
"Tadi Daddy datang. Dia mengatakan sahabatnya yang dari Amerika akan memberikan saham delapan puluh persen hotel bintang limanya, kalo Nathan mau menerima putrinya jadi istrinya," berondong Khanza dalam satu nafas. Dia sudah ngga sabar menceritakannya.
"Serius? Daddy Glen?" Kalil yang baru sampai di rumahnya setelah maen golf menyerahkan tas berisi stkk golf pada Khanza. Khanza pun memberikannya pada pembantunya.
"Iya. Daddy Glen, bukan Daddy Alva," tegas Khanza sambil mengikuti langkah suaminya ke dalam rumah.
"Siapa nama anak gadisnya? Apa kita kenal?" Kalil menselonjorkan kedua kakinya di sofa panjang yang terdapat di ruang keluarga.
Dia tersenyum saat Khanza memberikannya miinuman.
Setelah meminumnya, dia pun menerima suapan jajanan pasar kue lapis coklat kesukaannya.
"Kenal. Satu kampus dengan anak anak kita."
"Siapa?" tanya Kalil setelah menelannya.
"Namanya Eleanor."
Kalil berusaha mengingat.
"Yang ikut tes asisten Nathan juga?"
"Iya. Dia sekarang bekerja di perusahaan kita."
Kalil menatap lekat Khanza yang masih telaten menyuapinya.
"Kamu jawab apa?'"
"Aku bilang Nathan sudah punya pacar," senyum Khanza jahil.
Kalil terkekeh. Dia tau alasannya
"Daddy gimana?"
"Oke aja kata Daddy. Kirain Nathan belum punya pacar."
"Daddy ngga nanya siapa pacar Nathan?" tanya Kalil menyeringai nakal.
"Nanya. Aku bilang, Zoya. Daddy langsung setuju. Katamya anak sombong itu sudah dapat pawang yang tepat," tawa Khanza berderai derai.
Kalil pun ikut tergelak. Daddy Glen atau Daddynya Alva pun tau, hanya Zoya yang membuat Nathan selalu ngga mau ikut ke sekolah jika hari pengambilan raport tba.
Anak itu akan mengurung diri di kamar karena tau dia bakal kalah dan kalah terus.
Nathan kehilangan rasa percaya dirinya karena Zoya.
Teman temannya pun dengan senang hati akan meledeknya. Terutama kembarannya yang selalu memasang status di semua akun sosial medianya kalo Nathan lagi lagi juara dua.
"Tadi juga Sudjatmoko sepertinya ingin menjodohkan putri temannya Ronie.dengan Nathan."
"Ohya? Kenapa dia lancang sekali," sewot Khanza. Dia.kurang suka dengan relasi Kalil itu, tapi bersimpati pada istri dan putrinya yang nampak tertekan.
"Ronie juga menolak, katanya putrinya ngga suka dijodohkan." Kalil mengusap rambut istrinya lembut.
"Syukurllah." Walau masih kesal, tapi kesewotan Khanza sedikit mencair.
"Anak anak lebih baik mencari jodoh mereka sendiri," tukas Kalil saat membuka mulut, menerima suapan Khanza.
"Hemm....."
"Seperti kita," sambung Kalil lagi setelah menelan lapis coklatnya. Wajahnya sumringah.
__ADS_1
Khanza tersenyum mendengarnya
*
*
*
Malamnya saat Kalil dan keluarga baru selesai makan malam, mereka kedatangan tamu. Opa Alva dan Oma Tamara.
"Ada yang mau Daddy dan mami bicarakan," kata Opa Lava serius pada putra dan mantunya.
"Oke, Daddy. Kita ke ruang kerja," ajah Kalil dan memberi isyarat pada Tamara untuk mengikutinya.
"Ada apa Dad, mam? Kelihatannya serius?"
Opa Alva menghela nafas panjang
"Apa Cleora dan Jeff pacaran?" Tamara menatap anak dan mantunya dengan serius.
Kalil dan Tamara saling pandang kemudian menggelengkan kepala.
"Ngga tau, Mam," jawab Khanza bingung. Kenapa pembicaraan hari ini semuanya berkaitan dengan pasangan anak anak mereka.
"Oma opanya Jeff, komplit. Empat orang yang susah akur itu tumben punya niatan yang sama untuuk menjodohkan Jeff dengan Cleora," jelas Alva.
"Daddy jawab apa?"
"Daddymu langsung setuju. Karena katanya sekarang Jeff sudah pacaran dengan Cleo," dengus Tamara kesal. Padahal dia inginnya dipending dulu untuk bertanya pada cucunya. Tapi suaminya seperti biasa selalu ngambil keputusan sendiri.
"Aku yakin, sayang, kalo mereka memang sedang pacaran. Ngga mungkin Saras bisa kompak dengan besannya kalo ngga yakin," bujuk Alva karena masih melihat wajah cemberut istrinya.
Daddynya memang selalu memutuskan apa apa sendiri. Dia maunya segalanya berlangsung dengan cepat. Mungkin karena jiwa pebisnis yang sudah mendarah daging, hingga tiap ada kesempatan menguntungkan langsung disambar saja tanpa perlu berpikir lama. Beda dengan maminya yang mantan atlet karate, harus punya strategi dulu. Ngga langsung dihajar aja lawannya.
"Sekarang panggil Cleo. Aku yakin, Cleo pasti setuju," tantang Opa Alva sangat yakin kalo kalo ini dia benar, pada istrinya yang masih saja merengut.
"Aku panggilkan, Dad," ucap Khanza yang diangguki Kalil dan Opa Alva.
BRUGH!
BRUGH!
Khanza yang membuka pintu yang ngga tertutup rapat itu terkejut melihat Nathan dan Cleora yang sudah jatuh bertumpukan.
"Kalian ngapain?" kaget Khanza sambil menggelengkan kepalanya.
Umur sudah kepala dua, tapi kelakuan masih saja seperti anak taman kanak kanak, batin Khanza mengomel.
"Kalian nguping?" omel Khanza kesal.
"Ada apa?" tanya Kalil yang mendekat, kemudian tergelak saat melihat kedua anak kembarnya yang sedang berusaha bangkit.
Opa Alva yang menyusul pun ikut tergelak. Sedangkan Oma Tamara hanya tersenyum tipis. Kekesalannya lenyap melihat tingkah kekanakan cucu kembarnya.
Nathan dan Cleora melebarkan cengiran mereka karena ketahuan. Mereka yang sedang nguping jadi kaget mendengar suara langkah yang mendekat. Bermaksud melarikan diri malah saling bertubrukan dan akhirnya berjatuhan dengan bunyi yang lumayan keras.
"Mumpung ada anaknya, nih, bisa langsung ditanya," tukas Opa Alca teringat pada tujuan awalnya.
"Hemm...., " dengus Oma Tamara yang mulai kesal lagi.
Khanza dan Kalil saling pandang.
__ADS_1
"Cleo, mami mau tanya." Khanza menatap putrinya lekat.
"Ya, mam......" Jantung Cleora berdetak kencang. Sudah sempat mendengar inti pembicaraan mami, daddy, juga oma dan opanya.
"Kamu pacaran dengan Jeff?" tanya Opa Alva yang udah ngga sabar.
Wajah Cleora memerah.
"I iya, Opa," jujur Cleora agak tersipu.
"Tuh, benar, kan. Feelingku ngga pernah salah," sombong Alva sambil menatap istrinya meremehkan.
"Iya, iya. Tapi feeling kamu, kan, sering banyak salahnya juga," cibir Tamara.
"Kamu ini. Ngga pernah mau ngaku salah. Sportif, dong. Kamu, kan, mantan atlit, sayang," decih Opa Alva yang ditanggapi dengan decakan Oma Tamara. Kalil dan Khanza pun tersenyum geli.
"Dad, sudah tua. Ngga pantas merajuk," ledek Kalil menggoda Daddynya.
Tawa pun pecah.
Beberapa menit kemudian setelah tawa mereka usai.
"Jadi kamu udah maafin Jeff?" ejek Nathan.
"Udah."
"Eh, maksudnya apa?" sela Opa Alva kepo.
"Sempat putus, trus nyambung lagi? Begitu?"" selidik Khanza juga kepo.
"Iya, mam, opa. Malah Jeff sampai harus sakit perut demi dapat maaf Cleo," adu Nathan ngember.
"Nathan apaan, sih."
"Kok, bisa?" kali ini Kalil ikut nimbrung.
"Jeff sakit perut gara gara kamu, Cleo?" Opa Alva agak panik.
"Bukan, Opa. Salah dia sendri," sangkal Cleora sambil mendelik kesal pada Nathan yang tersenyum bahagia.
"Tapi tetap aja gara gara kamu, kan," kompor Nathan sambil haha hihi. Senang banget hatinya bisa mengadukan perbuatan kembarannya.
Tapi dalam hati bersyukur kalo mereka sudah berbaikan. Walau tetap aja ada rasa sedikit mangkel.
Kalo putus aja laporan. Pas udah baikan, ngga mau cerita. Dasar.
"Ini rahasia Cleo. Omanya yang sok ningrat itu jangan sampai tau kalo kamu sudah buat cucunya sakit perut. Kamu bisa abis diomel dia, tau," kata Opa Alva panik.
Cleora terkesiap mendengarnya. Cuma dia agak heran.
Kenapa harus Omanya? Ngga sekalian maminya juga?
"Tenang sayang. Dia akan berhadapan dengan Oma kalo berani omelin kamu," timbrung Oma Tamara sambil mengedipkan sebelah matanya pada Cleora.
Cucunya pun terkekeh.
Ya, ya. Alva pun nyengir.
Siapa yang bisa melawan mulut pedas istrinya kalo lagi berdebat.
Kalil, Khanza dan Nathan pun tertawa lepas.
__ADS_1