
Dalam perjalanan pulang, Zahra hanya bisa mengikuti jejak Kenzo tanpa suara.
Kenzo yang dengan langkah cepat, sembari memainkan ponselnya yang membuat Zahra semakin kesal padanya.
“Ih bisa pelan gak sih jalannya?! “ ujarnya dengan sedikit berteriak.
Kenzo menghentikan langkahnya, lalu berbalik mendekati wanita tersebut.
Dengan segera dan tanpa persetujuan Zahra, Kenzo menautkan jari-jarinya pada tangan Zahra lalu melangkah beriringan dengan Zahra.
Zahra hanya bisa pasrah mengikuti langkah Kenzo yang dua langkah lebih cepat darinya. Kenzo menuntun Zahra menuju sebuah penginapan usang yang berada di sana.
“Kita pulang aja ya Tuan, aku takut, “ ujar Zahra yang sudah berdiri di hadapan Kenzo.
“Ini sudah sangat larut. “
“Tapi tuan, aku takut! “ ujar Zahra dengan sedikit meninggikan nada suaranya.
Yah bagaimana gadis tersebut tidak merasa takut, dari awal kedatangan mereka ke penginapan tersebut, penjaganya menatap keduanya dengan tatapan tak biasa.
Kenzo yang baru saja menyadari hal tersebut, menarik tangan Zahra menjauh dari penginapan tersebut.
Namun, baru selangkah mereka di hentikan oleh beberapa orang pria bertubuh kekar yang tengah membawa pistol di tangan mereka.
“Jika sudah masuk kesini, kalian tidak akan bisa pergi lagi, “ ujar salah satu dari mereka.
Zahra membulatkan matanya mendengar perkataan pria tersebut. Kenzo menarik Zahra bersembunyi dibalik punggungnya, lalu menggenggam erat tangan wanita tersebut.
“Tetaplah di belakang ku! “ pintah Kenzo.
Dengan perlahan, Kenzo melangkah mundur dari mereka sebab saat ini mereka semakin banyak.
Tak lama kemudian, seorang wanita tua muncul dengan senyuman gila sembari memandangi tubuh Kenzo dengan laparnya.
“Wooow tangkapan yang bagus, “ ujarnya tersenyum smirk lalu sedikit mencolek dagu Kenzo.
Kenzo semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Zahra, lalu dengan gerakan cepat wanita tua tersebut tersungkur jauh akibat tendangannya.
“Serang! “
Dengan tangan yang memeluk pinggang Zahra, Kenzo menghajar habis-habisan seluruh orang-orang tersebut tanpa melepaskan Zahra.
Dor
Satu tembakan darinya, membuat Zahra dengan segera memeluk erat tubuhnya.
Sesaat, ada rasa nyaman dalam dirinya ketika wanita tersebut memeluk erat tubuhnya. Entahlah perasaan apa ini namun, ia tak mau melepaskan pelukan Zahra lagi.
__ADS_1
Dor
Tembakan kedua dari musuh, di arahkan ke keduanya. Dengan cepat, Kenzo menarik Zahra dan berhasil menghindar dari tembakan yang berasal dari wanita tua yang tengah memegang dadanya akibat tendangan Kenzo tadi.
“Kau sangat tampan, tapi mengapa memilih wanita kurus dan lemah seperti itu?! “ ujar wanita tua tersebut yang seketika membuat Zahra melepaskan pelukannya.
“Apa maksudmu? Kurus, siapa yang kurus? Kau tau tubuhku ini idaman seluruh Idol Korea paham! Bukan seperti tubuh keriput mu itu, “ ujar Zahra.
Kenzo hanya bisa menganga lebar, di kala lawan debat Zahra seketika terdiam tanpa sepatah kata pun.
“Cuih, dasar murahan! “ teriak wanita tua itu sembari meludah.
“Bang sat! “ ujar Zahra yang lagi-lagi membuat Kenzo menatap tak percaya padanya.
Yah bagaimana tidak, gadis yang selama ini di anggapnya polos bisa mengeluarkan kata-kata kasar seperti itu.
Zahra berbalik dan hendak menarik tangan Kenzo, dengan cepat di cegah wanita tua tersebut yang sudah dengan kasarnya menarik Surai panjangnya.
“TUAN! “teriak Zahra yang kesakitan.
Kenzo yang melihat hal itu, dengan sigap berlari mendekati Zahra namun kakinya tiba-tiba di tahan oleh dua orang anak buah wanita tersebut.
“Zahra! “ teriak Kenzo, sembari berusaha melepaskan tangan salah satu anak buah wanita tua itu dari tubuhnya.
Zahra yang sudah tidak bisa menahan rasa sakit akibat perbuatan wanita tersebut, meloloskan bulir-bulir bening agar membasahi pipinya.
Seketika putaran masa lalunya bersama seorang gadis kecil yang di panggilnya Jasmine berputar dalam pikirannya.
“Jasmine, “ ujarnya.
Dengan kekuatan penuh, Kenzo membanting kedua orang yang memegangnya dan berlari menuju Zahra yang saat ini kulitnya hampir di sayat oleh wanita tua itu.
“Lepaskan wanita ku! “ teriak Kenzo, menendang kuat pisau wanita tua tersebut dan menarik Zahra masuk kedalam pelukannya.
Karena geram, wanita tersebut mengeluarkan pistolnya dan mengarahkan ke arah Zahra dan Kenzo yang tengah berpelukan.
Zahra yang melihat hal itu, memasukan tangannya kedalam jas Kenzo lalu mengeluarkan senjata api milik tuannya dan
Dor
Dua tembakan yang di luncurkan Zahra, berhasil menghabisi wanita tua itu. Ia lalu membuang senjata api dari tangannya lalu terjatuh di atas rumput sembari meneteskan air matanya.
“Tenanglah, ada aku di sini, “ ujar Kenzo menenangkan Zahra.
Kenzo menarik Zahra masuk kedalam pelukannya, sembari mengumpati Vino yang tak memilih tempat malah memasukkannya ke dalam bahaya.
“Ba—bagaimana kita pulang, “ ujar Zahra dengan nada bergetar.
__ADS_1
Kenzo tak menghiraukan perkataan gadis tersebut, ia malah semakin mengeratkan pelukannya.
“Apa dia Jasmine ku? “ batin Kenzo.
“Pelukan ini, seperti pelukan Jasmine ku. Jika dia benar Jasmine ku, lalu mengapa dia tidak memberi taukan hal ini kepada ku? “
“Tuan, “ suara Zahra berhasil menyadarkan Kenzo dari lamunannya.
Kenzo melepaskan pelukannya lalu menatap sekeliling dan pandangannya tertuju pada sebuah motor yang terparkir di sana.
“Ayok pulang. “ ujarnya, sembari melangkah mendahului Zahra menuju motor tersebut.
Saat sudah di depan kuda besi itu, Kenzo menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal karena bingung bagaimana cara menunggangi benda tersebut.
“Cih, badan aja gedek bawa motor gak bisa, “ ujar Zahra yang baru saja tiba dan mengerti akan wajah bingung Kenzo.
“Memangnya kamu bisa? “ tanya dengan polosnya.
Zahra tak menjawab pertanyaan Kenzo, malah melangkah menaiki kuda besi tersebut. Kenzo hanya bisa manggut-manggut lalu duduk di bangku penumpang.
“Jangan peluk pelecehan, “ ujar Zahra.
Kenzo menarik nafasnya panjang lalu meletakkan tangannya kedepan tangki motor dengan tubuh Zahra dalam kurungannya.
Dengan kecepatan sedang, Zahra melajukan motor menuju kediaman Kenzo. Dalam perjalanan, Kenzo tak henti-hentinya tersenyum saat Zahra dengan lihainya menyalip beberapa kendaraan.
“Aku semakin yakin dia Jasmine ku. “ batin Kenzo.
Sedangkan saat ini, musuh-musuh Kenzo yang tak lain adalah Michael tengah bersiap-siap melakukan transaksi obat-obat terlarang beserta beberapa senjata api di sebuah dermaga.
“Senang bekerja sama dengan Anda, “ ujar seorang pria dari balik topeng saat barang-barang terlarang tersebut sudah berhasil di dapatkan.
Dor
Belum sempat pria tersebut beranjak pergi, dengan cepat Michael menghabisinya dengan satu tembakan.
“Bereskan koper tersebut! “ pintah Michael kepada beberapa bawahannya, yang dengan segera membereskan barang-barang terlarang tersebut beserta dua koper berisikan beberapa tumpuk kertas berwarna merah.
“Apa rencana kita selanjutnya bos? “
Michael tersenyum smirk mendengar pertanyaan anak buahnya Ciko, Ia mengeluarkan ponselnya lalu mengarahkan ke wajah Ciko.
“Habisi Ardan, “ ujarnya.
Ciko mengangguk mengerti lalu, membawa barang-barang tersebut kembali ke dalam mobil dan melaju meninggalkan dermaga.
“Tidak akan aku biarkan siapapun menghabisinya selain diriku, “ batin Michael.
__ADS_1
bersambung.......