
Kenzo yang sudah tiba di kantornya, mendapat sambutan dari Maria yang terlihat khawatir akan sesuatu.
"Ada apa?" tanya Tio, mendekati Maria.
"Tuan, ada Nona Sandra dari TV X menunggu anda, " jelas Maria.
"Tio, urus dia."
Kenzo menarik tangan Zahra, melewati Maria menuju ruang kerjanya.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Maria dengan nada sepelan mungkin.
Zahra yang ingin menjawab pertanyaan Maria, saat melihat tatapan tajam dari Tio mengurungkan niatnya.
"Kejam banget, " gumamnya.
merasa tersindir dengan ucapan Zahra yang di dengarnya, Kenzo menghentikan langkahnya berbalik menatap gadis itu.
"Kau menyindir ku?"
"Dih, Ge'er banget jadi orang!" judes Zahra.
"Jujur saja Zahra, aku mendengarnya. "
Zahra berdecak kesal, memasuki lift mendahului Kenzo.
Sesuai perintah Kenzo, Tio menemui Sandra di ruanga tunggu bersama Maria yang membuntutinya.
“Kembali bekerja Maria!” bentak Tio.
Maria yang terkejut dengan bentakan Tio, menghentakan kakinya kesal berjalan meninggalkan ruangan itu. Melihat Maria yang sudah jauh dari pandangannya, Tio memasuki ruangan itu.
“Ada urusan apa?”
Seolah tidak menerima kehadiran Sandra, Tio bertanya dengan judesnya saat bokongnya sudah menyentuh sofa empuk dalam ruangan tersebut.
“Maaf tuan, saya ingin berbicara dengan taun Sagara saja.”
“Kau bisa katakan saja padaku, akan ku sampaikan padanya, “ jelas Tio.
Mendapat penolakan dari Tio, Sandra sedikit kecewa. Namun, Ia tetap mengeluarkan sebuah berkas menyerahkan kepada Tio.
“Kami ingin mengadakan wawancara soal itu, “ ujar Sandra.
Tio sedikit membaca lembaran kertas yang tercoret tinta, meremas kertas tersebut membuang pada tempat sampah.
“Silahkan keluar!”
Sandra sedikit terkejut dengan perilaku Tio terhadapnya, memukul meja di hadapannya melupakan kekesalannya.
“Apaan ini?”
Tio dengan kesabaran setipis tissue, ikut bangkit dari duduknya mendekati Sandra hingga jarak diantara keduanya menipis.
“Carilah pekerjaan bermutu Nona, sudah jelas berita itu tidak benar kau masih saja ingin mewawancarai tuan Kenzo, apa kau kehilangan akal?!” bentak Tio.
Sandra sedikit shok akan hal itu, baru juga mendapat pekerjaan bagus dirinya sudah mendapat perlakuan tidak enak.
“Jika tidak ingin di wawancara, berarti berita itu benar. Seorang Kenzo Sagara memang melakukan penyelundupan itu, “ ujar Sandra memanas-manasi Tio.
“Jika masih ingin hidup, lebih baik kau tidak usah melakukan hal aneh, “ peringat Tio.
Sandra mendorong tubuh Tio, mengambil tasnya meninggalkan ruangan itu. Namun, sebelum benar-benar keluar dari sana Sandra sedikit menendang tempat sampah yang tadi digunakan Tio, untuk menyingkirkan berkasnya.
__ADS_1
“Maria!” teriak Tio.
Maria yang sedari tadi memang menguping, terkejut saat mendengar teriakkan Tio. Keterkejutannya bertambah, ketika melihat Sandra berjalan kesal menuju lift.
“Maria!”
Dengan secepat kilat, Maria menuju ruang tunggu menghampiri Tio.
“Sedari tadi menguping, kenapa lama sekali ketika di panggil?!”
“Maaf bos, “
“Bereskan itu!” pintah Tio.
Setelah memerintahkan hal itu, Tio ikut keluar dari sana. Sebelum meninggalkan tempat itu, Ia ikut menendang sampah-sampah di sana seperti apa yang dilakukan Sandra tadi.
“Gadis nakal, “ gumamnya pelan, dengan senyuman terukir pada bibirnya.
Maria sedikit frustasi dengan apa yang di lakukan Tio, Ia dengan penuh kekesalan mulai membereskan semuanya.
“Aku HRD perusahaan ini, bukan obe, “ ocehnya.
Kenzo yang bersama Zahra sudah mencapai ruangannya, langsung berkutat pada laptopnya mengerjakan pekerjaannya.
“Jadi, apa yang akan kulakukan di sini?” ujar Zahra bertanya.
“Terserah mau melakukan apa.”
Seperti perkataan Kenzo, Zahra mulai menelusuri ruangan itu mencari mainan yang menarik baginya.
Penelusuran Zahra dimulai dari meja Kenzo, lalu tumpukan berkas yang ada dalam ruangan itu, dan berakhir pada mesin printer Kenzo. Ketika sudah bosan memainkan benda itu, Zahra menarik sebuah kursi duduk berhadapan dengan Kenzo.
“Bosannya, aku di ajak tapi di malah di ceukin, “ sindirnya.
Merasa tersindir dengan ocehan Zahra yang tidak ada habisnya, Kenzo mengeluarkan beberapa ciki dari laci meletakkan di atas mejanya.
Setelah berhasil menjinakkan Zahra, Kenzo kembali pada pekerjaannya. Kedua di kejutkan dengan kehadiran Tio, yang secara tiba-tiba memasuki ruangan itu.
“Kayak kuyang tau nggak, “ cibir Zahra.
Tio mengangkat tangannya hendak menyentil kening Zahra, langsung mendapat tatapan tajam dari Kenzo. Tawa Zahra menggelegar, melihat Tio yang salah tingkah.
“Apa kata gadis itu?”
“Rahasia, “ ujar Tio.
Kenzo lumayan terkejut akan ucapan Tio, bisa-bisanya pria itu mengatakan hal bodoh itu padanya.
“Apa kau ingin mati?”
Begitu dingin dan penuh intimidasi, Kenzo melirik tajam Tio mencari jawaban atas pertanyaan tadi.
“Dia ingin mewawancarai soal penyelundupan itu, “ jelas Tio setelah mendapat ancaman yang lumayan serius dari Kenzo.
Tidak peduli, tentu saja. Tio menarik nafasnya panjang, Ia memang malas mengatakan itu pada Kenzo, sebab respon tuannya itu sudah bisa di tebaknya.
“Mau?”
Zahra sedikit menawarkan cikinya pada Kenzo, membuat Tio memutar bola matanya malas. Sudah bisa di duga, Kenzo mengangguk mengiyakan perkataan Zahra. Ia memajukan tubuhnya, hendak menerima uluran tangan Zahra yang tengah memegang ciki itu.
“Nggak jadi deh, “ ujar Zahra menarik tangannya memasukkan kembali ciki itu kedalam mulutnya.
Seolah di permainkan, Kenzo langsung menatap gadis itu kesal. Sedangkan Tio, sudah melepaskan tawanya.
__ADS_1
Bruk
Sebuah buku mendarat sempurna pada wajahnya, yang membuat Ia menghentikan tawanya seketika itu juga.
“Hahaha, akibat meledak sih, “ cibir Zahra pada Tio.
“Cih, pembuat onar.”
Mendengar penuturan Tio, Zahra menjulurkan lidahnya meledek Tio lalu berlari bersembunyi dibelakang Kenzo.
“Dasar pengecut, “ kesal Tio.
Bagaimana tidak berkata seperti itu? Saat hendak mendekati Zahra, Kenzo sudah memberinya tatapan intimidasi yang membuatnya harus mengurungkan niat sucinya itu.
“Biarin, “ ujar Zahra.
Sedikit kesal, Tio kembali menuju sofa. Sedangkan Zahra, masih tetap berada di balik kursi Kenzo tepatnya dibawah lantai, Zahra terus mengunyah cikinya.
Kenzo yang melihat hal itu, menekan remote control yang ada pada mejanya. Seketika, Tiara terbuka dan menampilkan seisi kota dari atas sana.
“Mama, tinggi banget!” teriak Zahra menutup matanya.
Kenzo yang seketika terkejut akan teriakan Zahra, bangkit dari duduknya menghampiri Zahra. Tak hanya Kenzo, Tio juga sudah mendekati gadis itu.
“Ada apa Zahra?” tanya Kenzo khawatir.
“A-aku takut!” jawab Zahra masih dengan teriakan, masuk kedalam pelukan Kenzo tanpa permisi.
Dengan segera, Tio kembali menutup tiara. Kenzo mengelus lembut punggung Zahra, menenangkan gadisnya.
“Tenanglah ada aku di sini, “ ujarnya.
“Tinggi banget Tuhan, “ ujar Zahra.
Mendengar penuturan Zahra, Tio yang awalnya panik meluncurkan tawanya puas. Akhirnya, Ia punya kesempatan membalas perbuatan Zahra.
“Tio, “ ujar Kenzo.
Sama sekali tidak mempedulikan perkataan tuannya, tawa Tio semakin menjadi-jadi hingga akhirnya sebuah buku kembali melayang ke kepalanya.
“Karma yang instan, “ ujar Tio setelah berhasil menetralkan tawanya.
Mendengar perkataan Tio, Kenzo sedikit tersenyum kecil lalu membawa Zahra menuju sofa.
Zahra yang masih belum membuka matanya, terus terlelap dalam pelukan hangat Kenzo.
"Dasar, bilang saja kau mencari kesempatan makanya tidak ingin melepaskan pelukan tuan, " oceh Tio tidak jelas.
"Apa kau iri?"
Zahra melepaskan pelukannya sekilas, lalu kembali masuk dalam pelukan Kenzo.
"Dih, " kesal Tio.
Melihat pertengkaran itu, bibir Kenzo mengukir senyuman manis. Ia jadi bisa di peluk Zahra, tanpa harus memaksakan kehendaknya.
.
.
.
Hai pembaca setiaku...
__ADS_1
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.