanya bisa berguna di saat yang tepat.
"Papa akan menghubungi Dirga."
"Ya, Pa. Apa dia lembur lagi,' geleng kepala Erwin sambil melangkah pergi.
"Hati hati bang," seru Aina.
"Ya sayang."
*
*
*
"Kamu ini gimana, sih, Nathan. Kenapa baru ngasih tau Zoya," omel Khanza gemas saat Nathan sudah menutup ponselnya.
Dia pun meringis karena jeweran maminya pada daun telinganya yang terasa cukup pedas.
"Tadi ada insiden kecil, Mam, saat aku mau ngasih tau Zoya."
"Insiden apa?" tanya Khanza tertarik sambil melepaskan jewerannya. Cleora terkikik melihatnya. Mami mereka selalu saja memperlakukan mereka seperti anak kecil.
Dengan singkat Nathan menceritakannya.
"Setelahnya aku sibuk, mam, ngurus tender dan lihat proyek bareng Fazza, Eriel sama Jeff."
"Ooo....." Khanza manggut manggut mengerti. Dia jadi ilfeel mendengar cerita Nathan tentang Eleanor.
"Hey, Kelinci. Kenapa kamu ngga ngomong ke Zoya kalo malam ini kita mau ke rumahnya," hardik Nathan yang melihat Cleora terus tertawa senang melihatnya tadi dijewer mami.
"Aku, kan, ngirain kamu udah ngasih tau Zoya," ejek Cleora membela diri. Dia ngga tega menggoda Zoya di depan ketiga sahabatnya tentang lamaran Nathan malam ini. Pasti Zoya sangat gugup dan malu. Apalagi saat makan siang tadi, Zoya terlihat lebih pendiam dan hanya sesekali tertawa menanggapi obrolan mereka.
Nathan mendengus kesal.
"Sudah jangan bertengkar. Untung Opa Glen belum datang," lerai Khanza pada kembarannya yang susah akur.
"Kasian juga keluarga Zoya. Pasti sekarang lagi kalang kabut," omel Khanza sambil menghela nafas panjang.
Nathan dan Cleora saling pandang. Dalam hati merasa bersalah juga.
__ADS_1
Dasar memang anak anaknya, batin Khanza mengelus dada.