
"Kamu pacaran sama Jeff?" todong Zoya langsung begitu memasuki ruangan Cleora.
Gadis itu melebarkan senyumnya.
"Kamu sudah tau?"
Zoya dapat melihat wajah bahagia sahabatnya.
"Kaget, kan, Zoy. Kita aja kaget pas baru tau," kekeh Indri.
"Waktu SMA juga biasa aja, kan. Rapi banget nyembunyiinnya," timpal Moana juga tertawa.
Zoya tersenyum, menyetujui pendapat Moana. Dalam hati Zoya juga ikut bahagia.
"Pokoknya harus dirayakan," seru Freya.
"Boleh juga. Siang ini, ya. Bentar lagi juga jam makan siang," sahut Cleora setuju.
"Oke."
"Jeff ngga ke sini?" tanya Indri agak khwatir, siapa tau Jeff datang dan menculik Cleora di depan mata mereka lagi.
"Tenang. Dia juga mau pergi sama Nathan, Eriel dan Fazza. Ditodong Eriel kata Jeff," kekeh Cleora yang sebelum teman teman dekatnya datang, sudah mendapat telpon keluh kesah Jeff.
Nathan rupanya sudah mengadu pada Eriel, jadi sahabatnya yang sudah membuka jalan itu ngamuk karena ngga diberitaunya lebih dulu
Jadi rencananya mereka akan pergi makan siang ke Sidney dengan private jet punya Jeff.
Memang terlalu kalo Eriel udah ngamuk.
Zoya yang mendengarnya agak kaget juga. Pantasan Nathan tadi tumben menyuruh dirinya ke tenpat Cleora. Rupanya dia juga mau ada acara dengan teman teman dekatnya.
Huh, dasar, omel Zoya dalam hati. Padahal Zoya masih mangkel mengingat kejadian Eleanor tadi, tapi laki laki itu terlihat ingin ikut merayakan kebahagiaannya juga bersama csnya.
"Baguslah kalo gitu," sahut Indri lega.
"Bisa bebas dari laki laki posesif itu," ledek Moana.
Tawa pun pecah. Zoya juga kadang merasa Nathan posesif dengannya. Padahal dia bukan siapa siapa Nathan. Kalo Cleora wajar diposesifkan Jeff. Pacarnya.
Ponselnya bergetar.
Ngapain dia kirim pesan, pake viideo lagi, agak bersungut Zoya membuka layar ponselnya dan berjalan menjauhi sahabat sahabatnya.
Tapi bibirmya spontan mengembangkan senyum dengan desir desir lega di hatinya.
Nathan mengirimkan video rekaman CCTV sejak kedatangan Eleanor sampai gadis meresahkan dan pembohong itu pergi.
Dadanya langsung plong. Segala prasangkanya hilang ngga berbekas.
Yang aneh dan membuatnya kini malah memiliki banyak tanda tanya, kenapa Nathan mengirimkannya video ini.
Ngga mungkin Nathan tau perasaan cemburunya, kan?
Jantung Zoya tantrum lagi. Tapi kali ini ada lagu lagu indah bergaung di sana.
Seketika harapannya yang layu jadi segar lagi.
Nathan juga menyukainya?
__ADS_1
*
*
*
Felicia.menatap lagi restoran steak yang di kunjungi Audrey dengan perasaan ngga menentu. Dia ngga menyangka kalo restoran yang akan mereka kunjungi milik keluarga Dirga.
Jadi.... laki laki yang dimaksud Audrey itu Dirga?
Antara perasaan senang dan sedih bergejolak di dalam hatinya. Senang karena Dirga mengacuhkan Audrey, tapi sedih karena dirinya masih mengingat ada luka di mata laki laki itu.
Apa yang akan dilakukan Audrey jika tau laki laki itu yang pernah jadi kekasihnya?
Felicia pun baru melihat Audrey sekacau ini karena ngga dipedulikan Dirga.
Felicia menghela nafas panjang.
Setelah tadi Audrey curhat abis abisan, sahabatnya itu mengajaknya makan siang. Tepatnya menemannya makan siang bersama.
Felicia sudah menolak, karen semakin dekat hari pernikahan, dia lebih suka menghabiskan waktu di rumah saja. Menikmati waktu bersama mami dan oma-opanya. Karena setelah pernikahan, dia akan diboyong Gatan ke Belanda.
Seperti biasa, papinya yang mengaturnya dengan keluarga calon besannya.
Felicia ngga mungkin ikut turun bersama Audrey. Pasti di sana akan ada keluarga Dirga yang pasti masih mengenalinya. Lagi pula Felicia takut orang orang papanya akan melihatnya. Papinya bisa salah paham dan berbuat kejam.lagi pada Dirga.
Pastinya papinya akan membuat Dirga lebih parah dari yang dulu. Bahkan mungkin akan meninggal. Bisa juga papinya akan menyakiti anggota keluarga Dirga yang lain.
Felicia ngga mau itu terjadi. Dia sudah melangkah sejauh ini untuk melindungi Dirga dan keluarganya.
Setelah melihat Dirga dan Zoya baik baik saja, dia sudah cukup bahagia. Gatan juga sudah mengajukan kontrak pernikahan dengannya. Laki laki itu ngga menginginkan hubungan intim suami istri. Tentu saja Felicia dengan senang hati menerimanya. Dia pun ngga yakin bisa menerima sentuhan Gatan.
"Steak di situ enak banget," puji Audrey sambil melepas seatbeltnya.
"Ayo, Fel. Malah bengong." Audrey menatapnya ngga sabar.
"Emm..... aku di mobil aja."
"Kenapa?"
"Aku emm.... sebenarnya aku udah makan. Jadi masih kenyang," bohongnya terpaksa.
"Yaa... ngga seru, dong." Audrey menghela nafas kecewa
Felicia tersenyum tipis.
"Aku ngga boleh banyak makan. Gaun pengantinku, kan, sudah diukur."
"Yaa.... gimana, dong."
"Kamu ke sana aja. Aku nunggu di sini."
Audrey bimbang. Tapi akhirnya dia mengangguk setuju.
"Aku tinggal ya. Paling pesan bawa pulang."
"Oke." Felicia sedikit menurunkan kaca jendelanya agar ada sirkulasi udara sebelum Audrey mematikan mesin mobilnya.
Audrey pun melenggang memasuki restoran steak yang pernah dia kunjungi bersama laki laki ngga setara tapi berani mengacuhkannya.
__ADS_1
Bukan karena laki laki itu dia ke sini. Tapi karena rasa steaknya yang membuat lidahnya kangen.
Audrey mendapat tatapan terkejut dari beberapa pegawai yang ada di sana. Walau heran, dia mengabaikannya.
Dia memesan tiga porsi steak untuk.di bawa pulang. Satu untuknya, satu untuk Felicia dan satu lagi buat papinya.
Audrey akan ke perusahaan papinya dan mempraktekkkan saran Felicia untuk mengabaikan laki laki itu, demi melihat reaksinya.
Tapi langkahnya yang keluar dari restoran sambil menenteng pesanannya terhenti saat melihat laki laki itu sedang berjalan ke arahnya.
Jantungnya telanjur berlarian kencang. Agak sulit juga mempraktekkan saran Felicia di pertemuan yang ngga dia rencanakan.
Malah kini tatapan mata mereka bertemu. Audrey dapat melihat riak kaget di mata laki laki itu saat melihatnya.
Bisa Audrey. Bisa. Cuekin, batinnya menguatkannya.
Audrey mengalihkan tatapannya dan terus melangkah hingga mereka bersisian.
"Nona," sapa Dirga sopan.
Audrey ngga menyahut, trus melangkah pergi meninggalkan Dirga yang kini sudah menghentikan langkahnya.
Separuh hati Audrey bersorak karena sudah berhasil mengacuhkan laki laki itu, berhasil membalasnya. Tapi separuhnya lagi menangis karena sudah menyia nyiakan kesempatan mengobrol daj memandang wajah tampannya lebih lama. Walau hanya sepatah dua kata saja.
Tetap saja dia.merasa shock dan surprise dengan pertemuan yang ngga dia sangka sangka ini.
Jantung Audrey makin ngga menentu ritmenya saat terus melangkah menuju mobilnya. Dia yakin Dirga masih menatapnya.
Felicia pun yang berada di dalam mobil jadi ngga menentu perasaannya melihat Dirga yang datang dengan motor yang selalu dinaikinya dulu.
Dia masih menggunakan motor itu?
Felicia yakin itu motor yang sama, enam tahun yang lalu. Hati Felicia mencelos.
Felicia memfokuskan tatapannya untuk melihat interaksi antara Audrey dan Dirga.
Sahabatnya itu terlihat sangat gugup mempraktekkan sarannya. Felicia tersenyum, baru kali ini Audrey bertingkah aneh itu di depan laki laki.
Kini Felicia bisa menatap Dirga yang sedang menatap Audrey yang sedang menuju mobilnya. Tapi jantung Felicia berdegup keras melihat Dirga yang menyusul Audrey.
Jangan ke sini, batin Felicia mulai merasa cemas. Takut Dirga melihatnya.
Audrey membuka pintu belakang mobilnya dan menyimpan paper bag yang berisi steak di sana.
Saat akan menutup pintu mobilnya, dia terkejut melihat Dirga ada di belakangnya.
"Kamu..." kaget Audrey ngga nyangka Dirga mengikutinya .
Dirga tersenyum. Dia pun bingung karena hatinya menuntun langkahnya mendekati mobil Audrey. Dirga seperti melihat siluet seorang gadis di dalan sana membuatnya penasaran.
Dirga pun membuka mobil Audrey dan matamya melongok ke dalam sekilas. Dia melihat punggung seorang gadis yang membuat hatinya berdesir. Sayangnya dia ngga bisa melihat wajahnya untuk memastikan, padahal hatinya saat ingin. Dirga pun ngga tau kenapa.
"Silakan, nona."
Audrey terpaku.
Tanpa kata Audrey masuk ke dalam mobil dan membiarkan Dirga menutup pintunya. Jantungnya terlalu heboh berdetak.
Sekali lagi Dirga ingin memastikan perempuan yang sayangnya masih memunggunginya.
__ADS_1
Dirga ngga punya alasan lagi untuk melihatnya lebih lama.
"Hati hati, Nona," ucapnya sambil menutup pintu mobil Audrey.