
Tio yang baru saja mendapat informasi tentang perampokan yang dilakukan Michael, memantau setiap media agar nama Kenzo bersih dari hal yang sama sekali tidak merek lakukan.
“Sudah kau pastikan semua media?” tanya Kenzo, saat kakinya sudah berada dalam ruang tamu menemui Tio.
“Aman tuan.”
Kenzo mengangguk mengerti, kemudian melirik kearah dapur. Di sana, ada Bita dan juga Zahra bersama seorang pengawalnya tengah asik bercanda ria.
“Haha, masuk dimana loh? Muka hitam begitu, “ ledek Bita menertawakan Zahra.
Tak mau ambil pusing dengan ucapan Bita, Zahra melangkah mendekati tissue di meja mengusap keningnya yang sempat terkena bokong panci.
“Zahra, bawakan segelas air!”
Seperti biasanya, suara Kenzo akan melambung tinggi ketika melihat sosok Zahra muncul dalam maniknya. Zahra menghentikan kegiatannya, menuangkan segalas air lalu berjalan mendekati Kenzo dengan kening yang masih hitam.
Tanpa suara, Zahra menyodorkan air kehadapan Kenzo. Matanya tertuju pada atas meja, di sana ada beberapa photocard yang baru di lihatnya.
“Ada apa dengan keningmu?”
Tak menjawab pertanyaan Kenzo, Zahra justru mendekati meja yang berada dihadapan Kenzo dan Tio, mengambil photocard itu.
“Ini, punya siapa?” tanya Zahra.
Kenzo dan Tio mengikuti telunjuk Zahra kearah meja, keduanya saling bertatapan sekilas lalu Tio kembali fokus pada pekerjaannya.
“Kau boleh memilikinya, asal jawab dulu. Ada apa dengan keningmu?”
“Dicium panci tadi, “ jawab Zahra.
Kenzo mengangguk mengerti, Zahra dengan segera mengambil photocard itu berlari kegirangan menuju kamarnya. Selepas kepergian Zahra, Kenzo dengan memegang gelasnya bangkit berdiri.
“Bita, buang panci yang tadi mengenai kepala Zahra tadi!” teriaknya.
Tio menganga lebar tak percaya dengan apa yang di dengarnya, Kenzo begitu sangat tidak ingin apapun menyentuh Zahra kecuali dirinya.
Mbok Ina yang baru saja kembali dari taman, mendekati Bita menatap gadis itu bingung dengan maksud ucapan Kenzo.
“Bita! Kau ingin membuangnya atau aku akan membakar dapur itu?!”
Mendengar suara Kenzo yang terdengar tidak bersahabat lagi, Bita dengan segera berlari mengambil panci yang tadi sempat mengenai kening Zahra membawanya keluar.
“Apa ini?! Dia cemburu dengan sebuah panci!” batin Tio.
Tio masih menganga tak percaya dengan sikap kekanak-kanakan Kenzo, di kantor Ia begitu dingin namun ketika dirumah bertemu Zahra Ia begitu posesif.
Vino yang sedari tadi di kolam, bangkit dari duduknya berjalan mendekati Bita yang membawa panci itu menuju tempat sampah.
“Kenapa di buang?” tanya Vino.
“Lebih baik dibuang, jika tidak dapur akan di bakar.”
Seolah paham dengan apa yang dikatakan Bita, Vino dengan segera bergegas masuk kedalam rumah. Benar saja, semuanya kini menundukkan kepala mendengar ocehan Kenzo.
__ADS_1
“Ada apa tuan?”
Kenzo berbalik menatap lekat Vino, lalu kembali duduk menyeruput minuman yang di berikan Zahra tadi.
“Panci itu dengan lancangnya mencium kening gadisku, “ ujarnya enteng.
Vino menghela nafasnya kasar, ikut duduk di samping Tio mengusap kasar wajahnya. Sebentar lagi seisi rumah ini akan menjadi penghuni rumah sakit jiwa.
Arnia yang sedari tadi memperhatikan Tio dan Vino, terbesitlah ide gila dalam pikirannya menjahili anak-anak itu.
“Ah Ken, tak hanya itu saja. Apa kau tau?”
Ucapannya sengaja menggantung, membuat para pendengarnya merasa penasaran menatap wajahnya menunggu dirinya melanjutkan perkataannya.
“Apa Oma?” tanya Kenzo kepo.
“Oma kemarin sempat melihat, Vino memegang tangan Zahra. “
Mata Vino membulat sempurna, perkataan Arnia seolah membuat nyawanya seketika pindah dari tubuhnya. Kenzo meletakkan gelasnya, mendekati Vino dengan wajah yang dingin.
“Beraninya kau!” bentak Kenzo.
“Tidak tuan, itu tidak benar. Saya tidak akan mungkin menyentuhnya tanpa seizin anda, “ ujar Vino sedikit berlari menjauh dari Kenzo.
“Bukan hanya itu saja Ken, Tio juga sempat merangkul pundak Zahra kemarin sore, “ tambah Arnia.
Kali ini, bukan Vino saja yang terkejut. Tio yang sempat menyeruput minuman di meja, terbatuk kaget menyemburkan seluruh air dari dalam mulutnya kaget dengan apa yang di katakan Arnia.
“Tidak tuan, saya tidak mungkin melakukannya.”
“Malam ini kalian lembur, sana bersihkan gudang itu!” titah Kenzo berapi-api.
“Kami tidak melakukan kesalahan, jadi kami tidak mau.”
Mendapat bantahan dari Vino yang juga mewakili Tio, Kenzo mengeluarkan senjata apinya mengarahkan ke arah keduanya.
“Tidak melakukan kesalahan? Kalian menyentuh Zahra ku!” teriak Kenzo menggema.
“Bita, bawakan mereka sapu!”
Bita yang tidak ingin disemprot Kenzo, dengan cepat berlari mendekati tuannya dengan sapu ditangannya. Mbok Ina hanya menggelengkan kepalanya, sembari ikut tertawa melihat tingkah laku Kenzo yang begitu posesifnya.
“Cepat bereskan!” ujar Bita ikut-ikutan memerintah keduanya.
Dengan songongnya, Bita berjalan berdiri di samping Kenzo meledek Tio dan Vino yang terlihat kesal dengannya.
“Apa lagi yang kalian tunggu? Cepat bereskan!” bentak Kenzo.
Sangat penuh dengan keterpaksaan, Vino dan Tio memasuki gudang yang mengarah ke kamar ART. Keduanya menutup hidung, saat gudang itu terbuka.
“Banyak sekali debunya, “ ujar Tio.
Saat keduanya menatap kearah Kenzo, tuannya menatap tajam keduanya tanpa beralih dari tempat itu.
__ADS_1
Dengan berat hati, Vino dan Tio mulai membersihkan gudang tersebut. Zahra yang baru saja hendak memasuki ruang keluarga, menghentikan langkahnya saat melihat Vino dan Tio tengah asik mengoceh, dengan tangan yang terus membersihkan gudang itu.
“Loh, kenapa kalian yang membersihkan ini? Sini biar aku saja.”
“JANGAN SENTUH KAMI!”
Tawa Arnia semakin menjadi-jadi, saat Zahra yang hendak mendekati Vino dan Tio dengan cepat ditolak kedua pria itu.
Zahra yang merasa bingung, bukannya menjauhi keduanya Ia malah semakin mendekati mereka. Dan tentu saja, Vino dan Tio terus menghindar darinya.
“Tolong, jangan dekat-dekat, “ ujar Vino dengan begitu risaunya.
“Keluar Zahra!”
Mendengar suara Kenzo yang berada didepan pintu, Tio menarik Vino menjauhi dari Zahra agar temannya tidak masuk dalam api.
“Zahra, kami mohon keluarlah.”
Pasrah harus seperti apa lagi, Tio berlutut dihadapan Zahra sembari memohon agar gadis itu keluar dari sana.
“Ayok bangun,” ujar Zahra menarik tangan Tio berdiri.
Zahra yang melihat ekspresi khawatir dari kedua pria itu, berbalik menatap lekat wajah Kenzo yang sudah tidak bisa dikendalikan eksepsi marah pada wajahnya.
“Apa ini ulah anda?” tanya Zahra judes.
Kenzo tak memperdulikan perkataan Zahra, hendak melangkah mendekati Tio dan Vino. Namun, dengan cepat dirinya di cekal Zahra.
“Jangan ganggu mereka, ayok kita keluar!”
pintah Zahra menarik tangan Kenzo.
Tio dan Vino menarik nafasnya lega, sembari mengendap-endap keluar dari gudang itu.
“Mau kemana kali?!” teriak Kenzo saat matanya melihat keduanya ingin kabur.
“Sudahlah biarkan saja, ayok ke kamar.”
Wajah Kenzo yang awalnya berekspresi dingin, berubah tersenyum cerah saat mendengar perkataan Zahra. Dengan beribu-ribu anggukan dari Kenzo, keduanya beriringan menuju kamarnya.
“Dia Dewi penyelamat, “ gumam Tio yang ikut diangguki Vino.
Tawa Arnia kembali terdengar, meledek keduanya bersama dengan Bita yang juga ikut-ikutan meledek mereka. Vino yang geram dengan sikap Bita, berlari mengejar gadis itu mengitari seluruh rumah.
.
.
.
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
__ADS_1
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.