My Ex Crush

My Ex Crush
Maen Golf


__ADS_3

"Putrimu mau menikah, tapi kamu masih sempat sempatnya ngajak aku maen golf," kekeh Kalil sambil menenteng stik golfnya.


Sudjatmoko tertawa. Ngga disangkanya ajakan bermain golf di lapangan miliknya langsung di terima Kalil. Bahkan csnya Kalil, Rakha juga ikut serta. Sudjatmoko juga membawa satu orang temannya. Jadi suasana cukup rame.


Saat ini mereka akan berististirahat setelah menuntaskan permainan yang cukup seru, dengan skor yang saling kejar kejaran antara Kalil dan Rakha. Kalil bisa berbangga diri menang dengan skor tipis.


"Aku juga perlu bugar, kan," kekeh Sudjatmoko disambut tawa yang lain.


"Putra putri kalian kapan akan menikah?" Sudjatmoko menatap ke tiga relasi bisnisnya


"Masih lama," kekeh Rakha, karena putranya-Eriel sama sepertinya dulu, player. Belum mengenalkan padanya sosok perempuan yang dia seriusi.


Kalil hanya tertawa karena dia ngga punya target untuk menikahkan si kembar.


"Oh iya, Ronie, putrimu kalo belum punya calon, bisa coba besanan dengan Rakha atau Kalil." Sudjatmoko mulai memberikan umpan matangnya.


Ronie hanya tertawa.


"Putriku ngga sepenurut putrimu. Dia ngga mau dijodohkan," kekeh Ronie, menolak halus. Kalil dan Rakha tergelak.


Sudjamoko balas tertawa mendapat sentilan sahabatnya.


"Kamu sukses juga ya, dengan menjodohkan anak anakmu," tawa Rakha yang sangat mengerti sifat asli Sudjatmoko. Setengah menyindir.


Sekarang ini adalah pernikahan putri ketiganya melalui perjodohan.


Kedua putranya tampak bahagia dengan istri istri mereka. Bahkan dia sudah punya cucu yang manis manis.


"Ya, aku lebih suka menikahkan anak anakku dengan orang yang sudah ku kenal dan tau bibit, bebet dan bobotnya. Buktinya mereka bahagia," katanya sombong.


Ketiganya ngga menanggapi hanya tertawa saja.


"Kalo kita sudah jelas keluarganya, akan lebih tenang. Apalagi yang setara. Ngga akan ada rasa rendah diri," sambung Sudjatnoko sarat makna.


"Ya, ya, nambah mantu, cucu dan nambah bisnis, ya," kekeh Rakha lagi. Tetap menyindir.


"Begitulah." Sudjatmoko.ikut tertawa. Dengan pernikahan kedua putranya, kini bisnis perhotelan dan pesawat terbang tingkat Eropa bisa dia rengkuh.


Kini Felicia, sudah dia jodohkan dengan relasi yang punya bisnis pertambangan di Qatar. Setelah menikah, putrinya akan langsung dibawa ke sana. Dia ngga akan bertemu lagi dengan mantan kekasih lamanya.yang miskin.


"Putrimu Felicia cantik dan pintar," puji Kalil. Dia pernah melihatnya.


"Apa dia ngga pernah punya pacar?" sambung Kalil iseng.

__ADS_1


"Dulu pernah."


"Ohya?" Kini ketganya fokus menatap Sudjatmoko dengan praduga yang sama.


Sudah putus atau diputuskan olehmu?


"Tapi dia tau aturan papinya. Kalo pacaran ngga boleh serius. Karena jodohnya, papinya yang akan menentukan."


Ketiganya saling pandang, sama menggelengkan kepala. Malas berdebat lagi.


"Aku lihat Kalil dekat banget dengan sekretarisnya," tuding Sudjatmoko sambil memainkan botol kecil minuman air mineralnya.


"Oooh, iya." Kalil tersenyum.


"Wajarlah, sekretaris ikut bos kemana mana," seloroh Ronie santai.


"Zoya, ya," tebak Rakha, karena Eriel-putranya sempat bercerita padanya.


"Iya. Aman sekarang setelah Zoya yang jadi asisten," tawa Kalil, lega karena lepas dari omelan kembaran Nathan-Cleora tiap bertemu dengannya, tentang sikap Nathan yang selalu saja memecat asistennya .


"Putriku juga ikut waktu tes pencarian asisten anakmu. Tapi dia mengundurkan diri setelah keterima. Katanya ngeri dengar rumor kerja putramu," tawa Ronie tergelak gelak.


Kalil tambah keras tawanya. Begitu juga Rakha. Hanya Sudjatmoko yang gagal paham.


Mengapa menyia nyiakan kesempatan berdekatan dengan putra dari keluarga yang sangat kaya raya dan setara.


"Tdak.ada yang direbut. Yang jadi asistennya itu nilainya sempurna, ngga ada yang mendekati nilainya. Katanya dia menang mutlak. Kontentan lain pun ngga mengganggu gugat," jeda Roni sambil menarik nafas lagi.


"Hanya saja putriku ngga mau kalo pemilik nilai sempurna itu mundur dan dia jadi penggantinya," jelas Ronie setelah tawa mereka sama sama mereda.


"Kenapa bisa begitu?"


"Nathan terlalu keras bekerja. Ngga semuanya bisa mengikuti ritme kerjanya," bela Kalil akan sikap perfeksionis putranya


"Oooh.... Tapi aku yakin kalo asistennya akan bertahan karena menyukai Nathan," tuduh Sudjatmoko menghasut.


Kalil dan Rakha saling pandang dan tertawa keras bersama membuat Sudjatmoko dan Ronie menatap keduanya heran.


"Aku malah senang kalo itu terjadi. Sepeerinya Zoya sudah membuat kembaran Nathan berhenti ngomel," jelas Kalil di sela tawanya.


"Apa mereka saling mengenal?" tanya Ronie tertarik.


"Begitulah. Dia teman sejak SMP sampai SMA. Otaknya encer banget. Sejak ada Zoya, Nathan ngga pernah juara satu," jelas Rakha dengan seringai mengejek pada Kalil yang cuek aja.

__ADS_1


"Padahal putramu terkenal jenius, kan," agak kaget Ronie menyela. Nathan sangat terkenal sebagai pebisnis muda yang jenius dan ambisius.


"Hanya Zoya saja yang ngga bisa dia kalahkan," tukas Kalil terkekeh.


"Apa ujian tesr itu ngga bocor hingga dia berhasil mendapat nlai sempurna?" tuduh Sudjatmoko.


"Bisa aja, kan, karena kembaran Nathan sangat menginginkan temannya jadi asisten Nathan," lanjutnya lagi di tengah keterdiaman ketiga.


Rakha ingin menyemprot mulut kurang ajar Sudjatmoko yang sembarangan saja memfitnah. Ronie juga merasa ngga enak hati. Tapi dia percaya dengan kredibilitas Kalil dan keluarganya.


Kalil tertawa keras membuat ketiganya memandang Kalil yang tampaknya ngga tersinggung sama sekali.


"Rumor begitu pasti tetap ada. Perlu di ketahui, perusahaan kani bekerja sama dengan lembaga khusus pembuat soal ujian nasional. Soal soal itu pun baru datang di pagi hari saat tes akan berlangsung," jelasnya panjang lebar.


"Oooh.... Boleh juga aku pinjam idemu buat rekrutan pegawai baru nanti," kekeh Sudjatmoko meredakan ketegangan akibat ucapan asal dari mulutnya.


"Silahkan."


"Kalil, kamu sepertinya ingin menjodohkan putramu dengan gadis yang jadi asistennya. Apa selain pintar dia juga anak orang kaya seperti kita?" decih Sudjatmoko membuat ketiganya saling pandang dan tersenyum.


"Orang tuanya bukan orang miskin. Kalangan menengahlah. Memang jauh dari kita. Asalkan Nathan nyaman dengannya, apalagi yang harus aku pikirkan. Investasi kepintaran juga penting untuk masa depan perusahaan, bro," tegas Kalil panjang lebar.


Sudjatmoko terdiam. Tenggorokannya terasa pahit untuk membantah.


"Aku setuju. Aku juga akan memikirkan kenyamanan putriku memilih jodohnya. Asal dia bukan pencuri atau orang malas, pasti aku terima," sambar Ronie salut dengan pemikiran bijak relasinya.


"Tapi prinsip tiap orang tua memang berbeda. Yang penting anak anak ngga keberatan jika kita menjodohkannya," tukas Rakha santai saat melihat rahang Sudjatmoko yang agak mengeras.


Diantara relasi bisnia mereka, Sudjatmoko terkenal paling bertangan dingin. Bahkan ketiganya sempat mendengar rumor ngga sedap bertahun tahun yang lalu. Sudjatmoko kabarnya sudah membunuh kekasih putrinya. Tapi sampai sekarang mereka ngga tau kebenaranya. Mungkin hanya isu saja.


"Ya, mungkin kalian berpikir begjtu. Tapi bagjku putriku terlalu berharga untuk diberikan pada laki laki yang kekayaannya ngga ada seujung kuku denganku."


Ketiganya pun batuk batuk karena pembicaraan yang semakin memanas dan mulai membosankan.


"Mau maen lagi apa pulang?" tanya Rakha yang sudah mulai gerah. Dari awal sudah malas menerima ajakan Kalil. Tapi karena kata Kalil, dia ngga enak menolak tawaran Sudjatmoko dan ngga mau datang sendiri, dia pun memaksanya ikut. Rakha pun mau dengan ogah ogahan.


"Pulang aja, sudah sore," putus Ronie yang juga sudah ngga nyaman dengan pembicaraan ini.


"Oke," putus Kalil sambil menyimpan stik golfnya ke dalam tas. Rakha dan Ronie pun melakukan hal yang sama.


Sudjatmojo menghela nafas kesal melihat ketiga relasinya bersiap pergi.


Ngga disangkanya, ketiganya memiliki pendapat yang berbeda dengannya.

__ADS_1


Awalnya dia ingin menjodohkan putri Ronie dengan putra Kalil, yang tentu sangat pantas dari pada adik Dirga yang keluarganya hanya punya beberapa restoran stik saja. Tapi sepertinya kali ini dia gagal.


__ADS_2