
Dengan menggendong tubuh Zahra, Tio memasuki rumah Kenzo. semua yang berada di dalam rumah itu terkejut saat melihat kepala Zahra yang terus mengeluarkan cairan merah.
"Cepat ambilkan obat, " ujar Tio kepada Bita.
Bita yang masih belum bergerak, membuat Tio kehabisan kesabarannya.
"Cepat! " teriaknya membuat Vino yang baru masuk, berlari ke arahnya.
"Apa yang terjadi? " tanya Vino penasaran.
"Berhentilah bertanya bodoh, cepat bantu aku! " kesal Tio sebab yang berada di sana hanya bisa menonton tanpa berbuat apa-apa.
"Mbok panggil Tuan muda! " pintah Vino.
Mbok Ina mengangguk mengiyakan perkataan Vino, lalu berlari menuju kamar Kenzo.
Kenzo yang saat ini tengah frustasi dengan keberadaan Zahra, berjalan mendekati pintu lalu memegang gagang pintu.
"Argggh akan percuma saja jika keluar dia belum ada, " gumamnya kesal.
Saat itu juga, dari luar mbok Ina mengetuk pintu kamarnya.
"Aku bilang jangan temui aku jika Ia belum kembali! " teriak Kenzo dari dalam.
"Tapi Tuan, anda harus segera melihat ini, " ujar Mbok Ina.
Kenzo yang sedang kesal, menghembuskan nafas panjang lalu membuka pintu.
"Ada apa? " tanyanya.
"Di ruang tamu, "
tanpa berkata apa-apa, pria tersebut bergegas menuju ruang tamu.
kakinya tak kuasa melangkah saat melihat banyak Da rah yang terus mengalir dari kepala Zahra.
"A-apa yang terjadi? " tanya Kenzo mendekat tanpa mengalihkan pandangannya dari gadis itu.
"Saya bilang apa yang terjadi! " bentak Kenzo saat tidak seorangpun dari mereka menjawab pertanyaannya.
"Entahlah Tuan, aku menemukannya sudah tergeletak tak berdaya, " jelas Tio.
Kenzo menghampiri Zahra, lalu meletakkan kepala gadis itu di pahanya.
Bita dengan segera menyerahkan kotak obat yang baru di ambilnya.
"Hubungi Tino, cari pelakunya sampai dapat! " pintah Kenzo.
Tio mengangguk mengiyakan perkataan tuanya lalu mengambil ponselnya.
Dengan di bantu Vino, Kenzo berhasil menghentikan pendarahan di kepala Zahra untuk sementara sebelum dokter tiba.
"Selamat siang tuan Kenzo, " sapa sang dokter Erik yang baru saja memasuki rumah Kenzo.
"Berhentilah menyapa, cepat tangani gadisku, " ujar Kenzo dengan nada tinggi.
"Kita harus membawanya ke kamar tuan, " ucap sang dokter.
__ADS_1
dengan cepat, Kenzo menggendong tubuh Zahra membawanya ke kamar.
"Biar saya bukakan pintu kamarnya dulu, " ujar Bita yang ingin berlari membuka pintu kamar Zahra.
Namun, langkahnya terhenti saat kaki Kenzo melangkah ke lantai atas menuju kamarnya.
semua yang berada di sana, tak berani berkata apapun hanya bisa menatap dengan penuh tanda tanya terkecuali Vino.
setibanya di kamar, dengan segera Kenzo membaringkan tubuh Zahra ke atas ranjangnya. Dokter pun dengan segera mulai menangani Zahra di hadapan Kenzo.
"Sudah selesai Tuan, beberapa jam kedepan dia akan sadar, " jelas sang Dokter.
"Mengapa haru menunggu beberapa jam kedepan? " tanya Kenzo dengan kesalnya.
Vino yang mendengar pertanyaan bodoh tuannya itu menghampiri Erik lalu membawanya keluar.
"Terima kasih sudah membantu, " ujar Vino saat sudah di depan pintu kamar Kenzo.
"Saya permisi, "
Setelah kepergian Dokter, Vino kembali ke dalam kamar Kenzo.
"Apa dia akan segera sadar Vino? " ujar Kenzo yang tak memalingkan wajahnya dari Zahra.
"Tentu saja Tuan, bersabarlah, " ujar Vino.
"Tinggalkan kami, "
Vino hanya bisa mengangguk, lalu melangkah pergi.
setelah kepergian Victor, Kenzo menaiki ranjangnya membaringkan tubuhnya di samping Zahra dan memeluk erat tubuh gadis itu dari samping.
Lusi yang baru saja kembali, tersenyum bahagia melangkah menuju ruang tamu.
Ia di tatap dengan tatapan yang tidak biasa dari Tio dan juga Tino.
"Dari mana kau? " tanya Tino dengan sedikit menaikkan nada intonasinya.
"Yang pastinya bukan urusanmu, " ujarnya melangkah menuju dapur.
Disana sudah ada Bita yang tengah sibuk membersihkan meja makan.
"Kemana temanmu itu? dia males banget, " ujarnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Victor dengan segera menyeretnya menuju ruang tamu tempat di mana Tio dan Tino berada.
"Ada apa denganmu? " ujar Lusi kesal dengan perlakuan Victor.
"Jelaskan ini apa? " ujar Victor melemparkan beberapa foto Lusi yang tengah mengobrol dengan Xio Lang di sebuah cafe.
"Apa yang kau lakukan dengannya? " tanya Tio dengan nada yang masih terkontrol.
"I-itu bukan urusan kalian, " elas Lusi dengan gugupnya.
Tio tersenyum smrik, lalu bangkit dari duduknya menghampiri Lusi.
"Aku tidak menyangka kau berani melakukan hal serendah ini, " ujar Tio.
__ADS_1
"Kau membutuhkan uang hmm? ini ambil, " ujar Tio melempar beberapa lembar uang di wajah Lusi.
Lusi yang di perlukan seperti itu tidak terima, dirinya dengan segera melayangkan pukulannya kepada Tio namun, dengan cepat di tahan Kenzo.
"Apa sudah ketemu pelakunya Tino? " ujar Kenzo bertanya pada Tino.
Pria itu melangkah mendekati sofa, lalu menduduki benda nyaman itu.
"Pelaku apa? " tanya Lusi sok polos.
Tino mengambil beberapa gambar dari dalam amplop, lalu meletakkan di atas meja.
Wajah Lusi seketika berubah menjadi takut, di saat matanya melihat gambar tersebut. Dimana, dalam gambar itu terlihat dirinya sedang menarik rambut Zahra.
"Selama ini aku menganggap mu seperti adikku, tapi kau beraninya melukai gadisku, " ujar Kenzo dengan dinginnya membuat Lusi tidak kuasa bahkan untuk menelan ludahnya saja susah.
"Ak-
"Diam Lusi! atau aku patahkan tanganmu ini. katakan kenapa kau melukainya! " bentak Kenzo mendorong kasar tubuh Lusi hingga terpental jauh.
"Yah aku melukainya puas! itu semua karena salah mu, kau lebih memilihnya dari pada aku. selama hidupku aku selalu menuruti semua keinginanmu tapi, kau tidak pernah sedikitpun menganggap ku, " ujar Lusi.
Kenzo mengusap kasar wajahnya, lalu membungkuk mencengangkan keras dagu Lusi.
"Dengar Lusi, kau hanyalah bawahan ku sedangkan Zahra dia hidupku. kau dan dia jauh berbeda, paham! " ujar Kenzo.
"Haahhha dia juga hanya seorang pelayan Kenzo, " ucap Lusi yang semakin membuat Kenzo kesal.
"Tio habisi dia! " pintah Kenzo.
semua yang berada di sana seketika membulatkan mata tak percaya dengan apa yang mereka dengar.
"Tidak Kenzo maafkan aku, " ujar Lusi ketakutan.
"Tio! " teriak Kenzo membuat Tio tersadar dari lamunannya.
dengan di dahului Kenzo, Tio Tino dan juga Victor menyeret paksa Lusi menuju markas mereka.
"Masukan dia! " ujar Kenzo, saat mereka sudah di depan ruang tahanan milik Kenzo yang di siapkannya bagi siapa saja yang berkhianat.
"Kenzo maafkan aku, " mohon Lusi.
Namun, sepertinya sekarang sudah terlambat. Hati Kenzo begitu hancur saat melihat Zahra terbaring tak berdaya di kamarnya dengan kepala yang di perban.
"Tidak ada maaf bagi penghianat seperti mu. Kami bertiga selalu iri dengan apa yang kau lakukan, tapi begini balasanmu kepada tuan, " ujar Tino.
Lusi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saat dirinya memasuki ruangan tahanan yang disana sudah terdapat macan buas milik Kenzo yang kelaparan.
"Aaaa! " teriakkan Lusi membuat Kenzo dan ketiga anak buahnya menutup mata saat Macan miliknya merobek habis tubuhnya.
Kenzo melangkah keluar meninggalkan ruangan itu, dan di ikuti ketiga anak buahnya menuju rumah utama.
.
.
.
__ADS_1
.
Haiii Kenzo dan Zahra balik lagi nih, maaf lama up-nya lagi sibuk soalnya. 🌹🌹