
Begitu helikopter mendarat, Nathan langsung membopong tubuh Zoya dan langsung berjalan capat ke arah lift.
Seorang pengawalnya sudah menunggu di depan lift sambil menundukkan kepala dengan hormat. Tapi di benaknya heran karena tuan mudanya saat ini sedang menggendong seorang perempuan asing. Hal yang ngga pernah dilakukan tuan mudanya selama ini.
"Silakan tuan muda," ujar pengawalnya yang sudah membukakan pintu lift, kemudian ikut masuk setelah tuan mudanya dan menekan nomer lantai unit tuannya berada.
Zoya yang merasa terlalu nyaman membuka matanya perlahan.
Sepasang matanya terbelalak melihat Nathan yang sedang menatapnya dari jarak yang sangat dekat.
Wajahnya langsung panas saat menyadari saat ini sedang berada dalam gendongan Nathan.
Kedua tangannya pun ngga malu malu memeluk leher bosnya itu.
Kenapa Nathan melakukannya. Bukannya Nathan membencinya. Alih alih menggendongnya bukannya lebih baik melemparnya saja dari dalam heli jika dia susah dibangunkan. Zoya merasa bingung sekali dengan apa yang sedang terjadi padanya.
Saat tangannya akan diturunkannya, laki laki ini menatapnya horor
"Diamlah jangan banyak gerak. Kamu sangat berat," bisiknya lagi tapi Zoya yakin pengawal di depannya mendengar suara Nathan dengan sangat jelas.
Pengawal itu pun sedang menajamkan telinganya, menguping, karena merasa sangat penasaran terhadap hubungan tuan mudanya dengan gadis ini.
Zoya pun menghentikan gerakannya. Kini laki laki itu ngga menatapnya lagi, melainkan menatap ke arah pintu lift yang mulai terbuka.
"Silakan tuan muda," ujar pengawalnya sambil memundurkan langkahnya memberi jalan pada Nathan.
Zoya mencebikkan bibirnya ketika mengingat perkataan laki laki itu kalo dia sangat berat
Kurang ajar banget, batinnya mengumpat karena laki laki itu tampak mudah saja waktu berjalan dengan dia berada dalan gendongannya.
Berat apanya, omelnya lagi.
Nathan tetap melangkah ringan dengan bahu tegapnya tanpa kesulitan. Harumnya parfum yang digunakan laki laki itu memasuki rongga pernafasannya membuatnya tambah sesak dan jantungnya semakin tantrum.
Tuhan, sampai kapan laki laki ini akan menggendongnya?
Wajah Zoya sudah semakin panas dan pasti sudah sangat merah sekali seperti kepiting yang direbus hingga matang.
Apa.yang bisa dikatakannya untuk membalas ejekan laki laki itu nanti, sementara debar debar keras dan cepat jantungnya sudah bisa dijadikan saksi betapa ngga tenangnya dia dalam gendongan laki laki itu.
Memikirkan itu Zoya berpikir lebih baik dia ditinggalkan saja tetap tidur di root top. Sekarang saja dia ngga tau akan dibawa kemana oleh Nathan. Ini bukan lantai tempat ruang kerjanya berada. Zoya yakin ini hotel atau apartemen mewah.
Miliknya kah?
__ADS_1
Lagian kenapa dia dibawa ke sini?
Apa Nathan akan melakukan sesuatu yang ngga pantas padanya karena melihat dia tadi sudah nyenyak tertidur, hingga sampai ngga sadar kalo Nathan mengangkatnya dan menggendongnya......
Jantung Zoya semakin tantrum dan pasti akan semakin keras dan cepat memukul dada Nathan. Lagi pula mereka ngga berjarak sama sekali. Dadanya bahkan saling bersentu---
"Silakan masuk tuan muda."
Suara pengawal laki laki itu menambah ketakutan Zoya
Dia dibawa keman?
Ke kamarnya?
Nggak!
Zoya ngga mau.
"Terima kasih," ucap Nathan sambil memasuki unit apartemennya.
"Sama sama tuan muda," ujarnya membalas ucapan Nathan sambil menutup pintu unit tuan mudanya.
Setelahnya pengawanya bingung. Apakah dia akan mengatakannya pada orang tua tuan mudanya? Atau membiarkan saja, toh tuan mudanya sudah dewasa. Si pengawal mengambil jawaban kedua. Kini dia menunggu dengan sikap siaganya di balik pintu.
"Nathan.... Turunkan aku mau pulang." Zoya diserang kepanikan yang luar biasa.
Zoya tersadar. Di situasi seperti ini, mana dia bisa ingat nama panggilan bosnya tadi.
"Sir, tuan muda, tolong turunkan aku. Aku mau pulang," seru Zoya lagi setengah merengek. Tatapan Nathan semakin mengintimidasinya
"Kamu berisik sekali," sinis Nathan sambil terus melangkahkan kakinya hingga akhirnya berhenti di depan sebuah pintu.
Zoya menahan nafas mendapat cemohan Nathan.
Tapi kembali dia diserang rasa panik lagi begitu tau pintu yang dibuka Nathan adalah kamar tidur. Bahkan ada ranjangnya yang sangat rapi.
"Sir, saya ngga mau di sini. Saya mau pulang," rengek Zoya semakin takut.
Baru kali ini dia berada di dalam kamar yang bukan berada di rumahnya. Bahkan bersama seorang laki laki tampan yang hatinya ngga pernah berhenti memujanya.
Kenapa Nathan membawanya ke sini?Apa dia ngga takut kalo Cleora atau yang paling mengerikan, mami dan daddynya memergoki mereka berdua di kamar laki laki ini.
Syukur syukur dinikahkan, batinnya. Tapi kemudian dia menolak pikirannya itu.
__ADS_1
Mungkin dia langsung dipecat tanpa gaji dan pesangon. Rasanya itu paling benar.
Kalo itu yang terjadi maka Zoya akan rugi besar.
Bisa bisanya pikiran bodonya masuk dan berbaur dengan otak pintarnya.
"Sir, kamu mau apa?" tanya Zoya takut takut melihat bosnya menurunkan tubuhnya ke tempat tidurnya.
"Menurutmu mau apa?" goda Nathan dengan tatapan nakalnya.
Bulu kuduk Zoya meremang karena setelah membaringkannya di tempat tidur, tubuh Nathan malah mengungkunginya dengan ujung hidungnya yang hampir menyentuh pipinya.
"Sir, tolong jangan begini," pinta Zoya lirih. Dia takut kalo Nathan serius melakukan apa yang dia pikirkan.
Lagi pula dia ngga tau apa yang ada di pikiran Nathan saat ini.
Laki laki ini sangat jauh berbeda dengan Nathan yang dikenalnya dulu waktu masih SMA.
Nathan pun menggulingkan tubuhnya menjauh dari Zoya.
Dia ngga tega melihat mata gadis itu yang memancarkan sinar ketakutan.
Niatnya menggoda gadis itu lenyap sudah.
"Istirahatlah. Nanti sore aku akan mengantarkanmu pulang," kata Nathan sambil bangkit dari tempat tidur. Kemudian berjalan melewatinya. Meninggalkan kamarnya dan ngga lupa menutup pintu.
Nathan bersandar di daun pintu dengan dada yang bergejolak.
Gila, tadi dia saja hampir kebablasan.
Nathan mengambil nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
Di dalam ruangan, Zoya menghempaskan nafasnya setelah ditinggal pergi Nathan begitu saja.
Zoya makin ngga ngerti dengan kelakuan Nathan sekarang. Tapi teringat kalo Nathan pernah kuliah di luar negeri, Zoya anggap hal ini mungkin sudah biasa bagi Nathan.
Zoya hanya duduk terdiam di atas ranjang Nathan tanpa dia berani memejamkan mata.
Dia jadi takut dan berpikiran yang sangat jauh kalo Nathan akan macam macan dengannya saat dia tidur.
Walaupun laki laki itu ngga menyukainya, bisa saja dia beralasan karen khilaf.
Zoya menghembuskan nafasnya kuat kuat. Seakan ingin membuang semua hal buruk yang sedang berlari lari dalam kepalanya, membuatnya jadi stres.
__ADS_1
Setelah kejadian hari ini, bagaimana nantinya dia harus bersikap dalam menghadapi Nathan.
Kejadian hari ini pasti akan terus terbayang bayang di pikirannya.