My Posesif Bos

My Posesif Bos
Hari peringatan kejadian itu..


__ADS_3

Kenzo dengan segera mengisyaratkan pada Tio, agar tidak melanjutkan perkataannya lagi.


"Jawab Tuan, " ujar Nara sedikit meninggikan suaranya.


"Michael Jordan, dia salah satu rekan bisnis ku, apa kau mengenalnya?"


Tentu saja Kenzo berbohong, Ia akan menyelidiki apakah benar Zahra mengenal Michael? hal itu segera diselidiki Tino, ketika mata Kenzo mengarah padanya.


"Aku mengenal seseorang yang namanya sama, aku pikir dia orangnya."


"Benarkah? siapa dia?"


Bukannya menjawab pertanyaan Kenzo, Zahra sudah memasukkan makanan kedalam mulutnya.


Kenzo yang ingin mengulik lagi hal itu dari Zahra, harus sedikit bersabar sebab gadisnya saat ini sudah fokus pada makanan.


Bita mulai malas berada di sana, Ia bangkit dari duduknya berjalan menghampiri kolam. Matanya berbinar melihat isi kolam itu begitu indah dipenuhi hewan air lainnya.


“Zahra, ini keren banget!”


Teriakan Bita yang menggema, dengan cepat membuat Zahra penasaran. Sedikit melepaskan tangan Kenzo dari bahunya, Zahra menghampiri Bita dengan sedikit berlari.


Sama seperti Bita, Zahra juga terkagum-kagum dengan apa yang ditangkap manik indahnya tersebut. Para pria yang melihat kelakuan keduanya, menggelengkan kepala sembari tersenyum.


Kenzo yang tidak terima akan hal itu, memukul keras meja membuat semuanya terkejut berbalik menundukkan kepala.


“Sudah ku katakan, jangan pernah menatapnya!” ujarnya dingin.


Tak terkecuali Vino, seluruh anak buah Kenzo menunduk ketakutan saat aura iblis Kenzo seolah hadir ditengah mereka.


“Awas kalau berani lagi, akan ku congkel mata kalian.”


Vino dan Tio yang sudah mendapatkan imbasnya kemarin, tidak ingin ikut-ikutan lagi dalam masalah berat ini. Keduanya fokus pada laptopnya, meski sebetulnya tidak begitu fokus juga.


“Tino, sebelum jalan makan dulu.”


Inilah sisi terang seorang Kenzo Fabiandi Sagara, walaupun kejam diluar sebetulnya Ia begitu perhatian pada anak buahnya.


Tini tanpa mengangguk atau merespon lagi, langsung mengambil makanan dan memakannya bak kelaparan setahun.


“Apa dia tidak pernah makan?”


Pertanyaan Tio yang secara tiba-tiba itu, membuat tawa Bita dari kolam menggelegar mendekati mereka.


“Saudara setan kau, “ ujarnya.


Tak hanya Bita, Kenzo juga ikut terkekeh membuat semuanya bernafas lega melihat hal tersebut. Namun sayang, itu hanya berlangsung beberapa menit saja ketika Zahra mendekat semuanya menjadi terdiam.


“Tempat ini begitu indah, “ ujar Zahra mendekat.


Kenzo langsung menatap semuanya, membuat mereka tertunduk saat Zahra sudah berada di depannya. Bita yang melihat hal itu, mengangga tak percaya dengan tingkah tuannya.

__ADS_1


“Zahra, apa kau punya kekasih?”


Seolah menantang maut, Bita sengaja menanyakan hal itu. Jujur saja, Ia begitu penasaran dengan hubungan gadis itu dengan Kenzo.


Seluruh pria yang berada dalam ruangan tersebut, menelan kasar salivanya sedikit melirik kearah Kenzo. Dan yah bisa di tebak saudara-saudara, Ekspresi wajah Kenzo sudah tidak lagi bersahabat.


“Punya, “ jawab Zahra antusias.


“Siapa?!” teriak Tio tidak nyaman dengan keadaan saat ini.


“Aku memanggil Ken, entah dimana dia? Aku tidak tau.”


Kenzo yang awalnya memasang wajah masam, terbelak kaget dengan ucapan Zahra tanpa terkecuali seluruh pasukannya. Tidak di ragukan lagi, dia benar-benar Jasminenya Kenzo.


“Jika dia di sini, mau kau apakan dia?” tanya Vino, melirik Kenzo sekilas.


“Akan ku peluk, terus bilang aku kangen dan sangat menderita saat kehilanganmu, udah gitu aja.”


Mendengar penuturan Zahra, hati Kenzo seperti teriris. Ia sama sekali belum bisa mengatakan yang sebenarnya, Zahra akan menjadi sasaran empuk musuhnya nanti.


“Apa kau tidak marah padanya?” tanya Kenzo lagi.


“Marah yah, aku belum memikirkan hal itu.”


Ada rasa khawatir yang terselubung dalam diri Kenzo, Ia takut jika saatnya tiba Zahra tidak akan menerimanya.


Tidak ada lagi pembicaraan berlanjut setelah itu, Bita dan juga Zahra malah sudah sibuk dengan salah satu laptop yang tidak terpakai di sana.


Michael dan Ciko, berjalan saling mendahului menemui salah satu rekan bisnisnya di sebuah cafe di sana. Kehadiran keduanya, di sambut hangat oleh Imron rekan bisnis hasil rebutan Michael dari Kenzo tentunya.


“Hallo Mr.Imron, apa kabar?” basa basi Michael menyambut tangan Imron yang sudah terulur ke hadapannya.


Tidak ingin membuang waktu berharganya, Michael mengeluarkan berkas kerjasamanya lalu menyodorkan pada Imron.


“Anda setuju dengan penawaran saya?”


Imron tampak melihat lama berkas itu, Ia sangat teliti dalam semuanya. Jadi, Michael harus menunggu sebentar lagi sebelum akhirnya keputusan di ambil.


“Saya setuju, “ putusnya membuat senyuman mengambang pada bibir Michael.


“Senang bekerjasama dengan anda.”


Michael menyodorkan tangannya, langsung disambut Imron dengan sedikit senyuman terangkat. Setelah selesai bersalaman, Michael mengangkat tangannya mengisyaratkan agar Ciko membereskan berkas-berkas tersebut.


“Maaf Michael, saya tidak bisa lama. Istri saya sudah menunggu.”


Michael yang tidak bisa berbuat apa-apa lagi, hanya mengangguk pasrah ketika Imron sudah bangkit dari tempat duduknya berjalan keluar dari kafe itu.


“Sebentar lagi Kenzo, “ gumam Michael menatap kepergian Imron.


“Tuan, apa kita langsung pulang?”

__ADS_1


Michael tersadar dari lamunannya, menatap Ciko lalu bangkit dari duduknya.


“Tidak Ciko, kita harus mengunjungi tempat itu.”


Setiap setahun sekali, Michael pasti akan ke sana.


Michael melangkahkan kakinya, menuju mobilnya. Tak mau ketinggalan, Ciko juga mengikuti langkah kaki tuannya. Setelah sudah berada di dalam Ciko melajukan mobilnya menuju tempat yang di maksud Michael tadi.


Jantung Michael berdebar kencang, ketika maniknya menangkap tumpukan reruntuhan bangunan pada tempat itu. Hatinya hancur, mengingat kejadian kelam itu.


“Apa kabar? Mike merindukan kalian, aku harap kalian tenang di sana. Sebentar lagi, aku akan menemukan Zaza.” Batinnya.


Tanpa disadarinya, bulir-bulir bening itu meluncur begitu saja dari maniknya. Mau berbohong seperti apapun, tetap saja bisa di tebak jika Michael begitu sedih saat ini.


Tak ingin mengganggu Michael, Ciko memilih pergi dari sana meninggalkan tuannya sendiri. Dari kejauhan, Tino yang melintasi tempat itu menghentikan laju mobilnya saat melihat sosok Michael di sana.


“Aku harap, permusuhan itu cepat berakhir, “ gumam Tino.


Seperti harapan Tino saat ini, Kenzo pun mengharapkan hal yang sama namun, kebencian dalam diri Michael begitu besar. Sehingga dirinya begitu sangat ingin menghancurkan Kenzo, bagaimana pun caranya.


Tino kembali melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut, Ciko yang sedari tadi memperhatikannya menarik nafas lega ketika Tino tidak berbuat hal isama sekali tidak diinginkannya.


Sama seperti Michael, Zahra yang teringat akan sesuatu yang paling berharga dari dalam dirinya berjalan meninggalkan tempat itu. Kenzo yang menjadi bingung, ikut melangkah mendekati Zahra yang sudah tiba di kursi paling sudut ruangan itu.


“Ada apa?” tanya Kenzo lembut.


Tak menjawab pertanyaan Kenzo, Zahra hanya menatap kearah depan tanpa ekspresi. Kenzo yang panik akan hal itu, menarik Zahra masuk dalam dekapannya.


“Zahra, “ ujar Kenzo lagi, dengan suara selembut mungkin.


Zahra melepaskan pelukan Kenzo, sedikit menundukkan kepalanya saat melihat tatapan Kenzo.


“Maaf, “ ujarnya.


“Kenapa meminta maaf?”


Zahra yang sadar akan hal itu, menggelengkan kepalanya cepat. Ia merasa dirinya seperti orang konyol saja, untuk apa meminta maaf?! Jelaslah Kenzo bingung.


“Kau baik-baik saja?”


“Hari ini, hari yang sama dimana aku mendapat kabar kedua orang tua ku meninggal, “ ujarnya.


Bagai tersambar petir, jantung Kenzo berdetak tak karuan saat kata-kata Zahra menembus pendengarannya.


.


.


.


Hai pembaca setiaku...

__ADS_1


Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.


Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.


__ADS_2