
Hari hari berlalu seperti biasa.
Restoran steaknya beberapa hari ini semakin rame saja. Mungkin strategi marketingnya berhasil.
Zoya jadi senyum senyum sendiri mendapat laporan dari mba Aina yang cukup kelimpungan bersama mama dan papanya di resto.
Kalo rame gini terus, harus tambah pegawai, nih. Bibir Zoya pun semakin mengembangkan senyumnya.
"Ehem....."
Senyum Zoya langsung memudar ketika mendengar suara batuk bosnya.
Selalu mengganggu di saat yang ngga tepat, omelnya dalam hati.
"Zoya, kamu ke ruangan saya." Nathan sudah berdiri di depan mejanya.
Zoya pun mengikuti langkah Nathan tanpa berucap sepatah kata pun. Selain kesal, dia juga malu. Pasti Nathan menganggapnya ngga waras karena sudah senyum senyum sendiri tadi.
Nathan menggiringnya duduk di sofa.
Zoya sudah menghela nafas melihat banyaknya berkas yang harus dia kerjakan.
"Aku akan meeting lagi dengan grup Om Sudjatmoko. Kamu di sini saja, selesaikan tugas tugas ini. Kalo capek kamu bisa istirahat di kamar."
Zoya terkejut mendengar nama Sudjatmoko, dia ngga mendengar kelanjutan kalimat Nathan setelahnya.
Setelah hari harinya mulai tenang dan damai, mendengar nama itu tubuhnya bergetar. Ketakutan mulai merayapinya.
__ADS_1
"Aku akan pergi bersama Cleo."
Sebenarnya Nathan ingin membawa Zoya dalam pelukannya ketika melihat wajah pucatnya. Tapi Nathan takut Zoya salah paham. Apa lagi gadis ini selalu overthinking terhadapnya.
"Ya," Zoya menjawab pelan. Dia mencoba tetap tenang dan menganggap nama itu ngga berpengaruh apa apa lagi buatnya. Juga keluarganya.
"Kamu bisa tiduran di ruanganku kalo kamu lelah," ulang Nathan lagi. Hatinya ngga yakin kalo tadi Zoya sudah menyimak perkataannya.
"Ya, nggak lah," tolak Zoya cepat.
Dia ngga akan tertidur. Apa lagi di kamar Nathan.
Masih kuat dalam ingatannya kejadian beberapa hari yang lalu, masih menyisakan debaran aneh jika dia mengingatnya.
Nathan menyeringai karena dugaannya benar. Gadis overthinking ini baru saja menyadari perkataannya.
"Terserah kamu," jawab Nathan kemudian kembali ke mejanya. Mengambil tas laptopnya.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya, sir," sarkas Zoya dengan tatapan menantangnya.
"Huh," dengus Nathan kesal.
Ngga ada sopan sopannya jadi bawahan, makinya membatin sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya
Tapi dalam hati Nathan senang karena sudah berhasil menghilangkan wajah takut dan cemas Zoya.
*
__ADS_1
*
*
Felicia bersikap biasa saja saat ngga melihat ada Zoya yang mendampingi Nathan.
Dia tersenyum manis pada Cleora yang merupakan kembaran Nathan. Mereka sudah beberapa kali bertemu di pesta pesta yang diselenggarakan oleh para relasi bisnis.
Meeting pun berjalan lancar. Tapi begitu meeting akan ditutup, Om Sudjatmoko datang.
Cleora sampai harus mengendalikan tatapan marahnya, karena Om Sudjatmoko yang cukup dikenal baik keluarganya bisa bertindak sejahat itu pada Bang Dirga.
"Ngga ada masalah?" tanya beliau begitu Nathan menjabat tangannya.
"Beres semua, Om."
"Syukurlah," senyumnya dengan netranya melirik ke arah putrinya yang menatapnya datar.
Sejak dia menyuruh orang untuk menghajar kekasih no levelnya, Felicia seakan patung jadi hidup tanpa jiwa.
Tapi Sudjatmoko ngga menyesal, karena dia harus mendapatkan yang terbaik untuk putri dan perusahaannya.
Beliau sudah mendapat informasi tentang keberadaan mantan kekasih putrinya, juga keluarganya.
Sudjatmoko ngga akaná melakukan apa apa, karena keluarga itu juga ngga mendekati putrinya lagi.
Selain itu dia merasa kaget karena tau kalo adik Dirga ternyata bekerja dengan Nathan-anak relasi bisnisnya.
__ADS_1
Kedatangannya yang tiba tiba dengan maksud untuk memperingatkan adiknya Dirga agar tidak mendekati putrinya lagi. Juga keluarganya dan Dirga.
Tapi adik Dirga sekarang tidak ada lagi di sini. Mungkin si kembar- anak relasi bisnisnya sudah tau ceritanya. Sehingga adik Dirga ngga diikut sertakan dalam bisnis ini.