
"Zahra! "
Selalu saja, teriakan itu menggema di seluruh penjuru rumah. Bagaimana tidak? ketika tuan rumah itu tidak menemukan sesuatu, Ia pasti akan selalu berteriak.
Zahra yang mendengar namanya di panggil, bersembunyi di balik tembok.
"Kemana Zahra? "
Mbok Ina yang sedang mencuci piring, menghentikan kegiatannya melangkah mendekati Kenzo.
"Itu, " ujar Mbok Ina dengan jari yang sudah tertuju pada Zahra.
Zahra yang melihat itu, dengan berat hati berjalan mendekati Kenzo.
"Iya tuan muda, " titah Zahra dengan senyuman mengambang, yah walaupun dengan penuh keterpaksaan.
Tanpa menunggu lama, Kenzo menarik tangan Zahra menuju kearah kolam.
"Mau kemana mereka? "
Arnia yang baru saja memasuki dapur, mengangetkan Mbok Ina dengan suaranya.
"Sepertinya kolam Nyonya, " jawab mbok Ina.
Arnia hanya mengangguk acuh, lalu memutar kembali ke kamarnya.
"Dimana Zahra? "
Kehadiran Bita juga, membuat wanita paruh baya itu terkejut.
"Sedang bersama tuan ke kolam, "
Bita hanya beroiyah lalu kembali berjalan menuju ruang keluarga. Di sana, sudah ada Tio, Tino dan Vino sedang sibuk dengan pekerjaan mereka.
Karena weekend, mereka hanya mengerjakan pekerjaan mereka di rumah saja.
"Cieee yang kerja, " ledek Bita ketika berlalu di hadapan mereka.
Dengan begitu kompaknya, ketiga pria itu menatapnya dengan tatapan tajam.
Bita menjulurkan lidahnya, meledek ketiganya kemudian berlari menjauh dari sana.
"Dasar bocah, " gumam Tio yang masih begitu sangat jelas di dengar Vino dan juga Tino.
Vino hanya menanggapi tingkah Bita dengan senyuman terukir pada bibirnya.
Terlepas dari tingkah Bita bersama ketiga pria sibuk itu, Zahra dan Kenzo saat ini tengah sibuk berdebat.
"Ya sudah kau saja yang naik, " titah Kenzo.
Zahra menganga lebar, bisa-bisanya tuannya menyuruhnya memanjat pohon yang sangat tinggi.
"Males! lagian kenapa sih pake acara nyangkutin topinya di sini? "
Mendapat penolakan yang sedikit di bumbui ocehan dari Zahra, Kenzo menjadi kesal.
"Ya mana saya tau anginnya niup sampe nyangkut di sini. "
"Jangan banyak alasan, sana cari kayu. "
Zahra sungguh wanita pemberani, ketika seluruh penghuni kota begitu sangat tunduk kepada Kenzo, gadis itu justru dengan santainya memerintah tanpa beban.
"Saya heran, yang bos di sini itu saya apa kamu? "
Sembari mencari kayu, Kenzo memilih bertanya hal tadi kepada Zahra.
"Nanti saja tanyanya, cepat kayunya! "
__ADS_1
Kenzo memberikan sebuah kayu yang lumayan panjang, dengan segera Zahra menjatuhkan topinya.
Setelah mendapatkan topinya, Kenzo menarik tangan Zahra berjalan kembali menuju ke tepi kolam.
Zahra yang sudah beberapa hari tidak memberi ikan-ikan makan, bergegas mengambil makanan ikan mulai menabur di atas air.
Kenzo yang merasa tidak di perdulikan Zahra, menarik paksa makanan ikan tadi dari tangan Zahra.
"Apa lagi?! " tanya Zahra penuh kekesalan dalam dirinya.
"Aku butuh di perhatikan bukan hanya ikan itu saja, " jelas Kenzo tanpa tertutup lagi.
"Sudah tua tuh nggak usah sok nyari perhatian, nggak cocok. "
Saking gemasnya dengan Zahra, Kenzo mencubit-cubit pipi gadis itu hingga memerah.
"Ken! " bentak Zahra.
Mendengar namanya di sebut stengah, Kenzo sontak terkejut. Sosok Jasmine dalam diri Zahra, seolah keluar begitu saja.
Zahra yang juga menyadari panggilannya kepada Kenzo, menutup mulutnya Menggunakan kedua tangannya.
"Maaf tuan, " ujarnya takut.
"Apa yang kau katakan tadi? "
"Maafkan aku, aku ti-
"Apa yang kau katakan Zahra?! "
menyadari suara Kenzo terdengar dingin, Zahra menunduk tak berani menatap wajah Kenzo lagi.
"Zahra, "
Intonasi suara Kenzo melembut, membuat Zahra mengangkat kepalanya.
"Maafkan aku, aku reflek memanggilmu seperti itu. "
"Teruslah memanggil ku dengan sebutan itu, " ujar Kenzo.
Zahra melepaskan pelukan tersebut, menatap lekat wajah Kenzo mencari titik dimana pria itu akan marah. Namun sayang, yang Zahra temukan hanya senyuman mengambang menatap dirinya.
"Mak-
Ting
Belum sempat Zahra menyelesaikan perkataannya, sebuah liontin jatuh dari kantong celana Kenzo. Yah, liontin yang sama yang di lihatnya waktu itu dalam sebuah kotak.
"Dari mana kau mendapatkan ini? "
Kenzo yang memungut liontin itu, tidak kuasa menatap wajah Zahra. Ia tau, Ia akan lemah dalam posisi saat ini.
"Jangan bilang, kau membelinya dari seseorang, " ujar Zahra menebak.
Kenzo sedikit merasa lega, Ia jadi punya alasan untuk mengelas ketika pertanyaan akan muncul dari mulut Zahra secara tiba-tiba.
"Iya, aku membelinya dari seorang pengemis. "
Kelopak mata Zahra seketika mengeluarkan cairan khasnya, yang ketika tumpah cairan itu akan terus membasahi pipinya.
"Apa kau berusaha membohongiku? "
Pertanyaan Zahra membuat jantung Kenzo kembali berpacu dengan kencangnya.
"Tidak nak, liontin itu memang di beli Kenzo pada seorang pengemis. "
Suara Arnia yang perlahan mendekati mereka, membuat Zahra berbalik menatapnya.
__ADS_1
Zahra yang masih ragu dengan ucapan Arnia, sedikit melirik ke arah Kenzo.
"Maafkan aku tuan, " ujar Zahra, menyesali perkataannya yang sangat tidak sopan tadi.
Arnia tersenyum menyentuh pundak Zahra, melirik ke arah Kenzo yang masih jongkok.
Kenzo bangkit mendekati Zahra, tersenyum kecil menanggapi permintaan maaf Zahra.
"Lanjutkan keributan kalian. "
Arnia meninggalkan keduanya, melangkah menuju taman yang jaraknya tak jauh dari hadapan keduanya.
"Aku harus membantu Bita, " titah Zahra.
Kenzo yang melihat Zahra sudah ingin pergi, dengan gerakan cepat menahan tangan Zahra.
"Apa kau lupa? sudah ku katakan, kau tidak boleh bekerja! " putus Kenzo ketus.
Zahra memutar bola matanya malas, melepaskan kasar tangan Kenzo.
"Menyebalkan, " umpat Zahra berjalan menjauhi Kenzo.
Kenzo yang ingin berlari mengejar Zahra, mengurungkan niatnya saat melihat Tino dengan tergesa-gesa mendekatinya.
"Anda harus ke markas sekarang! "
Kenzo melangkah mendahului Tino, bergegas menuju markas yang tidak jauh dari rumahnya.
Di sana, sudah ada Tio dan juga Vino, menunggu kedatangannya.
"Bau apa ini? "
Kenzo menutup hidungnya, ketika penciumannya menangkap bau amis di sekitar markasnya.
"Kami menemukan surat ini di dekat bangkai kambing itu tuan. "
Kenzo menerima kertas dari tangan Vino, yang seketika membuat senyuman terukir di bibirnya.
"Vino, apa kau sudah mengambil seluruh aset Ardan? "
"Sepuluh persen lagi tuan. "
"Besok selesaikan, Mira sepertinya ingin bermain-main denganku. "
Mengerti dengan maksud ucapan Kenzo, si kembar menggelengkan kepalanya. Keduanya sama sekali tidak habis pikir, dengan otak apa yang sedang di pakai Mira.
Kenzo menggulung kertas itu hingga menjadi lipatan paling kecil, lalu membuangnya masuk kedalam kandang hewan peliharaannya.
"Tio, sejam lagi bawa berkas yang kau rebut dari Xio Lang ke ruang kerja ku. "
Tio mengangguk mengerti, kemudian berlalu pergi dari sana.
Selepas kepergian Tio, tersisalah Kenzo bersama Vino dan juga Tino.
"Saya tidak perlu menjelaskan lagi, apa yang harus kalian lakukan bukan? "
Vino dan Tino, keduanya tampak mengerti akan perkataan Kenzo.
"Baik tuan. "
Mendapat jawaban yang menangkan pendengarannya, Kenzo melangkah masuk kembali kedalam rumah.
Tak lama, Seorang penjaga datang membawa alat pembersih, membersihkan bangkai itu dari depan markas Kenzo.
.
.
__ADS_1
.
Please 🙏 kalau mampir ke cerita aku jangan lupa komen sama likenya biar aku tau kalau ada yang baca ❤️