
Mbok Ina sedikit mempercepat langkahnya, menuju pintu masuk sebelum Zahra dan Lia benar-benar pergi.
"Ingat, setelah selesai langsung pulang!" teriak Mbok Ina.
yah, Zahra sedari tadi sudah meminta izin dirinya saja yang bersama Lia ke toko buah.
Kenapa tidak bersama Bita, Vino sedangkan menugaskan gadis itu menguras kolam belakang. yah, meskipun ada sedikit cekcok di antara kedua pasangan yang baru jadian itu.
"Mau beli buah apa?" basa basi Zahra menatap singkat Lia.
"Ini."
Zahra menerima sodoran kertas, daftar belanjaan dari Lia mulai membaca satu persatu.
"Kesemek apaan?"
"Kau tidak tau?"
Bukannya menjawab, Lia malah bertanya sedikit heran dengan gadis di sampingnya Ini.
"Yah, mana aku tau ada buah jenis ini di dunia."
Lia hanya menggelengkan kepalanya, dari goa mana gadis ini di temukan buah itu saja ia tidak tau.
"Nanti kau akan tau."
Keduanya terus menatap jalanan kota yang begitu ramai, yah keduanya di antar seorang pengawal Kenzo.
Dalam perjalanan begitu sangat aman dan tentram, hingga pada menit berikutnya ada beberapa mobil yg menghadang mobil yg di tumpangi Lia maupun Zahra.
Orang orang dari dalam mobil yg menghadang mereka tadi turun dari mobil dan menggedor gedor pintu mobil Zahra.
"Bagaimana ini pak? siapa mereka?" tanya Zahra panik, sama seperti Lia saat ini.
"Saya tidak tau siapa mereka, tapi tetaplah di dalam mobil!"ujar Randi seraya keluar dari mobil.
Nampak di luar mobil Randi di pukuli sampai terkulai lemah di tanah.kemudian dua orang yg tak dikenal itu menghampiri Zahra dan juga Lia.
"Lepaskan! Siapa kalian?!" ucap Zahra ketika tangannya sudah di pegangi oleh seorang lelaki itu.
Zahra masih berusaha melawan, Lia juga ikut keluar mobil mengambil sebuah balok.
Buk
Balok yang di pegang Lia, menghantam keras mengenai leher belakang pria itu.
"Zahra ayok kabur!"
Tak mau menunggu lama, setelah berhasil lepas dari para bandit itu Zahra maupun Lia berlari menjauhi mereka. Namun, keduanya mengambil arah yang berbeda Zahra ke arah barat, Lia ke arah Timur.
Sedangkan Randi, Ia sudah terkapar lemah di aspal dengan badan penuh luka.
"Astaga sangat melelahkan."
Zahra sudah sangat lelah dan letih karena terus-terusan berlari dan bersembunyi agar tidak tertangkap oleh orang-orang yang sama sekali tidak dikenalinya. Berbeda dengan Zahra, ketika Lia berbalik sama sekali tidak ada yang mengejarnya.
"Mereka hanya mengincar Nara."
Dengan segera, Lia memberhentikan paksa sebuah taksi yang lewat.
"Perumahan xxx!"
Yah, Lia bermaksud kembali ke kediaman Kenzo melaporkan semua ini.
__ADS_1
Zahra menatap kakinya yang terasa perih, ternyata kakinya sudah berada terkena kerikil waktu berlari tadi.
"Sakit banget ya Tuhan," ringis Zahra pelan.
Zahra merobek ujung bajunya, melilitkan pada kakinya agar menghambat dara yang sudah mengalir.
Di rasa sudah aman, Zahra keluar dari persembunyian nya. Zahra tersenyum tipis saat melihat sebuah gang sempit tempatnya bersembunyi. Zahra sepertinya pernah melewati tempat ini, jalan ini menuju ke rumahnya dulu.
Zahra berjalan pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara, pelan namun pasti kini Zahra sudah sampai di ujung gang. sialnya, di ujung gang itu di tutupi oleh sebuah seng berbentuk pintu depan ujung yang runcing.
Dengan mengeluarkan seluruh tenaganya, Akhirnya Zahra berhasil menyingkirkan seng itu dari jalannya.
"Berhasil!"
Zahra tersenyum puas, para bandit itu tidak akan tau jalan ini.
"Semoga aku aman."
sembari menyeret kakinya, Zahra melangkah menjauhi tempat itu. baru beberapa langkah Ia berjalan mulutnya di bungkam oleh seseorang.
"Mphhh!" Pekik Zahra memberontak namun saat berusaha mengambil nafas tubuhnya langsung melemah dan tak berdaya.
Zahra melihat seorang pria sedang berdiri di depannya dengan samar-samar sebelum Zahra benar-benar kehilangan kesadaran nya.
"Menyusahkan saja!"
"Cepat bawa wanita ini ke mobil!" Perintah pria itu kepada orang-orang suruhannya.
Preman yang berjumlah lima orang itu pun membopong tubuh Zahra dan memasukannya ke dalam mobil.
"Kenzo, kali ini kau tidak akan bisa berdaya lagi."
Mobil itu melaju dengan membawa Zahra, menuju tempat yang akan ditujunya.
Kenzo sedikit terburu-buru, memasuki kediamannya. aman seperti biasanya, yang pertama Ia cari adalah Zahra.
Namun, seisi ruangan tamu, maupun ruang keluarga sama sekali tidak berpenghuni.
"Kemana Oma?" Kenzo mendekati Mbok Ina yang sibuk bersama masakannya.
"Ada arisan katanya."
Kenzo mengangguk mengerti, dan kembali matanya menelusuri setiap sudut ruangan itu.
"Zahra sedang membeli buah."
Ada sedikit rasa kecewa, ketika jawaban dari Mbok Ina sama sekali tidak sesuai dengan harapannya.
"Tolong, bawakan beberapa minuman ke markas belakang."
Mbok Ina hanya mengangguk, meskipun Kenzo sudah berlalu dari hadapannya tanpa menunggu jawaban yang akan keluar dari mulutnya.
Kenzo kembali melangkah melewati kolam renang tak lupa, tangannya sempat meraih gelas berisi teh di atas meja. ketika sudah hampir mencapai pintu masuk markasnya Ia berhenti ketika ada suara yang memanggilnya.
"Tuan Kenzo!"
Lia, gadis itu berlari dengan nafas memburu menghampirinya.
"Ada apa?"
"Tuan i-itu, "
Masih dengan nafas memburu, Lia mencoba memberitahukan pada Kenzo kejadian sebenarnya.
__ADS_1
Karena suaranya yang melengking, Seluruh penghuni rumah mendekat ke arah kolam penasaran apa yang terjadi.
"Lia, kemana Zahra?"
Tentu saja, tak hanya Bita yang bertanya mbok Ina yang baru mencapai kolam pun memiliki pertanyaan yang sama seperti apa yang ditanyakan Bita.
"I-itu tuan, "
Dengan terbata-bata dan ketakutan, Lia sama sekali belum bisa menetralkan nafasnya.
"Katakan dengan jelas, Ada apa?!" bentak Kenzo geram.
"Zahra di culik."
Bruk
Gelas yang tadinya di pegang Kenzo, hancur berkeping-keping ketika penuturan Lia menembus setiap lapisan dalam pendengarannya.
Tak menunggu detail cerita yang sebenarnya dari Lia, Kenzo meluncur menuju mobilnya. Tak hanya Kenzo, Vino yang baru saja mendekati kolam ikut menyusul tuannya.
Namun, Vino mengehentikan langkahnya berbalik lagi mendekati Lia.
"Di dekat mana, Nona muda di culik?"
"Jalan xxx dekat jalan yang mengarah ke taman. tapi, sepertinya Ia kabur kearah barat."
Setelah mendapat informasi dari Lia, Vino berlari menyusul Kenzo, yang sudah jauh darinya.
Kenzo terus melajukan mobilnya setelah mendapat pesan dari Vino, Ia menancap gas tinggi menuju lokasi itu bahkan di saat melewati lampu merah, Ia sama sekali tidak berhenti terus melaju.
"Tino, lacak ponselnya."
Sembari mengirimkan pesan pada Tino, Kenzo memutar stir mobilnya mengambil jalan pintas. Dan yah, Ia menghentikan mobilnya ketika melihat sosok Rendi dan juga salah satu mobilnya berada di dekat ujung jalan.
"Kemana mereka membawa gadisku?"
Dengan sekuat tenaga, Rendi bangkit berdiri mendekati Kenzo.
"Nona berlari kearah sana, sepertinya mereka masih mengejarnya."
Jari telunjuk Rendi, mengarah pada tempat dimana Zahra kabur.
"Siapa mereka?"
"Mereka kaki tangan Dion."
Kenzo sedikit mengusap wajahnya kasar, mendengar bahwa pelakunya Dion. Sembari tersenyum smrik, Kenzo mendekati mobilnya meninggalkan Rendi tanpa menolongnya sedikitpun.
"Tuan, Nona muda di culik."
Tak hanya Kenzo saja, mendengar kabar Zahra di culik seorang pria bertubuh gagah langsung berlari mendekati mobilnya.
"Akan ku bawa dia."
.
.
.
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
__ADS_1
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.