My Ex Crush

My Ex Crush
Acara Lamaran


__ADS_3

Begitu pembeli terakhir keluar dari restoran, tujuh1 sedan mewah memasuki parkiran, satu suv dan satu buah nobil box.


"Mereka datang," seru ika yang bertugas menunggu di depan pintu masuk restoran. Dia yang bertugas berjaga di depan pintu, menunggu kedatangan tamu tamu penting.


Mama dan papa Zoya saling pandang dengan jantung berdebar kencang


"Dirga belum darang?" tanya mama mulai tegang.


"Nggak bisa dihubungi. Mungkin masih di dalam kilang," jelas papanya.


"Ayo, kita nemuin mereka, Ma," kata papa lagi sambil menggandeng istrinya ke depan menemui tamu tamu mereka.


Erwin dan Aina juga mengikuti di belakang mereka. Anak mereka yang baru berumur dua tahun sudah tidur.


Sementara itu Zoya sudah menyambut kedatangan mereka dengan tercengang.


Selain membawa keluarga besarnya, Nathan juga beberapa bodyguard yang sedang mengeluarkan banyak barang dari dalam mobil box. Ngga tau apa isinya. Nathan ngga memberitau apa pun, kecuali tentang kedatangan keluarga. besarnya.


"Ini dia yang selalu mengalahkan cucu jenius, Opa," seru Opa Alva saat istrinya Tamara memeluk Zoya dengan erat.


"Memang cuma kamu yang pantas jadi istrinya cucu Oma," tawa Oma Tamara ketika suaminya juga ikut merangkul mereka.


"Gantianlah, Oma Mita juga ingin peluk," kekeh Oma Almita, istri Opa Glen yang juga terkekeh. Mereka sudah mengenal Zoya saat gadis itu masih SMP dengan cucu cucu mereka.


"Aku juga ingin Fazza cepat punya istri," rajuk Oma Aruna pada suaminya Opa Kiano yang tergelak sambil mempererat rangkulannya pada bahu istrinya.


Cucu tunggal mereka.dari Kendra dan Zayra sampai sekarang belum juga menunjukkan ketertarikan dengan perempuan. Padahal cucu Alva, dua duanya sudah siap untuk menikah.


Sedangkan Fazza, hilal jodohnya saja belum terlihat.


"Kita kalah start," kekeh Opa Kiano.


"Fazza terlalu hati hati," kekeh Kendra jika mengingat kelakuan putranya.


"Betul," sambung Zayra yang sangat paham dengan kelakuan Fazza.


Regan dan Dinda pun terkekeh.


"Kapan lagi kita bisa kumpul begini. Sudah lama juga kita ngga barbeque," tukas Reno dengan tawa bahagia. Siang tadi saat Alva mengajaknya untuk ikut di acara lamaran cucunya Nathan, dia langsung meng-iyakan.

__ADS_1


"Sudah bukan saatnya lagi kita barbeque. Mau darah tinggi lo kumat lagi," sarkas Arga. Lagi lagi mereka tergelak mengingat Reno pernah nginap di rumah sakit


Reno senpat terkena stroke ringan. Untunglah sudah sembuh dan mereka sekarang memgurangi makan daging. Faktor umur sudah pasti.


Walau pun masih terlihar tampan dan kuat, tapi metabolisme tubuh mereka sudah melambat.


"Karena Glen, kalian jadi bersaudara. Hanya aku saja yang belum nyantel dengan kalian," keluh Reno,


Arga tertawa membenarkan. Anak anak Glen yang berjumlah tiga orang sudah mengikat Kiano dengan pernikahan Salma dan Dhafi. Dengan Alva melalui pernikahan Kalil dan Khanza. Sedangkan putri bungsu Glen shakila menikah dengan putra bungsunya, Qabil.


Sedangkan Reno belum mengikatkan anaknya maupun cucunya dengan mereka.


Ini adalah lamaran perrtama kali untuk cucu spektakuler mereka. Jadi mereka wajib hadir. Lagi pula mereka sudah cukup mengenal Zoya, karena Zoya dulu selalu ikut kalo ada liburan bersama.


"Calon mantu mami," suara Khanza terdengar sangat ceria. Zayra juga mendekat bersama Qonita dan Rain.


Suara tawa terdengar semakin berderai derai.


Kalil dan Khanza pun menghampiri papa dan mama Zoya.


"Maaf Pak Ridwan, saya bawa rombongan," senyum lebar Kalil sambil menjabat tangan Papa Zoya-Ridwan.


'Saya merasa tersanjung karena Pak Kalil sangat menghargai keluarga saya." Dalam hati Papa Zoya sangat terharu. Karena tamu tamu yang datang bersama Papi Nathan adalah orang orang konglo.yang setipe dengan Kalil.


Mereka sama sekali ngga sombong dan ramah sekali. Padahal mereka pun mungkin sama atau bahkan lebih kaya dari Sudjatnoko yang sangat sombong dan kejam terhadap putra kesayangannya.


Mama Zoya juga dipeluk hangat oleh Khamza. Perasaan haru biru juga memenuhi rongga dadanya. Dia merasa keluarganya sangat diterima oleh para konglo yang super tajir melintir.


Melihat para bodyguard yang tiada henti bolak balik membawa kotak kotak yang sudah dihias dengan cantik, membuat Papa Zoya kagum sekaligus sungkan


Zoya sangat diterima rupanya.


"Harusnya Nathan sudah mengatakannya tadi pagi pada Zoya, tapi karena banyak hal membuatnya lupa. Maaf, ya, Bu Ridwan," jelas mami membuat Natahan hanya bisa nyengir. Dalam hati tergelak karena maminya terus saja mengungkit kesalahannya. Nathan tau maminya pasti merasa ngga enak dengan keluarga Zoya.


"Sebenarnya bukan salah Nathan, tante. Tapi salah saya. Nathan udah ngasih tau, tapi saya pikir Nathan becanda," ralat Zoya merasa bersalah karena memang Nathan yang sudah memberitau. Tapi dianya aja yang ngga yakin kalo ucapan Nathan bukan candaan.


"Ciee.... dibelain," tawa Opa Reno ngakak diikuti yang lainnya juga


"Padahal aku ngga pernah becanda loh, Opa, sama Zoya," timbrung Nathan santai, membuat suasana ceria makin kerasa.

__ADS_1


"Dengar Zoy, anak daddy selalu serius loh kalo sama kamu," goda Kalil tambah membuat suara tawa tambah berderai derai.


"Cucu siapa dulu," sambung Opa Glen bangga dengan kekehannya yang paling keras.


"Cucu gue juga, dong," timpal Opa Alva ngga mau kalah.


Wajah Zoya sudah sangat merah matang.


Mereka pun kemudian berjalan santai memasuki ruang privat yang sudah disiapkan.


Ruang dalam restoran pun tampak menawan karena Erwin sempat memesan bunga bunga hidup untuk menghias bagian dalam restoran dan ruang privat.


"Hebat, ngga nyampe sejam, restoran bisa dibuat jadi indah begini," puji Oma Qonita yang disetujui yang lain.


"Betul," balas Oma Tamara. Ngga nyangka juga keluarga Zoya sangat tanggap dan cepat sekali merespon dalam waktu yang sangat singkat.


Kelakuan cucu jeniusnya pasti sudah membuat keluarga Zoya sempat pusing tujuh keliling


Setelah saling becanda dan berderai derai tawa, mereka pun masuk pada tema pokok kedatangan malam ini untuk melamar Zoya buat Narhan.


"Nikahnya bulan depan, setuju?" putus Opa Alva ngga sabar. Mumpung dia masih kuat menggendong cicitnya nanti. Rasanya sudah ngga sabar melihat cucu yang pasti super jenius. Mami dan daddynyw yang pintar banget. Terutama maminya. Selalu membuat daddynya ngga percaya diri.


"Gimana Pak Ridwan. Jangan khawatir, kita semua akan turun tangan untuk menyukseskan semua," sambar Rakha.


"Betul, kita akan bagi tugas nanti," sambung Kendra.


"Tenang, Pak Ridwan. Banyak yang akan membantu," balas Kalil dengan senyum lebarnya. Dia beruntung, sahabatnya juga sahabat daddynya masih selalu kompak.


Perasaan mereka memang sudah sangat terikat. Padahal ini belum semua sahabatnya dan sahabat daddynya yang siap memeriahkan pernikahan putranya nanti.


Pak Ridwan dan keluarganya benar benar terharu sampai mata mereka berkaca kaca. Enam tahun yang lalu mereka sudah dihancurkan, tapi sekarang mereka yang bukan siapa siapa ini dirangkul dengan erat.


"Apa ngga terlalu cepat, Cleo," bisik Zoya yang duduk bersebelahan dengan Cleora.


"Malah bagus, kan." Cleora mengedipkan sebelah matanya dengan senyum jahilnya.


"Apa nanti kita nikahnya barengan?" bisik Zoya lagi setelah sempat terdiam karena malu


"Nggaklah..... Kamu duluan. Aku bulan depannya setelah kamu," senyum Cleora. Zoya pun tersenyum malu dan canggung.

__ADS_1


__ADS_2