
Seusai dengan perkataan Kenzo kemarin, Vino sudah mengambil alih perusahan Ardan dan membalik nama menjadi milik Sagara grup.
Mira yang mendapat kabar tentang perusahaan peninggalan ayahnya, menjadi sangat depresi.
Bagaimana tidak? Kenzo sudah menyapu bersih seluruh perusahaan ayahnya.
"Nona, kami meminta gaji kami. "
Mira yang baru sa terkena musibah, kali ini harus di hadapkan dengan para karyawan dalam rumah yang sudah sekitar lima bulan belum di bayar.
"Apa kalian tidak lihat?! saya sedang dalam masalah besar! "
Seolah tidak memperdulikan perkataan serta keadaan Mira saat ini, seluruh karyawan rumah itu memberontak dengan mengambil barang-barang berharga dari rumah tersebut.
"Apa yang kalian lakukan? simpan barang-barang aku! " teriak Mira menggema.
"Maaf, anda tidak bisa menggaji kami maka kami terpaksa harus melakukan ini, " ujar Leri.
Mira tampak frustasi, Ia mengambil senjata apinya menembak sembarang arah.
"Cepat ikat dia! "
Dengan perintah Leri, beberapa orang pelayan menyeret paksa Mira ke sebuah kursi.
"Lepaskanlah, apa yang kalian lakukan?! "
"Leri lepaskan bang sat! "
Umpatan Mira seolah tidak mempengaruhi Leri untuk melepaskannya, dengan perintah Leri seluruh pelayan yang berada di rumah itu menyapu bersih setiap barang berharga yang berada di sana, lalu kabur begitu saja.
"Beraninya kau! "
Leri sedikit tersenyum, menatap tubuh Mira intens sembari mengusap pelan bibirnya.
"Jangan berani macam-macam Leri. "
Leri mengangkat tangannya, mengisyaratkan kepada beberapa orang pelayan yang berada di sana agar keluar dari ruangan itu.
Dan yah benar saja, mereka mematuhi perkataannya. Salah seorang dari mereka yang keluar paling belakang, menutup pintu dari luar.
Leri kembali melirik Mira, Ia begitu tergoda dengan pakaian yang di kenakan anak bosnya itu. Bagaimana tidak tergoda coba? Mira mengenakan rok sependek mungkin, dengan kaos crop yang menampilkan belahan dadanya.
"Kau benar-benar ja Lang, " ujar Leri mendekati Mira.
"Leri! " bentak Mira.
Bukannya takut, pria itu justru semakin mendekatkan wajahnya pada bibir ranum Mira.
"Akh, ini pasti begitu nikmat, " ujarnya dengan sedikit *******, menyentuh bibir itu.
Hal itu, begitu membuat Mira jijik apalagi ekspresi wajah Leri saat ini semakin membuatnya ingin memuntahkan isi perutnya.
Tangan Leri sudah begitu lancangnya menyentuh gundukan kembar Mira, sembari meremasnya dengan penuh gairah.
Mira yang awalnya menolak, kini memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan Leri pada tubuhnya.
"Kenapa kau begitu menikmatinya? "
Mira dengan sedikit malu, menganggu mengiyakan perkataan Leri lalu membuka lebar kedua pahanya hingga menampilkan bagian bawahnya.
"Dasar pela cur, " ujar Leri yang semakin menggila dengan tubuh Mira.
Tangannya perlahan turun, mengelus paha Mira lalu berlanjut masuk ke bagian sensitif wanita itu.
__ADS_1
"Akh, " desah Mira menikmati indahnya permainan tangan Leri di bawah sana.
Dor
Saat hampir mencapai puncak, Mira di kejutkan dengan tubuh Leri yang sudah terkapar di bawah lantai.
Dari balik pintu, muncul seorang pria yang usianya sama dengan Ardan ayah Mira mendekati gadis itu.
"Hallo baby girl, " ujar pria itu yang tidak lain adalah Xio Lang.
Mira yang terkejut dengan kehadiran sipit itu, hendak menutup rapat kakinya. Namun, dengan cepat di tahan Xio Lang.
Xio Lang melihat setiap inci tubuh stengah busana Mira, lalu menatap salah seorang anak buahnya.
"Bawa dia! "
"Tidak, mau di bawa kemana saya. "
Meski berusaha menolak, Dengan begitu paksaan akhirnya Mira di bawa Xio Lang pergi dari sana.
...***...
"Tuan, apa kita harus merebut Mira? "
Michael yang sedari tadi fokus dengan ponselnya, mengangkat wajahnya menatap Ciko dari spion depan.
"Aku tidak ingin memungut sampah Ciko, ayok kembali ke rumah."
Ciko mengangguk mengerti, lalu mengemudikan mobilnya meninggalkan kediaman Mira.
Awalnya mereka tidak ingin jadi penguntit di sana, tapi setelah melihat Xio Lang yang memasuki rumah itu rasa penasaran Michael begitu tinggi.
"Tunggu saat yang tepat, baru kau sebar foto itu. "
Yah, bukan tanpa hasil dirinya menguntit Michael berhasil mendapatkan foto dimana Xio Lang menembak mati Leri, lalu ketika Xio Lang sedikit menyentuh tubuh Mira.
Akan ada saatnya, Ia menyebarkan foto-foto itu dan menghancurkan Xio Lang.
Di saat Micheal sedang sibuk menyusun rencana untuk menghancurkan Xio Lang, Kenzo sudah lebih dahulu mengambil alih salah satu wilayah kekuasaan Xio Lang yang berada di Kalifornia.
"Hari yang melelahkan, " ujar Tio meregangkan otot-otot tubuhnya.
Sejak pagi tadi, bersama Kenzo mereka semuanya hanya menghabiskan waktu di ruang televisi sembari berkutat dengan laptop masing-masing.
"Zahra! "
Teriakkan Kenzo menggema, sembari menyenderkan tubuhnya di sofa Kenzo memanggil Zahra.
"Zahra! " teriak Kenzo lagi, ketika gadis itu tidak muncul di hadapannya.
"Za-
Ucapan Kenzo terhenti, ketika melihat sosok yang di carinya mendekat kearahnya sembari mengunyah permen.
"Iya yang mulia, ada yang bisa saya bantu? " tanya Zahra dengan membungkuk ketika dirinya sudah berada di hadapan Kenzo.
Semua yang berada di sana, ingin meloloskan tawa mereka namun, setelah melihat tatapan intimidasi dari Kenzo, nyali mereka seketika ciut.
"Tolong pijat tangan saya, bagian sini begitu sakit. "
Zahra berdecak kesal, memasukkan semua permen yang ada di tangannya kedalam mulut, kemudian mendekati Kenzo.
Sembari mengunyah, Zahra memijat pelan tangan Kenzo yang menurut pria itu, sama sekali tidak ada rasanya.
__ADS_1
"Itu nggak ada rasa Zahra, " ujar Kenzo.
"Ada kok, rasanya stroberi mix jeruk. "
Kenzo sedikit melirik ke arah gadis itu, menggelengkan kepalanya lalu menarik tangan Zahra.
"Yang saya maksud itu tangan saya yang kamu pijat, bukan isi mulutmu. "
Zahra hanya menanggapi perkataan Kenzo dengan cengengesan, lalu mengeluarkan seluruh tenaganya.
"Bagaimana? "
Kenzo menarik nafasnya panjang, mengambil tangan Zahra.
"Kuat sedikit seperti ini Zahra, " titah Kenzo sembari memijat tangan Zahra.
"Aaa enaknya, lagi dong di bahu Zahra. Ini pegel banget habis ngebersihin kamar tuan, " ujar Zahra berbalik memunggungi tubuh Kenzo.
Kenzo menatap kearah Tio, Vino, dan juga Tino yang seketika ketiga anak buahnya bangkit dari tempat duduk mereka.
"Mau kemana? " tanya Zahra.
"Mau menyucikan mata, " jawab Tino.
Zahra yang terlihat bingung akan Maksud dari perkataan Tino, berbalik menatap Kenzo mencari jawaban.
"Balik, katanya mau di pijat. "
Dengan semangat empat lima, Zahra berbalik lagi memunggungi Kenzo. Tangan Kenzo yang sudah di bahu Zahra, mulai menekan secara perlahan merilekskan otot-otot tubuh Zahra.
Sembari mencari kesempatan dalam kesempitan, tangan Kenzo perlahan mengusap lembut punggung Zahra.
"Sudah-sudah, sekarang biar Zahra yang pijat saja, " ujar Zahra.
Ia baru saja menyadari kepergian ketiga pria tadi, setelah tangan Kenzo mengusap punggungnya.
Kenzo sedikit terkekeh, berbalik memunggungi tubuh Zahra.
Dengan sekuat tenaga, Zahra menekan otot-otot tegang pada bahu Kenzo. Bukannya merasa baikan, Kenzo justru merasa geli.
"Hentikan sayang."
Zahra tersontak kaget, dengan panggilan yang di berikan Kenzo kepadanya. Ia membalikkan tubuh Kenzo, menatap dirinya.
"Sepertinya aku yang salah dengar, " ujarnya.
Kenzo tersenyum kecil, menggenggam tangan erat tangan Zahra.
"Tidak sayang, kau tidak salah dengar. "
Seperti pedofil yang ingin memburu anak kecil, Zahra bergidik ngeri mendengar perkataan Kenzo.
"Kayak om om yang mau menerkam anak kecil. "
Zahra menarik tangannya dari genggaman Kenzo, berlari meninggalkan ruangan tersebut.
Kenzo sedikit terkekeh kecil, ikut mengejar yang sudah berlari ke kamarnya di belakang.
.
.
.
__ADS_1
Please 🙏 kalau mampir ke cerita aku jangan lupa komen sama likenya biar aku tau kalau ada yang baca ❤️