
Arnia yang belum juga mendapatkan kabar tentang Zahra dan juga cucunya, dari semalam begitu gelisah. Ia berjalan mengitari kolam sembari menatap ponselnya, sama sekali belum juga ada yang memberinya pesan.
Saat ini di ruang keluarga, Bita yang baru saja selesai membersihkan gudang sedikit berisitirahat sebentar dengan mata yang terus tertuju pada pintu masuk.
“Oke, dalam hitungan ketiga, mereka masuk,” gumamnya.
“Sat-
Belum sampai pada hitungan yang ketiga, sudah terlihat Vino memasuki ruangan itu seorang diri tanpa bersama Tio,Tino, bahkan Kenzo.
“Vino!”
Bita bangkit dari duduknya berlari masuk kedalam pelukan pria itu, Arnia yang sempat mendengar sekilas suara Bita merapat kearah ruang keluarga.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Bita melepaskan pelukannya.
“Iya,” jawab Vino, sedikit mengusap lembut rambut Bita.
Melihat Arnia yang mendekat kearah mereka, keduanya dengan cepat saling berjauhan.
“Vino, Dimana Kenzo dan juga Zahra?”
Vino sedikit ragu ingin menjawab pertanyaan Arnia, Ia sedikit melirik Bita lalu kembali menatap Arnia.
“Mereka ke rumah sakit, Nyonya,” jawab Vino.
Baik Arnia maupun Bita dan juga Mbok Ina yang baru tiba, sedikit terkejut dengan apa yang di katakan Vino barusan.
“Maksudnya gimana Vin?” tanya Bita mencari jawaban yang pasti.
“Nona muda, dia tertembak.”
Semuanya membulatkan matanya sempurna, Arnia langsung jatuh terduduk ke sofa sembari memegang dadanya yang sesak.
“Vino, antar saya ke sana!” titah Arnia.
“Maaf Nyonya, tuan muda meminta saya agar semuanya tetap di sini.”
Mendengar penolakan dari Vino, Arnia tetap mengambil syalnya hendak berjalan keluar. Kakinya tiba-tiba terhenti, saat melihat Tio dan Tino memasuki ruangan itu.
“Apa kalian dari rumah sakit?” Arnia mendekati keduanya.
“Tidak nyonya, tuan muda meminta kami semua tetap di sini, “ jawab Tio.
“Antar saya ke sana.”
Tino langsung meluncur kearah sofa, sedangkan Tio berdiri mematung sedikit melirik Vino mencari persetujuan.
“Nyonya, kami tidak akan keluar dari rumah ini sebelum ada perintah dari tuan muda.”
“Kenapa seperti itu?”
Sama sekali tidak mendapatkan jawaban dari anah buah cucunya itu, Arnia melangkah mendekati sofa sembari memijat pelipisnya.
__ADS_1
Di rumah sakit,
Kenzo dan juga Micheal yang sudah ingin menjenguk Zahra di dalam, terpaksa harus di hentikan seorang perawat.
“Maaf tuan muda, hanya satu orang yang bisa masuk.”
Keduanya saling bertatapan sebentar, melihat wajah Kenzo yang seolah memohon padanya, Michael mengangguk membiarkan Kenzo mendahuluinya.
“Lima menit, “ ujar Michael.
Tak menghiraukan perkataan Michael, Kenzo meluncur masuk kedalam menemui Zahra terkapar tak sadarkan diri di sana.
Pria itu meraih tangan Zahra, mengecupnya singkat menggenggam erat tangan itu tak mau di lepaskan. Mata Kenzo beralih pada leher Zahra, Ia mengeluarkan liontin dari dalam kantong celananya lalu meraih liontin yang berada pada leher Zahra.
“Katamu, jika mereka bersentuhan akan mengeluarkan cahaya kecil.”
Kenzo menyatukan kedua Liontin itu, dan yah seperti apa yang dikatakannya tadi benda-benda itu mengeluarkan cahaya berkilau. Senyuman terukir indah pada bibir Kenzo, dikala maniknya menangkap apa yang ada di hadapannya.
“Jasmine ku pasti kuat, “ ujar Kenzo mengusap rambut Zahra.
Kenzo sedikit bangkit dari duduknya, mengecup lama kening Zahra lalu melangkah keluar. Namun, baru saja hendak melangkah tangannya di tahan oleh Zahra yang belum sadarkan diri.
“Ken, jangan tinggalkan aku, “ gumam Zahra mengigau.
Seorang Kenzo Fabiandi Sagara yang di kenal begitu kejam di seluruh penjuru kota, meneteskan air matanya ketika mendengar kata yang keluar dari mulut Zahra.
“Aku akan tetap di sini.”
Kenzo kembali menumpukan dirinya pada kursi di samping Zahra, sembari terus mengelus lembut pipi gadis itu.
“Kau tidak merindukannya?”
Suara Erik yang baru saja memasuki pendengarannya, membuat Michael berbalik menatap pria itu sekilas, lalu membuang wajahnya.
“Jangan berbohong Mike, aku tau kau merindukannya.” Erik melepaskan jas dokternya, berjalan mendekati kursi panjang yang berada di lorong sana.
“Itu bukan urusanmu!” tegas Michael melangkah pergi.
Ketika kakinya baru selangkah pergi, suara teriakan Erik mampu menghentikan langkahnya.
“Bukan Zahra yang ku maksud, tapi Kenzo!”
Michael berusaha untuk tak memperdulikan perkataan Erik, Ia kembali melangkah meninggalkan ruangan itu menuju parkiran.
“Yah, yah, teruslah seperti itu, “ gumam Erik sedikit kesal dengan situasi saat ini.
Sama seperti Michael yang sudah menjauh dari sana, Erik juga bangkit berdiri meski baru beberapa menit duduk berjalan berlawanan arah menuju ruang laboratorium.
Michael yang sudah mencapai mobil Kenzo, melaju menjauhi rumah sakit itu menemui Ciko yang sudah menunggunya di markasnya.
Tak membutuhkan waktu yang lama, sebab markas Michael jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit itu. Michael menepikan mobil Kenzo, membuat beberapa anak buahnya mendekat dengan membawa senjata api di tangan mereka.
“Maaf tuan, kami pikir bukan anda,. “ ujar salah seorang anak buahnya, saat melihat yang keluar dari dalam mobil bukanlah Kenzo melainkan Michael.
__ADS_1
“Dimana kalian mengurungnya?”
“Ruang belakang tuan, bos Ciko sedang bersamanya.”
Dengan langkah sedikit cepat, Michael memasuki ruangan yang dimaksud tadi. Ketika kakinya menginjak ambang pintu, Ciko bersama beberapa anak buahnya menyambut kedatangannya dengan membungkuk.
“Dimana dia?”
Satu tombol yang ditekan Ciko, membuka sebuah ruangan menampilkan seorang gadis tengah di ikat pada sebuah kursi dengan mulut tertutup.
“Bawa dia kesini!” titah Michael.
Salah seorang anak buahnya dengan segera, menarik kursi itu membawa kehadapan Micheal lalu mendorong kursi itu kasar, sehingga yang berada diatasnya ikut tersungkur di lantai.
Michael meraih dagu gadis itu, mencengkeram erat dengan mata memerah layaknya orang yang sedang marah.
Plak
Satu tamparan mendarat sempurna pada pipi mulus gadis itu, Micheal sama sekali tidak peduli siapa lawannya saat ini. Mau seorang gadis atau pria, jika musuh semuanya sama di matanya.
“Sudah ku peringatkan padamu, tapi kau masih saja mau mencoba melukainya.”
Bruk
Michael kembali mendorong tubuh gadis itu, Ciko langsung mengisyaratkan anak buahnya kembali mengangkat kursi.
Michael melepaskan penutup pasal mulut gadis itu dengan kasar, membuat gadis itu juga meringis kesakitan.
“Dia berani melukai adikku, maka kau akan ku habisi.”
Dengan wajah memerah dan berapi-api, Michael menatap lekat wajah gadis itu membayangkan bagaimana Zahra tersiksa.
“Mike, aku mohon lepaskan aku.”
Akhirnya Michael menarik senyuman pada bibirnya, di kala gadis itu memohon padanya untuk di lepaskan. Bukannya melakukan seperti apa yang diminta, Michael malah mengeluarkan ponselnya memotret gadis itu.
“Ciko, kirim pada kekasihnya!” pintah Michael yang langsung di laksanakan oleh Ciko.
“Mike, tolong lepaskan aku.”
Michael sama sekali tidak memperdulikan permohonan itu, Ia berjalan kembali menuju kursinya menatap gadis itu memohon padanya.
“Seperti itulah ketika adikku memohon padamu, “ ujarnya setelah menarik rokok pada tangannya, lalu menghembuskan asapnya.
.
.
.
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
__ADS_1
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.
makasih 🌹