My Posesif Bos

My Posesif Bos
Penyerangan Mira


__ADS_3

Selepas keributan pagi tadi, Kenzo sudah bersiap-siap menuju kantor.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Pria tampan itu berjalan dengan gagahnya menuju parkiran.


Saat melewati ambang pintu, Kenzo berpapasan dengan Zahra yang baru kembali dari taman.


Melihat senyuman mencurigakan dari wajah Zahra, Kenzo menutup hidungnya.


"Dih, PD banget mau di cubit hidungnya. "


tawa Tio menggema mendengar penuturan Zahra. Mendapat tatapan tajam dari Kenzo, seketika Tio berhenti tertawa.


"Ya bisa saja dirimu melakukan itu, " ujar Kenzo dengan tangan yang masih menutupi hidungnya.


"Dih, " ledek Zahra julit.


Sembari mendapat tatapan intimidasi dari Kenzo, gadis itu melangkah masuk. Namun, dengan sedikit menyenggol tubuh Kenzo pastinya.


"Ayolah tuan, ini sudah sangat telat! " ujar Tio sedikit berteriak.


Sepertinya semenjak Zahra tinggal di rumahnya, anak buahnya menjadi sangat berani padanya.


"Berhentilah berteriak, " ujar Kenzo.


Dasar tidak tau diri, Ia saja sering berteriak tidak jelas kepada anak buahnya.


Setelah Kenzo sudah berada dalam mobil, Tio melaju membelah jalanan kota menuju Sagara grup.


Sedangkan Vino, sudah hampir sejam mendahului Kenzo ke Sagara grup.


Dalam perjalanan, Tio terpaksa mengambil rute melewati jalan yang pemukimannya kurang, sebab jalanan umum yang biasa di lewati sudah sangat macet.


Yah, hal itu juga pastinya atas perintah Kenzo, karena pria itu harus berada di kantor sebelum jam sepuluh.


"Anda yakin tuan? "


Tio bertanya seperti itu, sebab jalanan yang kali ini benar-benar sepi tidak ada orang.


"Sudah hampir dua puluh ribu orang yang bunuh Tio, " ujar Kenzo.


Kenzo sadar, Tio sepertinya risau mengambil jalanan itu.


Dan benar saja, kekhawatiran Tio bukanlah tanpa alasan. Beberapa geng motor sudah menghadang jalan mereka, dengan masing-masing membawa benda tajam.


"Ahh, bakal capek banget hari ini, " ujar Tio memukul stir mobil.


"Berhentilah memukul mobilku yang tidak bersalah, cepat turun! "


Dengan sangat amat berat hati dan terpaksa, Tio keluar dari mobil.


"Ada apa ini?! " tanya Tio.


Karena kesabaran setipis tissue, nada bicara Tio sudah meninggi.


"Ada izin dari mana kalian bisa melewati jalan ini? "


Bukannya menjawab, salah seorang dari perompak itu balik bertanya.


Tio menarik nafasnya panjang, mengeluarkan pisau lipat dari balik kaos kakinya.


"Kalian mau menyingkir, apa mau mati?! "


Nada suara Tio sudah menggebu-gebu, dengan bersusah paya Tio menahan emosinya. Namun sayang, amarah dalam dirinya sudah lebih dahulu menguasainya.

__ADS_1


Karena di pancing dengan teriakan Tio, para bandit itu mulai menyerangnya.


"Argh! " ringis salah seorang musuh, ketika pisau Tio menembus tubuhnya.


Seketika itu juga, seluruh pasukan bandit itu mengepung Tio. Kenzo yang melihat hal itu, bukannya membantu Ia malah sibuk dengan ponselnya.


Bruk


Bunyi paduan pukulan dari Tio, menghiasi indahnya perkelahian itu. Kesal karena musuhnya terus bertambah, Tio mengeluarkan senjata apinya.


Suara tembakan yang di ciptakannya, menggelar di seluruh penjuru jalanan itu.


Hampir separuh musuh-musuh itu, sudah terkapar tak bernyawa.


Kenzo sedikit melirik jam tangannya, menarik nafasnya panjang. Pria itu melepas jasnya, membuka pintu mobil keluar membantu Tio.


"Pekerjaan sekecil ini saja kau tidak bisa selesaikan dengan cepat, " oceh Kenzo.


Seolah mendapat mangsa baru, bandit-bandit tadi mulai memecah menjadi dua kubuh.


"Punya teman juga loh! " ujar seorang musuh meremehkan.


Kenzo mengeluarkan senjata apinya, mengarahkan kearah pria yang berbicara tadi. Dengan satu tarikan pelatup, nyawa pria tersebut sudah tidak ada pada tubuhnya lagi.


Dor


Masih dengan bunyi yang sama yaitu suara tembakan yang beradu, Kenzo dan juga Tio berhasil menghabisi nyawa mereka.


"Siapa mereka? "


Sembari berjalan menuju mobilnya, Kenzo melontarkan pertanyaan kepada Tio.


"Mereka orang suruhan Mira. "


Kenzo menarik senyumannya, mengenakan kembali Jasnya ketika sudah berada dalam mobil.


Tio melajukan mobilnya, meninggalkan tempat tersebut.


Mira yang saat ini sudah mendapat kabar tentang orang-orang suruhan, menjadi murka.


"Kenapa bisa gagal, itu di tempat sepi! Dasar bodoh! " umpatnya memaki salah seorang anak buah ayahnya yang tidak becus dalam bekerja.


"Maaf Nona, tapi musuhnya itu Fabiandi Sagara. Sudah pasti mereka tewas, " jelas anak buah Mira.


"Beraninya kau menjawab! "


Plak


Satu tamparan mendarat sempurna pada pipi anak buahnya yang bernama Leri.


Merasakan panas pada pipinya, rahan Leri mengeras. Jika bukan saja anak bosnya, Leri pasti sudah menghabisi gadis itu.


"Sana, pikirkan cara untuk menghancurkan Kenzo! " usir Mira.


Dengan penuh amarah dalam dirinya, Leri bergegas meninggalkan kamar Mira.


"Dasar ja lang! " umpat Leri ketika kakinya menginjak ambang pintu.


...***...


Michael tertawa terbahak-bahak, mendengar tentang Mira yang mencoba menghabisi Kenzo.


"Apa dia benar-benar bodoh seperti ayahnya, " ujar Michael.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan suruhannya itu Ciko? "


Tak menjawab pertanyaan Michael, Ciko meletakkan beberapa gambar di atas meja Michael.


"Yah tentu saja mereka mati, " ujar Michael.


"Tuan, ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan. "


"Katakan. "


Ciko mengeluarkan ponselnya dari dalam kantong celananya, menyerahkan benda pipi kepada Ciko.


"Aku sempat melihat gadis yang mirip dengan nona muda, " ujar Ciko.


Wajah Michael yang tadinya penuh senyuman, berubah terkejut saat melihat sosok gadis dalam foto yang di tunjukan Ciko.


"Dimana kau melihatnya Ciko? "


Nada suara Michael sudah tidak bisa di kontrol lagi. Dengan menggebu-gebu, Pria itu menatap tajam wajah Ciko.


"Di sekitaran gereja katedral."


Jantung Michelle berpacu kencang, meski hanya punggungnya yang terlihat dalam gambar itu, Michael sudah bisa menyimpulkan dia adalah gadis yang di carinya selama ini.


"Bagaimana wajahnya sekarang Ciko? apa masih seperti dulu? "


pertanyaan beruntun dari Michael membuat Ciko tidak bisa menjawab. Sebab, yang di lihatnya waktu itu hanya sekilas.


"Saya belum bisa memastikan tuan. "


"Tidak Ciko, ini benar dia."


Micheal terus menatap foto itu, tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel Ciko.


Tanpa di sadarinya, bulir-bulir bening meluncur begitu saja dari kelompok matanya. Ciko seketika memalingkan wajahnya, sudah hampir belasan tahun Ia bersama Michael baru kali ini Ia melihat pria yang begitu tegar meneteskan air matanya.


"Akhirnya, aku menemukanmu hahaha, " ujar Michael.


"Ciko, sebar seluruh anak buahmu. temukan di segera. "


"Tuan, aku mengerti keadaan anda. Tapi, sepertinya kita harus menundanya dalam beberapa hari lagi, " jelas Ciko.


Michael mengalihkan pandangannya, menarik kasar kerah Ciko. Berani-beraninya, anak buahnya itu membantah perintahnya.


"Apa kau berusaha membantah perintahku?! "


Ciko dengan segera, menggelengkan kepalanya.


"Saya tidak bermaksud seperti itu tuan. Tapi, jika kita bergerak mencarinya sekarang Xio Lang pasti akan mengetahui semuanya. Hal itu, akan sangat rawan bagi nona muda nantinya. "


Mendengar penjelasan panjang dari Ciko, Michael melepaskan kerah baju pria itu.


Apa yang di katakan Ciko ada benarnya, Jika Kenzo yang mengetahui hal itu Ia tidak akan mungkin menyakitinya. Tapi jika si sipit bodoh itu, pasti nyawa wanita yang di carinya selama ini akan sangat dalam bahaya.


"Baiklah, tapi kau harus segera melapor jika sudah menemukannya."


Dengan begitu antusias, Ciko mengangguk mengiyakan perkataan Michael.


"Bersabarlah sayang, aku akan menjemputmu sebentar lagi." batin Michael.


.


.

__ADS_1


.


Please 🙏 kalau mampir tinggalin jejak dong biar aku tau ada yang baca ❤️


__ADS_2