
"Aku ngga suka papi masih ikut campur, selalu mengatur hidupku." Felicia menatap datar papinya saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Setelah meeting selesai, Felicia langsung pergi tanpa berniat basa basi pada Nathan dan Cleora.
Padahal dia sudah ngga sabar ingin melakukannya sebelum kedatangan papinya.
Felicia tau kalo papinya sedang mengawasinya.
"Papi hanya ingin mengingatkan janjimu," jawab Sudjatmoko tenang sambil menatap putrinya yang ngga bisa dia baca ekspresinya.
"Janji setelah papi membuat Dirga koma," sindir Felicia menahan kesal.
Papinya terkekeh pelan.
"Hanya koma, belum mati."
Hampir mati, koreksi Felicia membathin dengan amat kesal.
"Kamu juga sudah melihatnya, kan, kalo dia baik baik saja. Karirnya juga bagus sekarang," ucap Sudjatmoko penuh arti.
"Papi!" geram Felicia ngga bisa lagi menahan emosinya. Dia tau ada ancaman besar terselubung dalam ucapan papinya buat Dirga. Bahkan setelah enam tahun berlalu.
Tidak bisakah papinya membiarkan mereka hidup damai seperti sebelum Dirga bertemu dengan dirinya?
Papinya makin tergelak karena sudah bisa membuka sedikit topengnya.
"Papi janji ngga akan mengusiknya. Juga seluruh keluarganya. Asal kamu menurut sama papi," tawa papinya lagi mengajaknya bernegoisasi.
Putrinya yang dulu sangat menurut mulai berani melewati garis batasnya setelah berhubungan dengan Dirga.
Laki laki itu ngga sepenuhnya buruk di matanya. Masih muda tapi punya banyak bakat dan prestasi.
Tapi hanya itu yang dia punya. Tidak ada saham, bukan juga pewaris grup kaya raya, juga bukan anak pemilik pengusaha besar, apalagi punya koneksi dengan konglomerat besar.
Hanya beberapa restoran steak yang penghasilannya jika digabungkan, ngga akan cukup membuat anaknya hidup mewah dan foya foya setiap hari seperti yang selalu dia lakukan untuk mereka
"Apa lagi yang papi mau? Bukannya aku sudah setuju dengan perjodohannya," ucap Felicia kembali datar.
Akan dia lakukan apa pun itu. Menjauhkan tangan kejam papinya.
"Akan papi pikirkan lagi. Ohya, jangan lupa besok temui Om Himawan. Proyek kita sudah disetujui pemerintah," ucap papinya dengan kerlingan penuh makna.
"Oke." Felicia membuang pandangannya ke arah luar jendela sambil menekan rasa sakit di dadanya.
"Bawa juga undangan pernikahanmu. Berikan pada Om Himawan."
__ADS_1
"Ya."
Dua minggu lagi dia akan menikah. Harusnya dulu dia ngga memberikan kesempatan pada Dirga mendekat jika dia sudah tau akan begini akhirnya.
Papinya masih memata matainya. Bahkan tau juga dimana Dirga dan Zoya bekerja. Pasti restoran steak mereka, papinya sudah tau keberadaannya juga.
Nasib keluarga itu di tangannya. Dia tau papinya akan menepati janji kalo dia menurut.
Felicia menghembuskan nafas kesal.
*
*
*
Zoya mulai merenggangkan otot oto tangan serta punggungnya yang terasa amat sangat pegal.
Sudah tiga perempat map map segunung itu dia kerjakan. Tinggal seperempat lagi.
Zoya pun membaringkan tubuhnya di sofa panjang yang lembut itu.
Lebih baik istirahat di sini, kan, dari pada di kamarnya, batin Zoya berdecih.
Teringat lagi begitu dekatnya wajah Nathan dengannya. Nafas panas laki laki itu pun masih bisa dia rasakan sampai saat ini juga.
Sebenarnya apa yang dirasakan Nathan? batinnya ngga tenang.
Ngga mungkin, kan, kalo Nathan menyukainya....?
Sikap Nathan dulu dan sekarang berbeda seratus delapan puluh derajat.
Tapi pengalaman pahit sudah mengajarkannya. Seseorang akan bersanding dengan yang setara dengannya. Walaupun mereka sudah berusaha sangat keras untuk bersama, jika ngga setara ngga akan mungkin bisa berhasil. Jatuhnya sudah jelas akan sangat menyakitkan.
Terbayang lagi gimana reaksi dia dan keluarganya yang terkagum kagum pada kekasih Bang Dirga, yang sangat cantik jelita saat dibawa ke resto mereka.
Abangnya itu memperlakukannya dengan sangat lembut. Kak Feli juga sangat baik dan ngga sungkan berbaur dengan mereka.
Bahkan dia sempat mencoba membakar steak dengan bang Dirga yang mengajarnya sambil mengambil kesempatan memeluknya.
Zoya dapat melihat dua pasang mata yang bersinar penuh cinta. Dan bibir kurang ajar abangnya berani menyosor bibir dengan perawatan sangat mahal itu.
Zoya amat yakin kalo abangnya sudah sangat takluk pada kekasihnya yang sangat jelita itu.
Cantik, kaya raya juga sangat sopan santun.
__ADS_1
Zoya sendiri dengan keluarganya pun sudah sangat menyukai gadis lembut yang bisa membuat abangnya berubah menjadi sangat kalem dan serius dengan kuliahnya.
Sayangnya keluarga Kak Feli menentang hubungan mereka. Semua karena keluarga mereka sangat jauh dari kata kaya jika dibandingkan dengan keluarga Kak Feli.
Walau yakin keluarga Nathan ngga seperti itu, tetap saja dia masih trauma. Takut berharap terlalu tinggi.
Zoya tau sekarang Nathan dan Cleora sedang melindunginya
Berarti Cleora sudah tau, batinnya sambil memejam mata.
Ngga tau berapa lama semua ini akan baik baik saja.
Untuknya, untuk Bang Dirga dan juga untuk keluarganya.
Papanya Kak Feli kejam sekali. Menghalalkan segala cara demi kebahagiaan dirinya sendiri. Karena Zoya yakin, Kak Feli pasti menderita.
*
*
*
Nathan tersenyum melihat Zoya yang tertidur pulas di sofa.
Dia pun mendekat. Membelai helaian rambutnya yang keluar dari ikatanya.
"Sudah dibilang kalo mau tidur di kamar saja," gumamnya pelan sambil membopong tubuh itu ala brydal ke ruangan khususnya.
Kemudian dia menidurkan Zoya dengan hati hati di ranjangnya.
Setelah menyelimutinya Nathan pun mengecup sekilas kening Zoya.
Boleh, ya. Upah gendong kamu, senyumnya.
Nathan pun berbalik pergi. Ngga kuat dia memandang wajah cantik itu saat sedang tertidur begini.
Tadi aja dia sudah ngga bisa menahan diri untuk mencium kening Zoya.
Kalo semakin lama dipandang, Nathan mungkin bentar lagi akan masuk ke dalam selimut Zoya. Tidur bersamanya. Sambil memeluk Zoya seperti guling, pasti dia juga akan tertidur sama nyenyaknya dengan Zoya.
Nathan menghembuskan nafas dengan gusar. Pikirannya lama lama bisa ngga waras.
Dengan perlahan Nathan menutup pintu. Dia bersandar sejenak untuk meredakan degup jantungnya yang masih bergemuruh.
Dia pun menatap ke atas mejanya, pada tumpukan map yang sudah diletakkan Zoya sebelum dia tidur.
__ADS_1
Sudah selesai semua? gumamnya dengan kedut di bibirnya.
Wajarlah kalo dia senyenyak itu tidurnya, batinnya lagi masih dengan kedut di bibirnya.