My Ex Crush

My Ex Crush
Salah sangka


__ADS_3

"Apa abang masih memikirkan Kak Feli?" tanya Zoya penasaran begitu turun dari motor kawasaki abangnya.


"Sedikit," aku Dirga jujur. Kemudian dia tersenyum sambil melepaskan helm adiknya.


Zoya menatap abangnya ngga tega. Bukan salah Kak Feli juga. Tapi papinya mengerikan. Zoya masih merinding kalo mengingatnya. Biarpun sudah enam tahun berlalu.


Saat mereka datang ke rumah sakit setelah mendapat informasi dari orang yang mengaku polisi, mereka sangat terkejut dan terguncang melihat abangnya sudah penuh selang di ICU. Mamanya bahkan sampai pingsan. Karena saat pergi, Bang Dirga baik baik saja tapi kini tubuhnya penuh luka dan memar. Bahkan dia koma.


Walaupun segala biaya sudah ditanggung papinya Feli, papanya ngga sudi menerimanya.


Setelah menjual segala aset milik mereka, Bang Dirga yang sudah sadar dipindahkan ke rumah sakit lain. Di kota lain.


Untung saja kepindahan kerja Bang Erwin diterima. Mereka sudah meninggalkan kota tempat mereka lahir. Menyembuhkan kondisi psikologis mereka yang terguncang.


Zoya pun sempat ketakutan untuk pergi ke mana mana. Papa dan Bang Erwin yang selalu mengantar jemputnya ke kampus. Dia ngga punya teman. Zoya ngga mempercayai siapa pun karena sempat mendengar ancaman Papi Feli yang akan mencelakakannya jika abangnya masih mencari Kak Feli.


Saat itu, papa, mama, bang Erwin dan Bang Dirga membahasnya di rumah sakit, begitu abangnya sadar dari koma. Mereka ngga sadar kalo Zoya mendengar.


Zoya langsung terduduk di depan pintu dengan tubuh menggigil karena rasa takut yang amat sangat.


Melihat wajah pucat Zoya, Dirga mencubit pipinya gemas.


"Abang ngga akan biarin sesuatu yang buruk terjadi sama kamu," janji Dirga lembut.


"Abang juga selalu hati hati, ya," pesan Zoya agak was was. Melihat keberadaan Kak Feli, rasa takut dan cemasnya kumpul jadi satu di otaknya. Dia sudah susah untuk merasa baik baik saja sekarang.


"Ya. Sana masuk. Abang liatin," ucap Dirga lembut.


"Ya bang." Sambil terus melambaikan tangannya Zoya memasuki lobi perusahaannya.


Dirga tersenyum menatap adiknya yang mulai menjauh.


Dia menghela nafas. Feli sepertinya juga mengerti hingga mau mengorbankan diri untuk menikah.


Ini sangat ngga adil. Karenanya Dirga akan menyelidiki siapa calon suami Felicia.


Dia berharap laki laki itu baik dan bertanggungjawab. Bisa membuat Feli bahagia, ngga hanya secara materil saja. Juga hati bidadarinya.


Setelah ngga melihat adiknya lagi, Dirga pun memacu motornya ke tempat kerjaannya.


*


*


*


"Ke ruanganku," perintah Nathan saat dia melewati Zoya yang sedang menunduk. Sibuk dengan kerjaannya.

__ADS_1


Zoya yang sudah datang lebih awal dengan Bang Dirga segera berdiri dari duduknya. Ikut menyusul langkah Nathan ke ruangannya.


Nathan masih berdiri di dekat mejanya ketika mendengar suara pintu terbuka. Dia terus menatap lekat Zoya yang sedang berjalan mendekatinya.


Alisnya bertaut menyadari gadis itu seperti sedang melamun.


Apa dia masih senang karena aku mengirimnya pesan tadi malam?


Dasar gadis sombong.


Nathan berusaha keras menyembunyikan senyum senangnya.


"Apa kegiatanku hari ini?" tanya Nathan sambil menatap lekat Zoya dengan suara datar.


"Jam sembilan ada klien dari PT Nusa Indah Travel yang akan ke sini. Jam dua belas makan siang dengan klien PT Mega Teknik," jelas Zoya tanpa sadar kalo Nathan sedang menatapnya, karena Zoya hanya menatap layar ipadnya saat memberikan laporan kegiatannya pada Nathan.


Zoya baru tersentak saat menyadari tatapan Nathan yang sangat menusuk saat dia mendongak.


"Jam berapa kamu tidur tadi malam?"


Ap apa? Zoya agak tergagap sampai ngga bisa menjawab. Wajahnya memanas sambil terus menatap Nathan dengan salah tingkah. Pertanyaan ini di luar dugaannya. Juga di luar pekerjaannya.


Zoya memang sama sekali belum menyiapkan jawaban sama sekali jika pagi ini Nathan bertanya. Dia terlalu senang tadi malam karena bosnya sudah sampai di rumah dengan selamat.


Belum lagi dia memikirkan pembicaraannya dengan Bang Dirga tadi saat mengantarnya.


Pasti Kak Feli sangat sedih karena dia pun mengacuhkannya.


Tapi Zoya terpaksa. Dia masih takut dan traumanya belum juga hilang.


Senyum smirk terukir samar di bibir Nathan ketika Zoya masih bengong menatapnya.


"Harusnya pesan bos itu dibalas, bukan cuma dibaca aja," komentar Nathan sambil melangkah ke mejanya. Senyum tipis masih bersarang di bibirnya. Hatinya senang bisa membungkam celotehan gadis yang selalu saja membantahnya.


"Kamu boleh kembali." Nathan segera menduduki kursinya dan membuka laptop. Seakan Zoya sudah ngga ada lagi di sana.


Tanpa kata pun Zoya membalikkan tubuhnya pergi meninggalkan Nathan dengan jantung yang tantrum.


Kenapa aku tadi hanya diam aja, omel Zoya sebal dalam hati.


Dia tambah belagu, kan, omelnya lagi dalam hati.


Tapi tadi tatapan Nathan sangat tajam seolah laki laki itu tau kalo dia baru bisa tidur setelah mendapat pesan darinya.


Memalukan sekali, tanpa sadar Zoya menghela nafas berkali kali.


Zoya bersandar di pintu yang sudah ditutupnya. Dia berusaha menenangkan debaran keras yang memukul rongga dadanya.

__ADS_1


Nathan masih saja tersenyum sambil terus menatap pumggung gadis itu, sampai pintu tertutup.


Apa dia menyukaiku? batinnya sambil mengulum bibirnya. Hatinya pun berdesir desir dengan puluhan kupu kupu yang terbang keluar dari dalam perutnya.


Sementara itu di luar ruangannya.


"Kak Zoya ngapain?"


Zoya yang sedang memejamkan matanya jadi cepat cepat membuka matanya setelah mendengar suara manja yang sangat dikenalnya menyapanya.


Sepupunya Cleora.


Agni sedang berdiri menatapnya heran.


"Ada apa?" tanya Zoya berusaha bersikap tenang. Untung Agni, bukan Cleora.


Dia masih bisa menutupi rasa malunya.


Kalo Cleora, dia pasti sangat ini akan dicecar dengan banyak pertanyaan. Dan gadis itu ngga akan berhenti sampai dia menemukan jawabannya.


"Berat, ya, kak, kerja dengan Bang Nathan?" tanya Agni prihatin.


Dia sudah dengar rumor tentang nasib menyedihkan personal asisten Bang Nathan yang dulu dulu dari staf staf yang satu ruangan dengannya.


Dari dimarahin, dikasih banyak kerjaan sampai terakhir, dipecat.


Mungkin Kak Zoya baru taraf dimarahin kalo lihat reaksinya. Soalnya, kan, ngga bisa dipecat setelah lima tahun kerja, analisa Agni dalam hati sambil menelisik cukup lama wajah Zoya.


Dia sudah tau, cuma dia aja yang bisa ngadepin abang sepupunya ini. Pada ngga percaya, sih, celanya dalam hati dengan sombong.


Zoya tersenyum tipis.


"Begitulah."


Agni menghela nafas panjang.


"Sabar aja, kak, sampai lima tahun, kan?"


"Iya."


Oh iya, Zoya baru teringat kalo dia harus kerja dengan Nathan sampai lima tahun ke depan.


"Aku masuk ya, Kak."


"Silakan."


Agni pun memasuki ruangan Bang Nathan dengan berkas pegawai yang harus segera ditandatangani oleh Nathan.

__ADS_1


__ADS_2