
"Om Fazzaaa!" seru Kinara kencang seorang gadis cantik belia belasan tahun berlari lsri kecil mendekati Fazza yang sedang menyandar di body mobilnya.
Tentu saja seruan itu membuat banyak mata berpaling ke arah mana gadis cantik dengan seragan olah raga SMAnya berlari.
TUK!
"Aduh, sakit, Om," nyengirnya sambil mengelus jidatnya.
Sepupu yang menyebalkan.
Kalo saja mamanya ngga memintanya untuk menjemput anak manja itu untuk dibawa menginap ke rumah, Fazza pasti sudah menolaknya mentah mentah.
Om Dafy dan tantenya Salma selalu saja meninggalkan putri semata wayangnya di rumah mereka dengan alasan bisnis. Padahal aslinya bulan madu.
Fazza bukannya ngga tau kalo sepupunya yang nakal ini selalu saja mengganggu proses pembuatan adiknya jika berada di dekat mereka. Karena itu sengaja di jauhkan.
Jarak usia yang cukup jauh membuat sepupu kurang ajarnya selalu memanggilnya Om di tengah keramaian. Jadilah Fazza menjadi pusat perhatian siswa dan siswi yang sedang pulang sekolah.
Salah Fazza juga, tiap dia berinteraksi dengan sepupunya itu selalu memakai jas, karena masih jam kerja. Sedangkan sepupunya itu baru saja kelas satu SMA. Karena itu sematan kata Om cukup pantas buatnya.
"Ayo pulang," ujar Fazza sambil membukakan pintu untuk Kinara-sepupunya itu.
"Sebentar Om, eh Bang," cengir Kinara kala.melihat sepupunya melengos kesal.
"Vanda, jadi nebeng nggak?" Kinara menatap temannya yang dari tadi berada di belakangnya.
"Em.... Ngga usah. Aku nunggu supir aja," tolak gadis belia itu sungkan..Dia mungkin agak takut dengan reaksi datar Fazza.
"Nunggu di rumah om sama tanteku saja. Ngga apa, kok," bujuk Kinara pada teman barunya
Fazza melirik sekilas sebelum masuk ke dalam mobil.
Cantik juga, sayang masih kecil.
"Ngga usah takut. Sepupuku orangnya baik, kok," bujuk Kinara lagi sambil membukakan pintu belakang mobil buat temannya.
Akhirnya dengan sedikit paksaan Kinara mendorong Vanda sampai terduduk di jok belakang . Tapi matanya terbelalak melihat ada dua paper bag di sana.
'Bang! Abis shopping, ya," serunya histeris sambil melongokkan badannya lebih dalam dan meraih dua paper bag yang ada di sana.
Temannya-Vanda yang sudah duduk di dalam sampai memundurkan tubuhnya.
"Buat aku semua Bang?" tanyanya heboh dengan tubuh separuh masuk ke dalam mobil.
"Hemmm......"
"Makasih, Bang."
DUG
"Auw......!"
Saking senangnya, kepalanya pun kejedot.
"Hati hati, Kinar." Vanda panik melihat wajah kesakitan Kinar.
Fazza hanya menghela nafas.
"Udah, cepat masuk."
"Om eh Bang, sabar.dong. Lagi kesakitan itu sepupunya," protes Vanda bersimpati dengan ringisan Kinara.
Fazza melontarkan lirikan kesalnya pada gadis belia teman sepupunya, yang ikutan memanggil Om padanya.
Gadis yang namanya Vanda nampak agak ngga enak mendapat liirikan Fazza yang kurang ramah.
"Tenang, aku ngga apa apa, kok. Hatiku lagi senang," tukas Kinara sambil ngacir ke arah kursi penumpang di samping sepupunya
'Makasih, ya, Bang," ucapnya sambil mengecup pipi sepupumya.
"Hih...."
__ADS_1
Kinara tergelak. Abang sepupu yang selalu dijahilinya tapi tetap saja memanjakannya dengan caranya yang khas.
Vanda tersenyum melihat keakraban keduanya tanpa menyadari kalo Fazza meliriknya melalui kaca spion di dalam mobil.
*
*
*
Audrey mengeluh ketika mobilnya tiba tiba saja berhenti.
"Ada apa inii," gumamnya sedikit panik. Jalanan cukup sepi lagi dan hari juga sudah malan.
Dia pun keluar dari dalam mobilnya. Niatnya mencoba melihat apa yang rusak pada mobilnya, sambil menelpon bengkel langganannya dengan perasaan setengah ngga yakin.
Karena jam segini udah tutup. Tapi berharap ownernya mau mengangkat telponnya. Biasanya si owner selalu online.
Audrey terpaksa menggumamkan kata kata yang ngga pantas karena si owner tetap ngga mengangkat telponnya.
Kenapa, sih.
Padahal belum juga jam sepuluh malam, dengusnya dalam hati.
"Auw!" jeritnya pelan ketika memegang kap mobil yang masih panas. Kakinya dihentakkan saking kesalnya.
Menyesal tadi dia ikut teman temannya ke klub. Sekarang dia malah sendirian di jalan.
Audrey terpaksa menelpon supir minta di jemput
Lagi lagi kesal karena supirnya lagi pulang karena istrinya mau melahirkan.
Audrey benar benar keki. Hampir saja dia.menendang ban mobilnya karena marah.
Apes banget dia.
Saat Audrey akan memesan taksi online, layar hpnya pun gelap alias lowbat.
Ini namanya udah jatuh malah ketimpa tangga.
Audrey pun memperhatikan jalan sekitarnya yang lengang. Dia jadi deg degan. Takur dengan kejahatan yang.dia dengar sering terjad di daerah sepi.
Audrey memutuskan akan menunggu di dalam mobilnya saja. Papinya pasti akan melacak sinyal gpsnya kalo tau dia belum pulang pulang.
Ada bunyi motor yang berhenti saat Audrey akan membuka pintu mobilnya. Jantungnya langsung deg degan, takut akan mengalami kejahatan yang sering dilihatnya di televisi.
"Mobilnya mogok, nona?"
Audrey menoleh dengan perasaan senang mendengar suara yang cukup dihapalnya.
Dirga! Soraknya dalam hati. Tapi hatinya mengingatkannya akan penolakan penolakan Dirga padanya.
"Nona Audrey?" kaget Dirga ngga menyangka kalo gadis itu Audrey, putri bosnya.
Awalnya Dirga hanya melihat punggung seorang gadis yang nampak kebingungan dengan ponselnya, di dekat sebuah mobil mewah yang berhenti di jalan yang sepi.
"Hem," jawab Audrey pura pura ngga butuh dan memasang wajah juteknya. Padahal sesuatu dalam hatinya sudah melompat lompat kegirangan.Tapi Audrey berusaha keras menahannya.
Dirga turun dari motor, tetap dengan niat membantu walaupun merasa diintimidasi dengan tatapan dingin Audrey.
Dia pun membuka kap.depan mobil yang sudah mulai dingin. Melihat teliti dengan bantuan cahaya dari ponselnya. Sayangnya dia kurang paham dengan mesin mobil mewah. Kalo mesin motor dia masih cukup oke.
Cuma dia curiga saja dengan hal biasa yang dilalaikan perempuan kalo punya motor bahkan mobil.
"Kapan terakhir kamu ganti oli mesin sama oli matic?" tanyanya sambil menoleh pada Audrey yang sudah berada di dekatnya.
Gadis itu merasa ngga enak terus saja memusuhi Dirga. Apalagi laki laki itu berniat baik menolongnya.
"Entahlah. Biasanya supir papi yang mengurusnya," sahutnya ringan. Selama ini dia hanya mengendarai saja. Tau beres dan ngga ribet mengurus hal hal begitu.
Dirga menghela nafas pelan. Sudah dia duga, apalagi dengan iseng dia mengecek ketersediaan kedua oli itu. Memang hampir kering.
__ADS_1
Dia.hanya menggelengkan kepalanya.
"Kamu punya nomer telpon bengkel langganan?"
"Punya. lagi ngga aktif."
Dirga menutup.kap mobilnya
"Di derek aja."
Audrey tau, tapi ponselnya lowbat jadi ngga sempat menelpon mobil derek.
Melihat Audrey diam saja, Dirga menelpon pemilik mobil derek yang dia kenal.
"Nanti temanku datang. Dia akan mengurus mobil kamu. Sebaiknya kamu telpon supir kamu buat jemput."
"Hemm....."
Dirga menatap putri bosnya yang sedari tadi nampak ngga mempedulikannya.
Kenapa.dia jadi berubah?
"Kamu nunggu di dalam aja." Dirga pun membukakan pintu mobil buat Audrey.
Tanpa memjawab, Audrey pun masuk ke dalam mobil. Menurunkan sedikit joknya kemudian bersandar sambil memejamkan mata.
Dirga memgamati gadis yang jadi cuek dengan bibir mengulum senyum.
Dalam hati bersyukur juga karena tadi ada lemburan dan bisa ketemu putri bosnya yang lagi dalan kesulitan.
Dirga ngga bisa bayangin juga, seorang perempuan sendirian menunggu tukang bengkel atau tukang derek.
Melihat sikap cuek Audrey, Dirga juga kini fokus dengan ponselnya
Pak Himawan
Malam, pak. Mobil putri bapak sedang mogok. Kita lagi nungguin mobil derek.
Baru saja dikirim, ngga nyampe sepersekian detik balasan dari bosnya pun datang.
Tolong antar putri saya pulang, Dirga.
Dirga terdiam. Dia melirik Audrey yang sepertinya sedang tiduran di dalam mobilnya.
Pak Himawan
Saya bawa motor pak
Balasan Pak Himawan juga datang lebih cepat dari yang tadi.
Ngga apa apa. Antar ke rumah dengan selamat, oke.
Dirga menghembuskan nafas panjang.
Kemudian Dirga pun membuka pintu mobilnya membuat mata Audrey terbuka.
"Maaf, nona. Papi anda meminta saya mengantarkan anda pulang."
Tanpa ragu Dirga menyelipkan sebelah tangannya di lutut dalam Audrey. Sementara tangannya yang sebelah lagi merangkul bahu Audrey.
Gadis itu membelalakkan matanya saking terkejutnya. Rasa kantuknya hilang. Tanpa sadar tangannya digelung ke leher Dirga.
Mereka saling bertatapan sejenak sebelum Dirga mengalihkan tatapannya. Audrey terus saja menatap Dirga. Matanya seakan ngga bisa teralihkan. Jantungnya pun terus saja berlarian secara sprint.
Dirga mendudukkan Audrey di motornya. Helmnya pun dipakekan buat Audrey.
Sepanjang jalan tanpa sungkan Audrey melingkarkan kedua tangannya di pinggang Dirga. Dia pun menyandarkan kepalanya di punggung laki laki itu.
Dirga sendiri merasa seperti dejavu. Setelah sekian lama motornya ngga pernah diijinkan membawa perempuan setelah Felicia, sekarang motornya ditumpangi putri bosnya.
Dirga mengenyahkan pikiran nyamannya saat ini. Buat apa terlalu berharap pada ketakpastian.
__ADS_1