
Sagara grup,
Kenzo melangkah berdampingan dengan Vino, memasuki ruang meeting. Beberapa karyawan menyambut kedatangannya, semua bangkit memberi hormat padanya.
"Apa kalian akan terus menunduk sampai besok?!"
Semuanya seketika mengangkat kepala, ketika teriakan suara Kenzo menembus telinga.
Setelah sudah dipastikan pemilik Sagara grup duduk, Vino mulai membuka meeting.
Masing-masing dari mereka, mempresentasikan hasil kerja mereka selama sebulan.
Waktu terus berjalan, akhirnya semuanya bisa menarik nafas lega ketika Vino menutup meeting tersebut.
"Casey, temui saya di ruangan dalam lima menit."
Sebelum Kenzo dan Vino meninggalkan ruangan meeting, Kenzo sedikit memerintah Casey kepala keuangan ke ruang kerjanya.
Casey yang memang dari awal bekerja, begitu sangat menginginkan Kenzo menjadi berbunga-bunga ketika Ia diminta ke ruangan tuannya itu.
"Aku harus pake baju yang seksi, " gumamnya sesaat sebelum meninggalkan ruangan meeting menuju kamar mandi.
Beberapa karyawan yang melihat kelakuannya, menatap sinis dirinya.
"Dasar ja Lang," umpat salah seorang karyawan di sana.
Mbok Ina yang baru saja mendapat pesan dari tuan muda Kenzo, sedikit berlari mencari keberadaan Zahra.
"Ada apa Ina? Kenapa berlari seperti itu?"
Arnia yang melihatnya, menghentikan Mbok Ina yang sudah hampir mendekatinya.
"Tuan muda meminta bekal, Nyonya, " ujar Mbok Ina.
"Ya sudah sana buatkan, kenapa mau malah jadi atlit lari?"
"Sudah di buatkan Nonya, saya sedang mencari Zahra."
Panjang umur, gadis itu bersama Bita dengan diikuti Tino memasuki ruang televisi.
"Dari mana kalian?!"
Pertanyaan Arnia yang dengan nada sedikit keras, menghentikan langkah mereka terkecuali Tino.
"Kami habis beresin gudang belakang nyonya, " jawab Bita sedikit gugup.
"Ina, urus mereka."
Dengan berakhirnya Kalimatnya, Arnia Melangkah menuju kamarnya.
"Nyonya, ada yang ingin saya sampaikan."
Langkah Arnia terhenti, ketika mendengar suara Tino mendekatinya.
Tak mengatakan apapun, wanita tua itu menatapnya seolah menyuruh Tino melanjutkan perkataannya.
"Tidak di sini nyonya, " ujar Tino.
Arnia menatap sekilas Ina dan kedua gadis itu, berjalan mendahului Tino menuju kolam.
"Ada apa?"
Dengan penuh rasa penasaran yang tinggi, Bita hendak melangkah mengikuti mereka. Namun, dirinya dengan cepat di tahan Mbok Ina.
"Bereskan meja makan, dan Zahra ikut saya."
Tak berani membantah, keduanya patuh mengikuti langkah Mbok Ina menuju dapur. Ketika sudah berada dalam dapur, Bita langsung menuju meja makan membersihkannya. Sedangkan Zahra, masih harus menunggu sebentar.
"Antarkan ke kantor tuan muda, " ujar Mbok Ina, setelah Zahra menerima bekal itu.
Zahra sedikit melirik bekal itu, lalu mengangguk mengiyakan perkataan Mbok Ina.
"Setelah dari kantor tuan, aku bisa mampir sebentar ke panti." batinnya.
"Zahra, sana antar!"
__ADS_1
Suara mbok Ina yang lumayan besar, menyadarkan Zahra dari lamunannya. Zahra menarik sedikit senyumannya, kemudian melangkah keluar rumah.
Arnia dan Tino yang sudah mencapai kolam, berjalan sedikit mendekat ke arah kursi disana.
"Ada apa Tino?" tanya Arnia.
"Begini nyonya, saya sudah mendapatkan informasi tentang kecelakaan sepuluh tahun lalu. Tapi, ada yang aneh dari data-data itu."
Arnia sedikit menaikkan salah satu alisnya, menatap lekat wajah Tino.
"Maksud kamu apa?"
Tino tidak langsung menjawab pertanyaan Arnia, Ia menyodorkan sebuah map ke arah Arnia.
Dengan segera, Arnia membuka berkas itu. Ia mengangkat alisnya, bingung dengan isi dalam map itu. Bagaimana tidak? isi map itu dua orang anak kecil yang tengah tersenyum bahagia.
"Siapa mereka Tino?"
"Yang wanita itu sudah di pastikan Nona muda, sedang yang satunya lagi, "
Ucapan Tino menggantung, membuat Arnia semakin penasaran.
"Siapa Tino? bicara yang jelas!" ujar Arnia sedikit keras.
"Dia kakanya Nyonya. Namun, keberadaannya belum juga di ketahui."
Arnia semakin dibuat khawatir, dengan keadaan saat ini. Penemuan baru yang di beberkan Tino saja, sudah cukup membuatnya resah.
Bagaimana jika mereka tidak bersatu? Bagaimana jika Ia menjauhi Kenzo? Bagaimana ini?
Seluruh pertanyaan itu berputar dalam kepalanya, Arnia sedikit memijat pelipisnya. Ia meletakkan kembali berkas itu, menatap kearah depan.
"Apa Kenzo sudah mengetahuinya?"
"Sepertinya Vino sudah menyampaikan Nonya, " jawab Tino.
Yah benar saja, Kenzo yang juga baru melihat berkas itu, sedikit mengusap kasar wajahnya.
"Gadisku, " gumamnya mengusap kecil foto gadis kecil di sana.
Pertanyaan yang sama, yang ditanyakan Arnia kepada Tino. Vino sedikit mendekati Kenzo, ikut memperhatikan foto itu.
"Sepertinya itu saudara laki-lakinya Nona, Tuan, " ujar Vino.
Wajah Kenzo yang tadinya memasang ekspresi senyum, berubah menjadi bingung dalam hitungan detik.
"Sudah diketahui namanya?" tanya Kenzo.
"Belum tuan, hanya foto itu yang didapat Tino. Tentang siapa dia? dan dimana dia? Tino belum bisa menemukan data yang valid."
Kenzo sedikit menghela nafasnya panjang, kembali menatap foto itu.
"Aku tidak pernah tau dia punya saudara laki-laki, " titahnya pelan.
"Menurut data yang di dapat Tino, mereka berpisah waktu Nona muda masih berusia dua tahun."
Kenzo mengerti sekarang, tapi Ia sedikit risau jika kebenaran itu terbongkar.
"Hai, " sapa Zahra.
Saat itu juga, Kenzo dengan cepat menutup map tersebut, ketika Zahra memasuki ruangannya.
Vino yang sudah bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya, memilih meninggalkan ruangan itu.
"Tuan tampan, mau kemana?"
Dasar gadis bodoh, Ia akan memasukkan Vino dalam bahaya sekarang.
"Ada yang harus saya selesaikan, " ujar Vino.
Kakinya yang sudah akan melangkah, tiba-tiba terhenti saat tangannya di pegang Zahra. Vino menelan salivanya kasar, ketika melihat ekspresi wajah Kenzo sudah tidak bisa dikondisikan lagi.
"Maaf Zahra, saya harus pergi."
Begitu penuh perjuangannya, Vino akhirnya bisa melepaskan tangan Zahra lalu meninggalkan tempat itu secepat kilat.
__ADS_1
"Dasar ganjen, " gumam Kenzo pelan namun, masih sangat jelas di dengar Zahra.
Zahra menatapnya sinis, sembari meletakkan bekal itu.
"Menyusahkan saja, " umpat Zahra.
Mendengar umpatan wanita dihadapannya, Kenzo menatapnya dingin penuh intimidasi.
"Heh gadis jelek, kau tidak di suruh saja. Ada uangku yang mengikutimu kesini."
Zahra hampir memuntahkan isi perutnya, ketika mendengar kesombongan pria dihadapannya itu.
"Cih, dasar sombong, " ujar Zahra yang sudah duduk di sofa.
Kenzo yang sudah bersiap melangkah mendekati Zahra, dengan sangat terpaksa menghentikan niatnya saat mendengar pintu ruangannya di ketuk.
"Masuk!" ujarnya dari dalam.
Sosok gadis bertubuh tinggi dengan pakaian minim, memasuki ruangan itu. Mata Zahra membulat sempurna, ketika menyadari gadis itu sama sekali tidak menggunakan dalaman.
"Oh Casey, ayok kemarilah, " ujar Kenzo kembali ke kursinya.
Casey dengan senang mendekati Kenzo, sembari sedikit membungkuk memperlihatkan belahan dadanya.
"Bereskan laporan ini dalam satu jam."
Kenzo menyodorkan sebuah berkas laporan keuangan ke arah Casey. Dengan sedikit mendesah, gadis itu mengambil berkas tersebut.
Zahra membulatkan matanya, tak percaya dengan sikap gadis itu. ditambah lagi, Kenzo sepertinya menyukai pemandangan dihadapannya.
"Dasar ganjen, ayok!"
Zahra mendorong keras tubuh Casey, lalu menarik tangan Kenzo menjauh dari gadis liar tersebut.
"Tuan!" hebo Casey saat dirinya sudah tersungkur dilantai.
"Maaf Casey, istriku tidak akan melayaniku jika aku membantu mu, " ujar Kenzo menatap Zahra.
Apa yang dikatakannya tadi? Istri? dasar tidak waras.
"Tapi tuan, "
Melihat tatapan Kenzo yang tidak bersahabat, Casey tidak berani melanjutkan perkataannya lagi. Dengan sedikit rasa kesal, gadis itu melangkah keluar dari ruangan Kenzo.
"Lain kali beli dalaman, " ujar Kenzo.
Malu, yah itulah yang dirasakan Casey saat ini. bagaimana tidak, hampir seluruh karyawan mendengar apa yang dikatakan Kenzo dengan suara lantang.
Zahra yang sudah sangat kesal dengan pria disampingnya, mengambil sesuap makanan memasukkan kedalam mulut Kenzo.
"Kau cemburu?" tanya Kenzo tiba-tiba.
Tak menjawab pertanyaan Kenzo, Zahra malah menyeruput minuman yang berada di hadapannya.
"Jujurlah sayang, jika kau cemburu."
Melakukan hal yang sama seperti Zahra, Kenzo ikut menyeruput minuman dari gelas yang sama dengan Zahra.
"Tidak usa banyak bicara, habiskan makanannya, " judes Zahra.
Dengan sedikit tawa yang terukir di bibirnya, Kenzo mengikuti apa yang dikatakan Zahra.
"Menggemaskan." batinnya tersenyum memandangi wajah Zahra.
.
.
.
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.
__ADS_1
Dan lagi satu, yuk kritik dan sarannya dong 😚