
Seorang pria memasuki ruangan tempat Zahra di kurung, mengisyaratkan agar anak buahnya meninggalkan tempat itu.
Zahra terus meneteskan air matanya, ketika pria itu semakin mendekatinya. Ia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa sekarang selain menangis.
Pria itu terus mendekatinya, Zahra bisa dengan jelas melihat wajahnya. Yah, dialah Dion orang yang sama yang ditemui Zahra waktu menemani Kenzo meeting.
“Gadis manis, “ Dion mengarahkan tangannya menyentuh dagu Zahra.
Tak bisa bersuara ataupun berbuat apa-apa, Zahra hanya memberontak berusaha membuat Dion tidak menyentuhnya lagi.
“stt, berhentilah memberontak sayang, kau cukup manis juga.” Dion mendekati sebuah kursi menarik kursi itu kehadapan Zahra.
Ia memperhatikan setiap inci tubuh Zahra, dengan sesekali mengusap bibirnya menampilkan ekspresi yang tidak bisa diartikan.
“Ken, dimana kamu?” batin Zahra menjerit.
Dion semakin lancangnya, berani menyentuh serta mengusap lembut pipi Zahra hingga tangannya turun mengusap leher jenjang Zahra.
“Kau sangat seksi jika terus memberontak, “ ujar Dion menggoda.
Air mata Zahra terus mengalir tanpa henti, matanya menatap kearah pintu yang sama sekali belum ada tanda-tanda ada yang mau menyelamatkannya.
“Tuan Kenzo, tolong aku.”
Masih dengan terus memberontak, Zahra mencoba menyingkirkan tangan Dion dari tubuhnya meski itu hak yang sedikit mustahil.
Tidak puas dengan Zahra yang sama sekali tidak bersuara, Dion meraih lakban yang menutupi mulut Zahra dan,
Srek
Bibir Zahra mengeluarkan darah, beriringan dengan lakban itu berhasil lepas dari mulutnya. Dion menjulurkan tangannya, mengusap darah itu lalu memasukkan tangannya bekas darah dari bibir Zahra kedalam mulutnya.
“Sangat luar biasa, “ ujar Dion.
“Lepaskan aku!” teriak Zahra kehabisan kesabarannya.
Bukannya melakukan apa yang di katakan Zahra, Dion tertawa terbahak-bahak mendekati Zahra lalu mencekiknya.
“Dengar gadis bodoh, kau akan menjadi milikku hari ini juga."
Bulu kuduk Zahra berdiri tegang, ketika hembusan nafas Dion terasa begitu hangat di setiap lapisan kulitnya.
“Jangan berani macam-macam!” peringat Zahra.
Tak memperdulikan ucapan Zahra, Dion semakin nekat mulai melucuti baju Zahra hingga tersisa tank top yang dikenakan Zahra saat ini.
“Menjauh dariku!” bentak Zahra sedikit menggoyangkan kursinya.
Yah, mau Ia berusaha seperti apapun kursi itu akan tetap pada posisinya, usaha yang Ia lakukan sangat sia-sia.
Dion dengan kasarnya, meraih dagu Nara meludahi wajah gadis itu. Zahra menutup matanya, tak ingin melihat wajah pria itu.
“Kenzo!” teriak Zahra menggema.
Mendengar nama itu, Dion sedikit melirik kearah pintu beberapa saat. Ketika memastikan tidak ada yang muncul dari sana, Dion menampar pipi mulus Zahra.
__ADS_1
Plak
Pipinya memerah membentuk tangan Dion, kesal dibohongi gadis itu Dion menarik rambutnya kasar hingga Zahra menjerit kesakitan.
“Beraninya kau membohongi ku!”
Plak
Dion melepaskan satu tamparan lagi, yang berhasil menciptakan jiplakan tangannya yang kedua pada pipi Zahra.
“Kenapa? Kau takut? Ingat yah bedebah, dia akan menghabisi mu!” Zahra melemah akibat sudah tidak tahan dengan rasa sakit pada tubuhnya.
Tidak sampai disitu saja, Dion mengambil sebuah kater mulai mengarahkan pada Zahra dengan senyuman smrik.
“Tidak, Jangan!” gemahan suara Zahra, kini menembus dinding ruangan itu hingga keluar.
“Aaaa!” teriak Zahra lagi, ketika benda tajam itu berhasil menggores lengannya hingga mengeluarkan cairan merah pekat.
“Teruslah berteriak, aku suka suara seksimu ini, “ ujar Dion menarik kasar David Zahra agar wajah gadis itu menatapnya.
Dion menggenggam kuat lengan Zahrah, menekan keras luka sayatannya tadi sembari tersenyum lebar melihat wajah Zahra yang meringis kesakitan.
“Hahaha, kemana kekasihmu itu?!” ledek Dion.
Dion mendekatkan wajahnya pada leher jenjang Zahra, membenamkan wajahnya di sana menghirup dalam-dalam aroma tubuh gadis itu.
“Lepaskan aku!” teriak Zahra sedikit memberontak.
Dion yang tidak bisa menikmati leher Zahra, menjadi kesal melepaskan Zahra berjalan mendekati sebuah sabuk yang tidak terpakai di sana.
“Kau sangat membuatku repot, “
Bruk
Sabuk itu menghantam tubuh Zahra, membuat gadis itu semakin meneteskan bulir-bulir bening dari matanya menahan rasa sakit.
“Ini akibat kau terlalu bergerak, “ Dion semakin mempercepat cambukannya.
Sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakit dalam tubuhnya, Zahra terkapar lemah tak berdaya.
Mengambil kesempatan itu, Dion mencumbui tubuh Zahra dengan begitu agresif. Ia menciumi wajah hingga leher Zahra.
Zahra yang sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis, menutup matanya perlahan dengan air mata bercucuran.
“Ken, tolong aku.” Batinnya.
Dor
Sebuah tembakan peringatan dilepaskan oleh Vino dari luar gudang itu, sama sekali tidak membuat Dion melepaskan tubuh Zahra.
“Jangan biarkan mereka masuk!” Dion mengangkat kepalanya, menatap sekilas anak buahnya memberi perintah.
Setelah anak buahnya yang notabene orang-orang Xio Lang keluar dari sana, Dion tersenyum smrik menatap wajah Zahra mengarahkan tangannya melepaskan ikatan pada tangan dan juga kaki Zahra.
Berpikir Zahra sudah tidak berdaya, Dion pasti lebih leluasa menikmati Zahra dengan tangan gadis itu terlepas dari ikatan. Ia salah, ketika berhasil melepaskan tangan dan Kaki Zahra, gadis itu mengambil kesempatan menendang keras perut Dion hingga terkapar jauh darinya.
__ADS_1
“Dasar pela cur!” teriak Dion, sedikit meringis kesakitan bangkit berdiri.
Sembari memegang perutnya yang keram, Dion mendekati Zahra menarik rambut gadis itu lalu menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.
“Mau apa kau?!”
Bruk
Zahra kembali menendang Dion namun kali ini, Dion sama sekali tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Dion merangkak naik keatas ranjang, mengukung tubuh Zahra dibawahnya.
“Brengsek, lepaskan aku!”
Zahra memberontak di bawah Dion, dengan sesekali menendang kuat Dion. Namun, karena kekuatan lemah Zahra tidak berhasil menyingkirkan Dion.
Dion kembali membenamkan wajahnya pada leher jenjang Zahra, menghujani leher gadis itu dengan beberapa kecupan menjijikkan darinya.
“Hahaha, apa Kenzo tidak melakukan ini padamu?” Zahra semakin memberontak.
“Jaga mulut kotor mu itu!” bentak Zahra.
Dion yang geram dengan perkataan Zahra yang membentaknya, menekan kasar luka-luka sayatan yang diberikan padanya.
“Rasakan ini, hahaha, “ tawa Dion menggema bersamaan dengan air mata Zahra yang kembali membasahi pipinya akibat sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakitnya.
Di luar ruangan, Vino dan kembar malah sibuk dengan beberapa orang anak buah Dion yang menghadang mereka masuk.
“Vin, Zahra sepertinya memang ada di dalam, “ ujar Tio tak melepaskan pandangannya dari beberapa musuh yang mendekat.
“Iya, ayok kita habisi mereka!” titah Tino, mulai meluncurkan serangannya.
Vino yang juga hendak menyerang, mengurungkan niatnya sedikit melirik ponselnya. Ia kembali mengirimkan pesan pada Kenzo, saat tidak mendapat balasan sama sekali dari tuannya pada pesan pertama yang di kirimnya.
Kembali lagi ke Zahra,
Zahra yang berhasil lepas dari Dion, hendak berlari kearah pintu namun, dengan cepat dihentikan Dion yang sudah menarik kasar rambutnya.
Dion kembali menghempaskan tubuh Zahra keatas ranjang, lalu membuka bajunya menaiki tubuh Zahra. Dion dengan kasarnya, merobek tank top Zahra hampir tersisa sebagainnya saja.
Dor
Sebuah tembakan meluncur hampir mengenai kaca jendela, membuat Dion menghentikan kebejatannya berbalik kearah pintu.
“Beraninya kau!” tubuh Dion bergetar hebat, melihat sosok yang berada didepan pintu.
.
.
.
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.
__ADS_1