My Posesif Bos

My Posesif Bos
Manis Seperti Brownies


__ADS_3

Hari sudah mulai malam, Mentari yang awalnya bersinar perlahan tergantikan oleh sinar bulan.


Zahra yang tengah sibuk dengan pelubang kertas, mulai merasa bosan. Ia bangkit dari duduknya, berjalan menuju ruang meeting.


yah, sore tadi Kenzo sedikit mengadakan rapat dengan beberapa karyawannya, membahasa masalah proyek yang sedang di tangani perusahaannya.


Saat matanya melirik kearah luar, Ia mendapati Zahra yang sudah kembali ke ruangannya.


"Meeting sampai sini saja, " ujarnya.


Kenzo melangkah keluar, di ikuti Tio. Namun, sampai di depan lift Tio mengarah menuju parkiran sedang kenzo berbelok menuju ruangannya.


"Ayok pulang!" ajak Kenzo ketika sudah mendekati Zahra.


Bisa di lihatnya, Zahra bangkit dari duduknya menyambut tangan Kenzo. Tak lupa juga, Ia meraih tas Kenzo di atas meja menenteng mengikuti langkah Kenzo.


"Kok lama?" tanya Zahra, membuka percakapan.


"Ada beberapa hal yang harus di bahas, " jawab Kenzo singkat.


Setibanya di parkiran, seperti biasa Tio sudah menunggu keduanya di sana.


Zahra berjalan mendekati kursi depan, langsung dihentikan Kenzo yang sudah memegang tangannya.


"Duduk bersamaku, " ujarnya.


Zahra tak langsung patuh, Ia masih sedikit melirik Tio. setelah mendapat anggukan dari pria itu, barulah Zahra mengikuti perkataan Kenzo duduk di sebelahnya.


Tio mulai melajukan mobilnya, membelah jalanan kota menuju kediaman Kenzo.


...***...


Saat sampai dirumah, Mereka sama sekali tak melihat siapa pun. Hal berlangsung beberapa detik saja, ketika mereka melangkah ke ruang televisi mereka di sambut dengan Bita dan Arnia yang tengah sibuk dengan tonton mereka.


"Sudah pulang?" tanya Arnia.


"Sudah nyonya, " jawab Zahra dengan senyuman mengambang pada pipinya.


"Sana mandi dulu, " ujar Arnia menatap Kenzo dan Zahra bergantian.


"Baik nyonya, " ujar Zahra patuh.


Zahra maupun Kenzo, melangkahkan kakinya menuju kamar untuk membersihkan diri. Mungkin Kenzo akan langsung istirahat, tapi Zahra pasti akan bergabung bersama Bita dan juga Arnia.


Setelah selesai dari mandi dan mengganti pakaian, Kenzo duduk di balkon kamarnya menikmati indahnya suasana malam ini.


Ingat Kenzo berputar, pada kejadian siang tadi, di mana Zahra memeluknya erat.


"Jasmine, aku mencintaimu. "


Kenzo menatap liontin pada tangannya, lalu mengecup benda itu.


Zahra yang juga sudah selesai membersihkan dirinya, keluar kamar dengan menggunakan sweater dan juga celana training menghampiri Arnia.


"Nggak mau istirahat Za?" tanya Bita menyambut kedatangan Zahra.


"Nggak, " ujarnya.


matanya menatap kearah televisi, di saat muncul iklan brownies Zahra jadi menginginkannya.


"Nonya mau brownies?"


"Boleh."

__ADS_1


setelah mendapat jawaban dari Arnia, Zahra bangkit dari duduknya berjalan menuju dapur.


Di sana, mbok Ina dan juga bebe orang karyawannya terlihat sudah membersihkan alat masak mereka.


"Mbok, Zahra boleh nggak buat brownies?"


Mbok Ina tampak berpikir sebentar, lalu mengangguk mengiyakan perkataan Zahra.


"Asal, setelah selesai bersihkan semuanya!" peringat Mbok Ina.


Zahra mengangguk paham, mulai menyiapkan bahan membuat Brownies. Dengan telaten, Zahra mulai mencampurkan bahan-bahannya dan menyatukan semuanya.


setelah siap, Zahra memasukkan kedalam pemanggang. Seisi rumah seketika, menjadi harus dengan bau coklat yang diciptakan Zahra.


Bita bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri Zahra.


"Mau coba dong, " ujarnya saat Zahra baru mengeluarkan brownies itu dari dalam oven.


Zahra mengangguk, lalu mengambil sepotong Menyodorkan pada Zahra.


"Enak banget, " puji Bita, setelah brownies itu ludes dalam mulutnya.


Zahra memindahkan beberapa kedalam piring, lalu menyerahkan kepada Bita. Bita yang mengerti akan hal itu, menerimanya lalu membawa menuju Arnia dan juga Mbok Ina yang sudah berpindah tempat ke dalam kamar Arnia.


"Permisi mbok, Nonya, ini browniesnya."


Dengan telunjuknya, Mbok Ina memerintahkan Bita kearah Nakas. Setelah meletakkan di sana, Bita berlalu meninggalkan Arnia yang sedang di pijat Mbok Ina.


Bita yang dari kamar Arnia, berlalu menuju kamarnya.


"Kemana semuanya?" gumam Zahra, ketika tidak menemukan siapa pun di depan televisi.


Sembari menikmati browniesnya, mata Zahra menatap kearah depan fokus pada tontonannya.


Suara derap langkah kaki Kenzo menuruni anak tangga satu per satu, dari kejauhan mata Kenzo menangkap Zahra yang tengah nonton tv sambil memakan kue buatannya sendiri.


Zahra yang mendengar suara langkah kaki Kenzo, mengalihkan pandangannya melihat Kenzo dengan laptop pada tangannya.


"Anda mau kemana?" ujar Zahra sedikit kepo, dengan tangan yang hendak memasukkan brownies pada mulutnya.


"Ke markas belakang," jawab Kenzo singkat dan dingin.


"Ya sudah, " Zahra hanya ber oh ria saja, kembali fokus pada televisi.


"Makan apa?" Tanya Arkan.


"Brownies, mau?"


Zahra menyodorkan potongan Brownies, yang langsung di sambut mulut Kenzo melahap kue itu pada sendoknya.


"Sisain sepotong buat saya, " ujar Kenzo.


Zahra sedikit berdengus, memutar bola matanya malas kemudian mengangguk tak ikhlas.


Melihat hal itu, Kenzo dengan cepat mengecup bibir mungil Zahra. Tak hanya itu, Ia juga sedikit **********.


"Dasar me sum, " Kesal Zahra, setelah berhasil menjauhkan tubuhnya dari Kenzo.


Bukannya takut dengan ocehan Zahra, Kenzo terkekeh puas.


"Aku mencintaimu, " bisik Kenzo, sebelum akhirnya meninggalkan ruangan itu.


Wajah Zahra memerah, Ia memegang dadanya yang kali ini berdetak semakin tak karuan.

__ADS_1


"Gila!" gumamnya pelan, masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


Kenzo yang sudah sampai di markas nya ia masuk dan menduduki sofa ternyata, Vino dan Tino sudah berada di sana.


Sebenarnya mereka sudah ingin pergi namun, setelah mendapat telepon dari Kenzo terpaksa mereka harus menunggu tuannya ini.


"Ada apa tuan, ada yang urgen? " tanya Tino memajukan tubuhnya.


"Proyek dengan perusahaan Rizal Aman?"


Bukannya menjawab pertanyaan Tino, Kenzo malah mengajukan pertanyaan lain.


"Aman tuan muda, " jawab Vino, sembari menunjukkan data-data pada laptopnya.


"Bagus," ujar Kenzo, menyenderkan bahunya pada sofa.


"Cuman itu doang?" Tio yang terburu-buru dan baru tiba, sedikit kesal dengan Kenzo.


"Vino, bagaimana kau sudah menemukan informasi yang ku minta lagi tadi?" ucap Kenzo serius.


"Ada apa tuan?" kepo Tio.


"Tulisan tangan ini, kalian taukan?" Kenz menyodorkan sebuah Note, yang kemarin di ambilnya dari kamar Zahra pada bunga itu.


"Tulisan tangan siapa ini?"


Tino menaikan salah satu alisnya ia merasa bingung, selama ini Ia tidak pernah tau ataupun memperhatikan setiap tulisan tangan seseorang yang ditemuinya.


"Tidak usah banyak tanya, lakukan saja perintahku. Cari tau, siapa pemiliknya, " ujar Kenzo menatap lurus kedepan, tepatnya kearah laptopnya.


"Segera hubungi aku, jika kalian sudah mengetahuinya. Ingat, jangan sampai Zahra tau akan hal ini! ," sambung Kenzo memperingati.


Tino dan juga Vino, mengangguk patuh sembari menatap note itu.


"Dan kamu Tio, terus awasi Xio Lang dan juga Mira," ucap Kenzo mengalihkan pandangannya dari laptopnya, ke Tio.


"Lalu Michael tuan?" tanya Tio, sebab Kenzo sama sekali tidak menyebut nama pria itu.


"Aku yakin, ada sesuatu yang membuatnya tidak akan menyerang kita, " yakin Kenzo.


"Tapi tetap, awasi mereka. untuk kalian semua jaga markas, jangan sampai kita lengah dan mereka menghancurkan kita," ujar Kenzo, menatap setiap anak buahnya yang hadir dalam pertemuan mendadak itu.


"Baik Tuan!" ujar seluruh anak buahnya, secara bersamaan .


"Bagus," ujar Kenzo


Setelah selesai dengan urusannya, Kenzo kembali ke rumah utama. Ketika mendekati ruang televisi, terlihat Zahra sudah terlelap di sana. Seperti ucapan Kenzo tadi, Zahra menyisakan sepotong untuknya.


Kenzo tersenyum, memasukkan semuanya kedalam mulutnya. Ia menggendong tubuh Zahra, membawanya kedalam kamarnya.


"Manis, seperti brownies buatannya," gumamnya sembari menaiki anak tangga.


.


.


.


Hai pembaca setiaku...


Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.


Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.

__ADS_1


__ADS_2