
Ketika melihat kehadiran Vino yang tengah memungut sendal Kenzo, Arnia sedikit bingung dengan outfit pria tersebut.
“Mau kemana rapih begitu? “ ujarnya bertanya.
Vino sedikit memijit pelipisnya, menatap wajah Arnia dengan senyuman yang terukir di bibirnya.
“Mau jalan, Sama Bita, “ jujurnya.
Arnia merespon ucapan Vino dengan senyuman, pasalnya Ia sudah lama menyuruh Vino mengajak Bita jalan. Namun, anak itu selalu saja menolak dan lebih memilih pekerjaannya.
“Apa kau sudah sadar?”
Vino sedikit mengangguk, menggaruk tengkuknya kepalanya yang tidak gatal. Ketika Bita menghampirinya, Arnia langsung pergi dari sana.
“Hai, “ canggung Bita.
Vino menatap Bita lekat, tanpa berkedip sedikit pun. Bita semakin malu dengan tatapan Vino, menundukkan kepalanya tidak berani menatap pria itu.
“Ayok, “ ujar Vino Menyodorkan tangannya.
Masih tidak ingin menatap wajah Vino, Bita dengan malu-malu pus menerima uluran tangan Vino. Keduanya beriringan menuju parkiran.
Zahra yang sudah selesai menyiapkan air hangat untuk Kenzo, menunggu pria itu di dalam kamar. Yah, karena pria gila itu sudah mengunci pintu tak membiarkannya keluar.
Brum
Suara mobil yang dikendarai Vino maupun Bita, melaju keluar parkiran. Zahra membaringkan tubuhnya di ranjang Kenzo, sembari menarik nafasnya panjang.
“Cari om-om di tinder ah, siapa tau mereka mau di ajak kencan lagi?!” gumamnya.
Sedikit Shyok, Kenzo memegang dadanya mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Zahra. Ia membuang handuknya di atas wajah Zahra, berjalan menuju kaca.
“Tuan Kenzo!” terika Zahra kesal.
“Apa?!”
Seolah tidak punya dosa, Kenzo melipat kedua tangannya menantang Zahra. Dilantai rasa kesal begitu membara dalam dirinya, Zahra membalas perbuatan Kenzo dengan melemparkan handuk tadi tepat pada wajah tuannya.
“Berani kau padaku?!”
Zahra bangkit dari tempat tidur, berlari masuk kedalam ruang ganti Kenzo. Tawa menggelegar di penjuru kamar, mewarnai aksi kejar-kejaran keduanya.
“Sudah deh, aku capek.”
Akhirnya salah satu dari mereka menyerah, dengan nafas sedikit memburu Zahra mendekati bibir ranjang meletakkan bokongnya di sana.
Matanya sedikit melirik ruangan itu, kembali menatap lekat wajah Kenzo.
“Aku ingin bertanya sesuatu tuan,” ujarnya.
Kenzo yang awalnya sibuk dengan ponselnya, berbalik menatap Zahra dengan senyuman yang mengambang.
“Katakan, ada apa?”
“Apa anda tidak menyembunyikan sesuatu dari saya?”
Wajah Kenzo yang awalnya tersenyum cerah, berubah menjadi datar ketika mendengar pertanyaan Zahra yang begitu tiba-tiba.
“Memangnya siapa kau? Untuk apa juga aku menyembunyikan sesuatu darimu?!” judes Kenzo.
__ADS_1
Zahra sedikit terpukul, benar juga apa yang di katakan Kenzo. Dia hanyalah babu di sini, kenapa harus menanyakan hal bodoh itu.
“Maafkan aku, “ ujarnya.
Kenzo sama sekali tidak memperdulikan perkataan Zahra, Ia bangkit dari duduknya berjalan keluar menuju balkon. Ada sedikit tetesan air mata, mengalir dari pelupuk mata Zahra.
“Aku pikir, kau adalah Ken.” Sembari menyeka tangisannya, Zahra bangkit dari tempat tidur berjalan keluar kamar Kenzo.
...***...
Vino menepikan mobilnya, ketika keduanya tiba di sebuah Taman. Sembari bergandengan tangan, Vino membawa Bita menuju tempat itu.
Keduanya sekarang duduk di kursi panjang taman, memandang orang-orang yang sedang bersenang-senang. Vino mengeluarkan sebungkus ice cream, menyerahkan pada Bita.
“Ice cream?” tanya Bita.
“Maaf, aku tidak pandai membelikan makanan untuk seorang wanita,” ujarnya.
Ada sedikit senyuman yang terukir pada bibir Bita, Ia mengambilnya dari tangan Vino lalu memakannya.Bita yang tengah memakan eskrim tanpa ia sadari ada selai coklat menempel di pipinya. Vino yang menyadarinya langsung mengelapnya dengan tisu yang selalu ia bawa kemana-mana,tisu beralas kecil.
Melihat sentuhan Vino pada pipinya, Bita sedikit terpukau tanpa suara memberikan pria itu mengusap pipi chubbinya.
“Maaf, ada coklat di sana.” Vino membalikkan tubuhnya tak menatap Bita lagi.
Canggung, yah itulah yang sedang keduanya rasakan saat ini. Sedikit ada rasa kecewa dalam diri Bita, ketika Vino berpaling darinya.
“Kau mau? Coklatnya enak, “ Bita menyodorkan ice cream, mencoba menawarkan pada pria kaku di sampingnya itu.
“Kau saja yang makan, “ ujar Vino sedikit menolak.
Bita tersenyum pahit, memilih menghabiskan dalam sekali lahap. Ia berjalan mendekati tong sampah, membuang bungkus ice cream tadi.
“Kencan apa-apaan ini, “ ocehnya pelan.
“Maafkan aku, “ ternyata, Vino pelakunya.
Jantung Bita yang awalnya tenang, berdegup kencang saat tangan Vino terlilit pada pinggang rampingnya.
“Ayok!”
Mendengar ajakan Vino, Bita hanya pasrah ketika tangannya di tarik pria itu kembali ke mobil. Apa mereka akan pulang? Wah kencan yang tidak sesuai ekspektasi.
“Kita akan pulang?”
Sama sekali tidak ada jawaban dari Vino, Ia hanya tersenyum menanggapi perkataan Bita yang sudah ada dalam mobilnya. Setelah Vino sudah di samping Bita, mobil itu kembali melaju meninggalkan taman.
“Lebih baik, tadi aku nggak usah mau.” Batin Bita kesal.
Matanya sama sekali tidak mau menatap Vino, pandangannya hanya tertuju kearah luar mobil. Dalam perjalanan, sama sekali tidak ada percakapan di antara keduanya. Namun, Vino sesekali mencuri pandang kearah Bita lalu tersenyum.
“Ayok turun, “ ajak Vino.
Bita yang awalnya tidak ingin menatap Vino, harus mengalihkan pandangannya ketika mendengar perkataan Vino. Apa lagi, tempat dimana Vino menghentikan mobilnya membuat mata Bita membulat sempurna.
Sembari menggandeng tangan Bita, Vino melangkah masuk kedalam sebuah restoran mewah. Bisa Bita lihat, di sana sama sekali tidak ada pengunjungnya.
“Hallo tuan Vino, maaf anda harus menunggu.” Seorang writers menghampiri keduanya.
“Hmm.” Dingin, tentu saja, Vino adalah duplikat sempurna seorang Kenzo Fabiandi Sagara.
__ADS_1
“Mari saya antar.”
Sembari didahului oleh writers itu, Vino menggenggam erat tangan Bita menuju meja yang sudah di siapkan pihak restoran itu.
Bita yang awalnya kesal, terpukau kagum melihat tempat itu. Dengan didominasi warna putih, serta sedikit hiasan bunga membuat tempat itu begitu sangat memanjakan mata.
“Kau suka?” tanya Vino tepat di telinga Bita, ketika hendak menarik kursi agar Bita duduk.
Sama sekali tidak ada suara dari Bita, hanya anggukan kepala dan juga senyuman yang diterima Bita. Setelah dipastikan Bita sudah duduk, Vino berjalan ke tempatnya berhadapan dengan Bita.
“Kau menyiapkan semua ini?”
“Tidak sepenuhnya, ini ada campur tangan dari Tuan muda juga.”
“Luar biasa, “ kagum Bita.
Vino menarik senyumannya, tanpa di ketahui oleh gadis di hadapannya dengan lancangnya Vino mengambil beberapa gambar Bita tanpa izin.
“Ini menunya tuan, “ seorang pelayan menghampiri keduanya, menyodorkan menu kehadapan mereka.
“Mau pesan apa?”
Mata Bita membulat sempurna, seluruh makanan itu harganya begitu fantastis.
“Apa ini tidak kemahalan?”
Vino tersenyum kecil, “Dua US Prime Rib Eye Steak.”
“Tingkat kematangannya tuan?”
“Medium.”
“Dessertnya?”
“Berikan yang terbaik di restoran ini.”
Bita hanya menganga dengan pembicaraan Vino dan juga pelayanan itu. Ia, sama sekali tidak mengerti apa yang mereka ucapkan.
“Bita, “
Bita berbalik menatap Vino, saat namanya disebut oleh pria itu.
“Jadilah kekasihku, “ ucapnya.
Bita sedikit terkejut akan perkataan Vino namun, Ia tersenyum dan mengangguk kecil mengiyakan perkataan Vino. Vino ikut tersenyum, bangkit dari duduknya berjalan kearah belakang Bita.
Sebuah kalung indah, terlilit di leher jenjang Bita. Bita hanya bisa mematung, tidak berani berkata apa-apa lagi.
“Nafas aku habis!” batin Bita menjerit dengan perlakuan Vino.
.
.
.
Ceelah, Vino bisa aja nih🤣🤣
Hai pembaca setiaku...
__ADS_1
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.