
Hari ini, seluruh penghuni rumah Kenzo tengah bersiap-siap menghadiri pernikahan putranya mbok Ina. Zahra yang sudah siap dari masih subuh, duduk di meja makan sembari menatap orang-orang yang berlari kesana-kemari.
“Makanya bangunnya tuh pagi, biar gak kek orang gila gini, “ ujar Zahra.
Kenzo yang sedari tadi memperhatikannya, melangkah mendekat ke arah punggung Zahra tanpa sepatah kata pun.
“Enaknya, “ ucap Zahra lagi.
“Enak yah kamu, bukannya kerja malah asik ngemil di sini! “ bentak Kenzo yang seketika membuat seluruh isi rumah menghentikan kegiatan mereka.
“Lanjutkan kerja kalian! “ teriaknya lagi.
“Iss bisa gak sih Tuan, gak usah teriak-teriak, “ ujar Zahra dengan lembutnya namun, semakin membuat kemarahan Kenzo meluap.
Tanpa sepatah kata pun, Kenzo menarik tangan Zahra membawanya ke dalam kamarnya.
Zahra yang baru saja menginjakkan kakinya di ambang pintu, membulatkan matanya tak percaya ketika melihat isi kamar tuannya itu.
“Astaga, gini amat punya tuan, “ ujar Zahra yang langsung memungut setiap pakian Kenzo yang berserakan di lantai.
Dengan telaten dan di sertai ocehan dari mulutnya, Zahra mulai memungut pakaian-pakaian itu.
Di saat Zahra tengah merapikan kamar tersebut, Kenzo justru memilih menontonnya dengan mengemil beberapa cemilan yang berada di atas mejanya.
"Bantuin kek, jangan ngemil aja! " kesal Zahra.
"Yang bos di sini itu saya, atau kamu? "
Zahra berdecak kesal mendengar penuturan Kenzo, kemudian kembali fokus pada pekerjaannya.
"Lain kali itu tau diri, simpan pakaian kotor pada tempatnya, " ocehan Zahra masih terus berlanjut.
Kenzo hanya tersenyum sekilas, lalu kembali mengunyah makanannya.
Saat sudah selesai, Zahra yang hendak mengambil beberapa kertas di dekat pintu, matanya kembali tertuju pada kotak yang sama yang ditemukannya beberapa hari lalu.
Karena penasaran, Zahra melangkahkan kakinya menuju kotak tersebut dan membuka isinya. Namun, belum sempat kotak tersebut terbuka Kenzo memegang kuat bahunya.
“BERANINYA KAMU MENYENTUHNYA! “ teriak Kenzo menggema di seluruh ruangan, membuat Victor seketika menghampiri mereka.
“Ada apa ini? “ tanya Vino yang melihat Zahra sudah bercucuran air mata.
“a—aku,
“KELUAR! “ Bentak Kenzo, dengan segera Zahra membuang sembarang kotak tersebut ke atas ranjang Kenzo dan berjalan keluar.
Namun, baru selangkah telinganya mendengar sebuah liontin bergelintir menuju kakinya. Zahra menunduk dan mengambil liontin tersebut.
Degh
Jantungnya seketika berdegup kencang, melihat liontin tersebut. Kenzo yang melihat hal itu, merebut kasar benda kecil dari tangan Zahra.
Dengan ketakutan, dirinya melangkahkan kakinya keluar dari kamar Kenzo sembari menyeka air matanya. Meskipun begitu, pikirannya masih berkalut soal liontin tadi.
“Bagaimana dia bisa memiliki liontin itu? “ gumamnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Kenzo berserta anak buahnya dan juga Zahra melaju menuju tempat dimana pernikahan putra mbok Ina di laksanakan.
Yang di mana, Kenzo dan Zahra semobil dengan Zahra yang duduk bersebelahan dengan Vino. Sementara Kenzo, sendirian dan di belakangnya terdapat dua orang anak buahnya.
Sedangkan Bita, dia bersama mobil lain bersama dengan barang-barang yang akan di berikan kepada Mbok Ina.
Setibanya di sana, mereka di sambut oleh keluarga Mbok Ina yang memang sudah menunggu kedatangan Kenzo.
“Mbok, “
Zahra dan Bita bersamaan memeluk erat tubuh Mbok Ina, saat mereka sudah berada di sana. Kenzo yang berada di belakang mereka, tak mengeluarkan sepatah katapun.
“Terima kasih Tuan, Anda sudah mau meluangkan waktu datang kesini, “ ujar Mbok Ina.
Kenzo hanya tersenyum lalu memeluk erat tubuh wanita yang sudah di anggapnya ibu itu.
“Aku putramu, jadi aku pasti akan meluangkan waktu untukmu. Di mana putramu, Bryan? “ ujar Kenzo.
Mbok Ina tidak menjawab pertanyaan Kenzo, melainkan mengarahkan jarinya ke arah pria yang tengah menuju ke arah mereka.
Zahra yang melihat kedatangan Bryan, membulatkan matanya. Bagaimana bisa, putra mbok Ina adalah Bryan teman sekelasnya waktu SMA dulu?
“Bryan, “ ujar Zahra saat Bryan sudah di hadapannya.
“Kalian saling kenal? “ tanya Bita.
“Dia teman sekolah aku waktu SMA, “ ujar Zahra.
Bita hanya mengangguk mengiyakan perkataan Zahra lalu tersenyum sekilas.
“Zaza? “ ujar Buta menanyakan maksud dari kata “Zaza. “
“Hahaha, Zaza itu nama manis untuk Zahra. “
Kenzo yang mendengar perkataan Bryan, semakin panas Al hasil Ia melangkah pergi tanpa mempedulikan orang-orang yang menatapnya.
“Ohiya, Zahra ini Arni istriku. “
Zahra mengulurkan tangannya, lalu di sambut hangat oleh istri Bryan. Begitu juga Bita yang mendapat uluran tangan wanita tersebut.
Setelah selesai, Zahra menghampiri Kenzo yang duduk menyendiri sembari memainkan ponselnya.
“Minum dulu Tuan, “ ujar Zahra saat sudah duduk di hadapan Kenzo.
Kenzo menghabiskan segelas jus yang di bawa Zahra tanpa sisa, lalu kembali berfokus pada ponselnya.
Selama acara resepsi berlangsung dan sampai selesai, Zahra dan Kenzo tak mengeluarkan sepatah katapun setelah kejadian siang tadi.
“Aku harap, kamu tidak menggangu hubungan mereka, “ ujar Kenzo sembari melangkah pergi.
Zahra yang bingung akan perkataan tuannya, mencoba mencerna kata-kata tersebut. Dan saat itu juga, pandangan tertuju pada Arni, yang seketika membuatnya tersadar dan menjadi mengerti.
“Aku tidak serendah itu sampai harus menghancurkan pernikahan suci mereka, “ ujar Zahra.
Setelah acara selesai, Kenzo dan seluruh anak buahnya berpamitan kepada Mbok Ina untuk meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
“Mbok kita tunggu di rumah, “ ujar Zahra sembari menampilkan deretan giginya.
Mbok Ina mengangguk mengiyakan perkataan Zahra. Setelahnya, Zahra masuk kedalam mobil yang sama dengan Kenzo, dan posisi yang sama seperti mereka datang.
Vino melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu, kembali ke kediaman Kenzo.
“Apa kamu mempunyai kekasih Zahra? “ tanya Vino yang seketika membuat Kenzo ikut penasaran.
“Iya punya, tapi di mana Ia sekarang aku pun tidak tau. “
“Kenapa? “
Zahra hanya menaikkan turunkan kedua bahunya, lalu memandang ke arah luar kaca mobil.
“Seandainya waktu itu Ia tidak pergi, hidupku tak akan segila ini, “ ujarnya sembari yang tanpa sadar, air matanya mengalir membasahi pipinya.
“Maaf atas pertanyaan ku Zaza, “
Zahra seketika tertawa mendengar perkataan Vino yang memanggilnya dengan sebutan Zaza.
Kenzo yang menyaksikan semua itu, melonggarkan dasinya, yang tanpa di sadarinya Vino tersenyum menyaksikan kecemburuan yang di tutupinya dengan ketidak peduliannya.
“Boleh aku mengajak mu ke suatu tempat besok? “ pertanyaan Vino semakin membuat Kenzo menatapnya dengan tatapan penuh amarah.
"Tidak! besok kita harus lembur, " ketus Kenzo.
Zahra dan Vino saling memandang satu sama lain, lalu menatap intens tuannya itu. Pria itu sepertinya mabok jus.
“Maaf, tapi sepertinya Bita lebih membutuhkan pertanyaan itu, " jawaban Zahra seketika membuat Kenzo menarik nafas lega.
“Berhentilah membahas hal bodoh! “ bentak Kenzo yang seketika membuat tawa Victor pecah.
Zahra yang trauma akan teriakan Kenzo, menundukkan kepalanya dan mengambil ponselnya dengan tergesa-gesa lalu memainkannya.
Kenzo yang menyadari hal itu, memalingkan wajahnya dan tersenyum masam melihat wajah Zahra yang sepertinya ketakutan padanya.
“Bukan ini yang aku mau, “ ujarnya pelan namun, masih bisa di dengar oleh Vino.
Vino menghentikan mobilnya di tepi jalan, lalu mengeluarkan kepalanya.
“Maaf Tuan, Bannya kempes, " ujar Vino sembari memasukkan kembali kepalanya kedalam mobil.
“Jadi kita gimana? “ tanya Zahra yang panik, apa lagi saat ini mereka berada di tengah jalanan yang hanya ada pepohonan tanpa penduduk sama sekali.
Kenzo keluar mobil, lalu berjalan mengitari mobilnya dan membukakan pintu untuk Zahra. Zahra yang melihat hal itu, langsung mengerti dengan tatapan Kenzo.
Setelah keluar dari mobil, Vino dengan cepat mengunci semua pintu secara otomatis dan melajukan mobilnya meninggalkan kedua insan tersebut.
“Selamat bersenang-senang! “ teriaknya saat sudah jauh.
Zahra yang tersadar akan hal itu, menganga lebar tanpa menyadari bahwa Kenzo sudah berjalan meninggalkannya sendirian.
TBC.
Maaf lamma up-nya 🤗
__ADS_1