
Beberapa menit telah berlalu, Arnia bersama Ina dan juga Bita sedari tadi begitu risau saat Kenzo belum juga menampakkan dirinya di halaman rumahnya.
“Apa jarak dari rumah sakit cukup jauh? Kenapa mereka belum juga tiba?” oceh Arnia memegang kepalanya.
“Sabar Nyonya, mungkin mereka masih dalam perjalanan.” Ina berjalan mendekati Arnia.
Tak lama kemudian, suara mobil Kenzo terdengar memasuki pekarangan mewah miliknya. Dengan sedikit berlari, Arnia yang di ikuti kedua maidnya mendekati ambang pintu. Kaki ketiganya kembali terhenti, saat Kenzo bersama Zahra sudah lebih dahulu memasuki rumah.
“Kemana saja kalian? Ini sudah malam, kenapa baru tiba?”
Belum juga duduk, Arnia sudah melontarkan beberapa pertanyaan kepada kedua Insan itu. Kenzo hanya tersenyum menanggapi perkataan Neneknya, lalu membawa Zahra menuju sofa.
Melihat hal itu, Arnia juga langsung meluncur mendekati keduanya. Ia mendekati Zahra, memegang kedua tangan gadis itu.
“Bagaimana kondisimu? Sudah jauh lebih baik?”ujar Arnia menatap lembut wajah Zahra, dengan penuh kasih sayang.
“Kenapa Anda tidak mau mengatakan kalau dia adalah Ken?”
Deg
Jantung Arnia serasa hampir copot, dunia seakan berhenti berputar untuk beberapa menit. Pandangan yang tadinya masih mengarah pada Zahra, kini sudah sepenuhnya beralih pada Kenzo yang jaraknya tak jauh dari Zahra.
“Na—nak, aku tidak bermak-
“Kenapa anda tidak memintanya mencari ku, hiks hidupku hancur!” tangis Zahra pecah.
Gadis itu bangkit dari duduknya, berjalan menuju kamarnya tanpa menunggu perkataan dari Arnia lagi. Hari benar-benar hancur, saat Ia tau bahwa selama ini dirinya berada di rumah kekasih masa kecilnya tanpa Ia sadari.
“Apa yang terjadi Ken?” tanya Arnia.
“Huft, Zahra sudah mengetahui semuanya Oma.”
Arnia dan juga Ina, tampak terkejut dengan pengakuan kecil dari Kenzo. Sedangkan Bita, hanya berdiri mengangga karena Ia sama sekali tidak mengetahui apapun yang tengah mereka bicarakan di disana.
“Bagaimana bisa?”
“Entahlah Oma, sepertinya dia mendengar semua pembicaraan aku dan Michael, “ jelas Kenzo.
Arnia menjadi semakin bingung, di tambah Kenzo ada menyebut nama Michael di sana. Apa mereka sempat bertemu? Pikirnya.
“Michael? Kalian bertemu?”
“Aku juga bingung Oma, waktu aku menuju rumah Dion mencari Zahra, Michael juga sudah berada di sana. Dan yang lebih mengejutkan lagi, dia mengatakan kalau Zahra adiknya, “ ujar Kenzo.
Arnia menarik nafasnya panjang, melangkah menuju nakas yang letaknya berada di samping Kenzo lalu mengeluarkan sebuah album dari sana.
“Michael memang saudara laki-lakinya, lihatlah, “ ujar Arnia, menyerahkan album itu pada Kenzo.
Kenzo membuka lembar perlembar dari album itu, hingga matanya terhenti pada foto yang tampak tidak asing dengannya.
“Foto ini, yah Vino pernah memberikan foto yang sama untukku, “ Kenzo mengeluarkan ponselnya.
Ia mengotak-atik benda pipih itu, lalu menampilkan sebuah foto yang sama dengan yang berada pada album itu.
__ADS_1
“Jadi, bocah ini Michael? Pantas saja terlihat jelek, “ cibir Kenzo.
Bisa-bisanya dalam situasi seperti ini, Ia masih menyempatkan diri untuk mencibir foto Michael. Tak sampai di situ saja, tawa Kenzo pecah saat matanya terus memperhatikan foto itu.
“Hahaha, bagaimana dia bisa sejelek itu?! Hahahaha” ujar Kenzo di sela-sela tawanya.
“Berhentilah tertawa, sana lihat apa yang sedang di lakukan Zahra?!”
Arnia kembali merebut paksa album itu, lalu menyuruh Kenzo menyusul Zahra kedalam kamar gadis itu.
“Baiklah Oma, “ patuh Kenzo.
Pria itu bangkit dari duduknya, berjalan menuju kamar Zahra. Arnia berbalik menatap kedua maidnya itu, lalu mengarahkan mereka kembali ke dapur.
“Tolong siapkan beberapa makanan, “ katanya.
“Tapi Nyonya, bukannya semua makanan sudah siap?!” Arnia hanya mengangguk kecil, menanggapi perkataan Bita.
“Panaskan lagi, Bita, “ jawabnya.
Dengan senyuman terukir pada bibirnya, gadis itu melangkah menuju dapur. Sedangkan Arnia bersama Ina, keduanya beriringan masuk kedalam kamar.
Kaki Bita terus melangkah, hingga akhirnya terhenti di depan pintu dapur saat melihat sosok Vino yang muncul dari arah kolam.
“Astaga, kenapa dia kesini?!” Hebohnya, langsung masuk kedalam dapur sembari tangan kirinya menutup wajahnya.
Vino yang memang sedari tadi memperhatikannya, tersenyum kecil lalu mengikuti Bita yang sudah berada di dalam dapur. Namun, ketika pria itu menginjakkan kakinya di sana, Bita seolah lenyap tak tau entah kemana gadis itu pergi.
“Kemana dia?” gumam Vino, hendak melangkah pergi.
“Sepertinya dapur ini harus di bersihkan, bagaimana bisa ada tikus besar di dalam sini?!” ujarnya.
Bita yang mendengar perkataan Vino, dengan segera keluar dari dalam rak tersebut berlari ketakutan mengingat bahwa ada tikus di sana.
“Argh!” teriaknya.
Vino tertawa terbahak-bahak melihat tingkah konyol Bita, gadis itu mulai tersadar lalu mencubit kesal lengan kekasihnya.
“Dasar menyebalkan!” kesal Bita, berjalan mendekati kompor.
“Aha, lihatlah sekarang, kau sendiri yang bersembunyi di sana lalu aku yang di marahi, “ ujar Vino, mendekati Bita.
Bita yang merasa risih karena Vino terus mengganggunya, menghentikan kegiatannya lalu berbalik menatap tajam pria itu.
“Apa? “ nantang Vino.
Tanpa Keduanya sadari, sedari tadi Kenzo memperhatikan tingkah keduanya dari ambang pintu tanpa ada suara sedikitpun. Hingga akhirnya, Ia sendiri menjadi geli dengan sikap kedua anak buahnya itu.
“Akhm, sepertinya dapurku akan ku rubah menjadi taman, Bagaimana?”
Mendengar perkataan Kenzo, kedua pasangan itu langsung berbalik menatap kearah pintu. Wajah Bita menjadi merah padam, sedangkan Vino bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
“Anda sedang apa di situ? Tuan muda, “ tanya Vino.
__ADS_1
Tak menjawab pertanyaan dari Vino, Kenzo meluncur mendekati kotak gula dan juga teh. Bita yang melihat hal itu, dengan segera menghentikan perbuatan Kenzo.
“Biar aku saja, “ tawarnya.
Namun, Kenzo menggelengkan kepalanya tak mau di bantu gadis itu.
“Jangan Bita, biar aku saja.”
“Tap-
Belum sempat Bita menyelesaikan perkataannya, Vino sudah memegang tangannya agar membiarkan Kenzo melakukan apa yang Ia mau.
Setelah selesai menyeduh teh, Kenzo membawanya keluar menuju kamar Zahra. Bita dan juga Vino, hanya menatapnya bingung.
“Kau keluar sana! Aku mau masak, “ usir Bita pada Vino.
Vino menarik nafasnya panjang, lalu duduk di kursi yang berada di sana memperhatikan apa yang di lakukan kekasihnya.
“Ak-
“Lakukan saja pekerjaanmu, aku tidak akan menganggu.”
Bita akhirnya menyerah, Ia melanjutkan pekerjaannya meksi tak tenang karena Vino terus menatapnya.
Ketika Vino sedang sibuk memperhatikan Bita, Kenzo dengan membawa teh buatannya kembali memasuki kamar Zahra, menemui gadis itu yang tengah duduk di bibir ranjang.
“Ini, minumlah, “ ujarnya.
Zahra sedikit ragu untuk mengambilnya namun, dilihat dari wajah Kenzo sepertinya pria itu benar-benar tulus membuatkannya teh hangat.
Zahra mulai menyeruput teh buatan Kenzo tadi, terlihat ada senyuman terukir pada bibir pria itu saat Zahra meminum tehnya.
“Bagaimana? Enak kan?” tanyanya dengan penuh semangat.
“Nggak ada rasa, “ Zahra meletakkan kembali teh itu ke atas nakas.
“Masa sih?!” Penasaran dengan perkataan Zahra, Kenzo menyeruput tehnya dan ternyata memang benar tidak ada rasa.
Tawa Zahra pecah, saat melihat ekspresi wajah Kenzo. Tak Hanya Zahra saja, Kenzo juga ikut hanyut dalam tawa gadisnya itu.
“Aku mencintaimu, “ batin Kenzo.
.
.
.
.
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
__ADS_1
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.
makasih 🌹