My Ex Crush

My Ex Crush
Makan Bareng


__ADS_3

"Cleo, kita ngga mungkin, kan, bareng mereka, kan," bisik Indri enggan.


Mana bisa tenang makan kalo begini, sungut batinnya mengeluh.


"Kamu mau dispike adik sepupuku seperti si bule?" tantang Cleora setengah berbisik.


Indri terdiam. Begitu juga Moana dan Freya yang mendengarmya. Tentu saja mereka ngga mau. Adik sepupu Cleora sangat judes dan juga berlidah sangat tajam.


Zoya hanya menghela nafas kasar.


Harusnya tadi sahabatnya ngga memberitau tujuan mereka, sesalnya dalam hati.


Kalo.sudah begini, siapa yang mau tanggung jawab, sambung lagi, membatin mangkel.


Dengan terpaksa mereka pun melangkah pergi mengikuti rombongan Nathan.


"Aku serem kalo Nathan beneran ngasih kita SP3," keluh Indri langsung merasa kepalanya pusing.


"Eh, kamu sakit?" kaget Zoya yang berada di dekatnya, agak limbung.


"Dri, kamu kenapa?" Freya juga kaget dan membantu Zoya memapah Indri.


"Aku ngga apa apa," sahut Indri setelah merasa pusingnya berkurang.


"Kamu pikir aku akan membiarkan kamu kena SP3? Ya, nggak lah," kekeh Cleora merasa gemas melihat kecemasan Indri.


Padahal kalo dipecat pun, dia bisa saja kerja di perusahaan keluarganya.


Reaksinya benar benar seperti orang yang bakal jadi gelandangan kalo dipecat. Padahal SP3 juga bukan pemecatan. Hanya surat peringatan yang bisa saja diabaikan, karena sahabat sahabatnya masih punya backingan, ya dirinya lah. Nathan pasti akan mikir panjang kalo mau mecat sahabat sahabatnya.


Zoya melirik Nathan yang ternyata sedang menatapnya dengan tatapan aneh.


Pagi ketemu, siang juga ketemu. Setelah itu ketemu lagi sampe sore. Bosan tau, batin Zoya mengeluh. Tanpa sadar Zoya menghembuskan nafasnya.


Padahal tadi dia sudah senang karena bisa menghindari Nathan pas jam makan siang. Setidaknua dia akan bisa bernafas dengan bebas walau hanya sebentar saja. Eh, sekarang malah makan bareng.


Kembali Zoya menghembuskan nafas panjang.


Sebenarnya hiburan juga buatnya melihat Agni yang selalu menghalangi Eleanor yang ngga bisa mendekati Nathan.


Gadis itu benar benar mengekep Nathan agar gadis yang bernama Eleanor ngga pernah bisa mendekatinya.


Mereka pun berjalan dengan kelompok masing masing. Yang berjalan di depan Nathan bersama Agni disusul para lelaki itu dan Eleanor. Dan di belakangnya Zoya bersama teman temannya.


Tapi mata Zoya melihat beberapa laki laki berseragam yang mengikuti mereka.


Pengawalnya? batin Zoya sambil melirik Cleora yang tampak cuek. Mungkin sudah terbiasa.


Kedatangan mereka di kantin perusahaan yang luas membuat semua perhatian teralihkan.


"Kelihatannya penuh," ujar Indri sambil menatap Freya yang mengangguk.


Seorang pelayan kantin tergopoh gopoh mendekat.


"Tu tuan dan nona muda," sapa ibu pelayan itu sampai tergagap. Ngga nyangka putra dan putri pemilik perusahaan akan melipir ke sini. Di tambah lagi orang orang yang berada di dekatnya yang bukan orang biasa.


"Masih ada meja yang kosong, bibi?" tanya Nathan sambil memandang sekeliling kantin yang penuh.

__ADS_1


Pertanyaan yang ngga perlu, batin Eriel menyindir.


"Emmm.... Kami akan menyuruh para pegawai yang selesai untuk pergi, tu tuan muda," ucap bibi pelayan kantin takut dan cemas. Tidak ada kursi yang kosong, dia dengan sangat terpaksa akan mengusir pengunjung yang merupakan pegawai yang sudah hampir selesai. Mereka pasti akan mengerti.


Nathan melirik salah satu pojok yang berisi tanaman tanaman hias untuk mempercantik kantin.


"Tidak perlu bibi," tolaknya sambil melihat para pengawalnya yang berdiri di dekat mereka.


"Siapkan kursi dan meja untuk kami di sana," perintahnya tegas.


"Siap tuan muda." Segera para pengawal itu pergi dan melakukan persiapan


"Kenapa harus memaksa. Bukannya lebih baik kita makan di luar saja," omel Cleora atas sikap berlebihan kembarannya.


Zoya, Moana, Freya, dqn Indri bahkan Eleanor setuju dengan apa yang dikatakan Cleora.


"Aku orangnya konsisten," sahut Nathan datar. Eriel, Fazza dan Jeff hanya bisa nyengir.


Siapa yang bisa membantah segala kata sang tuan muda.


Cleora hanya bisa mendengus kesal.


Ngga tau dari mana, tapi para pengawal itu berhasil mendapatkan kursi sesuai jumlah orang orang yang dibawa tuan mudanya.


"Si silakan tuan muda."


Bibi pelayan pun terkejut sampai ngga bisa berkata apa pun lagi melihat pot pot tanamannya yang berada di pojok ruangan sudah disingkirkan. Berganti dengan kursi kursi kokoh dan dua buah meja kecil.


Eleanor pun berdecih kesal melihat apa yang diperbuat Nathan.


Dan dia tambah kesal melihat Nathan sudah diapit Agni dan Cleora.


Fazza mendorong Jeff hingga dia berada di samping Cleora.


Dia menatap penuh terima kasih pada Fazza yang mengedipkan sebelah matanya pada Jeff.


Cleora tentu saja tersentak melihat Jeff sekarang berada di sampingnya.


Sudah sejak setahun berlalu, Cleora menghindari Jeff. Dia terlalu sakit hati karena melihat secara langsung Jeff bercumbu dengan tunangan piala bergilirnya.


Walaupun Jeff beralasan dia mabok dan mengira sedang mencium Cleora, tapi kenyataannya, kan, bukan begitu.


Cleora ngga bisa memaafkan Jeff. Cleora mengira sudah benar benar berpisah saat dia dan Nathan pulang. Tapi ngga nyampe sebulan kemudian Jeff pun menyusul.


Zoya masih bingung dengan sikap Cleora. Kenapa dia melayani kelakuan kekanakan Agni.


"Ada yang aneh dengan Jeff dan Cleo," bisik Moana yang berada di dekat Zoya.


"Hemm.....?" Zoya reflek melirik Cleora dan Jeff bergantian.


"Jangan dilihat, nanti ketahuan kita ngomongin dia," kata Moana mengingatkan.


"Eh, iya," senyum Zoya. Tapi syukurlah sepertinya Jeff dan Cleora ngga tau.


"Cleora terkesan menghindar Jeff," bisik Moana lagi.


"Oya?"

__ADS_1


"Jangan dilihat lagi, Zoy," kesal Moana lirih ketika melihat Zoya akan melihat Jeff dan Cleora lagi.


"Sorry, lupa," kekeh Zoya pelan.


"Tau sendiri, dulu, kan mereka cukup akrab," sambung Moana lagi.


"Iya." Cleora-gadis yang supel. Dia cukup akrab dengan Jeff dan Eriel. Kalo akrab dengan Fazza, wajar karena mereka sepupuan.


"Aku curiga, mereka ada apa apa," tambah Moana lagi.


Zoya menatap Moana sekilas. Sahabatnya memang cukup peka dengan apa yang terjadi di sekitarnya.


Hanya saja Zoya berharap agar Moana ngga bisa melihat perasaan sukanya pada Nathan.


Ngga lama kemudian pesanan mereka pun diantar. Tanpa kata mereka menikmatinya.


Zoya merasa seperti ada yang menatapnya. Perasaannya mengatakan Nathan. Tapi kali ini Zoya tetap menunduk. Dia ngga mau Moana bisa melihat apa yang dia lakukan jika dia balas melihat Zoya.


Kalo itu terjadi, dia bisa diinterogasi Moana abis abisan.


"Sorry," ucap Jeff saat tangannya bersentuhan dengan tangan Cleora saat akan mengambil sambal. Entah kebetulan atau sudah janjian (hal yang ngga mungkin😅) keduanya sama sama memesan soto banjar.


Jeff pun reflek menarik tangannya. Begitu juga Cleora.


"Ehem..... Ehem. Lady first, dong, Jeff," canda Eriel sambil pura pura batuk.


Nathan dan Fazza tersenyum samar.


Wajah Cleora merona.


Zoya, Moana reflek fokus memperhatikan Cleora yang tampak salah tingkah, walau berusaha dia sembunyikan.


"Tuh, kan," bisik Moana lagi, apalagi melihat Jeff mendekatkan mangkok kecil sambal pada Cleora.


"Jangan terlalu banyak," kata Jeff lirih. Ini adalah percakapan keduanya setelah setahun mereka saling diam.


Cleora ngga menjawab, juga ngga menuruti kata kata Jeff. Dia malah tiga kali menyendok sambal ke mangkok sotonya.


Jeff menatapnya ngeri sedangkan Nathan ingin sekali membuang soto kembarannya yang pasti sekarang rasanya hanya sambsl saja saja.


Dia kenapa, sih? Sengaja mau buat asam lambungnya kambuh, gedek Nathan dalam hati.


"Apa yang kamu lakukan?" kaget Cleora ketika melihat Jeff mengambil mangkok sotonya.


"Kamu makan sotoku saja," tukas Jeff sambil memberikan mangkoknya dan dengan cepat melarikan mangkok sambal dari Cleora.


"Aku mau sambal," sergah Cleora kesal.


"Sudah aku berikan setengah sendok," sahut Jeff tenang.


Cleora ingin mendebat Jeff lagi. Tapi dia merasa beberapa orang sedang menatapnya dengan tatapan beda.


"Terserahlah," jawab Cleora judes, tapi dalam hati sangat khawatir dengan Jeff.


Sotonya sudah sangat merah. Itu sambal soto, batinnya cemas.


"Yakin mau dimakan?" bisik Fazza juga ngga kalah khawatir.

__ADS_1


"Kalo bisa buat Cleo memaafkan aku, akan aku habiskan," pungkas Jeff menguatkan hati.


Fazza ngga tau harus berkomentar apa lagi melihat tindakan bodoh sahabatnya.


__ADS_2