My Posesif Bos

My Posesif Bos
Pemandangan indah


__ADS_3

“Tidak! “ teriak Mira sembari melempar vas bunga yang berada di meja saat melihat gambar di ponselnya yang menunjukkan Ardan ayahnya tengah terkapar tak bernyawa di sebuah bar.


“Siapa melakukan hal ini? “ tanya Mira dengan nafas memburu.


“Menurut saksi, pelakunya orang suruhan Kenzo. “


Mira tersenyum pahit mendengar nama pria tersebut. Ia menghapus jejak air mata di wajahnya lalu mengambil senjata apinya, mengarahkan ke arah foto Kenzo yang berada di dalam kamarnya.


Dengan satu tembakan, Mira berhasil melubangi gambar tersebut tepat di atas dahi Kenzo.


“Tidak akan aku biarkan dia hidup tenang setelah ini, “ ujarnya.


Sementara saat ini, Kenzo bersama anak buahnya tengah mengadakan rapat besar-besaran di sebuah ruang yang berada sekitar sepuluh langkah dari istana megahnya.


“Mira tengah mempersiapkan penyerangan Tuan, “ ujar Vino.


Sama seperti biasanya, pria tersebut hanya akan melirik sekilas lalu kembali memainkan ponselnya seolah tidak peduli dengan perkataan asistennya itu.


“Bicara yang jelas Vino, “ ujarnya.


“Di temukan logo palsu milik Sagara grup di dekat jenasah Ardan. “


Kenzo seketika membuang sembarang ponselnya, lalu memijat pelipisnya kasar. Baru kali ini, anak buahnya bisa kecolongan seperti ini.


“Maaf Tuan, “ ujar Vino.


Ia merasa sepertinya sesaat lagi, iblis dalam diri Tuannya akan menguasai ruangan tersebut.


“Berhentilah meminta maaf Vino, cepat bereskan semua ini! “ pintahnya dengan nada tinggi di akhir kalimat.


Beberapa menit kemudian, tangan kanan Kenzo yang lainnya yaitu Lusi masuk dengan membawa sebuah amplop di tangannya.


“Kenapa kau kemari? “ tanya Kenzo yang seketika membuat seluruh penghuni ruangan menatap ke arah wanita tersebut.


Pasalnya, Lusi tak akan menampakkan dirinya jika tidak minta Kenzo. Namun, entahlah hal penting apa yang membuatnya harus datang tanpa di minta Kenzo.


“Xio lang telah berhasil mengetahui keberadaan nyonya besar, “ ujar Lusi.


Wanita itu mendekati Kenzo, sembari menyodorkan amplop coklat yang di mana berisikan foto-foto penguntit di tempat persembunyian nyonya besar.


Saat maniknya menangkap gambar tersebut, seketika ekspresi wajah Kenzo berubah menjadi bahagia seolah mendapat kado terbaik dari Lusi.


“Hahaha Vino, parsetan dengan Mira. Sekarang tugasmu menjemput Oma pulang, “ ujar Kenzo.


Ia lalu bangkit dari duduknya, dan berjalan keluar ruangan tersebut.

__ADS_1


Vino menatap wajah Lusi, seolah berterima kasih karena telah menyelamatkannya dari bahaya maut.


“Sama-sama. “


Lusi tersenyum pada Vino, sembari menepuk pundak Vino dan berlalu mengikuti jejak tuannya.


Zahra yang sudah selesai membereskan kamar Kenzo, melangkah menuju kamar mandi Tuannya guna menyiapkan perlengkapan mandi beserta air hangat.


“Selesai juga, “ ujarnya setelah menyelesaikan pekerjaannya.


Zahra mengambil peralatan tempurnya, lalu melangkah keluar kamar Kenzo dengan sedikit terburu-buru menuju kamarnya.


Zahra sama sekali tak menyadari saat berpapasan dengan Kenzo di tangga.


Kenzo yang di lewati begitu saja, berbalik menatap punggung Nara yang sudah jauh.


“Mau kemana dia terburu-buru seperti itu? “ gumam Kenzo sesaat.


Kenzo yang sudah ingin melangkah lagi menuju kamarnya, menghentikan langkahnya.


rasa penasarannya begitu kuat, Ia melangkah berbalik arah menuruni anak tangga mengikuti jejak Zahra hingga tiba di kamar gadis tersebut.


Langkah seketika terhenti di ambang pintu dengan jantung yang berdegup kencang saat menyaksikan gadis tersebut tengah sujud berdoa.


“Sudah hampir dua puluh lima tahun aku di bumi ini, belum sekalipun aku melihat pemandangan indah seperti ini, “ gumam Kenzo tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Zahra.


Kenzo melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar Zahra, setelah wanita tersebut selesai membereskan buku-buku doanya.


“Astaga bikin kaget aja deh, “ ujar Zahra yang di saat membalikkan badannya, mendapati Kenzo yang sudah berbaring di ranjangnya.


“Doa macam apa itu Zahra?! “ ujar Kenzo berbalik bertanya dengan nada seolah tengah kesal.


Zahra membulatkan matanya, dan mendudukkan dirinya tepat di samping Kenzo dengan jantung yang tidak bisa di kontrol detakannya.


“Anda dengar semuanya? “ tanya Zahra yang dengan cepat di angguk Kenzo dengan begitu antusias.


Zahra menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya di kala mendapat anggukan kepala dari Kenzo. Ah Tuannya mendengar semuanya, mati sudah dirinya sekarang.


“Apa saya terlihat seperti seekor macan jelek? “ pertanyaan Kenzo semakin membuat Zahra merasa bersalah.


“Hehehe, Ia seperti itulah jika anda di deskripsikan, Kan Jimin anak itik Anda macan gemoy, “ ujar Zahra tanpa dosanya.


Kenzo bangkit dari tidurnya lalu menatap lekat wajah gadis tersebut. Zahra yang di tatap seperti itu, tak kuasa dengan cepat memalingkan wajahnya dari hadapan Kenzo.


“Jika saya macan, maka kamu Taring ku. “

__ADS_1


Zahra yang tadinya tidak berani menatap mata Kenzo, kini Ia berbalik cepat di saat kata-kata tersebut menembus telinganya.


“Udah deh Tuan halunya, sana keluar saya mau mandi gerah tau! “ usir Zahra sembari mendorong tubuh Kenzo hingga ke ambang pintu.


Aksi dorong-dorongan keduanya saat di ambang pintu, tengah di saksikan Lusi yang menganga tanpa berkedip sedikit pun.


“Ngapain kamu disini? “ tanya Kenzo yang baru menyadari keberadaan Lusi.


“Saya yang harusnya bertanya seperti itu Tuan, “ ujar Lusi.


Zahra yang heran siapa gadis di hadapannya, hanya bisa memperhatikan keduanya dengan bingung.


“Siapa kamu? “ Lusi beralih bertanya kepada Zahra, yang berdiri tepat di belakang Kenzo.


“Cih, dasar ja lang “ ujarnya dengan angkuh, di kala Zahra tidak menjawab pertanyaannya.


Zahra yang awalnya ingin menyodorkan tangannya kepada Lusi, mengurungkan niatnya di kala perkataan wanita tersebut menembus dinding telinganya.


“Maaf saya Masi banyak pekerjaan. “ ucap Zahra melangkah pergi meninggalkan keduanya.


Bisa di lihat Kenzo dengan jelas, bahwa Zahra tak bisa menyembunyikan kesedihannya di kala mendapat penghinaan dari Lusi.


“Jangan pernah menyentuhnya, atau aku akan menghabisi mu! “ ancam Kenzo, ikut melangkah meninggalkan Lusi yang begitu kesal dengan sikap Kenzo yang memilih membela Zahra.


“Akan aku buat kau di usir dari sini, “ gumam Lusi.


Bita yang melihat Zahra tengah memberi makan ikan sembari mengusap air matanya, melangkah menghampiri gadis tersebut sembari membawa sebuah photo card Park Jimin.


“Lihat lah Jimin, istrimu tengah misu-misu gak jelas tuh, “ ujar Bita.


Zahra menoleh ke arah Bita, tertawa terbahak-bahak melihat benda yang di bawah oleh gadis tersebut.


“Dih giliran Jimin aja baru mau senyum, “ kesal Bita lalu menempelkan photo card tersebut ke dahi Zahra, lalu melangkah masuk kedalam rumah.


“Yah gimana gak bahagia, orang jiminnya seganteng ini. Dan lagi, dia ngga nyakitin malah selalu ada buat Zahra, “ gumamnya dengan senyuman manis kepada Poto ganteng tersebut.


Tanpa di sadarinya, dari kejauhan tampak seorang pria tengah memperhatikan setiap gerak geriknya dari balik pagar.


Sementara di dalam ruang kerja, Kenzo pun tengah memantau pergerakan pria tersebut dengan sangat hati-hati sebab kali ini, nyawa Zahra lah taruhannya.


.


.


.

__ADS_1


.


bersambung.....


__ADS_2