
"Bang Jeff,,, nanti sakit perut," seru Agni mengingatkan. Dia pun merasa ngeri melihat soto yang kuahnya sangat merah itu.
Kakak sepupunya memang penyuka sambal, tapi Agni ngga tau kalo akan segila itu porsi sambalnya.
Sekarang malah Bang Jeff yang perhatian banget nukerin mangkoknya karena ngga tega. Takut kakak sepupunya yang jutek itu sakit perut. Lebih memilih dirinya yang menanggung kesakitan akibat soto pedas yang ngga kirq kira itu.
So sweet banget, sih, bang Jeff. Agni jadi pengen punya pacar seperti bang Jeff, khayalnya dalam hati.
"Ngga, Bang Jeff kuat, kok," jawab Jeff berbohong. Dia melakukannya demi untuk mendapatkan maaf dari Cleora. Anggap saja hukumannya karena sudah mematahkan hati gadis kecintaannya itu. Terpaksa dia mengorbankan lambungnya yang ngga salah apa apa.
Terkadang manusia juga suka menanggung kesalahan orang lain tanpa dia tau apa apa.
"Tapi bang, itu pedas banget lho. Cabe rawit merah semua itu bang," Agni mencoba mengingatkan lagi. Pantang menyerah melakukan sesuatu yang benar.
"Sudah, ngga apa. Abang bisa, kok," senyum Jeff, seolah itu bukan masalah besar.
Cleora jadi bingung bagaimana dia harus bersikap. Dia tau kalo Jeff ngga doyan pedas. Dia bule dengan sedikit banget darah pribumi. Mana mungkin doyan sambal. Juga ketahanan perutnya patut dipertanyakan.
Apalagi dia merasa Zoya dan Moana sedang intens memperhatikannya dan Jeff.
Jeff pun menyendokkan satu sendok penuh kuah dan isian soto itu ke dalam mulutnya di nawah tatapan ngeri teman temannya yang melihat.
Benar saja, Jeff langsung merasa kerongkongannya terbakar.
Fazza langsung memberikannya minuman dinginnya yang langsung diteguknya sampai tinggal separuh.
"Jeff, dari pada nanti kamu masuk rumah sakit, ganti saja makanannya," perintah Nathan yang ikut gemas memperhatikan tingkah kekanakan Jeff.
Eleanor melengos kesal.
Segitunya demi bisa baikan, batinnya sinis.
"Ngga, aku mau latihan makan pedas. Lebih baik kalian habisin makanan kalian saja," kilah Jeff agak kesal karena mereka akan mengacaukan usahanya untuk mendapat maaf dari Cleora.
"Terserahlah," dengus Nathan kesal karena sarannya ngga digubris. Dia pun menatap sebal ke arah kembarannya yang tampak tenang tenang saja menikmati soto yang aslinya punya Jeff.
"Bang Jeff, kalo sakit, kasih tau Agni, ya. Bang Jeff, kan tinggal sendiri," kata Agni juga menyerah tapi tetap memberikan solusinya.
"Oke."
Sekarang Jeff sudah lebih pintar dari yang tadi, dia menyaring isi soto dengan kuahnya yang tertinggal di mangkok.
__ADS_1
Eriel yang hanya diam menyodorkan minumannya yang belum dia minum pada Jeff. Karena minuman Jeff sudah habis.
Thank's, sorot mata Jeff mengucapkannya yang diangguki Eriel. Laki laki ini pun memesan minuman lagi untuknya sendiri
"Ngga usah dihabisin," bisik Cleora ketika melihat Jeff sudah kepayahan dengan wajah yang sudah sangat merah. Juga matanya yang penuh genangan air.
Walau pun sudah menyisakan kuahnya, tetap saja sotonya mssih terasa sangat pedas. Lidahnya pun ikut terasa kebakar
Jeff menatap isi mangkoknya yang sudah tinggal separuh.
Syukurlah, batinnya lega karena mendengar larangan Cleora atas aksi bodohnya
Jeff pun mengangguk pada bidadari pencabut nyawanya sebagai respon. Akhirnya dia dapat juga sedikit pengampunan.
TUK!
Zoya yang sedang mengamati Jeff kaget campur kesal karena ada gumpalan tisu yang menimpuk kepalanya. Siapa lagi pelakunya kalo bukan Nathan yang sedang menatapnya dengan penuh intimidasi.
"Habiskan cepat makananmu. Kerjaan kita masih banyak," sentaknya ngga ramah, dengan suara yang pelan.
Zoya hanya bisa memutar bola matanya dengan kesal.
Ini bos ngga beretika banget, sungut Zoya sambil berkonsentrasi lagi dengan sotonya yang sempat dia anggurin lama.
Tapi Zoya belum menemukan hal yang menjurus ke arah sana, selain hanya perhatian seorang teman.
"Dia galak banget," bisik Moana juga sangat terkejut dengan lemparan tisu dan bentakan Nathan pada Zoya.
Di luar dugaannya, Nathan yang minim ekspresi dan kaku bisa bersikap sefrontal itu di area public.
Untungnya Indri dan Freya ngga terlalu memperhatikan karena meja mereka agak jauh dan terpisah.
Mereka berdua sengaja melakukannya karena takut mendengar sindiran Nathan atas gibahan mereka tadi.
Saat ada dua kursi dan satu meja di dekat meja yang diatur pengawal Nathan yang baru saja ditinggalkan pengunjung yang lain, dengan gercep keduanya berlalu ke arah itu.
Keduanya memilih berkonstrasi dengan makanan mereka agar bisa kenyang tanpa mempedulikan perdebatan di meja Nathan.
"Memang," balas Zoya berbisik dengan hati yang dongkol. Menjawab kata kata Moana.
"Kirain sudah jinak dengan kamu," timpal Moana lagi juga berbisik.
__ADS_1
"Jinak apaan, aku tersiksa tau," sungut Zoya masih dengan suara berbisiknya.
"Ehem....!" batuk Nathan membuat Zoya dan Moana mingkem.
Eleanor yang awalnya memperhatikan Jeff, jadi beralih memperhatikan interaksi Nathan dan Zoya yang menurutnya cukup aneh.
Mereka seperti saling ngga menyukai, duganya dalam hati.
Sementara Eriel yang tumben mengunci rapat mulutnya, tertawa dalam hati nelihat dua pasangan yang selalu tolak menolak seperti kutub kutub pada magnet yang sejenis.
Aku akan lihat, sampai kapan kalian tahan pura pura begini terus, batinnya geli. Kini senyum miring bertengger di bibirnya.
*
*
*
Cleora menatap khawatir punggung Jeff yang mulai menjauh. Dia merasa wajah Jeff ngga baik baik saja.
Apa dia bakalan opname? batin Cleora ngga tenang.
Melihat Jeff yang terus saja menikmati sotonya membuatnya tercekat.
Mengapa dia jadi sebodoh itu, padahal Nathan sudah menyarankannya agar mengganti makanannya. Tapi niat baik Nathan malah ditolaknya mentah mentah.
Jeff, Fazza dan Eriel rupanya memang sengaja datang ke perusahaan mereka dengan membawa berkas kerja sama.
Makan siang tadi rencananya mau diskusi. Tapi Nathan merusak rencana awal itu.dengan memaksa dia dan sahabat sahabatnya untuk ikut makan siamg bareng.
Sekarang mereka malah sedang asyik ngobrol santai sambil melangkahkan kaki meninggalkan kantin.
Cleora pun bergabung dengan csnya, memisahkan diri dari kembarannya dan teman temannya, termasuk Jeff.
Agni dan Eleanor juga sudah pergi ke divisinya masing masing.
Kekesalan tergambar jelas di mata Eleanor sebelum pergi, ketika melihat Agni dengan lancang mencium pipi Nathan. Nathan ngga menolak, malah mengacak rambut gadis centil itu sambil tersenyum tipis.
Dan yang paling menyebalkan sebelum pergi, Agni menjulurkan lidahnya untuk mengejekmya.
Eleanor sudah ngga sabar untuk menjambak rambut si centil itu yang diacak lembut oleh Nathan. Sayangnya dia belum punya kesempatan.
__ADS_1
Cleora hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kejahilan adik sepupunya ngga hilang hilang. Adik Agni yang masih kuliah bahkan lebih bisa bersikap sangat dewasa dari pada dirinya.
Tapi Cleora bersyukur, untuk sementara ini dia akan selamat dari gangguan adik sepupunya yang sangat luar biasa menjengkelkan.