My Posesif Bos

My Posesif Bos
Michael siapa?


__ADS_3

“Sial! Cari siapa pelakunya!”


Teriakkan Xio Lang menggema di seluruh penjuru ruangan, di kala berita tentang perampokan yang dialami Erlan mencapai telinganya.


Kali ini, Ia benar-benar frustasi sebab Erlan satu-satunya rekan bisnis gelap yang mau memberinya harga tinggi.


“Dari informasi yang di dapat, para perampok itu menggunakan topeng bos. Jadi, sangat susah untuk mengetahui siapa mereka.”


Bruk


Kuping Xio Lang panas dengan emosi yang menggebu-gebu, benda yang berada di atas meja menjadi serpihan-serpihan kecil di lantai.


“Bungkam seluruh media, jangan sampai kita diseret.”


Mendapat perintah seperti itu, anak buahnya langsung melangkah keluar rumah. Xio Lang mengusap kasar wajahnya, bisa-bisanya Ia kecolongan.


Michael tertawa puas, ketika melihat Xio Lang begitu kacau dalam menangani kegilaannya malam itu. Ia meletakkan kembali tab yang diberikan Ciko, melangkah menuju balkon.


“Tuan, apa kita akan menyebar fotonya bersama Mira sekarang?”


Sebelum menjawab pertanyaan Ciko, Michael tersenyum kecil berbalik menatap anak buahnya itu.


“Tahan Ciko, jika kita bernafsu sekarang itu akan sangat merepotkan.”


Ciko mengangguk mengerti, kemudian mendekati tabnya. Ia membuka sebuah foto yang seketika, membuat Michael tersenyum pahit.


“Saya melihatnya bersama Kenzo tuan, “ ujar Ciko.


Jantung Michael berdebar kencang, Ia sedikit berjalan kembali ketempatnya semula menatap benda pipih itu. Wajahnya memerah bak tomat masak, di kala mengusap lembut layar tab tersebut.


“Biarkan Kenzo bersamanya, “ ujarnya.


Ciko cukup terkejut dengan apa yang di katakan Michael. Pasalnya, Ia selama ini begitu membenci Kenzo lalu kenapa sekarang Ia memberikannya bersama Kenzo?


“Anda yakin tuan?” tanya Ciko memastikan.


“Kenzo tidak akan melukainya, “ jawab Michael tanpa mengalihkan pandangannya.


Melihat wajah bingung Ciko, Michael bangkit dari duduknya tersenyum kecil mendekati anak buahnya.


“Percaya padaku, “ ujar Michael menguatkan Ciko.


Pasrah akan perkataan tuannya, Ciko hanya bisa mengangguk mengerti kemudian berjalan meninggalkan ruang kerja Michael.


Selepas kepergian Ciko, Michael menatap kearah balkon menghirup dalam udara yang sudah tercemar oleh polusi kota.


“ Sangat tidak bagus, “ gumamnya.


...***


...


“Breaking news, seorang perwira polisi dengan pangkat jenderal, menjadi salah satu penada gan ja dan juga senjata api. Di duga, pelaku membeli barang-barang tersebut dari seseorang yang masih dalam tahap penyelidikan.”

__ADS_1


Kenzo tersenyum smrik, mematikan televisinya berbalik menatap satu persatu anak buahnya yang sudah berkumpul di ruang rahasianya.


“Terus pantau mereka, jangan sampai namaku di seret.”


Semuanya mengangguk patuh, Vino dengan membawakan laptopnya berjalan masuk kedalam ruangan itu, membuat seluruh mata hanya tertuju padanya.


“Pelakunya Michael, “ ujarnya menunjukkan laptopnya.


“Bang sat itu, “ umpat Kenzo pelan.


Meski begitu, ada sedikit senyuman terukir pada bibir Kenzo ketika mendengar kegilaan Michael. Permusuhan diantara keduanya, entah sampai kapan akan berakhir.


Kenzo melangkah bersama ponselnya di tangan, menuju kursi kebesarannya. Ketika Kenzo sudah duduk, barulah seluruh pasukannya ikut duduk.


“Bita sudah mengantar makanan?”


Tino yang baru saja hadir dari bilik belakang, mendekati salah seorang pengawal di sana. Saat mendapat gelengan kepala dari pria itu, Tino mengusap kasar wajahnya. Sejak pagi tadi, perutnya benar-benar kosong tidak terisi makanan sedikit pun.


Melihat wajah Tino sudah tidak karuan menahan lapar, Kenzo menekan beberapa tombol pada ponselnya menghubungi Mbok Ina.


“Suru mereka mengantarkan makanan, “ ujar Kenzo.


Setelah mengatakan hal itu, Ia menutup panggilannya tanpa menunggu lagi apa jawaban dari Mbok Ina. Sebab, meskipun hanya bernafas saja Mbok Ina pasti sudah tau apa yang diperlukannya.


Tanpa menunggu lama, wanita paruh baya itu menyiapkan makanan yang akan di bawa ke ruang khusus Kenzo.


“Hana, panggil Bita dan juga Zahra!” titah Mbok Ina, dengan tangan yang masih sibuk mengatur makanan tersebut.


Dengan gerakan secepat kilat, gadis itu melangkah menuju gudang mencari kedua gadis tersebut. Yah, sejak pagi karena tidak ada pekerjaan Mbok Ina memerintahkan keduanya membereskan gudang yang dihancurkan Kenzo bersama Vino dan Tio kemarin.


Bita yang begitu sangat kelelahan, mendengar suara Hana yang sangat tidak bersahabat emosinya memuncak. Wanita itu berjalan menyenggol kasar Hana, menuju dapur dimana Mbok Ina berada.


“Biasa aja dong, “ kata Hana tak terima.


Zahra yang sama sekali malas mencari masalah, memilih mengikuti Bita tanpa ekspresi sama sekali.


“Cih, dasar murahan!” umpat Hana yang begitu terdengar jelas pada kuping Zahra.


Tak mau ambil pusing, Zahra kembali melanjutkan langkahnya hingga tiba di dapur bersamaan dengan Bita.


“Bawa ke ruang belakang!”


Mendengar perintah dari Mbok Ina, kedua gadis itu seperti ditusuk belati secara berulang kali. Zahra yang sudah tidak sanggup, meletakkan kepalanya di atas meja makan.


“Habis ini, kalian boleh istirahat.”


Dua helaan nafas panjang terdengar nyaring pada kuping Mbok Ina, beriringan dengan tangan kedua gadis itu yang sudah menenteng makanan menuju ruang belakang.


Zahra yang dari awal bekerja belum menginjak tempat itu, terkagum-kagum saat melihat pemandangan indah didepannya.


Sebuah rumah yang dipenuhi tanaman indah, menghias setiap dinding bangunan itu.


Melihat kehadiran mereka, seorang pengawal yang memang tugasnya menjaga tempat tersebut, membuka pintu lalu mendekati keduanya.

__ADS_1


“Di ruang televisi.”


Bita yang awalnya tersenyum akan dibantu, berdecak kesal saat pengawal itu melangkah melewati mereka begitu saja.


“Ayok Zahra, “ ujar Bita.


Dengan penuh kelelahan yang terpancar sempurna pada wajah keduanya, mereka mendekati meja yang disana sudah terdapat seluruh pasukan Kenzo yang tengah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.


“Apa kalian tidak punya hati!” bentak Zahra ketika sudah di hadapan Kenzo bersama anak buahnya.


Semuanya yang tadinya sibuk dengan urusan mereka, seketika terkejut dengan suara Zahra.


Begitu juga Kenzo, yang langsung menghampiri Zahra mengambil alih bawaan gadisnya meletakkan diatas meja.


Zahra sedikit menyenggol lengan Bita, ketika sofa dihadapannya begitu menggoda dirinya. Bita yang juga ikut terpancing, mendorong tubuh Vino dan Tino mengambil alih tempat duduk keduanya.


“Apa yang kalian lihat?! Lanjutkan pekerjaan kalian!”


Melihat gadisnya ditatap seluruh anak buahnya, Kenzo tidak terima. Dan yah, dengan sedikit suaranya saja semuanya tertunduk tak berkutik kecuali Vino dan Tino.


“Sabar Vino, dia bosmu.” Batin Vino sembari mengusap-usap dadanya.


Kenzo berjalan mendekati Zahra, menarik tangan gadis itu membawanya ke kursi milik Kenzo. Zahra yang memang kelelahan hanya bisa pasrah mengikuti kemana Kenzo membawanya.


“Capek?”


Yah, pertanyaan konyol yang sudah diketahui jawabannya pun, masih saja di keluarkan Kenzo dari mulutnya.


“Hmm, semua karena ulahmu.”


“Memangnya aku salah apa?”


Zahra dengan segera menempelkan telunjuknya pada bibir Kenzo, tak ingin pria itu terus mengoceh hal-hal yang tidak masuk akal.


“Tuan, Michael sepertinya mengajukan kerjasama dengan perusahan Zico.”


Tio yang entah dari mana datangnya, menghampiri Kenzo dengan membawa beberapa berkas pada tangannya.


“Michael?


Seluruh pandangan kini kembali tertuju pada Zahra, ketika gadis itu tak sengaja melontarkan kata itu.


“Michael siapa? Kalian mengenalnya?” tanya Zahra menatap wajah Kenzo dan Tio bergantian.


.


.


.


Hai pembaca setiaku...


Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.

__ADS_1


Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.


__ADS_2