My Posesif Bos

My Posesif Bos
Tak Ingin Kekantor


__ADS_3

Mentari pagi perlahan memasuki kamar Kenzo, pria itu masih menggeliat di atas ranjangnya dan kembali menarik selimutnya.


Zahra dengan perlahan-lahan, memasuki kamar Kenzo dengan membawa sapu dan juga alat pel tentunya. Ia sedikit melirik kearah ranjang, ternyata pria itu masih juga belum bangun.


“Cik, dasar malas!” umpatnya.


Zahra mendekati Kenzo, lalu menyibakan selimut pria itu dan membuka seluruh tirai yang ada kamar tersebut.


“Oh ayolah Zahra, ini masih sangat pagi, “ gumam Kenzo kembali menarik selimutnya.


Zahra menggelengkan kepalanya, Ia benar-benar bingung dengan sikap pria di hadapannya itu. Matahari sudah semakin tinggi, bisa-bisanya Ia mengatakan masih sangat pagi.


“Masih pagi, sana lihat sudah jam sembilan lewat!” oceh Zahra.


Zahra kembali menyibakkan selimut yang ada pada tubuh Kenzo, lalu mulai membersihkan seluruh kamar itu.


“Sudah aku katakan Zahra, jangan lakukan pekerjaan itu lagi!” teriak Kenzo, ketika Zahra memasuki ruang gantinya.


Gadis itu sama sekali tidak memperdulikannya, Kenzo benar-benar frustasi dibuatnya. Kenzo mengacak-acak rambutnya, berjalan mengikuti Zahra yang sudah berada di dalam ruang gantinya.


Ketika Ia baru saja memasuki ruangan itu, matanya sudah menangkap sosok Zahra yang tengah sibuk bermain bersama pakaiannya.


“Apa yang kau lakukan?” Kenzo mendekati gadis itu.


Zahra tak menjawab pertanyaannya, Ia malah cengengesan lalu menepuk kursi di sampingnya dengan maksud agar Kenzo mendekatinya.


“Ruangan ini begitu sangat nyaman, “ ujar Zahra.


Kenzo mendekati gadis itu, lalu menduduki kursi yang berada di samping Zahra. Bukan hanya duduk saja, pria itu juga memeluk Zahra dari samping dan menumpahkan seluruh kepala keatas bahu gadisnya tersebut.


Di ruang tamu, Vino berjalan mengitari seluruh rumah bahkan Ia juga keluar masuk Kamar Kenzo beberapa kali. Vino melangkah lagi kelantai bawah, memeriksa kolam yang sama sekali tidak ada penghuninya di sana. Tak hanya sampai di situ saja, Vino memasuki area dapur mendekati Arnia, Mbok Ina, dan juga Bita yang tengah sibuk memasak.


“Cari apa Vin?”


Akhirnya, ada juga yang berani bersuara dan bertanya pada pria itu. Sedari tadi Ia mondar-mandir, bak setrika rusak.


“Tuan muda nyonya, apa dia sudah turun?” ujar Vino.


“Belum, coba cek ke kamarnya, “ usul Arnia.


Vino menarik nafasnya panjang, Ia mengusap kasar wajahnya lalu duduk menghadap ketiga wanita itu.


“Sudah hampir sepuluh kali aku kesana, entah kemana dia?!”


Arnia dan kedua anak buahnya itu, kembali melanjutkan pekerjaannya tanpa memperdulikan Vino lagi. Karena pusing terus mencari Kenzo dan tak ketemu, tangannya menyentuh bakwan yang baru saja di goreng Bita.


“Kalau pusing mencari tuan dan tidak ketemu, jangan mencomot bakwan itu aku capek menggorengnya!” ujar Bita.


Vino hanya cengengesan menanggapi perkataan Bita namun, tangannya kembali mengambil sepotong bakwan lagi.

__ADS_1


“Jangan diambil lagi!” kesal Bita.


Vino sama sekali tidak mengindahkan ocehan Bita, pria itu kembali mengambil sepotong lagi dan memasukkan kedalam mulutnya.


“Nyonya, “ keluh Bita menatap Arnia dan juga Mbok Ina.


“Vinoooo!”


“Baiklah, aku tidak akan mengacau lagi, “ Vino akhirnya menyerah.


Kali ini, Ia tidak menganggu lagi, pria itu hanya duduk dan menatap mereka saja. Hingga tak menjelang beberapa menit kemudian, Kenzo dan juga Zahra beriringan turun dari lantai atas.


“Kau sepertinya mencari tidak dengan betul, lihatlah tuan muda keluar dari kamarnya, “ ujar Bita sedikit mencibir kekasihnya itu.


Mata Vino yang tadinya hanya menatap Bita, kini beralih pada dua Insan yang mendekat kearah dapur.


“Ada yang bisa Zahra bantu?!” tanya Zahra menawarkan diri.


“Tidak! Kau duduk saja, “ serkah Kenzo dengan cepat.


Zahra memutar bola matanya malas, lalu ikut duduk di samping Vino. Melihat sosok Vino yang juga berada di dalam dapur, Kenzo melirik jam tangannya.


“Kenapa kau di sini? Apa kau tidak bekerja?”


Vino menghembuskan nafasnya kasar, jika saja Kenzo bukan bosnya sudah Ia bunuh orang itu sejak tadi.


“Berhentilah mengoceh, Vino sudah hampir gila karena mencari mu, “ ujar Arnia santai.


Vino menatap Kenzo tanpa berpaling, ketika Kenzo dengan santainya menarik kursi dan ikut duduk di samping Zahra.


“Ada meeting tuan, anda malah duduk lagi disini, “ kesal Vino.


Kenzo sama sekali tidak memperdulikan perkataan Vino, Ia malah sibuk memasukkan bakwan kedalam mulutnya tanpa dosa.


“Tuan, jangan diambil!” teriak Bita, tadi Vino sekarang Kenzo. Ia benar-benar di buat gila oleh kedua pria itu.


Kesal bakwannya tidak bertambah mala terus berkurang, Bita menjauhkan bakwan tersebut jauh dari jangkauan para pria itu.


“Bita!” bentak Kenzo, kesal dengan sikap Bita yang tak mengizinkannya mengambil bakwan tadi.


“Maaf tuan, aku tidak bisa membiarkan kalian berdua terus mencomotnya.”


Arnia yang tadinya sibuk memotong wortel, menghentikan kegiatannya menatap kedua pria dihadapannya itu dengan penuh intimidasi.


“Kalian tidak bekerja?!”


Kenzo dan semua yang berada dalam dapur, seketika terkejut dengan suara Arnia yang menembus kuping mereka secara tiba-tiba.


“Aku mau di rumah saja, kau saja Vino yang kerja.”

__ADS_1


Kenzo mengeluarkan ponselnya, lalu mengotak-atik benda pipih itu seolah tak ada beban sama sekali.


“Zahra, tolong ambilkan mangkok di lemari itu, “ titah Mbok Ina.


“Jangan! “ serkah Kenzo tak mau Zahra bekerja.


Zahra yang sama sekali tidak memperdulikan perkataan Kenzo, langsung menurut mbok Ina mengambil mangkok dan memberikan pada wanita tua itu.


“Sana, kekantor!” pintah Zahra menatap Kenzo.


Vino yang sedari tadi sudah risau karena sebentar lagi akan meeting, memberi isyarat kepada Zahra agar membujuk Kenzo kekantor. Zahra yang tak sengaja melirik Vino, mengangguk mengiyakan isyarat kecil itu.


“Ayok bangun!”


Kenzo yang bingung dengan maksud dari perkataan Zahra, hanya bisa pasrah mengikuti kemana gadis itu membawanya pergi.


“Kita mau kemana Zahra?” tanya Kenzo polos.


“Diamlah, kau hanya perlu mengikuti ku saja.”


Dengan menarik tangan Kenzo, Zahra membawanya hingga sampai ke parkiran. Di sana, sudah terdapat Vino yang menunggu keduanya.


“Kau harus kerja Tuan, aku tidak mau gajiku bulan ini dikurangi karena dirimu tidak bekerja, “ ujar Zahra saat keduanya sudah di depan mobil Kenzo.


Mendengar perkataan Zahra, Kenzo sedikit tersenyum kecil lalu mengusap lembut surai panjang milik gadis itu. Bukan hanya rambutnya saja yang di usap Kenzo, tangan pria itu juga turun mencubit gemes pipi Zahra.


“Kau sangat menggemaskan, “ ujar Kenzo.


Zahra tersenyum tipis, lalu melepaskan paksa tangan Kenzo dari wajahnya dan mendorong tubuh pria itu agar masuk kedalam mobil.


“Maafkan aku Zahra, tapi aku sangat malas kekantor hari ini.”


Zahra yang sudah berbalik hendak masuk kembali kedalam rumah, terpaksa harus kembali lagi saat Kenzo sudah keluar dari mobil.


“Astaga, sana kekantor!” teriak Zahra kesal.


Dengan sangat terpaksa, Kenzo akhirnya mengikuti perkataan Zahra. Entah mengapa? Hari ini Ia begitu malas ingin kekantor.


.


.


.


Hai pembaca setiaku...


Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.


Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.

__ADS_1


makasih 🌹


__ADS_2