
Kenzo dengan penuh amarah, menghujani tubuh Dion dengan beberapa pukulan keras yang dihasilkan tangannya.
Zahra yang melihat kehadiran Kenzo di sana, memeluk erat kedua lututnya semakin keras menumpahkan tangisannya.
“Kurang ajar, aku tidak pernah menyentuhnya tapi tangan kotor mu ini malah dengan lancangnya menyentuh tubuh gadisku!”
Bruk
Kenzo menginjakkan jari-jari Dion, geram akan kelakuan pria itu yang lancang kepada gadisnya. Tak sampai di situ saja, Kenzo mengambil sabuk yang dipakai Dion mencabuk Zahra melakukan hal yang sama yang dilakukan Dion tadi.
“Siapa kau, beraninya melukai gadisku?!”
Amarah Kenzo semakin menjadi-jadi, Ia mengambil tubuh Dion lalu membanting kearah tembok membuat pria itu memuntahkan cairan merah dari mulutnya.
“Akan ku habisi kau Kenzo!”
Dion yang sudah hendak mengarahkan sebuah baja kearah Kenzo, dengan cepat dihentikan Michael yang terlebih dahulu menendangnya keras.
“Manusia bangsat seperti mu pantas mati.”
Michael meluncurkan pelurunya berkali-kali, tepat pada tangan Dion yang Ia gunakan untuk melecehkan Zahra.
Zahra yang ketakutan akan suara tembakan dan juga darah yang mengalir di lantai, menutup telinga dan juga matanya sembari terus terisak di atas ranjang.
Menyadari hal itu, Kenzo membuang sembarang senjatanya membuka jaketnya menutupi tubuh Zahra memeluknya erat.
“Hei, aku di sini sayang, “ ujar Kenzo memegang kedua pipi Zahra lembut.
Zahra membuka perlahan matanya, langsung memeluk erat tubuh Kenzo tak mau melepaskannya lagi.
“A-aku pi-pikir, “ Zahra menggantungkan ucapannya.
“Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti gadisku, “ Kenzo mengusap-usap lembut rambut panjang Zahra memenangkannya.
Tak menjelang lama, beberapa orang suruhan Xio Lang sudah memasuki ruangan itu menolong Dion yang hampir tewas.
Michael yang mulai kehabisan kesabarannya, menarik pelatuk beberapa kali menembak mati musuh-musuh yang sama sekali tidak berkurang malah semakin banyak.
Ciko yang baru saja tiba bersama beberapa orang anak buah Michael, langsung terjun membantu Vino dan juga Tio, Tino.
Setelah berhasil melumpuhkan sebagian musuh di luar, mereka berlari masuk kedalam gudang tua itu.
Sementara Michael, sudah hampir kewalahan menangani musuh-musuh yang semakin bertambah jumlah mereka.
“Sayang, kau tunggu di sini jangan kemana-mana, “ ujar Kenzo sedikit melepaskan pelukan Zahra.
Mendapat sedikit anggukan kecil dari Zahra, Kenzo kembali memungut senjatanya mulai bergerak membantu Michael.
Pertarungan itu terus berlanjut, Dion yang berlumuran darah mengambil kesempatan mendekati Zahra ketika kedua pria itu lengah.
“Kenzo!” teriak Zahra heboh ketika Dion sudah memeluknya dari belakang.
Cukup sudah, kehabisan Kenzo sudah sangat berakhir. Ia sama sekali tidak memperdulikan lagi beberapa orang yang menghajarnya, Kenzo menarik paksa belati dari balik kantong Michael menusuk lengan Dion.
__ADS_1
“Argh!” ringis Dion menahan kesakitan.
“Sudah ku peringatkan, jauhi gadisku!”
Bruk
Bruk
Berulang kali Kenzo menghajar tubuh Dion, hingga Ia terkapar tak berdaya di lantai baru pria itu melepaskannya.
Zahra kali ini tidak ingin melepaskan Kenzo lagi, Ia takut ada yang akan mendekatinya lagi.
“Lo, jaga adik gue.” Michael memunggungi Kenzo dan juga Zahra, mulai meluncurkan beberapa peluru kearah musuh melindungi kedua insan itu.
Zahra sempat mendengar sekilas ucapan Michael, melirik kearah Michael dengan tatapan bingungnya.
“Siapa dia?” batin Zahra bertanya-tanya.
Ketika Kenzo bersama pasukannya sibuk menolong Zahra, di kediamannya Arnia justru tengah risau karena belum juga mendapat kabar dari cucunya dari kemarin.
“Bagaimana, sudah ada kabar dari Vino?” Bita yang sedari tadi memperhatikan ponselnya, melirik Arnia menggelengkan kepalanya.
“Belum Nyonya, “ ujar Bita.
Arnia bangkit dari duduknya, berjalan mondar-mandir gelisah dengan keadaan saat ini. Mbok Ina mendekati Arnia, dengan membawa obat dalam tangannya.
“Nyonya, sudah saatnya anda minum obat.”
Masih dengan penuh kekhawatiran dalam dirinya, Arnia menerima obat-obatan dari tangan Mbok Ina memasukkan kedalam mulutnya.
“Tidak Ina, aku akan tetap di sini sampai mereka pulang.”
Mbok Ina yang tidak bisa membantah perkataan Arnia, membisikkan sesuatu pada Lia yang langsung membuat wanita itu masuk kedalam kamar.
Beberapa menit berikutnya, Lia kembali dengan membawa sebuah bantal dan juga selimut.
“Jika tidak ingin ke kamar, anda istirahat saja di sini sembari menunggu tuan muda.”
Arnia tidak mau membantah ucapan Mbok Ina, merebahkan dirinya di sofa sembari menatap kearah pintu masuk.
“Bangunkan aku, jika mereka kembali, “ ujarnya.
Mbok Ina dan juga kedua gadis itu, mengangguk mengerti Kembali mendekati area dapur menunggu kedatangan Kenzo bersama Zahra.
“Za, kemana kamu?” gumam Bita khawatir
Kembali ke Kenzo,
Michael yang berhasil melumpuhkan sebagian musuh, menetralkan nafasnya yang memburu. Ketika beberapa musuh kembali menyerang, Kenzo melirik Michael sekilas. Sepertinya Ia juga harus membantu pria itu, jika tidak Michael akan kewalahan dan itu akan sangat berbahaya.
“Michael, jaga Zahra!”
Nama itu, Nama itu begitu familiar pada telinga Zahra namun, Ia sama sekali tidak mengingat siapa Michael yang berada di hadapannya ini.
__ADS_1
Lepas dari pelukan Kenzo, Zahra di tarik pelan Michael masuk kedalam pelukan pria itu. Tak sampai di situ saja, Michael meneteskan air matanya mengecup dalam kening Zahra.
“Aku merindukanmu, “ ujarnya.
Zahra yang diperlukan seperti itu, bingung harus bagaimana? Ia sama sekali tidak berani membalas pelukan Michael.
Di luar ruangan mereka, Anak buah Michael maupun Kenzo berhasil menghabisi lawan mereka. Tapi, ketika mereka hendak masuk kedalam anak buah Xio Lang langsung menghadang mereka.
“Xio, mereka sudah kewalahan, “ lapor Mira yang sedari tadi memantau pertarungan itu.
Michael yang sedari tadi memperhatikan Mira, sembari memeluk Zahra Ia melayangkan tendangannya mengenai tangan Mira.
Krek
Bunyi ponsel Mira yang hancur di lantai, membuat gadis itu membukakan matanya ketakutan karena tertangkap basah.
“Kau benar-benar menguji kesabaran ku, mau pikir aku tidak bisa menghabisi karena kau wanita?!”
Plak
Michael melepaskan pelukannya dari Zahra, menampar pipi Mira begitu kerasnya hingga gadis itu tersungkur jauh.
“Beraninya kau membohongi kami!” bentak Michael menarik rambut Mira kasar.
“Bos, kita tidak masuk?” Xio Lang tersenyum menghisap panjang rokoknya, menatap pertempuran itu dari dalam mobilnya.
“Biarkan mereka, kita pulang.”
Tanpa basa-basi lagi, anak buah Xio Lang memutar mobilnya meninggalkan gudang itu. Dari kejauhan, Ciko sempat melihatnya sekilas.
Dion yang tersadar kembali dari pingsannya, meraih pistol yang tergeletak di sana mencoba bangkit perlahan mendekati Kenzo. Ia melirik sekitarnya lalu tersenyum, ketika melihat Michael sibuk dengan Mira, dan Zahra yang berdiri ketakutan menatap Michael membuatnya leluasa mendekati Kenzo.
Kenzo yang masih sibuk dengan musuh-musuh di depannya, sama sekali tidak menyadari Dion yang sudah berada di belakangnya terus memukul beberapa pria itu.
Zahra mengalihkan pandangannya dari Michael menatap Kenzo, seketika membulatkan matanya ketika melihat Dion sudah mengarahkan senjatanya kearah Kenzo.
“Ken, “ gumam Zahra pelan.
Zahra sedikit berlari mendekati Kenzo, memeluk erat tubuh Kenzo dari belakang bersamaan dengan Dion yang melepaskan peluru dari pistolnya.
Dor
Suara tembakan Itu menggema, membuat Kenzo menghentikan pertarungannya dengan mata membulat. Michael juga melepaskan tangannya dari dagu Mira, menatap kearah Kenzo dengan wajah memerah.
.
.
.
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
__ADS_1
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.