
Pembantu Pak Himawan menghidangkan dua cangkir kopi.
"Minum dulu, Dir," tawar Pak Himawan sambil mengangkat cangkir kopi untuk disesapnya.
"Ya, pak." Dirga pun menyesap kopinya.
Dia baru saja mengantar Audrey sampai dengan selamat. Pak Himawan ternyata sudah menunggu mereka di teras runahnya.
Dirga yang bermaksud pulang rada segan menolak ajakan minum kopi Pak Himawan.
"Besok temani putriku mengambil gaun, ya. Saya juga udah pesankan jas buat kamu. Kalian datang ke acara pernikahan sahabat saya Sujatmoko," ucapnya ngga mau dibantah.
Dirga menghela nafas panjang. Ngga tau lagi bagaimana caranya untuk menolaknya.
"Jangan sungkan. Kamu tangan kanan saya." Pak Himawan menepuk lembut pundak Dirga lembut. Seolah memberinya vitamin tambahan kepercayaan diri.
Bukan itu, bantah Dirga dalam hati. Dia ngga masalah siapa pun yang mau nikah. Asal bukan Felicia.
Bagaimana kalo nanti kedatangannya malah akan membuat kekacauan?
DIrga ngga menjawab, hanya menghabiskan kopinya saja. Dia ingin segera pulang.
Sampai Dirga pamit, Audrey juga ngga menemuinya.
"Terima kasih, ya, sudah mengantar anak saya pulang."
"Sama sama pak."
"Untung ketemu kamu. Ya sudah kamu hati hati. Besok jam makan siang, jemput Audrey di rumah sakit."
Dirga hanya mengangguk. Kemudian melajukan motornya, pergi meninggalkan rumah mewah bosnya.
*
*
*
Seperti yang dititahkan, saat setengah jam sebelum makan siang, Dirga pun menemui bosnya. Untuk menjemput putrinya ke rumah sakit.
"Bawa saja mobil saya," ujar Pak Himawan sambil mengulurkan kunci mobil rubiconnya yang pernah juga dibawa Dirga saat menyupirinya kalo ada kerjaan ke luar kota.
Dirga termasuk beruntung menurut teman teman seprofesinya. Sangat jelas si bos menyayanginya. Bahkan kalo Dirga secara kurang ajar menilih mobil mana yang mau dibawanya, si bos pasti akan setuju setuju saja.
Faktanya Dirga sudah pernah mencoba hampir seluruh mobil mewah yang dimiliki bosnya. Bukan Dirga yang meminta. Tapi bosnya sendiri yang selalu menyuruhnya mencoba mobil mobil baru yang dimilikinya.
Kadang kadang teman temannya bercanda kalo dia bisa saja meminta satu mobil bosnya untuk menggantikan motor kesayangannya yang merupakan keluaran cukup lama.
Tapi teman temannya ngga tau saja, kalo Pak Himawan beberapa kali menawarkan akan membelikannya mobil. Tapi selalu ditolaknya.
Dirga ngga mau hidup dari belas kasian orang lain. Apalagi sampai menjual harga dirinya. Mungkin karena itu Pak Himawan semakin kagum padanya.
__ADS_1
"Saya pergi dulu, pak," pamitnya sopan setelah meraih kunci mobil yang diulurkan Pak Himawan.
"Oke." Pak Himawan tersenyum lega akan kepatuhan Dirga. Padahal dia tau, laki laki itu terlihat enggan. Harga dirinya sangat tinggi, tidak bisa dia beli dengan kemewahan.
Pak Himawan semakin yakin, Dirga laki laki yang pantas untuk putri tunggalnya.
*
*
*
Dirga menyusuri lorong rumah sakit dengan berbagai kenangan di kepalanya.
Dia sempat lama menginap.di rumah sakit ini sebelum papanya memindahkannya setelah dia sadar dari koma.
Cukup banyak yang berubah, karena ini adalah rumah sakit swasta yang sangat mewah. Hanya orang orang kelas atas saja yamg sanggup berobat di sini.
Tatapannya menyorot pada sepasang muda mudi yang terlihat bertengkar. Mereka sama sama mengenakan jubah dokter.
Dia kenal, karena salah satunya adalah Audrey.
Dirga semakin mendekat. Dan pertengkaran itu mulai terdengar jelas.
"Audrey, aku sudah bilang sama papi akan melamar kamu."
"Kamu gila. Kita ngga punya hubungan apa apa."
"Dengar ya, Rion. Aku hanya anggap kamu teman." Saat itu matanya bersirobok dengan mata Dirga yang sudah beberapa langkah saja di belakang laki laki yang sedang berdebat dengannya
"Itu pacarku datang," katanya buru buru melangkah mendekati Dirga.
Tapi tangannya dicekal Rion.
"Kamu mau kemana?" kesal Rion, dokter kandungan yang berparas tampan.
"Rion. Apaan, sih. Lepasin!" Audrey menatap marah karena dia ngga bisa mendekati Dirga yang mulai memberikan tatapan ngga terbacanya.
"Apa? Mana pacar kamu?" tantang Rion sambil mempererat cekalan tangannya.
PLAK!
Dirga menepis kasar tangan Rion, dan segera menarik Audrey ke sisinya.
Rion membalikkan tubuhnya sambil menatap horor pada laki laki yang sudah menarik calon kekasihnya itu.
Sementara itu Audrey kini bersembunyi di balik lengan laki laki yang setinggi dirinya juga.
"Kamu siapa? Jangan ganggu urusanku," kertaknya marah. Tatapannya sangat meremehkan karena style kerja Dirga yang hanya menunjukkan identitasnya sebagai pegawai biasa.
Paling merangkap supirnya, batinnya mengejek
__ADS_1
"Dia pacarku," aku Audrey lantang.
Rion tergelak, apalagi laki laki yang dikiranya kerja rangkap itu hanya diam saja.
"Jangan bohong, Audrey sayang."
"Aku ngga bohong. Nih, aku buktikan."
Bukan hanya Rion yang terbelalak sampai mundur satu langkah. Dirga juga.
Laki laki itu bahkan hanya mematung ketika Audrey menyentuh bibirnya. Bahkan kedua tangan Audtey menggelung di leher Dirga.
Dua pasang mata saling memandang dengan dada yang bergemuruh.
Tapi saat Audrey akan melepaskan bibirnya dari Dirga, laki laki itu malah makin membenamkan bibirnya semakin dalam.
Audrey yang sengaja mengalungkan tangannya di leher Dirga untuk menopang tubuhnya agar tetap kokoh berdiri, malah semakin merasakan kedua kakinya sudah ngga punya kekuatan lagi. Sudah leleh seperti jelly.
Matanya mengerjap saat merasakan pinggangnya makin ditarik erat menempel pada tubuh atletis Dirga dan bibir laki laki itu makin dalam melu*ma*t bibirnya
"Sialan!" maki Rion sambil membantingkan kakinya sebelum pergi.
Ngga mungkin, kan, Audrey lebih suka laki laki style begitu dari pada dirinya!
Setelah melihat Rion pergi, Dirga menjauhkan bibirnya sambil terus menatap mata Audrey yang terpejam. Gadis itu mulai tersengal.
Apa yang sudah dia lakukan? maki Dirga dalam hati. Dia sudah berusaha menahan hasratnya. Tapi Audrey sudah menyentuh syaraf sensitifnya. Dasarnya Dirga ngga suka ditantang. Apalagi dia merasa kesal, Audrey seperti memanfaatkan dirinya untuk keuntungannya semata. Apa salahnya dia sedikit membalas perlakuan gadis itu yang sejak beberapa hari yang lalu tampak cuek dan dingin terhadapnya.
PLAK!
Audrey menampar cukup keras pipi Dirga begitu tersadar apa yang sudah terjadi. Nafasnya ngga beraturan menahan emosinya yang menggila di dalam dadanya.
Dirga hanya menyeringai. Tamparan itu ngga berarti apa apa untuknya.
"Kamu! Apa yang sudah kamu lakukan?" Dada Audrey sampai turun naek karena emosinya yang siap meledak.
"Mengajarimu cara berciuman yang benar," jawab Dirga ringan.
Mata indah Audrey kembali membelalak dengan mulut yang ternganga. Untung saja lorong berdebatan mereka sedang sepi.
"Kamu....!" Bibir Audrey bergetar. Ngga tau harus memaki laki laki ini seperti ini apa lagi.
"Lain kali jangan memancingku jika kamu ngga mau aku melakukan yang lebih gila dari ini."
Audrey lagi lagi ternganga mendengarnya.
Dirga mendekat dan mulai berbisik dengan kata kata nakal yang membuat Audrey mematung dan meremang.
"Aku sudah sangat pengalaman. Tadi itu belum apa apa."
Dalam hati Dirga menahan tawa melihat wajah pucat Audrey. Dia hanya menggodanya.
__ADS_1
Pengalamannya berciuman hanya dengan Felicia. Hanya bibir saja, ngga pernah yang lain. Dia sangat menjaga gadisnya itu dulu.