My Posesif Bos

My Posesif Bos
Nomor tidak di kenal


__ADS_3

Setelah kejadian Minggu lalu, Zahra sama sekali tidak mau di ajak keluar oleh siapapun bahkan Kenzo sekali.


"Ayolah Zahra, di depan saja."


Sedari tadi, Bita terus membujuknya ke kompleks depan.


Zahra menggelengkan kepalanya, menolak permintaan Bita dan kembali fokus pada televisi di depannya.


"Ada apa ini?"


Kenzo yang baru saja bangkit dari alam bawa sadarnya, menghampiri kedua gadis itu.


"Ini loh tuan, Zahra nggak mau kedepan."


Seolah mengadu, Bita mendekati Kenzo duduk di bawa kaki Kenzo dan Zahra.


"Kenapa nggak mau ikut dia? lihatlah wajah menyedihkannya itu, " ujar Kenzo.


"Ayolah tuan, ini hanya sedikit membujuk tidak menyedihkan."


Tak memperdulikan Bita dan juga Kenzo, Zahra tetap fokus pada ciki dan juga tontonannya.


"Zahra, " ujar Bita berusaha membujuk lagi.


"Nggak Bita, aku takut nanti ketemu preman atau musuh tuan muda."


Kenzo membalikkan tubuh Zahra, menghadap dirinya.


"Selama kamu masih di kompleks ini, kamu nggak akan kenapa-kenapa," ujar Kenzo mencoba membantu Zahra Menghilangkan rasa takutnya.


Zahra tetap pada pendiriannya, Ia tidak mau pergi jauh dari rumah Kenzo.


"Nggak mau!" putus Zahra bulat nggak kotak.


Kenzo menatap Bita, lalu berjalan mengikuti Zahra yang sudah sampai dapur.


"Dasar menyebalkan, " oceh Bita kesal.


Kenzo yang berpapasan dengan Zahra, ikut berbalik lagi mengikuti Zahra kembali ke tempat mereka semula.


"Kenapa nggak coba bujuk si tampan Vino?!"


Seolah mendapat tawaran menarik dari Zahra, Bita bangkit dari duduknya dengan wajah penuh senyuman, berlari menuju ruang kerja Vino.


"Kau menyebut Vino apa?"


Bingung dengan maksud dari pertanyaan tuannya, Zahra menatap lekat wajah pria itu.


"Apa?!"


Bukannya menjawab, Zahra malah balik bertanya. Hal itu membuat Kenzo menjadi geram, lalu mencubit gemas pipinya.


"Hanya aku yang boleh di puji dirimu, paham!"


Zahra melongo tak percaya, pria itu sangat percaya diri. Meskipun dia begitu tampan, tapi Vino begitu berkarisma menurut Zahra.


"Posesif banget jadi orang, " sindir Zahra.


Kenzo yang tidak memperdulikan perkataan gadis itu, merebut paksa ciki dari tangan Zahra berlalu menuju kamarnya.


"TUAN KENZO!"


Suara Zahra menggema di seluruh penjuru ruangan, Kenzo terkekeh geli melihat tingkah lucu Zahra yang kesal padanya.


Kesal dengan tingkah Kenzo yang seenaknya pada cikinya, Zahra memilih masuk kedalam kamarnya.


Senyuman mengambang pada wajahnya, ketika menyadari Ia sama sekali belum membersihkan kamar Kenzo.


"Kabur, ah."


Zahra sudah berlari masuk kedalam kamarnya, menutup rapat-rapat pintu lalu mengunci dari dalam.


Kenzo yang baru memasuki kamarnya, matanya membulat melihat tumpukan sampah ada dimana-mana.


"Zahra!"


Tadi Zahra, sekarang Kenzo. Arnia begitu pusing dengan teriakan itu, sembari membawa sapunya Ia menghampiri cucunya itu.


"Bisa diam tidak?!"

__ADS_1


Kenzo terkejut menjatuhkan ciki dari tangannya, menatap Arnia dengan senyuman mengambang.


"Astaga! Ini kamar apa kapal pecah?!"


"Zahra nggak beresin nih."


Dasar pria gila, Ia mencoba menghindar dari masalah yang di buatnya, dengan mengorbankan Zahra sebagai tumbalnya.


"Sudah hampir lima puluh orang, jelas saja mereka kabur. Jika kamarmu setiap hari begini, " ujar Arnia.


Kenzo yang terus di omeli Arnia, bergegas turun kebawah mencari Zahra. Ia menatap kesekeliling ruangan, sama sekali tidak menemukan keberadaan gadisnya di sana.


"Vino!"


Vino yang saat ini tengah bersama Bita, dengan sigapnya berlari keluar dari ruang kerjanya.


"Kemana gadisku?"


Vino menarik nafasnya panjang, sembari memijat pelipisnya.


"Bukannya tadi sama tuan? " ujar Bita yang baru saja mendekati keduanya.


"Kalau sama saya, tidak mungkin saya bertanya!" bentak Kenzo.


Sungguh kesabaran Vino habis, Ia mengambil ponselnya lalu menyodorkan kepada Kenzo.


"Kenapa tidak dari tadi?"


Kenzo yang sedikit mengoceh, berjalan meninggalkan kedua insan yang tengah melongo tak percaya akan sikapnya.


"Dasar kekanakan," ujar Bita.


"Saya masih mendengarnya Bita!"


Dengan cepat, Bita bersembunyi di balik punggung Vino, ketika suara Kenzo mencapai telinganya.


"Sepertinya mereka harus di beri peringatan, kerja mereka sangat tidak becus."


Dalam perjalanan menuju kamar Zahra, Kenzo terus mengomeli hal yang sebenarnya dilakukannya.


"Za-


"Iya, ayok aku bersihkan."


Sembari menarik tangan Kenzo dan tidak ingin mencari masalah, Zahra melangkah menuju kamar Kenzo.


"Ayolah Kenzo, kau harus marah." batin Kenzo menjerit.


Entahlah, mulutnya seolah bisu ketika bertemu Zahra. Ah maaf bisu apanya, dalam lima menit lagi ocehannya pasti akan keluar.


"Apa kau tidak bisa membersihkannya, sebelum pergi bersantai?"


Nah kan benar saja baru beberapa menit, Zahra sudah harus menyumbat telinganya menghindari ocehan tak berguna Kenzo.


"Ya Tuhan, jika dalam kehidupanku sebelumnya aku berbuat dosa, maafkan aku."


Zahra yang hampir pingsan melihat isi kamar Kenzo, bersimpuh didepan pintu.


Arnia hany terkekeh pelan, berjalan mendekati Zahra menepuk pelan pundak gadis itu.


"Semangat. "


Setelah kata itu berhasil lolos dari mulutnya, Arnia menyelonong keluar.


"Vino, bawa sapu! "


Cukup sudah, kesabaran Vino yang tadinya setebal balok, sudah terkikis habis.


"Akan ku habisi dia, " kesal Vino.


Ia berjalan meninggalkan Bita yang masi nonton, menuju peralatan kerja Zahra. Dengan penuh emosi, Vino menuju kamar Kenzo.


"Ada apa dengan wajahmu? "


Vino seketika merubah ekspresi wajahnya, yang tadinya masam seketika berubah tersenyum manis.


"Permisi, " pamit Vino.


Setelah kepergian Vino, Zahra mendekati alat perangnya mulai memberikan kamar itu.

__ADS_1


"Tuan, ayok bantu! "


Dengan sedikit berteriak, Zahra mencoba membujuk Kenzo membantunya.


"Nggak, kamu di bayar di sini."


Kesal dengan ucapan Kenzo, Zahra berdengus kesal lalu kembali melakukan pekerjaannya.


Zahra menghentikan kegiatannya, mengeluarkan ponselnya dari dalam kantong celananya ketika ada bunyi dari benda pipi itu.


"Nomor tidak di kenal? siapa ini? " gumamnya bertanya-tanya.


Zahra terus memperhatikan pesan itu, yang dalam pesan itu tertulis,


...+62837xxxxxxx...


[Zaza, aku merindukanmu.]


Tak mau ambil pusing, Zahra kembali mengerjakan pekerjaannya. Kenzo yang sedari tadi memperhatikannya, mendekati Zahra memeluknya Seca tiba-tiba dari belakang.


"Tu-tua, " ujar Zahra gugup.


Zahra yang hendak melepaskan tangan Kenzo, mengurungkan niatnya ketika tangannya ditahan paska oleh pria itu.


"Siapa yang menghubungimu? hmm, " ujar Kenzo sedikit berbisik dengan nada berat di ujung telinga Zahra.


Zahra mengeluarkan ponselnya, menunjukkan pesan itu kepada Kenzo.


"Nomornya nggak di save, aku tidak tau siapa dia?!"


Bukannya memperhatikan ponsel Zahra, pandangan Kenzo justru tertuju pada leher jenjang Zahra.


Chup


Seolah di goda, Kenzo langsung mendaratkan bibirnya pada leher Zahra.


"Tu-tua, " erang Zahra memegang kuat tangan Kenzo yang berada pada pinggangnya.


Tak memperdulikan perkataan wanita itu, Kenzo menarik Zahra ke ranjang yang pada akhirnya, Zahra duduk dalam pangkuannya.


"Kenapa wajahmu begitu sangat menggemaskan, " ujar Kenzo dengan nada yang berat.


"Ayolah, aku harus membereskan semua ini."


Ketika hendak turun dari pangkuan Kenzo, di tahan paksa pria itu hingga dadanya menyentuh hidung Kenzo.


"Apa ini kenyal?"


Zahra yang geli dengan ucapan frontal Kenzo, mendorong kasar tubuh Kenzo lalu kembali bekerja.


"Jangan berani-berani mendekat! " ancam Zahra ketika Kenzo hendak mendekatinya.


Kenzo yang hanya bisa pasrah, berbaring di ranjang sembari memainkan ponselnya.


Setelah selesai membereskan kapal pecah itu, Zahra berjalan meninggalkan kamar Kenzo tanpa membawa ponselnya.


"Vino, lacak nomor ini."


Dengan menatap ponsel Zahra, Kenzo memberi perintah kepada asistennya itu.


"Hallo, bawakan ponsel model terbaru."


Entah siapa yang dihubunginya, Kenzo kembali membandingkan tubuhnya di ranjang empuknya itu.


.


.


.


.


Hai pembaca setiaku...


Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.


Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.


Dan lagi satu, yuk kritik dan sarannya dong 😚

__ADS_1


__ADS_2