
Setelah Kenzo menyelesaikan pekerjaannya, Ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju balkon yang di sana terdapat Zahra yang tengah meminum coklat hangat sembari menatap bintang-bintang, menunggu pekerjaan Kenzo berakhir.
“Ayok pulang! “ pintah Kenzo yang dengan cepat di angguki oleh gadis tersebut.
Keduanya beriringan menuju lift khusus untuk Kenzo, di sana Vino sudah menunggu kedatangan mereka.
“Biar Zahra yang bawakan, “ titah Zahra sembari mengambil alih tas milik Kenzo dari tangan Vino.
Vino yang memang sudah sangat kelelahan, dengan sangat bahagia menyerahkan tas Kenzo kepada Zahra.
Setibanya di lantai bawah, Kenzo memperlambat langkah kakinya agar bisa sejajar dengan langkah Zahra, hal tersebut membuat Vino mengumpul senyum bahagia.
“Serasi, “ gumam Victor namun masih sangat jelas di dengar oleh Zahra.
“Apanya yang serasi? “ tanya Zahra menghentikan langkahnya.
Kenzo yang juga mendengar perkataan Victor, dengan cepat menarik tangan Zahra menjauh dari Victor.
"Jangan banyak tanya, ayok jalan! " pintah Kenzo.
Sebab, Ia tau gadis tersebut pasti akan terus bertanya dan mengoceh tanpa henti.
Langkah mereka terhenti, saat sudah di depan mobil Kenzo. Vino yang memang mengemudi, lebih dahulu masuk ke tempat kemudi.
Sedangkan Kenzo duduk di bagian belakang, Zahra yang kebingungan ingin duduk di mana sedari tadi tidak bergerak dari tempatnya.
“Zahra ayok! “ ujar Victor sedikit berteriak.
“Ah iya. “
Dengan segera, Zahra membuka pintu mobil bagian depan tepatnya di samping Vino.
Namun, dirinya kalah cepat dengan Vino yang sudah mengunci pintu tersebut dari dalam.
“Masa Zahra duduk sama Tuan Kenzo sih, “ ujarnya yang tidak terima dengan perlakuan Vino.
“Kenapa memangnya jika duduk di sebelah saya? “ bukan Vino yang menjawab, melainkan Kenzo yang balik bertanya kepada gadis tersebut.
“Saya kan pembantu di rumah Anda, masa saya duduk berdampingan dengan Anda. Kan gak sopan namanya, “ jelas Zahra panjang lebar.
Raut wajah Kenzo seketika berubah kala mendengar kata “pembantu” keluar dari mulut gadis tersebut.
Vino yang mulai canggung dengan situasi tersebut, dengan segera membukakan pintu mobil bagian depan. Zahra akhirnya duduk bersebelahan dengan Vino, dan bukannya Kenzo.
“Astaga Bita pasti udah misu-misu gak jelas nih dari tadi, “ oceh Zahra yang baru saja teringat akan Bita.
Ah sebenarnya bukan Bita sih yang dia ingat, tapi Kemasan coffe yang di titipannya kepada Bita pagi tadi.
“Ada apa? “ tanya Vino penasaran.
Sedangkan Kenzo, hanya bisa mendengar sembari memainkan benda pipih di tangannya.
“Khawatir aja, Mbak Bita beli coffenya bener apa gak yah?! “ ujarnya sembari terus menatap ke luar kaca.
"Pasti benar kok, Bita nggak pernah salah kalau soal belanja, " jelas Vino.
__ADS_1
Zahra mengangguk paham dengan apa yang di sampaikan Vino.
"Menurut mas tampan, siapa yang paling kerena antara Jimin atau Suga? "
"Mas tampan? "
Mendengar penuturan Zahra, Kenzo bertanya-tanya siapa yang di maksud mas tampan oleh gadis itu.
"Iya, Mas Vino kan tampan, " jelas Zahra tanpa dosa.
Gadis itu tidak menyadari jika wajah tuannya berubah menjadi kesal sekarang.
"Maaf Zahra, saya tidak terlalu mengerti soal itu. "
Mendengar jawaban Vino, Zahra cukup kecewa. Namun, Ia terima sebab tidak semua orang suka dengan apa yang disukainya.
“Dasar kekanak-kanakan! “ ujar Kenzo menyindir gadis di depannya.
Zahra berdecak kesal, saat kata-kata dari Kenzo menembus dinding pendengarannya.
“Kalau mau ribut bilang dong! “ ujar Zahra yang tak terima dengan sindiran halus, namun mematikan dari Kenzo.
“siap-
Bruk
Ucapan Kenzo terhenti, saat sebuah mobil tangki bahan bakar menabrak kasar mobil mereka.
“Tuan ada yang mengikuti kita, “ ujar Vino sembari menaikan kecepatan laju mobil tersebut.
“Pistol ku! “ pintah Kenzo yang secepat kilat, Vino menyerahkan pistolnya dan kembali berfokus pada kemudi.
Dor
Satu tembakan sempurna dari Kenzo, berhasil menembus hingga lapisan paling dalam ban belakang mobil musuhnya.
Saat Vino ingin menyelipkan mobil mereka, sebuah Van putih muncul dari arah samping menghalangi jalan.
“Sial! “ umpatnya sembari terus melaju.
Kenzo yang sedari tadi fokus menembaki musuh-musuhnya, Ia seketika tersadar bahwa saat ini dirinya tengah membawa Zahra bersamanya.
“Vino, turunkan kecepatan mobil! “ pintahnya sembari tangannya terus menembak ke arah musuhnya.
“Ayok pindah kesini, Zahra, “ ujarnya saat tangannya sudah berada di dekat sebelah wajah Zahra.
“Zahra takut. “
“Ada aku disini, jangan takut. “
Zahra yang mendengar perkataan Kenzo, membuka matanya perlahan dan saat kecepatan mobil sangat pelan, Kenzo dengan cepat menarik Zahra hingga gadis tersebut terjatuh dalam pangkuannya.
Dor
Sebuah serangan dari musuh berhasil menembus kaca mobil, untungnya dengan sigap Kenzo menarik kepala Zahra sehingga tembakan tersebut meleset.
__ADS_1
“Vino, dekati mobil depan! “ ujar Kenzo sedikit berteriak dan sebelah tangannya memegang erat tubuh Zahra yang berada di pangkuannya.
Dengan secepat kilat, Vino menaikkan kecepatan lajunya hingga berhasil mendekati mobil depan.
Saat Kenzo hendak mengarahkan pistolnya ke arah musuh, maniknya sekilas melirik Zahra yang bersembunyi di balik tubuhnya penuh ketakutan.
“Angkat wajahmu, Zahra, “ pintah Kenzo.
Dengan penuh ketakutan, Zahra perlahan mengangkat kepalanya menatap lekat wajah Kenzo.
Kenzo menarik tangan Zahra, meletakkan pistolnya pada tangan gadis tersebut lalu Ia menggenggam erat tangan Zahra dan mengarahkan ke arah musuh yang tepat berada di sebelah mereka dan....
Dor
Zahra membulatkan matanya saat tembakannya berhasil tepat pada sasaran.
Dengan tangan yang bergetar hebat, Zahra membuang sembarang pistol tersebut dan tak sadarkan diri lagi.
"****! " umpat Kenzo menatap wajah Zahra.
Setelah berhasil meloloskan diri, Vino kembali melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju kediaman Kenzo.
“Pake pingsan lagi, “ ujar Kenzo yang tengah memangku Zahra sembari tersenyum kecil.
Setibanya di rumah, Kenzo mengangkat tubuh Zahra lalu membawanya menuju kamar gadis tersebut.
“Biar aku saja, “ ujar Vino menawarkan diri ingin menggendong Zahra namun, yang di dapatnya justru tatapan tajam dari bosnya itu.
“Mau mati bilang! “ ujar Kenzo sembari melangkah masuk kedalam kamar Zahra.
Bita yang melihat keadaan Zahra yang sudah tidak sadarkan diri, berlari menghampiri tuannya.
“Ambilkan air! “ pintah Kenzo setelah membaringkan tubuh Zahra di ranjang.
Bita datang membawa sebuah gelas berisikan air hangat lalu memberikan kepada Kenzo. Dan saat itu juga, Kenzo memberi isyarat agar Bita segera meninggalkan kamar tersebut.
“Cari tau siapa mereka! “ pintah Kenzo saat Bita sudah tak terlihat lagi.
Vino mengangguk mengiyakan setiap perkataan Kenzo, lalu melangkah mengikuti jejak Bita.
Kini, tersisa Kenzo dan Zahra yang tengah pingsan dalam kamar tersebut. Kenzo mengambil minyak kayu putih dari atas meja lalu mendekatkan kepada hidung Zahra, berharap gadis tersebut segera sadar.
“Yah, kamu milikku, “ ujar Kenzo begitu percaya diri menetapkan Zahra sebagai hak milik sepenuhnya.
“Kok gak sadar-sadar sih, “ kesal Kenzo sebab sudah hampir tiga puluh menit gadis di hadapannya belum juga tersadar.
Kenzo melirik ke sekeliling kamar tersebut dan seketika muncul sebuah ide gila di kepalanya. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam kantong, lalu mengusap beberapa kali layarnya dan memutar lagu yang begitu amat keras.
“Bultaoreune”
Seketika Zahra tersadar dari pingsannya setelah Kenzo memutar lagu "fire BTS" dari ponselnya. Kenzo yang melihat Zahra yang sudah siuman karena lagu menjadi kesal.
“Dasar menyebalkan! “ ucapnya sembari melempar bantal ke arah Zahra lalu berjalan keluar meninggalkan gadis tersebut.
“Dia kenapa? Aku kenapa? “ ucap Zahra yang kebingungan dengan apa yang telah menimpahnya tadi, dan mengapa Kenzo mara-mara tak jelas.
__ADS_1
🌾🌾🌾
Mana nih istrinya Jimin 🤣