
Tak lagi ada pembicaraan di antara mereka, Kenzo bangkit dari duduknya berjalan kembali menuju tempatnya semula. sedangkan Zahra, masih tetap berada di sana.
"Semuanya pasti baik-baik saja tuan, " ujar Vino mengerti dengan ke khawatiran Kenzo saat ini.
"Bagaimana jika Ia membenci ku?"
Diam seribu bahasa, sama sekali tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan Kenzo barusan.
Tak hanya para pria di sana, Bita juga bingung harus menjawab apa pada tuannya itu.
"Apa kalian tidak akan makan?"
Seperti sebuah amarah, Bita menatap mereka semua. Sedari tadi setelah Tino, tidak ada lagi yang memakan makanan di sana.
"Iya, capek loh bawa ke sini!" oceh Zahra mendekati mereka.
"Hentikan pekerjaan kalian, " ujar Kenzo.
Semuanya menghentikan pekerjaan mereka, mulai menyantap makanan dihadapan mereka.
"Buka mulutmu, " ujar Kenzo menyodorkan sesendok makanan kedalam mulut Zahra.
Tak mau membuang rezeki berlimpah itu, Zahra dengan segera membuka mulutnya menyantap makanan dengan sendok yang sama dengan Zahra.
"Zahra, ada paket!"
Mendengar teriakkan Mbok Ina, tanpa menunggu lama Zahra berlari menuju rumah utama.
Setibanya di depan pintu, matanya tertuju pada sebuah bunga yang berada tidak jauh dari sana.
"Bunga siapa ini?" gumamnya.
Setelah bunga itu berada dalam tangannya, barulah Zahra menyadari jika itu untuknya ketika melihat namanya tertera di sana.
Zahra membawa paketnya bersama bunga itu menuju ruang tamu, lalu kembali ke markas Kenzo.
"Paket apa Zahra?!" tanya Mbok Ina dari arah dapur.
"Dari teman lama Zahra, " ujar Zahra.
Sama sekali tidak ada kejujuran dari wanita itu, bukan maksud Nara tidak ingin jujur. Namun, Ia tidak enak jika mengatakan yang sejujurnya pada mbok Ina.
Ia takut, wanita paruh baya itu akan marah ketika Ia menggunakan uangnya untuk membeli album dan sebagainya.
Saat mendapat anggukan kecil dari Mbok Ina, Zahra langsung berlari menuju markas Kenzo.
Setibanya di sana, Ia di sambut dengan tangan Kenzo yang sudah memanggilnya.
"Kemarilah."
Zahra mengikuti tangan Kenzo, hingga akhirnya Ia duduk di samping pria itu.
"Kau dari tadi tidak makan dengan benar, habiskan."
Kenzo Menyodorkannya sepiring makanan, Zahra yang melihat itu menatap Bita sekilas. Namun, yang di tatapnya memalingkan wajahnya.
"Enak saja, kau pikir aku mau ikut menghabiskannya, huh tidak akan." batin Bita.
Zahra mulai menyantap makan yang di berikan Kenzo tadi hingga habis.
"Ayok Bita, Vino akan tetap tampan jangan menatapnya terus, " ujar Zahra.
__ADS_1
Sial, Bita tertangkap basah menatap wajah Vino. Wajah Bita seketika merah, mendengar penuturan gila Nara.
Tawa para pria itu pecah, mengiringi langkah kedua gadis tersebut. Setibanya di dapur, Zahra dan juga Bita meletakan bekas makan tadi, lalu mulai membersihkan.
Setelah selesai Zahra melangkah menuju sofa, lalu mengambil bunga yang tadi dia temukan di depan pintu bersama paketnya, berjalan menuju kamarnya.
"Punya siapa yah ini" monolog Zahra sambil meneliti bungan tersebut, sepertinya ada yang aneh. Dan benar saja dia menemukan sebuah kertas,yang bertuliskan "Hai, semoga kau masih mengingatku."
"Dari siapa ini? Kenapa Ia tau aku di sini?"
Zahra membuka pintu kamarnya dengan membawa buket tersebut. Ia meletakkan benda itu di atas meja, lalu menatap sembari mengingat siapa saja yang di beritahukan tentang tempat kerjanya saat ini.
Zahra merebahkan tubuhnya di kasur, rasa bosan melanda Zahra yang sedang rebahan di kasurnya.
"Hari yang melelahkan, " gumamnya.
Tak lama kemudian, rasa kantuk mulai menguasainya. Zahra perlahan menutup matanya, hingga akhirnya terlelap dalam alam bawah sadarnya.
...****************...
Matahari mulai menapakkan dirinya, dan sinarnya mulai merambat masuk melewati celah kecil yang ada di kamar Zahra. Zahra yang merasa tidurnya di ganggu pun mengambil selimutnya dan menutupi seluruh tubuhnya hingga kepala.
Namun baru saja ingin menikmati posisi tersebut, suara teriakan sudah menganggu pendengarannya. Siapa lagi kalau bukan Kenzo yang membangunkan semua penghuni rumah.
"Kemana sepatu ku? Vino, Zahra!"
Zahra menarik nafasnya panjang, bangkit dari tidurnya berjalan menuju kamar Kenzo.
Sembari dihantui rasa kesal yang teramat dalam, Zahra mendekati Kenzo dengan memasang wajah masamnya.
"Dimana sepatuku?"
Zahra mengambil gagang sapu, lalu memasukkan kebawah sofa. Ia mengorek keluar sepatu Kenzo, yang kemarin di buang sembarang oleh pria itu.
Tak terima dengan ocehan Zahra, Kenzo berlari mengejar gadis itu menuju kamar Zahra.
"Apa lagi?" judes Zahra.
Tak memperdulikan perkataan gadis tersebut, Kenzo menyerobot masuk ke dalam, membaringkan tubuhnya di atas kasur Zahra.
"Anda mau ke kantor, atau mau tidur?"
Sama sekali tidak perduli, Kenzo menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
"Berikan aku waktu lima menit saja, " ujarnya.
"Dih, aku tidak perduli. Jika nanti kau jatuh miskin, gajiku tetap sama seperti sekarang ini."
"Tenang saja, aku tidak mungkin jatuh miskin."
"Iya deh, percaya aja. Jika sampai itu terjadi, akan ku jual kau pada tante-tante, " ujar Zahra mendekati Kenzo.
Kenzo tertawa terbahak-bahak, menyingkirkan selimut dari tubuhnya.
"Tante-tante yang mana?"
"Itu yang ada di diskotik sana."
"Sejak kapan kau kesana?"
Sadar dengan ucapannya yang tidak terkontrol, Zahra melepaskan tawanya renyah.
__ADS_1
"Kau nakal yah, suka ke diskotik, " ujar Kenzo menarik Zahra, hingga gadis itu bertubrukan dengan dada bidangnya.
"Mana ada."
Zahra mendorong tubuh Kenzo, menjauh dari dirinya.
"Tadi kau sendiri yang bilang, " ujar Kenzo tersenyum jahil.
"Nggak yah, itu hanya bercanda, " serkah Zahra tak ingin Kenzo berpikir yang aneh terhadapnya.
Kenzo yang bangkit dari tempat tidur, hendak mendekati Zahra melirik kearah bunga yang ada di sana. Ia melewati Zahra begitu saja, berjalan mengambil bunga itu.
"Dari mana bunga ini?"
Zahra juga mendekati Kenzo, sedikit memegang lengan pria itu dari belakang mengintip bunga itu.
"Nggak tau, nemu di depan."
"Namanya atas namamu?"
"Iya, aku juga tidak tau dari siapa!"
Saat melihat note yang melekat jelas pada bunga itu. Kenzo kini mulai tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.
"Apa itu? Apakah aku tidak salah lihat? tulisan tangan itu, " gumam Kenzo
Sedangkan Zahra yang sama sekali tidak tau menau, berdiri di balik punggung Kenzo bingung.
"Tuan, apakah kamu baik-baik saja?" tanya Zahra
"Mau ikut aku ke kantor?" tawar Kenzo.
"Lebih baik aku istirahat saja di sini," tolak Zahra sembari memainkan kedua matanya.
"Saya mohon Zahra, " lanjut Kenzo memohon.
Setelah mendapatkan anggukan persetujuan dari Zahra Kenzo bernafas lega. Kenzo pun kini segera bergegas Keluar kamar, membiarkan bersiap-siap.
Kenzo mulai mencari keberadaan Vino. Ia membuka pintu ruang kerja Vino, dan benar saja pria itu sedang berada di sana.
"Cari tau ada hubungan apa antara Michael dan Zahra!" pintah Kenzo dengan nafas memburu.
Zahra yang sudah selesai bersiap, menghampiri Kenzo yang baru saja keluar dari ruang kerja Vino.
"Ada apa ini?" gumam Vino, melihat kepergian kedua insan itu.
Kenzo bersama dengan Zahra, melangkah menuju mobil yang sudah di tunggu Tio di sana.
"Minta Maria menyiapkan beberapa makanan keruangan saya, " ujar Kenzo.
Tio mengangguk mengerti, lalu menekan ponselnya mengirimkan pesan pada Maria sebelum mengemudi meninggalkan rumah itu.
.
.
.
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
__ADS_1
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.