
"Nyenyak tidur tadi malam?" goda Nathan ketika Zoya menemuinya di ruangannya.
Zoya ngga menjawab. Wajahnya bersemu merah. Dia kurang tidur kalo Nathan mau tau. Setelah sulit tidur karena terus menerus mengingat sikap manis Nathan, dia juga tambah ngga bisa tidur akibat ucapan ngelamar dari Bang Dirga
Nathan tersenyum jahil melihat Zoya yang tampak malu malu di depannya. Dia pun sulit tidur tadi malam. Apalagi setelah mendapat dukungan mami dan daddynya akan hubungannya dengan Zoya. Bahkan kembaran menyebalkan-Cleora yang ngga dia sangka sangka, juga berharap kalo dia ngga ditolak alias diterima Zoya. Dikiranya kembarannya itu lebih suka kalo dia ditolak dan kembali akan mengejeknya abis abisan seperti dulu.
"'Nanti malam mami sama papi mau ke rumah kamu," tukas Nathan langsung
Zoya terpaku. Terbayang lagi ucapan ucapan Bang Dirga dan Cleora
"Kalo kita dinikahkan secepatnya, kamu mau, kan?" goda Nathan dengan kerlingan nakalnya. Tapi dadanya berdebar aneh juga mendengar ucapannya sendiri.
Zoya ngga bisa mengeluarkan suaranya untuk membantah. Mulutnya terasa kaku. Juga lidahnya. Dia hanya bisa membesarkan pupil matanya dengan perasaan ngga menentu.
Zoya belum siap buat nikah!
Nathan tergelak Dia pun defmg degan. Bagaimana engga. Zoya yang pernah membuat harga dirinya sebagai laki laki terluka karena harus jadi buntutnya, ngga lama lagi akan jadi pendamping hidupnya.
Sekian lama Nathan mendenial perasaannya sendiri terhadap Zoya. Ternyata gadis itu juga melakukan hal yang sama. Bodohnya mereka menyia nyiakan waktu bertahun tahun untuk pura pura saling membenci.
Nathan mendekati Zoya yang masih berdiri kaku dengan langkah tenang. Sekarang dia ngga akan membuang waktu dengan sia sia lagi. Dia akan memanfaatkannya dengan sebaik baiknya. Detik, menit, jam, untuk mengungkapkan rasa sayangnya.
Dan kecupan hangatnya pun membuat mata Zoya terpejam. Rasanya indah sekali. Kupu kupu beterbangan di sekitar mereka.
CEKLEK!
"Nathan........"
"Kalian apa apan!"
Eleanor yang lega karena ngga ada Zoya di meja kerjanya, kini malah jadi kecut melihat pemandangan di depannya.
Nathan sedang mencium pipi Zoya-asisten mernyebalkan itu.
Mereka ada hubungan?
Eleanor ngga bisa terima. Kecantikan perempuan itu ngga ada sepersekian persen darinya.
Kenapa?!
Kenapa Nathan menciumnya?
Apa.dia digoda seperti saat menciumnya dulu?
Dengan langkah cepat dan penuh amarah dia mendekat untuk mendorong Zoya agar menjauh dari Nathan. Tapi Nathan cepat menarik tubuh Zoya agar berada di belakangnya dan menepis kasar tangan Eleanor.
Menyesal Nathan lupa mengunci pintu ruangannya. Harusnya gadis penggoda ini ngga bisa masuk ke ruangannya.
"Kamu ngapain di sini," seru Nathan ilfeel.
__ADS_1
Bukannya sudah dipecat!
Harusnya Eleanor ngga bisa masuk ke perusahaan karena id cardnya sudah ngga berlaku lagi.
"Kenapa kamu pecat aku!" Mata Eleanor berkaca kaca.
Teganya Nathan membentaknya di depan gadis yang ngga ada apa apanya dari dirinya.
Dia dipecat? Kapan? batin Zoya kaget. Dia baru tau.
"Kamu sudah tau alasannya."
"Aku hanya ingin dekat dengan kamu. Apa salah?" ngeyel Eleanor sambil menatap tajam Zoya yang mengintip.di balik punggung Nathan.
"Salah. Kamu di terima di sini buat kerja. Bukan untuk hal ngga guna..Sebaiknya kamu pergi sebelum aku panggil sekuriti," ancam Nathan dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Lalu, apa yang kalian lakukan, hah!" tentang Eleanor marah.
"Kami sepasng kekasih yang akan menikah," sahut Nathan ringan.
"Apa?" kaget Eleanor sampai mundur selangkah. Dia menatap Nathan ngga percaya.
Apa ini hanya alasan saja?
"Serius? Kalian akan menikah?"
Nathan dan Zoya sampai menatap pada tiga laki laki yang baru muncul di depan pintu
"Kenapa aku selalu jadi orang yang terakhir tau," seru Eriel lagi dengan raut kesal. Dia pun melangkah masuk ke dalam bersama Fazza dan Jeff yang ngga berkomentar apa apa.
"Kamu kenapa?" tanya Eriel sambil menghentikan langkahnya di dekar Eleanor. Sedangkan Fazza dan Jeff melewati keduanya dan langsung duduk santai di sofa yang ada di situ.
"Eriel.... Ini bohong, kan." Suara Eleanor terdengar parau.
"Apanya?"
"Nathan mau nikah."
"Aku aja baru tau."
Eleanor menatap tajam wajah acuh Eriel seolah mencari pembenaran untuk hatinya.
"Kamu bohong, kan, Nathan!" tuduh Eleanor yang akan berjalan mendekat. Tapi Eriel menahannya
"Eriel! Kamu apa apaan!" Marah Eleanor karena di halangi. Padahal ini kesempatannya untuk menjambak rambut asisten pengganggu itu.
"Lebih baik kamu pergi sebelum sekuriti datang," ketus Nathan mengusir.
"Aku ngga akan pergi!"
__ADS_1
Eriel menghembuskan nafas kesal. Dia tau kalo sudah begini, ketiga sahabatnya akan menyerahkan mandat padanya untuk mengurus Eleanor.
"Ikut aku keluar. Jangan permalukan dirimu lagi." Tanpa menunggu jawaban Eleanor, Eriel menariknya keluar dari ruangan Nathan.
Eleanor tergugu mendengar perkataan Eriel. Bahkan Fazza dan Jeff yang merupakan temannya waktu kuliah pun terlihat cuek dengannya. Hanya Eriel yang masih mempedulikannya.
"Syukurlah dia menurut," keluh Jeff lega. Tadi malam keluarga Eleanor memohon pada keluarganya agar tetap mempertahankan pertunangannya. Mereka menyesal sudah membatalkan pertunangannya dengan Eleanor.
Tapi pagi ini Eleanor sendiri yang memohon pada Nathan jangan ditinggalkan.
Jeff lagi lagi memghembuskan nafas kasar. Tapi untung saja Oma Saraswati bersikeras tetap membatalkan pertunangan mereka.
Seandainya saja keluarga gads itu tau apa yang sudah Eleanor lakukan sekarang, pasti mereka akan merasa sangat malu lagi.
"Sepertinya Ele sangat menyukai kalian berdua," kekeh Fazza mengejek
Nathan dan Jeff ngga berkomentar apa pun.
Bodoh amat, batin keduanya.
Ngga lama kemudian Eriel datang sambil bersungut.
"Dia sudah pergi?" tanya Nathan lega.
"Ya. Tadi aku titip sama Pak Tito, kepala sekuriti. Dijamin besok besok Ele ngga akan ke sini lagi." Eriel pun menghempaskan tubuhnya dengan kesal di sofa.
"Aku ke ruanganku dulu, ya," pamit Zoya sungkan karena dia sendiri yang perempuan berada di sana.
"Oke."
"Nanti dulu, Zoy," tahan Eriel dengan wajah masih tampak kesal.
"Ada apa?"
"Beneran Nathan mau lamar kamu?"
Zoya melihat ke Nathan, memintanya untuk menjawab. Dia merasa itu bukan kewajibannya untuk menjawab.
Lagi pula Zoya takut kepedean. Dia masih belum bisa percaya kalo keluarga Nathan mau melamarmya malam ini.
"Ya. Kamu kenapa mau tau banget," kecam Nathan agak kesal juga karena merasa terganggu dengan kehadiran ketiga sahabatmya, juga Eleanor tadi.
Padahal dia masih ingin berbicara atau tepatnya menggoda Zoya. Bahkan tadi dia belum lama mencium pipi Zoya.
Tanpa menunggu reaksi merrka lagi, Zoya melangkahkan kakinya keluar meninggalkan ruangan Nathan. Dia merasa oksigen semakin menipis.
Padahal Zoya juga butuh kepastian, benar atau engga nanti malam keluarga Nathan datang ke.rumah. Tadi pembicaraan mereka belum tuntas.
Dia, kan, harus mengabarkan pada mama dan papanya untuk membuat persiapan menyambut kedatangan Nathan dan keluarganya di rumah mereka yang sederhana.
__ADS_1
Kalo begini, kan, masih abu abu. Takutnya tadi Nathan hanya bercanda.