My Ex Crush

My Ex Crush
Trauma Zoya


__ADS_3

Zoya membantu Nathan menyiapkan lagi berkas berkas yang akan mereka bawa saat bertemu klien PT Mega Teknik nanti.


"Sudah, Sir."


"Oke."


Zoya pun berjalan di belakang Nathan, mengikuti langkah bosnya yang menuju lift.


"Nathan...... Mau kemana?" tanya Eleanor yang di tangannya juga menggenggam sebuah map.


Dia terdiam saat melihat Nathan keluar dari ruangannya.


"Ada apa?" wajah Nathan tampak datar.


"Ini berkas tambahan yang diminta perusahaan travel tadi," ucapnya sambil mengangsurkan berkas di tangannya.


Nathan melirik Zoya yang langsung mengerti dan cepat meraihnya.


"Itu harus segera ditandatangani, kan?" Eleanor mencoba menahan kepergian Nathan bersama Zoya. Harusnya dengannya. Dia melirik kesal saat map di tangannya sudah berpindah ke tangan Zoya.


Zoya mengacuhkannya saja. Dia ngga peduli dengan kepentingan gadis meresahkan itu padanya. Yang penting dia sudah melaksanakan jobdesknya.


Padahal Eleanor sengaja mengantarnya sekarang agar bisa sekalian mengajak Nathan makan siang. Tapi Nathan malah mau pergi dengan personal asistennya.


Padahal semua orang bisa melihat kalo dia jauh lebih cantik, lebih anggun, lebih seksi dari pada personal asistennya yang kurus kering itu.


Kenapa Nathan ngga bisa melihatnya? Bahkan Nathan pernah mencumbuinya. Kurang apa lagi dia, batin Eleanor mangkel.


"Aku akan memeriksanya nanti," sahut Nathan sambil berjalan pergi diikuti Zoya di belakangnya.


Eleanor mendelikkan mata kesal.


"Tapi ada yang perlu kita diskusikan," kejar Eleanor pantang menyerah.


"Ngga perlu. Zoya bisa melakukannya untukku," tolak Nathan sambil terus melangkah pergi. Zoya sedikit pun ngga bereaksi. Dia seolah sudah tertular virus datar Nathan.


Eleanor membesarkan pupil matanya karena Nathan menolaknya tanpa perasaan.


"Kalo gue malu tuh sampai digituin sama cowo," cuit Indri sinis.


"Ngga tau malu banget," kekeh Moana.


"Iya, udah putus syaraf malunya," timpal Freya terkikik.


Eleanor menoleh pada suara suara sumbang yang mengejeknya.


Teman teman Cleora ternyata. Tapi kemana dia? Apa Jeff membawanya pergi, batinnya emosi karena ngga melihat keberadaan Cleora. Apalagi ketiga temannya jelas jelas sedang tertawa mengejeknya.

__ADS_1


Tapi demi ngga membuang kesan anggunnya, Eleanor berjalan cepat meninggalkan ketiganya yang masih awet dengan tawa hebohnya, tanpa mau menanggapi.


*


*


*


Zoya mematung saat akan memasuki restoran mewah tempat mereka janjian dengan klien mereka, PT Mega Teknik. Seseorang dengan hawa jahat mencekam saat ini sedang berjalan ke arah mereka.


"Kamu di sini juga, Nathan?" sapa Om Sudjatmoko yang berpapasan dengan mereka. Dia sepertinya sudah selesai dengan urusannya.


"Mau bertemu klien, Om," Nathan mengulurkan tangannya menjabat tangan Om Sudjatmoko.


"Oh ya ya," senyum Om Sudjatmoko kemudian berpaling pada Zoya.


"Kamu Zoya, kan? Adikmya Dirga?" sapanya ramah.


Tapi bagi Zoya kalimat itu diucapkan dengan sangat sinis. Ketakutan mulai merambati tulang tulangnya.


Zoya hanya menganggukkan kepalanya pelan. Teringat lagi akan kata kata abangnya waktu di rumah sakit yang sempat dia dengar, kalo laki laki separuh tua di depannya ini berniat mencelakakannya.


Nathan langsung waspada ketika melihat wajah Zoya yang pucat.


"Kamu bekerja dengan Nathan?" interogasi Om Sudjatmoko pura pura baru tau.


Zoya lagi lagi hanya menganggukkan kepalanya.


"Tentu. Dia mirip sekali dengan Dirga, kakak laki lakinya," sindirnya telak.


Tubuh Zoya makin menegang. Zoya tau maksud ucapan Om Sudjatmoko. Dia tau itu kalimat sindiran buatnya. Seakan mengatakan kalo dia dan abangnya seperti pungguk yang merindukan bulan. Atau yang lebih sinis, suka menipu orang orang yang kaya raya.


Zoya tau kesenjangan ekonomi keluargalah yang disorot papinya Kak Feli sampai membuat abangnya terbaring koma. Hampir meninggal dunia.


Semua karena harta yang dibangga banggakan laki laki yang sudah tua bangka ini.


"Tentu sangat mirip Om. Namanya adik kakak," tegas Nathan sambil meraih tangan Zoya, menggenggamnya erat. Nathan menatap cemas, karena tangan itu begitu dingin.


Zoya ngga menolaknya. Dia memang membutuhkannya. Saat ini Zoya merasakan tubuhnya yang sudah gemetar, hampir tumbang. Rasa takut dan marah campur jadi satu melihat laki laki tua ini tampak baik baik saja setelah sempat membuat keluarganya menderita.


"Kita duluan, Om," pamit Nathan sambil menarik Zoya agar mengikutinya. Nathan bahkan ngga menunggu jawaban Sudjatmoko.


Sudjatmoko menatap sinis. Dia akan membicarakan ini pada Kalil-Papa Nathan yang merupakan relasinya.


Kakak sama adik sama saja. Sasarannya orang kaya raya, dengusnya membatin sambil melangkah pergi.


"Nathan," panggil Zoya dengan suara bergetar. Saat ini Zoya tanpa sadar sudah menggenggam erat tangan Nathan. Bahkan sebagian kekuatannya sudah dia tumpukan pada Nathan.

__ADS_1


Nathan menghentikan langkahnya, membiarkan Zoya menempel di bahunya.


"Perlu digendong?" Nathan menatap Zoya serius. Dia dapat merasakan ketakutan Zoya, dari getaran tubuhnya dan juga dari suhu tubuhnya yang mendingin.


Zoya tersenyum lirih. Tanpa dia sadari, dia sudah memeluk lengan Nathan sangat erat.


Nathan mengambil sebotol air mineral yang tadi dia minta pada pelayan restoran.


"Minumlah dulu." Nathan sudah membuka tutupnya dan memberikannya pada Zoya


"Terimakasih." Zoya pun duduk di kursi kosong yang ada di dekatnya. Mulai meneguk minumannya.


Matanya menatap Nathan dan menghapus lembut bulir bulir keringat yang muncul di kening Zoya dengan sapu tangannya.


"Tenanglah. Ada aku. Kamu pasti baik baik aja," ucap Nathan berusaha menenangkan Zoya. Untung klien mereka belum datang.


Mata Zoya berkaca kaca. Kemudian dia menunduk. Dia ngga bisa cerita dengan Nathan. Zoya pun ngga ingin menyusahkan Nathan dengan beban ketakutan yang dia punya.


Air mineral yang diteguknya membasahi kerongkongannya yang kering. Bentar lagi dia pasti bisa menenangkan dirinya.


Sebenarnya apa yang kamu alami setelah aku ngga ada di sini? Kenapa kamu sampai ketakutan seperti ini? batin Nathan ngga tega.


Nathan sudah mendapat informasi tentang komanya Dirga dan perusakan restoran mereka. Tapi dia ngga tau secara detil apa yang dialami Zoya sampai ketakutan seperti itu saat melihat Om Sudjatmoko.


Gadis yang biasanya kuat, pemberani, berubah bagai jel saat bertemu Om Sudjatmoko. Padahal sudah enam tahun berlalu. Tapi sepertinya trauma yang masih terpendam.dalam hatinya belum juga hilang dan sangat berat.


Apa dia perlu membawanya ke psikiater? batin Nathan.


"Kamu istirahat saja di mobil. Biar aku sendiri yang ketemu klien." Nathan masih menatap Zoya khawatir.


"Aku sudah ngga apa apa. Terima kasih." Zoya tersenyum dengan wajahnya yang sudah memerah dan ngga sepucat tadi.


Nathan menatap Zoya lekat, kemudian menganggukkan kepalanya.


"Oke. Sudah bisa jalan ke meja reservasi kita?"


"Bisa."


Mata Zoya beriak saat melihat tangan Nathan yang terulur.


"Aku pinjamkan hari ini," senyum Nathan penuh makna.


Dengan malu malu Zoya menerima uluran tangan Nathan untuk bangkit dari duduknya


"Ayo." Nathan pun merengkuh bahu Zoya setelah melepaskan genggamannya.


Jantung Zoya tantrum lagi.

__ADS_1


"Aku juga selalu khawatir dengan kamu Zoya."


Zoya ngga bisa berucap sepatah kata pun, karena ucapan Nathan sudah menciptakan gemuruh di hatinya.. Tatapan mata Nathan juga terlalu dalam sampai menembus relung relung hatinya yang terdalam.


__ADS_2