My Posesif Bos

My Posesif Bos
Kekanak-kanakan


__ADS_3

Mira mengendap-endap menuju keluar, menemui seseorang yang sudah menunggunya di depan gerbang rumahnya.


“Dimana berkas itu!”


Sedikit memperhatikan sekelilingnya, setelah di rasa aman Mira mengeluarkan sebuah berkas menyerahkan kepada seorang pria yang tak lain adalah James salah seorang musuh Xio Lang.


Setelah selesai, Mira kembali ke dalam dan James pun berlalu dari sana. Mira sama sekali tidak menyadari, saat ini Xio Lang sedang memantaunya dari cctv.


“Sudah kalian tukar berkasnya?” Xio Lang mendapat anak buahnya.


“Sudah bos.”


Ada sedikit senyuman terukir di bibir Xio Lang, ketika mendengar jawaban yang memuaskan itu. Ia bangkit dari duduknya, berjalan meninggalkan ruangan itu.


“Dari mana kamu?” Xio Lang menghampiri Mira yang baru saja memasuki ruangan tamu.


Seolah tertangkap basah, Mira bingung harus menjawab apa sekarang. Dengan sedikit gugup, Ia mendekati pria itu.


“A-aku, habis mencari udara, “ bohongnya.


“Apa kau sedang tidak membohongiku, Mira?”


Tubuh Mira sedikit bergetar. Dari nada bicara Xio Lang, pria itu seperti mengetahui apa yang tadi Mira lakukan di depan gerbang depan.


“Mana mungkin aku membohongi mu, “ ujar Mira mendekati Xio Lang.


Seolah jijik akan tingkah centil Mira, Xio Lang berlalu begitu saja membuat Mira sedikit menarik nafasnya lega.


“Awasi dia!” titah Xio Lang, agar Mira terus di awasi.


Ia punya maksud lain menyelamatkan gadis itu, bukan karena ada ketertarikan melainkan sebuah rencana yang di siapkannya untuk menghancurkan Kenzo.


...***...


Hari semakin gelap, selesai dengan meeting singkat yang di lakukannya Kenzo dengan dibuntuti Vino menuju parkiran.


“Tuan!” teriak seorang gadis.


Ketika mata Kenzo sedikit melirik, ternyata Rika sudah mendekatinya. Entah apa yang wanita itu inginkan, Kenzo sendiri juga bingung.


“Motor saya mati, bisa saya nebeng?” Rika sudah memegang tangan Kenzo, sembari menatap manja mencoba menggodanya.


Vino sedikit geli, berjalan mendekati Kenzo dan juga Rika. Namun, ketika melihat tangan Kenzo yang menghentikan langkahnya, Vino tidak melanjutkan langkahnya lagi.


“Benarkah kau ingin ikut denganku?”


Kenzo sedikit menarik dagu Rika lembut, membuat Rika tersenyum senang karena kali ini tidak di tolak Kenzo. Dengan senyuman terukir di bibirnya, Rika mengangguk mengiyakan perkataan Kenzo.


Bruk


Dalam beberapa menit berikutnya, tubuh Rika sudah berada dilantai parkiran. Kenzo mengambil tissue basa dari Vino, membersihkan tangannya.


“Jika masih ingin tetap bekerja di sini, jaga sikapmu!” peringat Kenzo dingin.


Kenzo memasuki mobil yang diikuti Vino, keduanya melaju meninggalkan Rika yang sudah terbakar api amarah dalam dirinya.

__ADS_1


“Awas kau!” geram Rika, dengan mata yang terus menatap ke arah mobil Kenzo yang sudah menjauh.


Dalam perjalanan, Kenzo tak henti-hentinya mengoceh memarahi Vino. Sedangkan Vino, pasrah dengan keadaannya sekarang.


“Kenapa wanita seperti itu ada di kantor saya?!”


“Tuan, bukannya waktu itu anda yang meminta persyaratan seperti itu?”


Kenzo seketika terdiam. Benar sih, waktu itu sebelum bertemu Zahra pria itu memberikan persyaratan-persyaratan konyol, bagi siapa yang melamar di perusahaannya harus seksi dan sedikit menggoda.


“Tetap saja salahmu!” bentak Kenzo tak mau mengakui kesalahannya.


“Dasar kekanak-kanakan.”


“Apa katamu?!”


Vino sama sekali tidak berani bernafas lagi, Ia terus melajukan mobil sampai memasuki parkiran rumah Kenzo.


“Kau yang kekanak-kanakan!” ujar Kenzo sesaat sebelum akhirnya meninggalkan mobil itu.


“Tidak sadar diri, “ umpat Vino dan,


Puk


Sebuah sepatu melayang hampir mengenai wajahnya. Vino bukannya mengambil sepatu itu, Ia malah menendangnya lagi semakin menjauh.


Kaki Kenzo melangkah masuk kedalam rumah, ketika melewati ruang tamu matanya menangkap Arnia yang sedang menonton televisi. Namun, bukan Omanya yang di cari melainkan Zahra.


“Oma, Kemana Zahra?”


Tak ada jawaban dari Arnia namun, telunjuknya mengarah kearah dapur. Sama sekali cucu setan, bukannya berterima kasih Kenzo malah mematikan televisi dengan jahilnya lalu berlari menuju dapur.


Zahra yang kebetulan sendirian di dapur, berlari keluar ketika suara Arnia menggelegar di seluruh ruangan. Tanpa di sengaja, Zahra menumpahkan cikinya saat bertubrukan dengan Kenzo di depan pintu.


“Ciki Zahra!” hebohnya.


Sama sekali tidak ada rasa bersalah dari Kenzo, Ia malah tertawa terbahak-bahak meledek gadis di depannya.


“Itu karma, siapa suruh nggak tunggu saya di depan pintu, “ ledek Kenzo.


“Memangnya saya istri tuan?!” oceh Zahra, sembari memunguti remahan makanan yang sudah terjatuh di lantai.


“Kode nih ceritanya.”


Mbok Ina yang memasuki kawasan tersebut, sedikit menggoda keduanya. Kenzo langsung tersipu malu, sedang Zahra memutar bola matanya malas.


“Saya nggak mau sama cowok jorok.”


Zahra melangkah keluar dari sana, menuju kamarnya yang sudah ada Bita sedari tadi di sana. Seolah tertampar, terjungkal, terguling-guling dengan perkataan Zahra, Kenzo terdiam sebentar menatap mbok Ina.


“Mulai sekarang, ayok rajin bersih-bersih biar dia mau dinikahi.”


Seolah mendapat dukungan dari Mbok Ina, Kenzo yang tanpa ekspresi berlari mengejar Zahra setelah membuang sembarang tas kerjanya.


“Bagaimana Zahra mau? Baru beberapa menit dicibir, dia sudah berulah lagi, “ ucap Mbok Ina menarik panjang nafasnya.

__ADS_1


Ketika Zahra membuka pintu kamarnya, Ia sedikit tercengang ketika melihat Buta yang sudah kayang di sana.


“Sedang apa kau?!” judes Zahra, seolah tak terima kamarnya di huni Bita.


“Menunggumu.” Bita memperbaiki posisinya, mendekati Zahra dengan senyuman mengambang.


“Kenapa?” heran Zahra, dengan ekspresi wajah Bita yang menggelikan menurutnya.


“Hehehe, aku di ajak jalan Vino.”


Zahra yang awalnya tidak perduli akan gadis itu, membulatkan matanya sempurna ketika mendengar perkataan Bita.


“Kapan?malam ini?”


Pertanyaan beruntun dari Zahra, langsung disambut anggukan sekaligus senyuman dari Bita.


“Tunggu apa lagi? Sana siap-siap!” titah Zahra.


Dengan mengangguk pelan, Bita berjalan sembari melompat kecil keluar dari kamar Zahra penuh bahagia.


“Aku merindukanmu Ken, “ ujar Zahra.


Melihat kebahagiaan Bita, Zahra ikut senang. Dari cerita Mbok Ina,baik Bita maupun Vino keduanya sudah lama saling menyimpan rasa. Namun, mereka harus mengesampingkan itu demi pekerjaan keduanya.


Kenzo juga tidak mempersoalkan hal itu, selama mereka bisa profesional Ia sama sekali tidak melarang. Namun, keduanya sama sekali tetap tidak mau mengakui perasaan mereka satu sama lain.


Sedari tadi awal pembicaraan Bita dan Zahra, Kenzo mendengar semuanya. Dan ketika mendengar ucapan Zahra, hatinya sedikit sakit.


“Airku sudah siap?” Kenzo memasuki kamar Zahra.


Zahra langsung bangkit dari tempat tidur, sembari menggelengkan kepalanya berjalan keluar menuju kamar Kenzo dengan sedikit berlari. Kenzo kembali menarik nafasnya panjang, Ia harus berlari lagi mengejar gadis itu.


Arnia yang sudah merasa risih dengan kedua makhluk tersebut, memukul meja keras menghentikan langkah keduanya.


“Tenang begitu kan enak, “ ujar Arnia kembali duduk.


Kenzo memeluk Zahra, memasukkan kepala gadis itu kedalam jasnya berjalan pelan.


“Diam, nanti kita dimakan singa, “ bisik Kenzo.


Zahra melepaskan tawanya, mengangguk patuh pada apa yang diucapkan Kenzo. Arnia yang mencoba tidak peduli pada keduanya, ikut tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan cucunya.


“Kekanak-kanakan, “ ujarnya.


“Yah benar sekali.”


Entah dari mana datangnya, Vino sudah ikut nimbrung bersama Arnia di depan televisi menatap geli kedua insan itu. Lagi dan lagi, wajahnya menjadi sasaran empuk dari sebuah sendal yang diluncurkan Kenzo dari atas.


.


.


.


Hai pembaca setiaku...

__ADS_1


Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.


Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.


__ADS_2