
Dengan kesal Eleanor pun meninggalkan ruangan Eriel. Satu pun informasi penting ngga didapat olehnya, kecuali hanya teman saja.
Eleanor juga ngga tau Nathan dan Zoya sudah berteman sejak kapan. Rumahnya dimana. Siapa nama keluarganya.
Semua pertanyaan tadi yang seharusnya dia tanyakan malah menguap begitu saja. Rontok oleh cumbuan Eriel.
Eleanor menggeram kesal. Apalagi saat melewati Bara, laki laki itu tampak mencuri curi pandang dengannya.
Kamu ngga level, man, decihnya menghina dalam hati.
Targetnya yang boleh menyentuhnya hanyalah laki laki kaya raya dan punya power. Bukan kroco.
Eleanor menebalkan mukamya. Dalam hati dia menggeram marah mengingat lagi kelakuan kurang ajar Eriel yang mempertontonkan dirinya di depan sekretarisnya itu. Sangat ngga menganggap dan menghargai pertemanan plus plus mereka.
Eleanor mengumpat terus sepanjang dia berjalan dengan perasaan jengkel setengah mati bercampur malu.
*
*
*
Nathan melepaskan helm Zoya sambil menipiskan bibirmya. Tapi Zoya ngga akan bisa melihatnya karena helmnya masih dia kenakan di kepalanya.
Cepolan Zoya pun tergerai. Nathan sampai ngga berkedip melihatnya.
Cantik, batinnya memuji.
"Tas," ucap Zoya meminta sambil mencepol lagi rambutnya yang tergerai. Wajahnya masih agak pucat karena jantungnya juga masih sangat tantrum.
Nathan tadi benar benar ngebut sambil zig zag ala ala pembalap motogp yang suka Zoya nonton di televisi.
Zoya pun benar benar takut sampai memeluk Nathan dengan sangat kencang.
"Nathan..... tasku....," ucap Zoya lagi karena ngga mendapat respon dari Nathan. Dia pun sudah selesai mencepol rambut panjangnya.
"Nih...." Nathan pun mengulurkan tas kecil Zoya yang sedari tadi dibawanya.
"Aku hampir ngga bisa nafas tadi," keluh Nathan karena Zoya memeluk pinggangnya sangat kuat.
Maksud Nathan, akibat pelukan gadis itu berefek pada pompaan jantungnya yang berkali kali lipat cepatnya dari biasa.
"Itu, kan, gara gara kamu. Siapa suruh ngebut sampai kita hampir mati."
Tentu saja Zoya ngga lupa dan masih tegang hingga sekarang saat mengingat tadi mereka sudah sangat dekat dengan malaikat maut.
Mereka berada di tengah celah sempit di antara truk yang ngangkut batu dan bis besar antar provinsi.
"Kita selamat, kan," ngeles Nathan santai.
"Iya, syukurnya selamat. Ngga kebayang jadi peyek gara gara kena gencet," kesal Zoya melihat tingkah Nathan yang merasa kalo hal yang di lakukan tadi biasa aja. Dan dirinya yang terlalu heboh karena takut.
Padahal Zoya, kan, sangat mengkhawatirkan keselamatan mereka.
"Makanya sering sering naek motor bareng aku, biar nanti kamu terbiasa," ucapnya masih dalam tawanya yang terdengar senang.
Dalam hati agak menyesal kenapa dulu dia selalu bawa mobil kalo dipaksa mengantar Zoya pulang. Harusnya dari dulu dia sudah merasakan sensasi ini. Saat tubuh gadis itu memeluknya erat.
Zoya tertegun sampai kerongkongannya tercekat hingga dia merasa sulit membantah ucapan Nathan.
__ADS_1
Ada yang berdesir di dadamya.
Maksudnya? Dia akan sering mengajaknya naek motor?
Zoya mengusir jauh jauh pikiran anehnya.
"Aku pulang dulu. Langsung tidur. Besok kerjaan tambah banyak," senyum Nathan yang tentu saja ngga dapat Zoya lihat.
Laki laki itu langsung menggeber motornya meninggalkan kompleks perumahannya.
"Hati hati Nathan," serunya reflek melihat motor dan pemiliknya sudah pergi.
Nathan melambaikan satu tangannya seakan membalas ucapannya.
Dia dengar?
Zoya terus melihat sampai Nathan dan motornya sudah ngga terlihat lagi.
Tapi perasaan Zoya ngga tenang. Dia khawatir dengan keselamatan Nathan.
Apa nanti aku chat aja, ya? Nanya dia sudah sampai rumah atau belum?
Tapi nanti dia ngirain aku naksir dia nggak, ya?
Zoya ragu. Tapi juga takut kalo Nathan menyalah artikan chatnya sebagai modus untuk mendekatinya.
Aah...
Chat tidak ya?
Chat....?
Chat....?
Bahkan sebelah tangannya kini memijat keningnya.
Kenapa dia selalu takut untuk tau reaksi Nathan?
Padahal dia hanya ingin bisa tidur dengan tenang kalo sudah tau laki laki dingin bermulut pedas itu sudah sampai di rumahnya.
Zoya juga ngga mau disalahkan jika nanti ada apa apa terjadi pada Nathan. Apalagi kalo keluarganya nanti tau jika tadinya Nathan habis mengantar dia pulang.
Apa yang akan mereka katakan selain menyalahkannya?
"Aaahh," serunya tanpa sadar.
"Kamu kenapa, dek?"
Ups.....
Zoya langsung meringis, ternyata abangnya Dirga yang menegurnya.
Dia pun ngga sadar ternyata sudah melangkah menuju dapur.
"Abang baru pulang juga?" tegurnya berbasa basi tanpa mau menjawab pertanyaan abangnya tadi.
Dia melihat abangnya masih mengenakan kemeja kerjanya.
"Iya. Tadi lembur. Kamu mau minum?" tanya Dirga sambil mengulurkan segelas air dingin buat Zoya.
__ADS_1
Dia baru saja menghabiskan setengah botol saat mendengar teriakan adiknya.
Untung orang tua mereka sudah berada di lantai dua. Jadi ngga mendengar suara teriakan penuh kepanikan itu.
"Makasih, bang." Zoya segera meneguk minuman yang diberikan abangnya tanpa jeda.
Dirga memperhatikan adiknya dengan senyum di wajahnya.
"Tadi diantar Nathan?" tanyanya usil. Dia sempat melihat adiknya pulang naek motor dengan laki laki yang diyakini Dirga adalah Nathan.
"Iya." Zoya menaruh gelasnya di atas meja dan bermaksud segera pergi sebelum diinterogasi abangnya.
"Besok mau diantar abang atau Nathan aja?" goda Dirga lagi membuat wajah adiknya semakin manyun.
"Sama abanglah," sergahnya cepat.
"Ngga nyesal. Mumpung ada kesempatan dekat dekat sama Nathan," goda Dirga makin menjadi. Senang melihat reaksi manyun adiknya, antara marah dan malu karena kebaca isi hatinya.
"Bang Dirga," seru Zoya marah.
Dirga tertawa seolah melihat asap di atas kepala adik tersayangnya.
Selalu malu malu trus jadi marah berat kalo bahas Nathan.
Zoya menghentakkan kaki sebal sebelum berbalik pergi, meninggalkan abangnya yang masih saja mentertawakannya.
"Oh ya, Zoy. Abang udah ketemu Feli."
Langkah Zoya terhenti mendengar ucapan Dirga. Ngga nyangka abangnya mau membuka topik sensitif ini dengannya.
Sunyi.
Zoya membalikkan tubuhnya dan sekarang menatap wajah abangnya yang tampak biasa saja. Malah Zoya yang merasa abangnya agak mencurigakan dengan tampang seperti itu.
"Tegang banget," kekeh Nathan lagi.
"Feli ke kantor mau nemuin Pak Himawan. Karena bos abang lagi pergi, ya, abang temuin. Awalnya abang ngga ngira juga itu Feli," sambungnya dengan sisa tawa di bibirnya.
Penjelasan abangnya yang sangat panjang dan agak mutar mutar meyakinkan hati Zoya kalo abangnya sedang ngga baik baik saja.
"Feli juga ngantar undangan buat bos abang. Bulan depan dia mau nikah."
DEG
Detak jantung Zoya serasa terhenti sesaat.
Zoya menatap lagi wajah abangnya dengan lebih teliti. Dia mulai khawatir. Tapi wajah itu terlihat ngga apa apa alias baik baik saja.
Apa perasaannya salah? Dia merasa kalo saat ini abangnya sedang menyembunyikan kesedihan hatinya.
"Malah melamun," ucap Dirga tenang, menjeda ucapannya.
"Sekarang kamu ngga usah takut. Papi Feli ngga akan ganggu keluarga kita lagi," senyum Dirga sambil mendekati adiknya.
Tangannya dengan gemas mengusap puncak kepala Zoya sebelum pergi meninggalkannya.
Mata Zoya memanas saat melihat punggung itu melangkah menjauh.
Hatinya yakin abangnya sedang berusaha tegar menghadapi kenyataan pahit.yang ada di depan matanya.
__ADS_1