
Zoya mengerjap ngerjapkan matanya, merasa asing dengan ruangan tempatnya berada.
Reflek dia pun terduduk.
Semakin horor karena bukan berada di sofa, tapi malah di atas sebuah ranjang asing.
Astaga. Dia dimana? Berapa lama dia udah tidur? Begitu banyak pertanyaan dalam hatinya.
Dia tidur sambil jalan? batinnya ragu.
Ngga mungkin ada yang menggendongnya ke sini, kan? batin Zoya mencoba mendenial.
Dia menggelengkan kepala membayangkan Nathan yang sudah menggendongnya.
Wajahnya memanas.
Secepatnya Zoya bangkit, merapikan tempat tidurnya. Kemudian menatap dirinya di cermin besar yang ada.di situ.
Dia narsis sekali, batinnya mencela.
Jam berapa sekarang?
Zoya merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Mencepolnya asal karena ikatannya sudah menyisakan separuh rambutnya saja.
Zoya juga ngga menemukan sisir.
Kemudian dia pun membuka pintu, merasa aneh karena ngga melihat Nathan di meja kerjanya.
Dia dimana?
Baru saja Zoya membatin, satu suara menyapanya membuatnya kaget.
"Sudah bangun?"
Gosh, ternyata laki laki itu berada di sofa tempatnya berbaring tadi sampai ketiduran.
Bos yang aslinya mantan temannya itu juga terlihat seperti habis tiduran.
Sekarang dia duduk sambil merapikan rambutmya yang agak acak acakan.
Jantung Zoya tantrum lagi. Nathan lebih tampan kalo begini.
Eh, apa, sih. Jelek tau, batinnya meralat.
"Kirain kamu mau nginap," ujarnya sambil berdiri.
Zoya ngga menyahut. Wajar Nathan berpikir begitu. Sekarang sudah hampir jam tujuh malam.
Mengapa tadi dia ngga dibangunkan, sih, gerutunya dalam hati.
Sahabat sahabatnya, kok, tega banget ngga bangunkan dia, batinnya mengomel lagi.
"Mau pulang, ngga?" tanya Nathan mengagetkannya. Laki laki itu sudah berada di depannya sambil mengulurkan tas kecilnya.
"Iya pulang." Lidah Zoya terasa berat untuk bertanya mengapa dia bisa berada di ruangan Nathan.
__ADS_1
Atau bertanya apakah kamu yang memindahkannya?
Selain takut mendapat jawaban sesuai isi pikirannya, Zoya juga takut semakin malu hati nantinya.
Dia pun hanya diam mengikuti langkah Nathan di belakangnya.
Ngga banyak yang lembur. Zoya yakin sahabat sahabatnya pasti sudah pulang sejak tadi.
Dasar ngga setia kawan.
Zoya membuka layanan taksi online di ponselnya. Dia akan naek itu aja, karena saat berangkat tadi diantar Bang Dirga.
Hampir tiap hari, karena perusahaan plat merah tempat abangnya bekeja, satu arah dengannya. Jadi abangnya selalu berinisiatif mengantarnya.
Beberapa hari yang lalu Nathan selalu mengantarnya pulang.
Ngga mungkin hari ini juga, kan? Rumah mereka sangat berbeda arah. Zoya ngebatin ngga yakin.
Masa bos turun derajat jadi supir. Zoya menipiskan bibirnya.
"Kamu lagi ngapain?"
Untung Zoya cepat mengerem langkah kakinya. Kalo tidak dia akan menabrak punggung kokoh itu lagi dan akan mendapatkan cercaan pedas darinya.
"Pesan taksi online."
"Batalkan."
Hampir saja Zoya berteriak dengan nada protes. Untung dia cepat menutup mulutnya.
"Aku akan mengantarmu pulang. Jangan membantah." Nathan kembali melangkah lagi menuju lift.
Zoya sempat tertegun, tapi kemudian berjalan lagi menyusul langkah panjang Nathan.
Kembali suasana hening sampai lift membawa mereka ke lantai basemen.
Kali ini Nathan menghampiri motor balapnya.
Memakaikan helm pada Zoya yang bergeming, ngga berkata apa apa.
Dia pun memakai helmnya sendiri.
"Ayo naek." Nathan memiringkan motornya untuk memudahkan Zoya duduk di belakangnya.
Tanpa aba aba, Nathan melajukan motornya.
Sambil mengomel karena terkejut campur takut, Zoya memeluk erat pinggang Nathan. Laki laki tampan itu tersenyum lebar di balik helmya.
Besok besok dia akan selalu menggunakan motor saja untuk mengantar Zoya pulang. Karena saat ini kedekatannya dengan Zoya sangat terasa sampai ke sum sum tulangnya.
*
*
*
__ADS_1
Felicia baru tau alasan papinya kenapa hari ini dia sendiri yang harus menemui Om Himawan. Selain alasan proyek yang sudah di setujui dan juga memberikan undangan pernikahannya, ternyata alasan papi sebenarnya adalah Dirga.
Keduanya sempat mematung saat bertatapan. Ada jutaan rindu dan rasa sakit yang sama terpancar di dua pasang mata yang sudah enam tahun ngga pernah bertemu.
Awalnya Felicia yang sedang menunggu sambil menunduk hingga Dirga datang menemuinya karena Om Himawan sedang ngga ada di tempat.
Pasti papinya sudah tau dan ini hanya alasannya saja untuk memberikan tambahan rasa sakit buat hatinya.
"Pak Himawan sedang keluar, Apakah nona mau menunggunya?"
Sakit hati Felicia seakan berdarah mendengarnya ucapan Nathan, setelah mereka saling terdiam cukup lama.
Nona.
Felicia menarik nafas perlahan. Dia berusaha tenang. Dia tau, saat ini mata mata papinya sedang mengawasinya.
"Tidak. Aku ke sini untuk mengambil berkas penting."
"Oh iya. Maaf, Pak Himawan menitipkan ini sebelum pergi." Dirga mengulurkan berkas yang ada di mejanya.
"Terima kasih." Felicia cepat mengambilnya dan dia harus segera pergi.
Langkahnya terhenti, dia teringat ada yang belum dia lakukan. Menyakiti laki laki ini dengan sangat sempurna.
Dia pun berbalik dengan tangan bergetar memegang undangan silver yang sangat mewah.
"Titip ini buat Pak Himawan." Felicia meletakkannya begitu saja tanpa mau melihat wajah Dirga. Dia sudah ngga sanggup lagi berlama lama di sini. Oksigen semakin susah dia hirup. Dadanya sudah sangat sesak.
Felicia lansung keluar. Bahkan dia berjalan dengan sangat cepat meninggalkan hati dan lukanya di sana.
Papi, apa kamu sekarang sudah puas?!
Dirga masih berdiri termangu di tempatnya.
Perkataan Zoya terngiang lagi di telinganya.
Kak Feli di sini.
Sekarang dirinya baru melihatnya sendiri setelah enam tahun berlalu.
Mata Dirga menatap penuh luka pada undangan mewah di atas meja. Dadanya sesak.
Bidadarinya akan menikah?
Dia pun melangkah cepat keluar dari ruangan itu. Bayangan gadis itu masih terlihat.
"Dirga, mau kemana?"
Dirga ngga menggubris panggilan temannya ketika melihatnya berlari di dalam ruangan.
"TAHAN!" serunya ketika sebentar lagi pintu lift akan menutup. Hanya ada Felicia sendiri di sana.
Tapi bidadarinya melakukan hal sebaliknya. LIft pun tertutup dengan menyisakan tatapan penuh air mata Felicia.
"
__ADS_1