
Anak buah Michael dengan tergesa-gesa, berjalan menelusuri sebuah lorong sempit dengan menyembunyikan sebuah berkas dalam bajunya. Namun, sialnya saat itu juga seseorang dengan cepat menghabisinya dari belakang lalu merebut berkas tersebut.
“Bang sat, cepat temukan berkas tersebut sebelum Kenzo mengetahui hal ini! “ pintah Michael kepada Ciko.
“Maaf Bos, tapi file itu sudah sampai ke tangan Xio lang, “ ucap Ciko.
“Sial, akan sangat sulit jika si sipit bodoh itu yang merebut berkas tersebut, “ ujar Michael dengan mengacak kasar rambutnya.
Yah sebab berkas tersebut sudah lama sekali Ia nantikan, dan sekarang malah jatuh ke tangan Xio Lang yang artinya akan sangat sulit untuk di rebut.
“Cari cara agar berkas tersebut balik ke tangan kita Ciko, jika kertas bodoh itu jatuh ke tangan Kenzo maka habislah usaha kita selama ini! “ pintah Michael yang dengan cepat di angguki oleh Ciko.
Sementara itu, tepatnya di Sagara grup. Vino dengan sedikit berlari, menghampiri Kenzo di ruangannya yang berada di lantai atas.
Maria yang melihat hal itu, dengan segera mengambil ponselnya lalu merekam dan mengirimkan kepada seseorang.
Setibanya di ruangan Kenzo, Vino dengan segera memberikan sebuah file yang di minta Kenzo beberapa hari lalu.
Kenzo menarik nafasnya panjang, lalu dengan perlahan mencoba membuka file tersebut. Namun, Ia kembali menutup map tersebut dan sedikit melonggarkan dasinya.
“Bagaimana jika dia bukan orangnya?! “ ucap Kenzo menatap Vino.
Sedangkan Vino hanya menatapnya, sembari menaikan kedua alisnya seolah tak perduli.
“Sudah jangan banyak ngomong, kalau mau buka yah buka aja gitu aja repot, “ ketus Vino.
Ia dengan angkuhnya, melangkah menuju sofa dan mendudukkan bokongnya di sana, sembari menatap wajah cemas Kenzo.
Kenzo yang melihat tingkah Vino, memutar bola matanya malas lalu mulai memberanikan dirinya membuka map tersebut.
Matanya seketika membulat, darahnya mengalir begitu deras, serta jantungnya berpacu kencang menambah irama ketegangan dalam dirinya.
“Ja—Jasmine Ku, “ ujarnya dengan nada bergetar dan tanpa disadarinya, kristal bening jatuh membasahi pipinya begitu saja.
Tanpa menunggu lama, Kenzo mengambil map berisikan data diri Zahra lalu berlari keluar ruangannya dengan terburu-buru menuju parkiran.
“Akhirnya kebahagiaan akan hadir dalam hidupnya, begitu juga dengan bahaya yang akan terus bermunculan, “ ucap Vino sembari terus mengunyah ciki yang berada di hadapannya.
Saat ini, Zahra tengah asik memberi makan ikan yang berada di kolam belakang rumah setelah selesai membersihkan kamar Kenzo.
Arnia yang hendak bersantai di kolam, menemukan gadis tersebut lalu memutuskan untuk menghampirinya dengan segelas teh di tangannya.
“Ikan-ikan disini akan sangat gemuk jika mereka setiap hari di beri makan sembari di hibur dengan lantunan lagu darimu, “ ujarnya yang membuat Zahra seketika menghentikan kegiatannya dan berbalik menatapnya.
“Hehehe nyonya, maaf yah jika Zahra membuat keributan, “ ucap Zahra sedikit terkekeh malu.
Arnia hanya menggelengkan kepalanya, lalu melangkah meninggalkan Zahra menuju sebuah kursi goyang yang letaknya tak jauh dari sana.
“Zahra, “ ucap Kenzo saat sudah berada di belakang gadis tersebut.
__ADS_1
Zahra membalikkan badannya saat pendengarannya menangkap namanya di sebutkan.
"Ada yang tertinggal? Kenapa tidak menelepon aku untuk mengantarkannya? "
Pertanyaan beruntun dari Zahra, membuat Kenzo tersenyum pahit.
Zahra menatap bingung wajah Kenzo, lalu melirik ke arah tangan Tuannya yang tengah bergetar hebat.
Seketika itu juga, memorinya berputar pada beberapa tahun lalu dimana seorang pria kecil menghampirinya dengan tangan kanan yang bergetar hebat.
“Tuan, Anda kenapa? “ ujar Zahra menghampiri Kenzo lalu menggenggam tangan Kenzo.
Arnia seketika bangkit dari duduknya, lalu melangkah menghampiri cucunya yang tengah menatap wajah Zahra dengan ekspresi yang tak bisa di artikan.
“Sayang, ada apa? “ tanya Arnia yang ikut penasaran.
“Bi-Bisa aku tau nama lengkap mu? “ bukannya menjawab pertanyaan Kedua wanita di hadapannya, Kenzo malah berbalik bertanya kepada Zahra.
“Zahra Jasmine Zulkifli, “
Brak
Seketika itu juga, gelas yang berada dalam tangan Arnia terlepas begitu saja dan hancur berkeping-keping di lantai.
Kenzo yang tak kuasa, menarik Zahra masuk kedalam pelukannya sembari mengusap-usap Surai panjang milik gadis tersebut. Zahra yang bingung akan hal itu, hanya bisa pasrah dalam pelukan Kenzo.
Namun, sama sekali tak ada suara dari tuannya tersebut membuat Zahra dengan paksa melepaskan pelukan Kenzo dari tubuhnya.
“Apa kau cucunya Henderson Zulkifli? “ tanya Arnia dengan wajah yang tampak bekas air mata baru saja di hapusnya.
“Dari mana anda tau nyonya?! “ jawaban yang keluar dari mulut Zahra, semakin membuat Kenzo merasa dirinya sekarang tak berguna.
Bagaimana tidak, gadis yang di carinya selama ini ada di hadapannya. Namun, Ia sama sekali tak menyadari kehadirannya selama ini.
“Zahra! Ada paket buatmu, isinya album dari tuan waktu itu, “ ujar Bita dengan santainya tak menyadari keberadaan Arnia dan Kenzo yang berada di sana.
“Eh, ada Tuan dan Nyonya besar hehehe sory, “ ucapnya cengengesan.
Zahra yang mendengar hal tersebut, matanya berbinar-binar lalu berlari menuju sekotak kardus besar yang berada di ruang tamu tanpa memperdulikan Tuannya.
“Dasar Army, “ ucap Bita, menatap kepergian Zahra yang diikuti oleh kedua atasannya itu.
“Butuh sesuatu Tuan, Nyonya, “ tawar Bita kepada Kenzo dan Arnia yang masih terus menatap punggung Zahra yang telah menghilang.
“Kumpulan seluruh pelayan rumah, termasuk Lusi dan Safi ke tempat biasa, “ Pintah Kenzo.
Bita mengangguk antusias, lalu melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut. Setelah kepergian Bita, Kenzo terduduk di kursi sembari terus menatap kearah depan tanpa ekspresi yang bisa di artikan.
“Takdir mempertemukan kalian kembali sayang, Oma yakin setelah ini kalian tidak akan bisa terpisahkan lagi, “ ucap Arnia mencoba menguatkan cucunya itu.
__ADS_1
Kenzo hanya tersenyum menanggapi perkataan Omanya, lalu melangkah masuk menuju kamarnya.
Namun, ketika melewati ruang tamu dirinya di kejutkan dengan Zahra yang sudah berdiri di tangga menuju kamarnya, sembari memegang beberapa album di tangannya.
“Hehehe makasih buat semua ini, janji deh Zahra bakalan rajin bersih-bersihnya dan gak akan bawel lagi, “ pungkasnya dengan menampilkan senyuman indah di akhir katanya dengan sedikit lesung pipi yang menghiasi wajahnya.
Kenzo hanya tersenyum sebentar, lalu melangkah pergi menuju kamarnya.
“Apa dia marah karena aku mintanya banyak? “ gumam Zahra yang heran dengan perubahan sikap Kenzo menjadi dingin terhadapnya.
Di saat Kenzo tengah sibuk dengan perasaannya antara senang atau sedih atas di temukanya kekasih masa kecilnya, Xio Lang justru sudah berhasil membuat beberapa mitra kerja Kenzo berada dalam tangannya. Yah , meskipun dengan cara yang sesat.
“Bagaimana ini bisa terjadi, apa yang kalian lakukan sampai lalai seperti ini! “ teriak Vino menggema kepada Anak buahnya.
“Apa yang terjadi? “
Degh
Seluruh penghuni ruangan tersebut seketika membulatkan matanya, di saat suara seorang Kenzo Fabiandi Sagara memenuhi ruangan.
“Apa yang terjadi Vino, suara mu sangat menganggu hingga keluar, “ ucap Kenzo masih dengan nada yang lumayan bersahabat. Namun, Victor tak mampu berkata lagi.
“I-itu, Rekan kerja di Sagara grup beberapa orang telah di ambil Xio Lang. “
Prang
Gelas yang berada di atas nakas seketika hancur berkeping-keping di lantai, saat kata-kata Tio terdengar.
“Ah biarkan saja, sepertinya akhir-akhir ini mereka ingin bermain-main denganku, “ ucap Kenzo dengan nada dingin.
“Safi, siapkan semuanya besok kita akan terkurung beberapa hari dalam ruangan ini. Dan kembar, seperti biasa tugas kalian di lapangan sedangkan kau Lusi, aku membutuhkan rayuan maut mu itu! “ pintah Kenzo kepada semuanya.
Dengan cepat, Tino dan Tio kembali ke kamar mereka mempersiapkan segalanya untuk berperang. Begitu juga dengan Lusi, yang sudah berlalu untuk memulai pekerjaannya.
“Tapi Tuan, sepertinya kali ini kita tidak bisa berada di ruangan ini saja. Sepertinya kali ini, kita harus ke lapangan langsung, “ ujar Safi.
Kenzo hanya menatap tanpa ekspresi wajah dingin khasnya. Namun, yah kali ini ucapan Safi ada benarnya jika mereka tidak bisa hanya di rumah saja, sebab Xio Lang bukanlah Michael.
.
.
.
.
Bersambung....
⚠️ Makasih, buat yah udah like cerita gaje ini 😫ayok kita sama-sama berhalu dalam kegajean ini 🤣
__ADS_1